Senin, 01 Februari 2016

Andy Noya: Kisah Hidupku by Robert Adhi Ksp, Andy F. Noya | Blog Tour, Book Review, Giveaway

Andy Noya: Kisah Hidupku
Penulis: Robert Adhi KSP, Andy F. Noya
Editor: Andina Dwifatma
Perancang sampul: Eka Arif Setyawan dan Cindy Alif
Foto sampul: Dokumentasi foto Media Indonesia (Sumaryanto Bronto)
Sumber ilustrasi foto: Dokumentasi Andy F. Noya
Penerbit: Buku Kompas
ISBN: 978-979-709-954-1
Cetakan keenam, Agustus 2015
418 halaman
Buntelan dari @BukuKompas
Empat tahun lamanya Andy F. Noya dibujuk untuk mengungkapkan kisah kehidupannya di balik layar televisi. Jika selama ini dia selalu mengangkat kisah hidup orang lain, yang menginspirasi jutaan penonton Kick Andy, lalu mengapa dia sendiri menghindar mengungkapkan kehidupan pribadinya?

Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya pria berdarah Ambon-Belanda-Jawa-Portugis ini bersedia terbuka menceritakan masa kecilnya yang kelam, masa-masa sulit di Surabaya, perpisahan ayah-ibuya, masa remaja di Papua, kuliah yang tidak tuntas, kisah percintaan yang jenaka, dan perjuangannya menapak karier sebagai jurnalis.

Membaca kisah perjalanan hidup pembawa acara Kick Andy ini, kita akan banyak menemukan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Banyak cerita di buku ini yang belum pernah terungkap ke publik. Dengan gaya penuturan "aku", Anda merasa bukan sedang membaca sebuah biografi, melainkan kisah hidup yang membuat Anda yakin setiap orang, termasuk Anda, berhak atas kehidupan yang lebih baik.
Siapa yang tidak mengenal Andy F. Noya? Seorang pembawa acara yang selalu menghadirkan bintang tamu penuh inspirasi dalam program yang bertajuk Kick Andy Show di Metro TV. Namun, tidak banyak yang mengetahui kehidupan pembawa acara tersebut, kisah hidup Andy Noya ternyata tak ubahnya seperti kehidupan para bintang tamu yang dia hadirkan, kisah hidup yang bisa mengetuk hati para penonton, kisah hidup yang sangat inspiratif. Buku ini adalah memoar yang Andy Noya ceritakan kepada sahabatnya, Robert Adhi Ksp. Bercerita tentang keluarganya, masa kecil, masa remaja, sampai impian-impian yang sudah tercapai.

Bisa dibilang kehidupan Andy kecil tidaklah mudah, dia pernah di-bully karena keturunan Belanda, hidup serba kekurangan, berpindah dari rumah kontrakan sempit ke kontrakan sempit yang lain, mengenal pergaulan yang salah, kehilangan sosok Ayah yang seharusnya menemaninya semasa kecil. Laki-laki berdarah campuran Ambon-Belanda-Jawa-Portugis ini bernama lengkap Andy Flores Noya, lahir di Surabaya, 6 November 1960. Keluarga dari Ibu Andy cukup terpandang, kakeknya adalah kepala penjara di Wantapone, Sulawesi Selatan. Berkebalikan dengan keluarga ibunya, ayahnya berasal dari kalangan menengah, menjadikan hubungan mereka sempat tidak direstui, tapi perjuangan ayah Andy memperjuangkan cintanya membuahkan hasil. Andy memiliki dua kakak perempuan, Gaby dan Yoke, sedangkan dari pernikahan ayahnya sebelumnya, Andy memiliki dua kakak laki-laki, Raffie dan Carry.

Kehidupan Andy identik dengan berpindah-pindah tempat, masa kecil sampai remaja dihabiskan di Surabaya-Ternate-Makassar-Surabaya-Malang-Papua, dewasanya menuntut ilmu, bekerja dan sampai sekarang menetap di Jakarta. Masa yang paling susah adalah ketika di Surabaya, Malang dan Papua, waktu itu ibunya telah berpisah dengan ayahnya, kakek sudah meninggal dan neneknya pindah ke Belanda. Menjadi tulang punggung keluarga dengan tiga anak pada masa-masa sulit tidaklah mudah, pernah menumpang di kerabat karena tidak memiliki rumah, mengontrak di garasi mobil sampai terpaksa menitipkan kedua anak perempuannya ke asrama. Karena kesibukan ibunya mencari uang, Andy pernah mengecap hidup di jalanan, mencuri dan berteman dengan para preman, sering membolos ke sekolah, bahkan Andy diramalkan akan menjadi penjahat. Sampai ayahnya datang dan mengajak keluarganya untuk pindah ke Papua.

Selepas ayahnya meninggal, Andy melanjutkan sekolah STM di Jakarta, hidup dan dibiayai oleh kakaknya, Yoke. Andy menjadi lulusan terbaik di sekolahnya bahkan dia mendapatkan tawaran beasiswa. Namun, Andy lebih memilih mengikuti kata hati, mengikuti saran guru SD-nya, Andy ingin menjadi seorang wartawan. Dengan berbagai cobaan Andy berhasil masuk Sekolah Tinggi Publistik (STP), di sana dia menempa diri mengembangkan tulisan, bakatnya di bidang jurnalistik. Tidak ingin memperberat beban kakaknya, sewaktu kuliah Andy berjualan kartu ucapan di kampus, mempunyai berbagai akal bulus untuk menghemat uang transport sampai mengirimkan berbagai tulisan ke surat kabar. Andy juga tidak melewatkan kesempatan ketika ada lowongan kerja paruh waktu yang diberitakan di kampusnya, membuatnya bertemu dengan sang istri yang lebih tua dua tahun, serta lebih memilih meneruskan pekerjaan daripada melanjutkan kuliah. 

Banyak tantangan yang sudah dilalui oleh Andy di dunia kewartawanan, dia berpindah-pindah dari penerbitan satu ke penerbitan yang lain, menjadi wartawan ekonomi, hiburan sampai terjun ke media elektronik-televisi. Sebagai wartawan Andy Noya telah berhasil mecapai posisi paling tinggi dalam karirnya, pernah memimpin majalah Matra, Media Indonesia, Seputar Indonesia, dan Metro TV. Kisah hidup Andy Noya berliku dan penuh cobaan, masa kecilnya bisa dibilang tidak membahagiakan. Namun, dengan prinsip hidup yang dia pegang teguh, Andy Noya berhasil meraih impiannya.
Burung dara itu unik. Selain mampu kembali ke kandangnya walau dilepas dari jarak yang sangat jauh, burung dara jantan memiliki kesetiaan luar biasa kepada pasangannya. Kalau seekor burung jantang sudah jatuh cinta dan pernah kawin dengan seekor burung dara betina, dia akan selalu setia mendampingi pasangan itu. Bahkan, dia juga bisa sangat protektif. Jika ada pejantan lain yang mendekati "istrinya", dia akan siap bertarung.
Pulang dari sana, dia menghampiriku sambil senyam-senyum. Wajahnya ceria. Melihat itu hatiku menari-nari riang. Tak sabar mendengar kabar gembira. "Karangan saya menang, Pak?" tanyaku tak sabaran. Pak Bowo hanya tersenyum sambil menggeleng. Dia lalu mengajakku masuk ruangan guru. "Karanganmu didiskualifikasi. Tidak dinilai," ujarnya masih dengan senyum tersungging di bibirnya. Aku mengernyitkan alis. Masih juga tidak paham. "Menurut para juri tidak mungkin anak setingkat STM bisa menulis cerita sebagus itu. Mereka mencurigai karangan itu bukan murni karyamu," Pak Bowo melanjutkan. "Artinya tulisanmu terlalu bagus untuk anak seusiamu," dia menepuk-nepuk bahuku. "Kamu punya bakat menulis," dia menegaskan sambil tetap tersenyum.
"Hidup ini terlalu indah untuk dibuat susah. Nikmati hari-harimu sebaik mungkin," ujar ayah berkali-kali. "Apa pun pekerjaanmu, kerjakan dengan hati."
"Ini rumah kita sampai tua nanti," ujarku dengan bersemangat. "Nanti kalau ada uang kita buat bertingkat," ujarku berkhayal. Upiek keberatan. "Kita harus punya cita-cita lebih tinggi. Ini seharusnya hanya awal. Nanti kita harus punya rumah yang lebih baik," ujarnya. Waktu itu aku merasa istriku kurang bersyukur dengan karunia rumah BTN yang baru kami miliki. Tetapi belakangan aku bisa memahami cara berpikir Upiek. Dia ingin mendorong agar kami terus berupaya mencapai titik terbaik dalam hidup kami. Sebagai manusia kami harus terus bergerak. Berikhtiar. Tidak boleh berpuas diri dan berhenti di tempat.
Sejak awal aku berjanji pada diriku untuk tidak menerima pemberian dari narasumber. Aku menyadari kredibilitas dan integritas sebagai jurnalis merupakan investasi yang harus dijaga. Aku mencintai pekerjaanku sebagai wartawan. Aku ingin menggeluti profesi ini sampai aku mati. Karena itu, aku ingin membangun reputasiku sebagai jurnalis dan tidak ingin merusaknya. Walau, sekali lagi, tidak mudah untuk bisa tetap teguh pada prinsip sementara di sekitarku soal amplop ini sudah menjadi virus yang merambah kemana-mana.
"Kamu sendiri bagaimana? Apa yang kamu pegang sebagai prinsipmu?" tanya Surya Paloh. Kepadanya, kukatakan kejujuran dan harga diri merupakan prinsip yang aku pegang dan junjung tinggi dalam hidupku. "Kalau Anda membutuhkan orang yang pandai menjilat, yang selalu menyenangkan Anda, maka bukan saya orangnya," ujarku. "Apa yang saya rasakan, itulah yang saya ucapkan. Bahwa hal itu berbeda dengan pendapat Anda dan membuat Anda tidak senang, saya siap mengambil risiko," ujarku. Surya Paloh tersenyum dan mengangguk-angguk. "Saya butuh orang seperti kamu. Ingat, sampai kapan pun kamu harus tetap seperti ini. Pegang teguh prinsipmu itu," ujarku. Kami lalu berjabat tangan.
Dalam menegakkan aturan dan disiplin, banyak orang menilai aku terlalu kejam. Selama menjadi Pimpinan Redaksi Metro TV, cukup banyak wartawan yang aku "pecat". Baik yang berkaitan dengan disiplin, kode etik, maupun kejujuran. Dalam tiga hal itu, aku tidak bisa kompromi. Bahkan atas sikapku itu, Surya Paloh sering megkritikku. Dia menilai aku terlalu keras dan kaku. Tapi keyakinanku sangat kuat bahwa untuk meletakkan fondasi yang kokoh bagi sebuah lembaga, terutama lembaga penyiaran yang kredibel, tiga hal tersebut merupakan syarat mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar.
Saya jarang menyukai kisah biografi, tapi membaca kisah hidup Andy Noya ini memiliki keasikan tersendiri. Andy memiliki kehidupan susah di masa kecil, membuat siapa saja yang membacanya akan terharu. Tokoh yang paling saya sukai di buku ini adalah ibu Andy, dia perempuan yang sangat kuat, seorang diri membanting tulang demi menghidupi anak-anaknya, tidak pernah lelah menghadapi kenakalan anak-anaknya. Mulai dari mejadi tukang jahit baju sampai kasir rumah makan dia kerjakan. Memang karena kesibukan mencari uang tidak bisa selalu mengontrol pergaulan Andy, tapi dia percaya dan selalu menyayangi, tidak pernah kurang. Bagian yang paling mengharukan adalah ketika ibu Andy lembur membuatkan baju baru agar Andy bisa menghadiri pesta ulang tahun temannya, saya nangis sesegukan. Seorang ibu bisa melakukan apa saja untuk anaknya tercinta. Waktu pencarian Ibu Ana, guru SD yang menginspirasi Andy Noya untuk menjadi seorang wartawan juga mengharukan sekali.

Walau hidup serba kekurangan, masa kecil sampai remaja bisa dibilang penuh petualangan seru dan tawa. Andy tergolong murid yang pintar, terlebih di bidang bahasa dan seni, terbukti dari hasil gambarnya di pajang di ruang kepala sekolah dan menjadi lulusan terbaik sewaktu di STM. Bagian ketika bercerita mencuri manga, burung dara dan terpaksa menjadi anak buah geng tiga bersaudara agak miris tapi kocak juga. Ada juga bagian yang bercerita tentang kegiatan favorit Andy, seperti menonton ludruk dan film, Andy punya cara tersendiri agar bisa gratis menonton cara favoritnya tersebut. Yang saya suka adalah penulis juga menjabarkan sedikit cerita tentang ludruk yang digemari Andy Noya, misalkan saja Lutung Kasarung, Sam Pek Eng Tay. Ada juga cerita lucu mengintip orang pacaran di kebun binatang, mabuk laut sewaktu berlayar, bergaya seperti bintang rock sewaktu di Papua, bahkan jatuh cinta pada guru-nya. Cerita dia bertemu dengan istrinya dan waktu pernikahan juga tidak boleh dilewatkan. Walau hidup susah, Andy mencoba membuat kehidupannya tidak bertambah susah.

Ketika memasuki bangku kuliah, Andy menunjukkan bahwa dia adalah orang yang suka tantangan. Diawali menjadi reporter paruh waktu di proyek penerbitan buku Apa & Siapa Orang Indonesia, tulisannya dianggap sangat bagus bahkan melebihi para seniornya di kampus. Dia juga sempat ditawari menjadi wartawan Tempo (menjadi wartawan di majalah Tempo adalah cita-cita tertinggi seorang wartawan kala itu), tapi Andy melewatkan kesempatan tersebut dan memilih menjadi wartawan ekonomi, memilih bidang yang tidak dia kuasai. Berlanjut dengan berpindah-pindah ke tempat lain, selalu mencoba sesuatu yang baru, yang penuh tantangan.

Setelah membaca kisah hidup Andy Noya, saya paham kenapa dia selalu menolak ketika diminta menceritakan, kenangan yang berharga sekaligus memilukan. Namun, dengan masa kecil yang berat membuat Andy Noya menjadi pribadi yang kuat. Dengan prinsip-prinsip hidup yang dipegang teguh dia berhasil mencapai posisi tertinggi di karirnya. Bagian ini juga yang menginspirasi selain perjuangan hidupnya semasa kecil, dengan idealismenya, dia bisa memisahkan antara pertemanan dan pekerjaan, tidak sungkan memecat sahabatnya sendiri kalau memang apa yang dilakukan salah. Sanggup membuat Surya Paloh selalu menolak surat pengunduran dirinya.

Buku ini sangat recommended, tidak berbeda dengan orang-orang hebat yang menjadi tamu di acaranya, kisah hidup Andy Noya sendiri sangat menginspirasi, menyadarkan bahwa sesusah apa kehidupan yang kita alami kalau bertekat ingin mengubahnya dan berpegang teguh pada prinsip serta kejujuran demi kebaikan, maka Tuhan akan mengabulkan doa-doa kita. Buku ini bisa dibaca oleh siapa pun.

4.5 sayap untuk masa-msa kecil yang tak terlupakan.



Saatnya giveaway!
Penerbit Buku Kompas dengan baik hati akan memberikan satu buku Andy Noya: Kisah Hidupku kepada pembaca setia Kubikel Romance yang berdomisili di Indonesia.
Caranya:
1. Follow blog Kubikel Romance via GFC, G+ atau bloglovin
2. Follow akun twitter @BukuKompas dan @peri_hutan
3. Share link postingan ini di sosial media yang kamu punya dengan hastag #KisahHidupku, boleh mention kedua akun di atas.
4. Tulis jawaban kamu di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter, "Ceritakan satu kisah inspiratif yang pernah kamu dapatkan. Bebas dari cerita sehari-hari kamu, dari orang lain atau cerita favorit yang pernah tayang di Kick Andy. Atau bisa juga orang yang kamu kagumi. Pilih salah satu dan ceritakan :)."

Sudah itu saja, giveaway berlangsung sampai tanggal 6 Februari 2016. Pengumuman pemenang akan saya umumkan di postingan ini juga. Semoga beruntung :D

*UPDATE*

Haiiii, maaf ya agak terlambat pengumumannya, susah milih pemenang, jawaban kalian mengharukan sekali, huhuhu. Setidaknya ada pesan moral yang bisa saya ambil buat pelajaran, layaknya jawaban kalian yang pada intinya tidak boleh menyerah pada kehidupan yang susah ini, kalian jangan menyerah kalau belum beruntung ya :D. Yang ikut giveaway ini lumayan sedikit dibanding giveaway yang lain, apa pertanyaanya susah? Nggak ah, masak nggak ada sama sekali kisah inspiratif yang pernah dialami, bahkan pertanyaanya saya tambahin biar kalian nggak bingung. Sekali-kali ngasih pertanyaan yang susah ya, biar usaha sedikit, hehehe.

Langsung aja, pemenang yang mendapatkan buku Andy Noya: Kisah Hidupku dan kemungkinan bertanda tangan adalah...
@Jju_naa

Selamat ya, nanti saya akan menghubungi kamu via twitter, buat yang lain ayo semangat! Masih ada giveaway di Kubikel Romance :D

18 komentar:

  1. Cerita inspiratif yang pernah ku dapat itu dari ibuku. Cerita tentang masa kecil ibuku yang tidak penuh dengan kebahagiaan. Semasa kecil hidup miskin bahkan pernah sehari tidak makan nasi. Lalu semangat ibuku yang ngotot pergi ke suraua padahal sudah dilarang sama nenek. Kata ibu alasannya pergi ke surau karena ibu senang belajar dan ingin tetap belajar. Ibu dulu adalah gadis aktif yang selalu merindukan kakek. Ibu pernah sakit karena saking rindunya sama kakek yang tinggal di rumah istri mudanya dimana jarak rumah ibu dan kakek waktu itu puluhan kilo. Karena sakit ibu yang tidak sembuh2 itu nenek membawa ibu ke rumah kakek dengan cara jalan kaki. Itu sungguh sangat luar biasa bagiku. Seorang ibu membawa anaknya yang sedang sakit menemui ayahnya yang tinggal di rumah istri mudanya. Diam-diam aku menangis saat mendengar cerita ibu yang ini. Kata ibu, ibu juga pernah dibully waktu SD. Namun karena bully-an tersebut ibu menjadi gadis yang kuat. Ibu sudah terbiasa mencari uang sejak beliau SD. Hasil dari kerja yang hanya sedikit itu ibu gunakan untuk uang jajannya, nenek tidak usah memberinya uang lagi, hal ini membuat mereka bisa makan setiap paginya.
    Masih banyak cerita-cerita inspiratif lainnya yang ibu ceritakan ke aku. Namun dari cerita di atas itu saja sudah menbuatku tahu bahwa ibu harus bekerja keras, selalu berusaha agar bisa hidup layak seperti saat ini. Ibu sudah menanamkan semangat hidup untuk jadi diri sendiri, jujur dengan keinginan hati, dan selalu bersikap baik kepada sesama. Kata ibu itu adalah prinsip beliau yang selalu beliau bawa.

    @venadwim

    BalasHapus
  2. Nama: Wika Agustina
    Twitter: @agstnwika

    Banyak cerita inspiratif yg pernah saya rasakan. Baik dari keluarga maupun teman dan sahabat. Tapi dari sekian banyak kisah inspiratif, yg paling berkesan dan selalu saya ingat adalah kisah tentang ibu saya semasa muda dulu. Kisah yg selalu ia ceritakan kepada semua anaknya agar mengerti arti perjuangan hidup. Anak kedua dari 8 bersaudara, membuat beliau harus bekerja keras demi meraih cita-citanya. Hidup di dalam sebuah keluarga yg tidak berkecukupan membuat mama harus berjuang membiayai sekolahnya sendiri. Jaman dulu di kampung beliau, setelah tamat smp, para anak gadis kebanyakan menikah ketimbang melanjutkan studi. Mama yg memiliki keinginan besar dan kuat untuk terus melanjutkan sekolahnya, memutuskan untuk berhenti setahun setelah tamat smp, karena pada waktu itu mama ingin sekali masuk sekolah bidan. Namun karena kakek dan almh. Nenek saya tdk sanggup membiayainya, mama berhenti setahun. Selama setahun beliau terus bekerja. Mama menjadi buruh tanam padi dengan sistem upah. Kemudian uang tsb ia belikan sepatu untuk sekolahnya karena merasa org tuanya tdk sanggup membelikannya sepatu. Selama setahun berhenti sekolah, akhirnya beliau memutuskan untuk melanjutkan sekolah SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke sekolah bidan. Singkat cerita, mama berhasil lulus menjadi pegawai negeri sipil dengan perjuangan kerasnya. Dan kini semua kerja keras, pengorbanan, dan perjuangan yg pernah mama cerita menjadi satu motivasi saya untuk terus memperjuangkan cita-cita saya. Beberapa bulan lagi, insyaallah saya akan segera lulus dari bangku kuliah. Dan jika Allah berkehendak, saya akan mengikuti jejak mama menjadi seorang guru dan mendidik calon penerus bangsa seperti halnya mama yg telah mendidik saya yg nantinya, buah dari perjuangannya mendidik dan menghidupkan saya dan keluarga saya berbuah manis untuk mama. Amin Ya Rabbal Alamin.

    BalasHapus
  3. Saat itu, saya adalah seorang santri di pelosok desa, tepatnya di Kabupaten Pasuruan. Saya masih sekolah kelas 3 SMP ketika cerita ini terjadi.

    Saya memiliki teman, namanya Putri. Putri ini santriwati yang tengah mengeyam pendidikan SMA kelas 10. Kupanggil dia, Mbak Putri. Gadis energik ini mendengar ada program pertukaran pelajar yang diadakan oleh yayasan bina antar budaya. Ada tiga program yang ditawarkan AFS, YES, dan Jenesys.

    #Part 1

    BalasHapus
  4. Bagi kami, yang notabenenya anak desa dan belum tahu dunia luar itu bagaimana, mengikuti seleksi tersebut sudah termasuk wow. Karena pesantren tempat kami menimba ilmu terisolasi dunia luar. Tidak ada hape, televisi, ataupun internet. Maklum, kejadian ini pada tahun 2010 silam. Kami hanya mengandalkan surat kabar yang tertempel di mading asrama.Satu-satunya sumber informasi yang bisa menunjang untuk mengikuti seleksi program pertukaran pelajar tersebut.

    Mbak Putri mengikuti seleksi berkas dan akhirnya lolos. Selanjutnya, saya tahu, mbak putri bener-bener berjuang keras. Dia rela berdesak-desakan dengan santri lain untuk membaca surat kabar tersebut, kalo tidak sempat dia rela, malam-malam setelah kegiatan pesantren selesai, dia berdiri di mading asrana untuk menuntaskan bacaannya. Karena dia sadar bahwa seleksi kedua adalah pengetahuan umum, sedangkan dia hanya mampu mengakses surat kabar untuk menambah pengetahuannya.

    Benar saja, seleksi kedua itu benar-benar di luar dugaan. Tidak ada matematika, sejarah indonesia, atau ilmu alam yang biasanya diajarkan di sekolah. Semuanya tentang mancanegara dan internasional. Begitu ceritanya.

    Saya tak menyangka, kegigihannya tersebut membawa hasil. Mbak Putri lolos pada tahap tiga, seleksi wawancara bilingual. Bagi saya, bilingual itu termasuk susah. Di pesantren, hanya beberapa orang yang memiliki skill english aktif. Kebanyakan adalah english pasif seperti kami. Tapi, mbak Putri tak kenal kata menyerah. Dia berlatih terus, banyak praktik, mencoba menggunakan bahasa inggris setiap hari. Dan usahanya berhasil, mbak Putri dinyatakan lolos setelah mengikuti seleksi ini.

    Seleksi kreativitas adalah ujian yang harus dilewati mbak Putri. Kali ini nuansanya berbeda, Mbak Putri dikumpulkan dengan siswa-siswa dari satu provinsi Jawa Timur. Dari peaantren kamu, hanya mbak Putri yang mampu mencapai tahap ini.

    Mbak Putri bercerita kalau seleksi tahap ini menguji tentang kekompakan, adaptasi, kepemimpinan dan banyak lagi. Katanya, dia beserta beberapa teman barunya (dalam hal ini semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok), harus mampu membuat satu barang dari beberapa benda yang telah disiapkan.

    Kata Mbak Putri, dalam kelompoknya beberapa tampak diam padahal waktu terus berjalan. Mbak Putri mengambil inisiatif untuk membuat origami burung dan barang daur ulang lainnya. Setelah selesai, kelompoknya ditanya, mengapa mereka membuat burung. Mbak Putri mengambil alih. Menjelaskan tentang burung bahwa ia makhluk bersayap yang bebas, bisa terbang kemana-mana seperti seseorang yang bisa menjelajahi banyak tempat dengab mimpinya. Ini juga merupakan lambang yayasan bina antar budaya, sebuah burung biru yang mengitari bola dunia.

    Saya yang mendengarnya begitu takjub. Saya begitu yakin, mbak Putri bakalan lolos tahap nasional di Jakarta. Namun lebih dari satu bulan tak ada kabar apapun. Saya tahu, mbak Putri sempat down karena hal ini, tapi dia terus berdoa semoga yang terbaik dan selalu berkeyakinan dia akan diterima. Ketika saya tanya kenapa yakin, dia bilang "Allah selalu bersama prasangka hamba-Nya. Jadi kalo gitu kenapa harus berprasangka buruk."

    Hampir dua bulan berlalu dan akhirbya waktu yang ditunggu itu datang. Mbak Outri dingatakan lolos untuk mengikuti seleksi nasional di Jakarta dan harus mengirim berkas sebelum benar-benar berangkat ke Jakarta. Saya takjub, doa mbak Putri diijabahi.

    Sampai di sini, gelombang cobaan ternyata belum mau pergi. Sertifikat kesehatan atau hasil general chek up dokter keluar dengan hasil yang mencengangkan. Mbak Putri dinyatakan menderita tuberkolosis (TBC). Saat itu kami benar-benar down mendengarnya. Dan pastinya, Mbak Putri jauh lebih down serta kecewa. Perjuangannya untuk bisa belajar di luar negeri harus kandas karena penyakit ini. Dia harus menjalani rawat jalan. Tidak boleh bepergian jauh.

    #Part 2

    BalasHapus

  5. Dia pun akhirnya belajar ikhlas. Dia yakin suatu saat nanti dia pasti bisa. Saya yang mendengarnya begitu terharu. Betapa dia masih terlihat begitu tegar.

    Setelah kenaikan kelas, mbak Putri sudah mulai membaik. Suatu hari, dia dipanggil guru BK untuk ke ruangannya. Dan di sini, tangan Allah bekerja. Miss Putri dinyatakan lolos dan bisa berangkat mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang.

    Mbak Putri tak menyangka. Dia benar-benar heran. Bagaimana bisa dia lolos, padahal dalam syarat yang telah tertulis di pengumuman bina antar budaya, fisik dan psikis peserta harus sehat.

    Setelah mendengar penuturan guru BK, mbak Putri tahu, ternyata diam-diam guru-gurunya membantu mengirim berkas tersebut dengan tambahan keterangan dari dokter masa penyembuhan pebyakitnya.

    Meski akhirnya mimpi pergi ke Amerika tidak bisa, namun Allah menggantinya dengan pergi ke Jepang.

    Ini cerita yang saya dengar langsung dari narasumber betapa perlunya percaya dengan mimpi. Kemudian ditambah dengan doa. akhirnya, saya sekarang juga menjadi pemburu beasiswa. Dan alhamdulillah, saya menerima beasiswa dari kampus yang cukup sulit untuk ditembus.

    #Part 3 Selesai

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengharukan sekali kisahnya.. beruntung, ya, bisa belajar dari beliau. salam kenal. titip salam untuk mbak Putrinya sekalian, ya.. semoga menang!

      Hapus
  6. Nama : Yeyen Nursyipa
    Twitter : @YeyenNursyipa
    Link Share : https://twitter.com/YeyenNursyipa/status/694941095952670720

    Tentu masih teringat dengan sosok Gamal Albinsaid yang tahun 2014 ramai dibicarakan. Dari sekian banyak kisah inspiratif, yang paling favorit bagi saya adalah kisah dari Gamal Albinsaid ini.

    Seorang dokter muda asal Malang yang mempunyai ide cemerlang untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai sampah. Sampah yang awalnya dipandang sebagai barang yang tidak terpakai dan kurang berharga menjadi barang yang bernilai. Dengan konsep klinik asuransi premi sampah, selain beliau bisa membantu orang yang kurang mampu untuk berobat juga bisa mengurangi masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sampah, seperti kebanjiran, DBD dan lainnya.

    Konsep asuransi yang dilatarbelakangi dari kisah seorang anak pemulung yang meninggal karena tidak mampu berobat ke dokter ini setiap bulannya mewajibkan anggotannya untuk membayar premi dengan sampah yang minimal seharga sepuluh ribu. Konsepnya sama dengan BPJS saat ini hanya saja ini dibayar dengan sampah. Meski demikian pelayanan yang didapat sama dengan pelayanan kesehatan pada umumnya.

    Dan tentu berkat ketulusan dan keistikomahannya, beliau mendapat gelar The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur dari pangeran Charles.

    Yang membuat kisahnya ini insiratif bagi saya adalah ketulusan beliau menolong orang miskin. Seperti lumrah terjadi saat ini, para pemuda lulusan perguruan tinggi bukan berlomba-lomba mempraktekan ilmunya pada masyarakat tapi berlomba untuk mendapat pekerjaan. Gamal Albinsaid ini bisa dijadikan sebagai inspirasi bagi para pemuda lainnya untuk peduli pada sesama dan mempraktekan pengetahuan yang dimiliki karena seyogyanya pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang membumi bukan melangit.

    Dan terakhir, kata-kata dari Gamal Albinsaid yang patut direnungkan oleh kita semua adalah “jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati”.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Nama: Tatang Nurlano
    Twitter: @tatangnurlano
    Email: tatang.kewod@gmail.com

    Ibu Kembar, Sri Rossyati dan Sri Irianingsih. Rela Tinggalkan Kemewahan demi Sekolah Anak Jalanan. Dibesarkan dari keluarga yang berkecukupan tidak membuat Sri Rossyati dan Sri Irianingsih merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan. Mereka justru menghabiskan sisa usianya dengan mengajar di Sekolah Darurat Kartini, sekolah gratis bagi anak-anak jalanan dan anak dari keluarga tidak mampu. Hingga saat ini, sudah banyak lulusan yang telah meraih sukses dan bekerja di berbagai bidang. Mereka begitu peduli dengan nasib anak jalanan, mereka mau untuk terjun langsung mendidik anak-anak jalanan dan anak dari keluarga kurang mampu. Mereka peduli dan mereka mau untuk melakukannya.

    BalasHapus
  9. Aku dapet dari tetangga sekaligus senior di SMP & SMA (jadi lagen sampai sekarang) Kak Aldi, anak dari keluarga tak berada yang menjadi lulusan terbaik di Unsri.
    .
    Dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Terlahir dari keluarga yang tak berada tidak mengilahkan keinginannya untuk sekolah.
    .
    Ini panjang, jadi aku mulai dari Tes masuk SMA ya kak :).
    .
    Jadi, dia itu tergolong anak yang pintar meski ga masuk tiga besar, tapi dia selalu jadi perwakilan sekolah di lomba cerdas cermat (dan semua yg berhubungan dengan pelajaran) sewaktu SMP.
    Nah, sewaktu itu SMA tujuannya adalah SMA ter-favorit di Palembang (ngadain programbkhusus buat yg kurang mampu, semacam sumbang silang). Guru-guru ngedukung banget bahkan wali kelasnya yang ngurusin berkas-berkas pendaftaran (dulukan kalau beda rayon, pendaftaran kita sendiri yg ngurus, sekolah angkat tangan*sekarang juga kayanya). Sewaktu tes pesertanya di random dari berbagai SMP se Sumsel. Pas tes, di pertengahan waktu ujian, si pengawas ini keliling ngasih kertas kopelan kepeserta lain dan dia di lewatin gitu aja, dia sempet nanya dan jawabannya itu "Kamu siapa?" . Jadi, sewaktu pengumunan dia cuek aja, karena tahu dia ga bakal lulus. Dia banting stir masuk SMA swasta (selain SMAN yg lain swastakan? tapi ini milik yayasan, dan biaya sekolah bisa di cicil sampai lulus & ngasih kebijakan untuk siswanya, bebas uang spp buat pringkat 1-3 *inilah pertimbangan dia) yang ga begitu populer, peringkat terendah bahkan ga masuk peta Diknas *mungkin* karena banyak yg ga tahu letaknya dimana.
    Bener aja, dia cuma bisa bayar uang pendaftaran 50 ribu dari 250 ribu, dan sisanya dicicil sampe lulus. Sebelum sekolah dia jualan koran, di sekolah jualan kue basah (upahnya 100 rupiah perkue yg terjual), pulang sekolah dia jadi kuli angkat barang di pasar, uangnya untuk tambah-tambah karena ibunya hanyalah tukang cuci (ga tanggung, bisa sampai 8 pintu kak, pegi pagi- pulang sore pokoknya :'( )
    Pernah ga sengaja dia ketemu guru SMPnya di pasar dan nanya dia SMA mana dan setelah tahu dia bilang " Kenapa masuk situ? sayang masa depan kamu nak, knpa ga masuk SMA B aja" (asal tau, SMA B itu pendaftarannya aja pas tahun aku 4 jutaan belum sppnya, aku tahu karena temen aku disitu) kak Aldi cuma senyum pengen nangis. Kalau ada yg nanya dia letak sekolah dimana, dari awalnya semanget jawab sampai akhirnya cuma 'Di situlah, masih di Palembang' saking capek ngejelasinnya. Karena pagi dia jualan koran, jadi sering telat kesekolah, pernah sampai di kasih surat panggilan untuk orang tua dan dia sampai sujud dan bilang " Ini keteledoran saya, jadi bapak boleh hukum saya apa saja asal jangan panggil ibu saya kesekolah Pak. Ibu saya sudah capek kerja pagi-sore untuk hidup saya dan kedua adik saya. Jadi, saya ga mau nambah masalah buat ibu saya" dan itu sukses jadi petuah legend di ruang BP sampai sekarang. Mulai dari situ dia berhenti jualan koran dan ngajar les (aku salah satu muridnya loh :D )
    Selama SMA dia ga bayar spp karena salalu juara umum. Sampai dia mau lulus, cucilan uang pedaftaran masih 15 ribu dan dia baru bisa bayar tepat saat mau ngambil surat keterangan lulus syarat buat ikut SBM.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, puncaknya itu sewaktu dia mau kuliah.
      Kalau inget bagian ini aku sering nangis sendiri, dia selalu cerita dengan senyum dan ngelucu tapi matanya merah dan ga pernah berkedip (Karena dia alumni SMA aku, jadi dia sering ikut kegiatan sosialisasi yg sering diadakan alumni buat adik2 nya yg kls tiga semacem ngasih nasehat & motivasi gitu).
      .
      Jadi, setelah lulus SMA maksud ibunya dia itu ga usah kuliah, karena ibunya ga mampu buat bayarin belum lgi adiknya juga butuh biaya, mending dia kerja aja.
      Sedangkan dia, pengen banget kuliah. Pernah ga sengaja dia denger ibunya berdoa supaya ga di terima di PTN, karena ga sanggup liat anaknya nyesel ; keterima tapi ga bisa ngelanjut karena ga ada uang. Dia nangis ga yangka ibunya sampai sepesimis itu. Dia tetep tes, tanpa sepengetahuan ibunya dan baru ngasih kabar saat pengumuman keluar dan dia di terima di Unsri jurusan teknik pertambangan.
      Dia kira ibunya akan marah, tapi salah, ibunya malah meluk dia sambil nangis dan minta maaf. Masalah timbul sewaktu tau jumlah uang pendaftaran (aku lupa, sekitar 7/14 jutaan ) ibunya cuma punya uang 1 juta (uang untuk bayar kontrakan) , dia sampe mecahin celengan dia dan adiknya (dapet sekitar 500 ribuan dan itu hampir logam semua). Ibunya bilang, "Kalau kamu memang ingin kuliah, ibu bisa minjem sama majikan ibu" dan dapet 1 juta. Jadi ibunya mau pinjem dari saudaranya
      dan yang di dapet adalah caci maki mulai dari 'Kalau miskin ya miskin aja, ga usah mau kuliah2 segala' di bego-begoin, 'jangan mimpilah, mending kamu kepasar jadi kuli, dari pada kuliah buang uang'.
      Jadi dia agak down -nyerahlah, ga sengaja ketemu sama wali kelas dia pas kelas 3 SMA. Diajak main kerumah wali kelasnya itu, cerita-cerita terus pas mau pulang wali kelasnya itu ngeluarin map biru (isinya serifikat tanah) dan bilang " Jujur Bapak ga punya uang, Bapak cuma punya ini. Gunain ini baik-baik" dia nolak dan bilang sudah nyerah mau kuliah, tapi bapaknya maksa dan nganjurin buat di jadiin jaminan di bank, dan mohon keringan.
      Ya dia ikutin, saran bapak itu. Dia bolak-balik Palembang-Indralaya buat mohon keringan itu, sekitar semingguanlah, katanya ; mungkin mereka sampe bosen liat muka kakak. Sampe ada dosen yg bilang, sudah tau ga mampu kenapa ngambil teknik! kenapa ga ngambil FKIP aja. Alesan dia, justru karena saya orang ga mampu makanya ngambil teknik, karena saya ingin kehidupan yang lebih baik untuk ibu dan kedua adik saya . Dan Allah ngabulin do'a dia, permohonan di terima, dari 14 jutaan, turun, turun sampe Rp. 0 per semester, dapet uang saku. Tapi dia tetep kerja, jualan kue di kampus, tetep jadi kuli angkut. Sampai akhirnya bisa Lulus kuliah dengan predikat cum laude.

      Hapus
    2. Selesai kuliah, dia langsung kerja di perusahaan batu bara di Lahat. Sekarang kehidupannya sudah berubah, ibunya ga perlu kerja lagi, adiknya bisa sekolah dengan tenang.
      .
      Dia pernah bilang "Apapun yang terjadi, sekolah itu penting. Seandainya dana yg jadi masalah, jadilah egois. Tanamkan 'Tugas saya itu sekolah, masalah dana itu balakangan dan bukan urusan saya, itu tanggung jawab orang tua saya'".
      .
      Dan bila rasa malas mulai menyerang, "Pikirkan wajah orang tua kalian, mereka kerja panas-panasan, dan kalian yang punya kesempatan untuk sekolah tapi cuma main-main? mati aja, masih banyak yang ingin sekolah tapi ga bisa"
      .
      Dia juga yang nyuruh kami untuk nyimpen foto orang tua di dompet, biar kalau males datang bisa langsung liat wajah orang tua kami.
      .
      Jujur, setelah denger cerita ini aku merasa malu sendiri. Aku yg selalu merasa kehidupan orang itu lebih baik. Selalu menyalahkan keadaan. Tapi ternyata ada orang yang lebih susah dari aku dan bisa berhasil, membanggakan keluarga. Setidaknya aku jauh lebih beruntung, orang tua aku masih lengkap. Dia sudah di tinggal ayahnya sejak kelas 2 SD.
      .
      Aku jadi yakin, mau di letakan di tempat gelap sekalipun, yang namanya mutiara pasti tetap bersinar (kenapa aku bilang kaya gini? karena apa yang terjadi sama Kak Aldi sewaktu tes SMA, aku juga ngalamin. Itu down banget, segalanya itu butuh uang *maaf jadi curcol :'( ). Nasib itu bisa dirubah, asalkan ada kerja keras dan do'a. Tuhan itu ga pernah tidur.
      .
      Sekarang aku sudah kuliah sambil kerja. Percaya atau tidak, wejangan-wejangan beliau mampu mengubah sudut pandang & menumbuhkan motivasi untuk maju.
      .
      Banyak pelajaran yg bisa aku ambil dari kisahnya :)
      Tanpa ujian, ga ada yang bisa di kenang. Tanpa ujian, hidup itu ga indah.
      .
      Maaf kalau kepanjangan dan banyak typo kak :D ga tau ini yambung atau enggak sama pertanyaan kakak. Susah buat berhenti nulis sesuatu yang berkesan di hati *ea~ tapi serius iya.
      .
      @Jju_naa

      Hapus
  10. Aku bertemu dengan bapak ini di bus ketika pulang dari Jakarta. Bapak ini seorang guru Bahasa Inggris SMP yang baru saja lulus S2. Bapak ini bercerita bagaimana hidupnya dulu. Ayah, ibu, dan 3 saudaranya yang hidup dalam kondisi pas-pasan di daerah Surabaya. Sepupunya yang tinggal tak jauh dari rumahnya selalu mencemooh, merendahkan, selalu membanggakan dirinya dan keluarganya yang kaya, sangat berbeda 180 derajad dengan keluarga bapak ini. Bahkan ketika keluarga bapak ini membutuhkan bantuan, mereka bersikap seolah tidak tahu dan tidak peduli.

    Hingga suatu hari bapak ini dan ketiga saudaranya telah sukses. 2 menjadi pengusaha di Jakarta dengan gelar Magister, 1 menjadi PNS berprofesi dosen, dan bapak ini menjadi guru dengan golongan yang cukup lumayan. Karena kebiasaan hidupnya, keluarga dari sepupunya ini bangkrut, dan tidak punya apa-apa lagi, hingga minta tolong pada salah satu saudaranya ini yang seorang pengusaha di Jakarta. Mereka bukan pendendam dan membantu si sepupu dan keluarganya.

    Bapak ini juga menceritakan bagaimana ia dulu bisa menikah dengan istrinya. Ketika sebelum menikah dulu, ia melamar istrinya dengan sangat tidak romantis. “Kamu mau menikah denganku? Menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak?” tanya bapak itu ketika yakin dengan pacarnya. Istrinya yang saat itu masih baru saja menjadi pacarnya, menjawab, “Tapi aku nggak bisa masak.”

    Bapak itu menjawab dengan tegas. “Aku nggak peduli kamu bisa masak atau tidak. Yang penting kamu mau atau tidak. Kalau kamu mau, kamu akan belajar. Masakanmu seperti apapun akan kumakan, bahkan kalaupun kamu tega dan memasak lumpur untukku.” Akhirnya mereka menikah. :D

    Bapak itu punya 2 anak, 1 seumuranku yang bekerja di sebuah bank ternama, dengan gaji tinggi dan segala tunjangannya. Anaknya yang satunya kuliah di perguruan tinggi negeri ternama pula. Istrinya seorang guru juga. Sejak awal menikah, bapak itu menggunakan hampir seluruh gajinya untuk membayar cicilan rumah, dan harus menghemat untuk biaya hidup sehari-hari. Ketika bertemu saat itu, bapak itu bilang kalau rumahnya sudah lunas. ^^

    Bapak itu mengajarkan padaku tentang pentingnya kerja keras, tentang kesungguhan dan tidak menyerah untuk berusaha, bagaimana hidup sederhana dan cara bersikap yang baik. Bagaimana cara beliau memilih pendampingnya. Tidak sombong dan angkuh, mau menolong saudara yang kesusahan, dan keyakinan bahwa semua hal baik akan berbalas kebaikan, dan sebaliknya.

    Ini benar-benar pelajaran berharga untukku.. >w<

    @ten_alten

    BalasHapus
  11. Nama : Dera Devalina
    Twitter : @deradevalina
    Link Share : https://twitter.com/deradevalina/status/695468997051961344

    saya selalu melihat kisah setiap orang yang sangat inspiratif, kalau saya sendiri kisah inspiratif itu berasal dari orang yang tak kenal lelah membesarkan dan mendidik saya ialah ibu saya yang selalu setia menemani saya di saat saya sedang sedih dan senang bahkan di umurnya yang sudah kepala lima beliau masih bekerja membantu ayah saya.. saya berharap bisa membahagiakan beliau saya jadi teringat waktu smp dulu ibu saya selalu mengantarkan saya sekolah naik sepeda pagi-pagi sekali dan sekolah saya itu terlampau jauh dan beliau juga setia menjemput saya walaupun hari itu hujan sangat deras dan dengan satu payung beliau menggoes sepdanya demi menjemput anaknya. dulu saya pernah mengeluh karena tidak punya motor padahal teman-teman saya sudah memilikinya bahkan membawanya kesekolah tapi kondisi kami yang sangat sulit tidak memungkinkan untuk membeli tapi ibu saya selalu bersyukur tentang itu karena dulu waktu ibu saya masih kecil ibunya (nenek saya) sakit gangguan jiwa sehingga ibu saya dan adik – adiknya mengurus keperluan sendiri dan menjadi mandiri di waktu kecil, mencari uang untuk membeli seraga sekolah sendiri bahkan adik terkecil dari ibuku dititipkan ke saudaranya.
    Dewasa ini saya baru mengerti bahwa hidup ini perlu untuk disyukuri dan saya sangat menyesal karena selalu menyusahkan ibu saya, semoga saya bisa dan harus selalu membahagiakan ibu dan keluarga saya

    BalasHapus
  12. Nama : Sasti
    Twitter : @legitur15
    Link : https://twitter.com/legitur15/status/695628019885408256?s=09

    Kisah inspiratif yang mau aku ceritakan saat aku bertemi dengan nenek2 yg rumahnya di Caruban-Madiun. Saat itu, kebetulan aku naik bis ekonomi jurusan Ponorogo. Alasannya.. Bis ekonomi jurusan itu nyaman. Kayak bis patas jurusan sby-kediri :D
    Aku lupa gak tanya namanya, yang jelas beliau kerjanya di Surabaya tepatnya di daerah pelabuhan tandjung perak, pekerjaan nenek itu adalah penjual lontong kupang. Setiap pagi, beliau melakukan perjalanan dari Sby-Caruban. Berangkat dini hari, pulang saat siang (saat itu aku naik bis sekitar jam 1 siang).
    Dasanya, amu memanb kuranb suka basa-basi. Tapi, nenek itulah yang ngajak ngomong aku duluan. Headseth di kuping pun aku lepas dan menanggapi obrolan singkat tapi, ngena sama nenek itu.
    Beliau kerja yang harusnya ia waktunya istirahat. Dia pengen tetep mandiri. Nggak mau nyusahin anak yg sudah susah. Beliau ngomong sendiri kalo itu salahnya sendiri kenapa dulu gak sekolahin anaknya sampek tinggi. Kasihan istri sama cucu nya. Padahal, kalo anaknya sukses.. Ortu juga bangga. Nenek bilang, walau anaknya sukses.. Dia nggak punya hak untuk mibta uang kebutuhan hidup. Karena bagi dia, kerjaan anak, gaji semuanya itu adalah milik sang anak sendiri. Orang tua kayak beliau, tugasnya sudah selese. Sudah mengantarkan anaknya jadi kepala keluarga. Walau, kerjaan anaknya masih terbilang susah.
    Kalo banyak yg mencibir beliau kerja karena sudah tua. Tak apalah, toh dia masih kuat untuk bekerja, dia masih kuat untuk mencari makan, yang penting.. Walau dia sudah tua.. Dia tidak mau menyusahkan orang lain.
    Saat itu, nenek itu juga ngasih nasehat ke aku sih. Masalah pendidikan, wejangan jadi wanita mandiri, kuat, teges sama pendapat dan gak mau nrimo keadaan. Dasanya, beliau memang percaya, kalau kita kuat, mandiri, teges dan mau menolak takdir.. Tuhan pasti mau bantu dan kita pasti bisa sukses melalui hidup.
    Sayangnya, saat itu aku tidak tanya siapa nenek itu. Hebatnya, tukang karcis bis disitu sudah hafal sama beliau. Malahan, disuruh nggak usah bayar. Taoi, nenek itu tertep ngeyel bayar. Katanya, dia masih tau cara menghargai dirinya sendiri.

    BalasHapus
  13. Cerita ini dari mama aku sendiri, beliau selain menginspirasi juga merupakan orang yang sangat aku hormati meskipun banyak yang bilang kalau kita seperti bukan ibu dan anak melainkan seperti sahabat. Begitu banyak cobaan yang mama alami, waktu keluargaku terpuruk sewaktu aku masih duduk di bangku SMA, mama berjuang mati-matian menghidupi kami sekeluarga. Papa terlilit begitu banyak hutang dan usaha kami pun bangkrut. Aku bersyukur karena aku masih bisa bersekolah begitu juga adikku. Kadang aku juga membantu mama berjualan sampai mama pun jatuh sakit. Mama nggak pernah sekalipun mau nyusahin keluarga hingga sekarang. Mama juga nggak pernah ngeluh harus nganterin aku bolak-balik ke kampus dan ngajar karena aku nggak bisa naek sepeda motor. Saat aku butuh sesuatu pun, mama selalu berusaha mencari uang sehingga kebutuhanku terpenuhi. AKu ingin setegar mama dalam menghadapi berbagai masalah. Tidak ada kata menyerah bagi mama. Mama selalu bilang sabar, berusaha dan tetap semangat. Tuhan tidak pernah tidur dan akan selalu membantu hambaNya yang sedang kesusahan.

    Akun twitter : @Agatha_AVM

    BalasHapus
  14. Ini merupakan kisah kakak kandung saya sendiri yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Tentang perjuangannya dalam meraih pendidikan.
    Dulu, sebelum pesawat mengudara seperti saat ini, bus merupakan alat transportasi yang paling populer. Dan saat itu, ayah saya yang bekerja sebagai supir bus lintas antar provinsi mendapatkan penghasilan yang lumayan banyak. Kami pun anak-anaknya benar benar bisa merasakan kerja keras sang ayah. Ayah kami pun menyekolahkan kakak saya di sekolah Islam negeri. Tapi meskipun sekolah negeri, biaya sekolah disana cukup mahal karena dulu belum begitu banyak sekolah negeri yang mengajarkan khusus mengenai agama Islam seperti sekarang. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Tidak ada hambatan dalam sekolah kakak saya.
    Sampai suatu hari keberadaan pesawat menjadi populer. Pesawat yang diklaim bisa mengantarkan penumpangnya hanya dalam tempo dua jam dengan tujuan Medan-Jakarta, seketika menyingkirkan kepopuleran bus. Bus yang menempuh perjalanan selama satu minggu hanya utuk sampai di Jakarta jelas kalah dengan pesawat. Dan karena itu, penumpang bus drastis berkurang. Omset pun turun. Dan karena itu juga, ayah berhenti bekerja. Agar tetap bisa menghasilkan uang, ayah saya bekerja sebagai mekanik di tempat iya dulu bekerja. Ayah saya memperbaiki kabel-kabel bus yang rusak. Tapi penghasilan sebagai mekanik tidak tetap dikarenakan jumlah penumpang yang merosot drastis. Akhirnya sebagai alternatif kedua, ayah saya bekerja serabutan. Apa saja beliau kerjakan selama itu halal dan menghasilkan uang.
    Karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang memadai saat itu, kakak saya terancam putus sekolah. Agar hal itu tidak sampai terjadi, ibu saya memutuskan untuk menjual keripik dan juga es lilin untuk membantu ayah. Melihat situasi seperti itu, kakak saya menyarankan untuk menjualnya di kantin sekolah. Jadi, setiap pagi kakak saya dengan menggunakan sepedanya akan membawa satu toples besar berisi es yng diikat dibangku belakang, dan 5 ikat keripik di keranjang. Alhamdulillah, uang hasil jualan tersebut berhasil membantu kedua orangtua saya dan kakak saya berhasil tamat SD.

    (bagian 1)

    BalasHapus
  15. Kakak saya terus berjualan keripik dan es lilin sampai menginjak bangku SMA. Dia tidak peduli meski teman-temannya mengoloknya, selama dia masih bisa terus sekolah. Meski terkadang saat dia pulang sekolah, dia menangis karena jadi bahan bully teman-temannya, tapi setelah dia puas menangis, dia akan tersenyum dan mengatakan kalau dia pasti biasa. Setiap kali saya melihat itu, saya langsung ikut menangis. Suatu hari, pihak kantin disekolahnya melarangnya berjualan lagi karena ada pihak yang dirugakan dari dagangan kakak saya. Ibu kantinnya bilang kalau dagangannya jadi tidak laku karena dagangan kakak saya. Jelas saja, itu membuat kami semua sedih. Karena penghasilan dari berjualan es dan keripik itulah yang berhasil menghidupi kami. Karena bahkan semakin kesini, penghasilan ayah saya semakin tak menentu dan hasil dagangan itulah yang berhasil menutupinya.
    Akhirnya, agar kakak saya dan juga adik-adiknya terus sekolah, kakak saya berinisiatif membantu keluarga dengan cara mengajar. Dia memberanikan diri melamar di salah satu kursus bahasa Inggris meski dia belum tamat SMA. Dan, Alhamdulillah, dia diterima. Jadi, setiap sore setelah pulang sekolah, kakak saya mengajar di kursus tersebut. Dan ternyata, usahanya untuk terus sekolah membuahkan hasil. Tanpa diduga, kakak saya terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut pertukaran pelajar di Malaysia tanpa dikenakan biaya sedikitpun. Kami yang mendengar kabar tersebut langsung histeris dan terharu mengingat perjuangannya agar terus sekolah.

    Tapi perjuangannya tidak berhenti sampai disitu. Ketika menginjak bangku kuliah, kakak saya berhasil masuk ke universitas ternama dengan jalur beasiswa. Mendengar itu saya senang sekali. Tapi kebahagiaan kakak saya seketika berhenti hanya karena sebuah handphone. Waktu itu ada mata kuliah yang mewajibkan mahasiswanya membawa handphone yang ada fasilitas bluetoothnya. Di jaman itu, hp dengan bluetooth sudh sangat canggih dan harganya masih sangat mahal. Awalnya kakak saya tidak mengatakan kalau dia diharuskan membawa handphone. Dia rela disetrap dengan cara mencuci kamar mandi setiap mata kuliah itu berlangsung. Sampai akhirnya dia tidak tahan lagi dan mengatakannya kepada orangtua saya. Disitu kami sangat sedih. Orangtua saya berusaha mengusahakan hp tersebut. Waktu itu uang utk membeli hp hanya kurang 100rb saja. Dengan terpaksa demi kuliah kakak, ayah saya meminjam kepada ibunya, tapi bukannya uang, malah makian yang didapat. Si nenek dengan lantangnya mengatakan bahwa jika tidak sanggup kuliah untuk apa dipaksakan. Melihat ayahnya yang dihina, kakak saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Dia bilang saat itu, mungkin jalannya untuk mendapatkan gelar sarjana bukan dari jalur beasiswa.
    Selama satu tahun, kakak saya bekerja keras mengumpulkan uang untuk kuliahnya. Dia bekerja mulai dari mengajar les sampai mengajar private. Pagi sampai malam dia habiskan untuk mengajar. Dan Alhamdulillah perjuangannya selama setahun itu berbuah manis. Dia berhasil kuliah meski di universitas swasta. Dan bahkan hingga kakak saya menyandang gelar sarjana, dia tidak pernah sedikitpun meminta uang dari orangtua saya. Itu sebabnya ketika dia wisuda, orangtua saya menangis tersedu saat memeluknya dan saya juga ikut menangis waktu itu. Karena kami smua tahu, seperti apa perjuangannya untuk sekolah. Kakak saya benar-benar inspirasi untuk saya. Dari dia saya banyak belajar tentang perjuangan meraih cita-cita... :')
    Terima kasih banyak kak Sulis sudah membaca cerita saya, lebih tepatnya curhatan kayaknya. Soalnya panjang banget... hehe. Semoga beruntung kali ini... :D

    (End)

    @n0v4ip
    https://twitter.com/n0v4ip/status/695922365415329792

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...