Jumat, 22 April 2016

Resensi: Beautiful Oblivion by Jamie McGuire

Judul buku: Beautiful Oblivion - Kehampaan yang Indah (The Maddox Brothers #1)
Penulis: Jamie McGuire
Alih bahasa: Shandy Tan
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1523-2
Cetakan pertama, 2015
384 halaman
Baca di iJak
Trenton Maddox adalah idola di Eastern State University. Banyak wanita ingin mendekatinya. Tapi kecelakaan tragis merenggut cinta pertamanya dan menyisakan rasa bersalah.

Delapan belas bulan kemudian, Trenton yang kini bekerja di tempat pembuatan tato, mengira hidupnya telah kembali normal. Hingga saat ia bertemu Cami di The Red Door. Camille “Cami” Camlin bekerja di The Red Door di selasela kesibukannya kuliah. Ia dan T.J. menjalin hubungan jarak jauh, namun pekerjaan T.J. berulang kali memaksanya membatalkan janji dengan Cami, dan membuat hubungan mereka di ujung tanduk.

Ketika Trenton muncul dalam hidupnya, Cami dipaksa memilih. Apakah dia harus mempertahankan persahabatannya dengan Trenton tetap platoni? Atau pindah ke California agar bisa bersama T.J.?
Kalau sudah pernah membaca Beautiful Disaster, pasti tidak asing dengan nama para Maddox Brothers; Thomas, Taylor, Tyler, Trenton, dan di buku tersebut yang menjadi tokoh utama adalah si bungsu Travis. Saya senang ketika tahu Jamie McGuire juga membuat cerita tentang Maddox bersaudara, seperti yang pernah sering saya bilang, saya selalu suka jika ada buku berseri yang menceritakan tentang masing-masing anggota keluarganya. Walau Travis ada di series berbeda, tetap saja dia akan berseliweran di series Maddox Brothers. Buku ini fokus pada Trenton, yang sering muncul daripada Maddox lain di serial Beautiful.

Beautiful Oblivion bercerita tentang Camille Camlin atau Cami yang membina hubungan jarak jauh dengan pacarnya yang bernama TJ. Mereka jarang sekali bisa bertemu, TJ terlalu sibuk dengan pekerjaan sebagai spesialis di bidang statistik dan rekonfigurasi data, bahkan ketika sudah merencanakan liburan bersama ketika Cami libur kuliah, rencana yang mereka buat terpaksa batal. Cami akhirnya menghabiskan waktu luang dengan bekerja sebagai bartender di sebuah pub di kota tempat dia tinggal. Selain masalah dengan pacarnya, Cami juga memiliki masalah keluarga, ayahnya yang selalu marah-marah, adiknya yang sering sekali membuat masalah dan dia yang harus menyelesaikan. Walaupun satu-satunya perempuan di keluarga dan bisa menghidupi kehidupannya sendiri, Cami selalu dipandang sebelah mata oleh ayahnya. Dan masalah yang tidak pernah mau lepas darinya adalah Trenton.

Cami adalah teman Trenton semasa sekolah di Eaking High, tapi aja kejadian yang membuat Trenton berhenti kuliah dan selalu dicap negatif oleh masyarakat. Hanya saja Trenton begitu populer, sama dengan Maddox yang lain, dipuja banyak perempuan, dan Cami hanya bisa memandang dari jauh atau bahkan tidak ingin berurusan dengannya. Selain mempesona, Maddox bersaudara terkenal berbahaya. Trenton tahu kalau Cami sudah memiliki pacar, tapi tetap saja mendekatinya, dia berujar kalau pacar Cami tidak benar-benar mencintainya, seharusnya dia bisa meluangkan waktu untuk kekasihnya tersebut. Awalnya Cami selalu menolak bila Trenton mengajaknya pergi atau ingin berkunjung ke rumahnya, bukan Trenton kalau tidak bisa mengambil hati seseorang, bahkan dia berhasil membuat Cami bekerja sebagai resepsionis di tempat Trenton bekerja sebagai seniman tato.

Cami bersikeras kalau hubungan mereka hanya sebatas teman, tapi sebaliknya, Trenton menganggap kalau mereka sama-sama merasakan cinta.
“I've had a lifetime of wrong. You're the only thing thats right.”
“Don’t defend him! This is bullshit!” he said as he turned for the door, and then turned back to face me. “I’ve been sitting at work this whole time, staring at those fucking things. I wanted to calm down before I got here, but this is just . . . it’s fucking disrespectful, is what it is! I bust my ass trying to prove to you that I’m better for you than he ever was. But he keeps pulling this shit, and showing up, and . . . I can’t compete with some rich college boy from California. I’m barely getting by, with no degree, and up until a few days ago I still lived with my dad. But I am so fucking in love you, Cami,” he said, reaching for me. “I have been since we were kids. The first time I saw you on the playground, I knew what beauty was. The first time you ignored me was my first broken heart. I thought I was playing this right, from the moment I sat down at your table at the Red. No one has ever wanted someone as much as I want you. For years I . . .” He was breathing hard, and he clenched his jaw. “When I heard about your dad, I wanted to rescue you,” he said, chuckling, but not out of humor. “And that night at your apartment, I thought I’d finally gotten something right.” He pointed to the ground. “That my purpose in life was to love you and keep you safe . . . but I didn’t prepare for having to share you.” 
Timeline atau setting buku ini bersamaan dengan Beautiful Disaster, sehingga kita juga akan mendapati cerita Travis yang mulai berkenalan dengan Abby sampai tergila-gila padanya, sudut pandangnya dari Cami. Walau digambarkan badan Trenton penuh dengan tato, dia tidak segahar penampilannya, bisa dibilang dia memiliki hati yang lembut. Trenton tidak seimpulsif Travis ketika menginginkan sesuatu, dia merencanakan segalanya sampai akhirnya bisa mendapatkan keinginannya, Trenton memiliki berbagai cara agar Cami mau 'melihatnya'. Dari segi karakter saya lebih menyukai Trenton daripada Travis.

Sebenarnya saya cukup menikmati buku ini, penulis secara perlahan membangun hubungan Trenton dan Cami sampai tercipta chemistry di antara mereka berdua. Kecintaan Trenton akan tato juga tergambarkan dengan jelas, membaca buku ini saya selalu tergiang-ngiang kalau lelaki pakai tato itu kece, hahaha. Bagian Trenton agar Cami mau mentato tubuhnya terbilang romantis XD. Saya suka cara dia merayu Cami, menghangatkan hati sekali, apalagi membawa anak kecil dan kencan bertiga di restoran keluarga yang ada mainan untuk anak kecil. Bagian yang paling saya suka ada di sana, ketika ada orangtua yang memarahi anaknya terlalu ribut dan Trenton 'memberi pelajaran'. Trenton ini suamiable banget, apalagi begitu tahu kalau sebenernya Trenton sudah menyukai Cami sejak kecil, iya, sejak Cami masih berkepang dua, sangat romantis sekali.

Kekurangannya adalah banyaknya konflik yang ingin ditunjukkan sehingga mengaburkan konflik utama buku ini, bahkan konflik tersebut terlihat terlalu remeh. Konflik utamanya adalah Cami tidak yakin apakah dia benar-benar mencintai TJ karena bertemu saja sangat sulit, sampai akhirnya kedatangan Trenton menyadarkan dirinya. Ditambah masalah keluarga yang dialami Cami, kisah cinta sahabatnya dan cerita Travis yang disematkan ke cerita buku ini membuat hubungan Cami dan Trenton terkesan bertele-tele, saya pinginnya penulis fokus ke konflik pertama, memperbanyak interaksi antara Cami dan Trenton, lebih membahas tentang kisah cinta segitiga di antara mereka.

Walau saya lebih menikmati Beautiful Disaster, saya cukup menyukai Beautiful Oblivion ini, saya sangat menyukai karakter Trenton dan tatonya, emosi dan perasaanya ke Cami sangat terasa. Ending buku ini juga benar-benar mengejutkan, ada twist yang tidak saya duga. Saya sangat menantikan series Maddox selanjutnya (Beautiful Redemption, Beautiful Sacrifice, Beautiful Burn), terutama kisah si sulung, Thomas :D.

Untuk cerita saya kasih 3.5 sayap.
Sedangkan untuk adegan dewasanya cukup 2 kipas saja, buku ini nggak se-hot Beautiful Disaster XD.

2 komentar:

  1. Wah series yang menampilkan karakter utama yang lainnya, selalu memikat. pasti di buku sebelumnya, Trenton juga hilir mudik toh. Belum baca makanya saya meraba dari review. Dan kenapa ya banyak kayaknya novel yang menghadirkan momen perempuan yang dilema antara pacar dan temen. Aih.. pasti memikat nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trenton cukup banyak muncul di Beautiful Disaster, kisah sahabat jadi cinta emang selalu memikat :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...