Senin, 22 Februari 2016

Resensi: Singapore Begins Karya Agata Barbara

Judul buku: Singapore Begins
Penulis: Agata Barbara
Penyunting: Anida Nurrahmi
Perancang sampul dan isi: Teguh Tri Erdyan
Penerbit: Ice Cube
ISBN: 978-979-91-0843-2
Cetakan pertama, April 2015
229 halaman
Hasil swap di IRF
“Tepparapol Goptanisagorn.”

“Hah?” ujar Kanna spontan tanpa dia sadari.

“Namaku. Tepparapol Goptanisagorn,” sang cowok mengulangi, kali ini dengan sedikit lebih lambat.

Kanna mengerjap.
Tep… teppa… Gopta… “Apa?”

Kanna tahu dia bukan anak kesayangan Mama-Papa, tapi dibuang ke Singapura tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Namun apa boleh buat, hasil tes kepribadiannya yang minus membuat keputusan orangtuanya tak dapat diganggu gugat. Dan di sinilah Kanna akan tinggal sekarang, di sebuah rumah kos bersama empat orang lainnya dari empat negara berbeda pula. Baru saja menginjakkan kaki di sana, Kanna sudah disambut oleh ibu kos superheboh. Dia juga harus berbagi kamar dengan gadis bule yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Oh, dan suara tangisan siapa itu dari lantai dua? Cuma setahun, sih, tapi bagaimana cara Kanna bertahan kalau menyebutkan nama salah satu housemate-nya saja sudah begitu sulit?
Hasil pemeriksaan psikologis Kanna Hartono mengatakan bahwa dia terlalu mandiri, sulit percaya pada orang lain, minim ekspresi, tertutup, terlalu dingin, bahkan sulit membuka diri kepada keluarganya sendiri. Dari tes kepribadian tersebut Kanna dikirim kedua orangtuanya untuk melanjutkan sekolah ke Singapura, tinggal di sebuah kos-kosan yang dikelola oleh tantenya sendiri, belajar bergantung pada orang lain, belajar percaya pada orang lain dan sebaliknya, belajar bersosialisasi, setidaknya selama setahun. 

Walau masih memiliki hubungan keluarga, Kanna diperlakukan sama dengan penghuni lain, total ada lima penyewa. Cantika, tantenya yang lulusan Harvard, terlalu 'aneh' dan memaksa dipanggil Kakak tersebut menyediakan tempat tinggal untuk pelajar dari berbagai mancanegara. Kanna sendiri memiliki teman sekamar letaknya di lantai dua, dia bernama Sally Christina Wilfred, bule cantik dan centil ini berasal dari California, Amerika Serikat. Ketiga sisanya yang menempati kamar utama di lantai satu adalah para laki-laki, pertama ada Kim Joon Hee dari Korea Selatan, Paresh Abharana dari India, dan terakhir Tepparapol Goptanisagorn atau cukup dipanggil G saja, berasal dari Thailand. Oh ada satu tambahan lagi, Tan Mei Ling dari Tiongkok, gadis kecil berusia delapan tahun tersebut terpaksa tinggal dengan Cantika karena memiliki masalah keluarga dan terpaksa dititipkan kepadanya, dia takut dengan orang asing dan tidak bisa bahasa Inggris, dia tinggal sekamar dengan Cantika di lantai dua.

Kehidupan di kos-kosan bagi Kanna pada awalnya cukup sulit, selain berbagi kamar dengan orang asing yang cerewetnya minta ampun, dia harus berbagi kamar mandi, betegur sapa, makan bersama, ngobrol tengah malam dengan yang lain, kegiatan yang sering dilakukan oleh anak kos, bagi Kanna yang tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya merupakan usaha yang cukup keras, tapi bukankah itu tujuannya? Tidak hanya di tempat tinggal barunya saja Kanna harus beradaptasi, tapi juga di kampus tempat dia kuliah, bahkan dia mengalami cyber-bullying. Apakah tinggal di Singapura lebih baik dari Indonesia atau hanya sebagai tempat pembuangan karena merasa tidak diinginkan, sama seperti teman-teman 'gila'-nya yang lain yang ternyata memiliki rahasia masing-masing?
"Punya banyak perasaan itu bangus," Sally berusaha meyakinkan Kanna. "Itu artinya kau bisa belajar untuk mengerti dan bersimpati dengan orang lain karena kau mengerti apa yang mereka rasakan."
"Kepercayaan itu seperti kertas. Proses membuatnya lama dan sulit. Harus menebang pohon, berarti membutuhkan pengorbanan. Dan setelah itu ada pengolahan di pabrik yang entah membutuhkan waktu berapa lama."
"Lalu?" Kanna mengerutkan kening.
Sally tersenyum lemah." Tapi kertas itu sangat tipis dan mudah dibakar atau dirobek."
Kanna terdiam, mulai mengerti." Kepercayaan itu seperti kertas, susah dibuat tapi mudah dihancurkan."
"Orang Jepang bilang..." dia melirik ke arah Sally sesaat, menatapnya dengan tatapan kosong, "setiap manusia punya tiga macam 'wajah'. Wajah pertama adalah wajah yang mereka kenakan di tempat umum. Wajah kedua adalah wajah yang mereka tunjukkan pada keluarga dan sahabat dekat mereka. Dan wajah ketiga..." mata Jun menyipit, menatap Sally yang masih tersenyum lebar, "adalah wajah yang tidak pernah ditunjukkan pada orang lain. Wajah yang misterius dan hanya orang itulah yang tahu seperti apa wujudnya."
Diantara beberapa seri YARN yang sudah saya baca, Singapore Begins bisa membuat saya tertawa cekikikan, padahal tema yang diusung penulis cukup berat, tapi disuguhkan secara ringan. Secara garis besar, buku ini bercerita tentang beradaptasi di tempat dan orang-orang baru, bahwa setiap orang memiliki rahasianya masing-masing. Tema friendship juga melekat erat pada karya debut Agata Barbara, gadis muda yang sekarang menetap di Singapura ini, jadi jangan heran kalian akan mendapatkan setting tempat dan kehidupan kuliah yang cukup tergambarkan dengan baik, tanpa berlebihan. Menunjukkan bahawa Singapura kaya akan etnis dari berbagai belahan dunia dan mereka bisa hidup berdampingan.

Keunggulan Singapore Begins selain plotnya yang rapi, tulisannya bagus dan cukup detail, terletak pada karakter para tokohnya, penulis sukses memberikan nyawa pada mereka. Di balik sifat Kanna yang tidak mudah percaya pada orang lain, Sally yang sering kali dicampakan pacarnya tetap saja ceria, Joon Hee yang terlihat paling normal ternyata menyimpan masa lalu kelam, G yang terlalu berlebihan menghadapi situasi apa pun, dan Paresh yang kelewat usil, mereka semua memiliki rahasia, latar belakang yang sama sekali tidak manis tapi malah merekatkan hubungan, saling melindungi, saling mendukung, menjadikan mereka keluarga baru. Konfliknya sendiri khas remaja, tentang bullying yang kerap sekali muncul di masa sekolah, menjadikan kehidupan sebagai seorang remaja-dewasa muda tidaklah mudah, sebuah masa yang akan menentukan seberapa kuat mereka menghadapi tantangan hidup.

Tokoh favorit saya adalah Jun Kobayashi, yang disinyalir sebagai gangster. Saya suka karena dia mirip dengan Kanna, hanya saja dia lebih ekspresif dan lucu. Dia tidak selemah Joon Hee, tipe cowok diam-diam mengagumkan, hehehe. Sayangnya dia tidak terlalu banyak muncul, hanya sebagai pemeran pembantu yang memperkaya masalah yang sering kali muncul di kehidupan sekitar kita, bahwa kadang tampilan luar itu bisa menipu. Paresh juga sangat menarik, dia tokoh terlucu di buku ini. Tidak ada tokoh yang benar-benar saya benci, semua ditujukkan secara realistis, bahwa di kehidupan nyata pun banyak orang yang seperti karakter di Singapore Begins.

Adegan favorit sekaligus terlucu adalah ketika Kanna berpura-pura sebagai Kuntilanak, salah satu hantu tersohor di Indonesia, dia memberi pelajaran sedikit kepada mantan pacar Sally. Bukan hal tersebut yang membuat saya cekikikan, tapi setelahnya. Paresh datang dan malah ketakutan melihat tingkah Kanna, hahahahaha, setelah itu Parest selalu memandang Kanna dengan ngeri, LOL. Dan adegan kedua adalah ketika para tokoh utama dan pembantu utama bertemu di satu waktu.
"Entah kenapa," G berbisik, "rasanya aku melihat Kanna versi cowok."
"Kau melihat Kanna versi cowok?" Paresh balas berbisik. "Aku melihat cinta segitiga."
"Kau melihat cinta segitiga?" Sally mendesis, menatap Gabriella yang menatap Joon Hee, Joon Hee yang menatap Kanna, Kanna dan Jun bersitatap. "Aku melihat cinta segiempat."
Menyenangkan sekali membaca buku ini, tidak ada kekurangan yang berarti, hanya saya merasa saking banyaknya tokoh, kisah mereka hanya diceritakan secara singkat, saya ingin karakter mereka lebih dikembangkan lagi, saya merasa buku ini memiliki bakat menjadi berseri, banyak konflik yang bisa hadir kembali dan saya berat untuk berpisah dengan orang-orang 'gila' ini. Semoga saja penulis tidak hanya berhenti di buku ini saja, sebagai penulis cerita remaja, Agata Barbara sudah sukses membangun image-nya. Oh ya, cover Singapore Begins menjadi cover paling favorit dari semua seri YARN, nama Teguh Tri Erdyan sudah saya tandai sebagai salah satu desain cover yang karyanya keren-keren.

Buku ini recommended sekali bagi yang suka membaca cerita tentang kehidupan remaja yang tidak pernah mudah.

4 sayap untuk Kanna dan para sahabat barunya.

4 komentar:

  1. Saya justru belum pernah membaca YARN ini satu pun. Soalnya belum tahu kualitas cerita akan setinggi apa. Selama ini saya lebih fokus pada penerbit berinisial G, keduanya. Namun setelah membaca review ini, ada sih ketertarikan untuk mencicipinya. Semoga ada kesempatan di lain waktu..

    Oh ya, soal penggarapan tokoh yang banyak memang tantangan buat penulis untuk memberi porsi adil. Mungkin karena ini debut, bisa dimaklumlah kalau memang belum seimbang antara tokoh satu dengan yang lainnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak tema cerita yang nggak mainstream, kalau menurutku seri YARN ini recommended bannget :)

      Emang kalau banyak tokoh tantangannya seperti itu, apalagi kalau memiliki peran penting semua, harus adil :). Menurutku buku ini salah satu debut yang cukup bagus, menantikan karya penulis selanjutnya :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...