Rabu, 30 Maret 2016

Resensi: A Monster Calls Karya Patrick Ness

Judul buku: A Monster Calls - Panggilan Sang Monster
Penulis: Patrick Ness
Ide cerita: Siobhan Down
Ilustrasi: Jim Kay
Alih bahasa: Nadya Andwiani
Editor: Barokah Ruziati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2081-6
Cetakan pertama, Februari 2016
216 halaman
Beli di #petibukuid
Sang Monster Muncul Persis Lewat Tengah Malam. Seperti Monster-Monster Lain. Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan… Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor. Dia Menginginkan Kebenaran.

Dalam buku karya dua pemenang Carnegie Medal ini, Patrick Ness merangkai kisah menyentuh tentang cinta, kehilangan, dan harapan. Ia menulisnya berdasarkan ide final Siobhan Dowd, penulis yang meninggal akibat kanker.

Ini memang kisah sedih. Tetapi kisah ini juga bijak, kelam namun lucu dan berani, dengan kalimat-kalimat singkat, dilengkapi gambar-gambar fantastis dan keheningan-keheningan yang menggugah. A MONSTER CALLS merupakan hadiah dari penulis luar biasa dan karya seni yang mengagumkan.
Apa yang harus saya ceritakan? Oh, cerita tentang anak lelaki berumur tiga belas tahun di mana setiap pukul 00.07 dia didatangi monster pohon yew tua yang berada di tengah lahan perkuburan, tidak jauh dari rumahnya, yang awalnya Conor O'Malley kira hanya salah satu mimpi buruknya, tapi ketika dia membuka mata di pagi hari, semua terasa nyata, ada bukti yang menyatakan kalau sang monster benar-benar mendatanginya. Namun, bukan monster itu yang ditakuti Conor, melainkan monster lain. Monster pohon yew meyakinkan kalau Conor akan ketakutan pada waktunya, ketika dia usai menceritakan tiga kisah yang membuatnya datang berjalan di masa lampau, sebelum mendatangi Conor di masa sekarang. Bukan, bukan monster pohon yew yang memanggil Conor, tapi Conor lah yang membutuhkannya.

Sampai di sini saja cerita tentang Conor dan moster pohon yew yang sudah purba. Saya akan menceritakan kisah lain tentang Conor, kisah kehidupan dia di dunia nyata. Bagaimana dia dibully teman lelaki di sekolah, Harry dan dua pengikutnya, menghadapi pandangan kasihan semua orang di sekolah akan keadaan ibunya, tentang amarah yang dia simpan kepada Lily, tentang menjadi tak kasatmata, tentang hubungannya yang tidak baik dengan neneknya, tentang harapan akan ayahnya yang telah memiliki keluarga baru. Dan terakhir, tentang kasih sayang Conor kepada ibunya, tentang harapan lain.
Kisah adalah makhluk liar, kata sang monster. Begitu kau melepaskan mereka, siapa yang tahu kekacauan apa yang mungkin mereka ciptakan?
Kadang-kadang orang merasa perlu berbohong kepada diri sendiri.
Tidak melulu ada pihak yang baik. Sama halnya bahwa tidak melulu ada pihak yang jahat. Sebagian besar orang berada di tengah-tengahnya.
Saya sampai pening seusai baca dan sulit mengungkapkan apa yang saya rasakan, sungguh menyesakkan. Bagi yang pernah berhadapan dengan ketakutan terbesar dalam hidupnya dan akhirnya menjadi nyata, akan tahu apa yang sebenarnya dirasakan Conor. Apa yang dialami Conor adalah sebuah fase kesedihan yang sering kita temui di kehidupan nyata. Kisah Conor sangat realistis sekali, bumbu fantasi yang dituangkan Patrick Ness dan kesan horor lewat ilustrasi dari Jim Kay menambah betapa suramnya kehidupan Conor. Dia tidak ingin dikasihani, kemudian dia memilih sendirian di sekolah. Dia tidak menyukai neneknya karena dia tidak bisa bebas, tidak menyukai berbagai aturan yang dibuatnya. Dia ingin ayahnya ada di sisinya, tapi sang ayah sibuk dengan keluarga barunya.

Kadang segala sesuatu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kadang kehidupan tidak masuk akal, penuh tipu daya. Namun, ada kalanya kita harus melepaskan, merelakan. Kadang kita membutuhkan sang monster untuk membimbing kita menuliskan cerita keempat.
Jika kau mengutarakan kebenaran, bisik sang monster di telinganya, kau akan sanggup menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Mungkin saya akan melanjutkan cerita Conor kapan-kapan, tapi ini sudah pukul 00.07. Saatnya menemui monster tua itu.

5 sayap untuk salah satu cerita terbaik yang pernah saya baca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...