Selasa, 12 Januari 2016

Cafe Waiting Love by Giddens Ko | Book Review

Cafe Waiting Love
Penulis: Giddens Ko
Penerjemah: Arumdyah Tyasayu
Cover designer: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Haru
ISBN: 978-602-7742-70-3
Cetakan pertama, Januari 2016
404 halaman
Buntelan dari @penerbitharu
Bisa dibeli di @bukupediacom
Dalam hidup ini, ada berapa kali saat di mana jantung berdegup dengan kencang,
dan kata-kata tidak sanggup terucap?

Aku belum pernah berpacaran,
tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta,
seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar,
kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya,
kali berikutnya,
dan kali berikutnya lagi.

Di dalam sebuah cafe kecil,
setiap orang sedang menunggu seseorang.
Cafe Waiting Love adalah sebuah kafe kopi yang terletak di ujung jalan pasar malam, di depan Universitas Nasional Tsing Hua. Salah satu pekerjanya bernama Li Siying, seorang gadis kelas 3 SMA Putri Hshinchu yang akan menghadapi ujian masuk Universitas, dia lebih memilih bekerja sambilan di kafe tersebut daripada melakukan kegiatan populer, misalkan saja belajar. Selain sebagai pelayan, Siying belajar secara otodidak meramu kopi lewat senior di kafe tersebut, Albus, sang barista lesbian yang sangat jago meracik kopi apa pun tapi tidak pernah meminum kopi, hanya dengan menghirup aroma dia sudah bisa merasakan senikmat apa kopi buatannya. Kemudian ada juga sang pemilik kafe yang sering disebut dengan panggilan Nyonya Bos, setiap hari dia menunggu seseorang memesan kopi racikan yang bernama ' Racikan Spesial Nyonya Bos', tapi seringnya tidak terjual satu gelas pun. Banyak cerita lucu dan mengharukan yang Siying dapatkan dari bekerja di Cafe Waiting Love, misalkan saja dari para pembeli.

Kemampuan Albus meracik kopi sangat tenar, sering dia mendapat tantangan dari anak SMA yang iseng, misalkan saja dia harus meracik kopi "Tapak Duka Nestapa Seperti yang Ada di Turnamen Gunung Huashan." Ada juga lelaki paruh baya berperut buncit yang terkenal sebagai pelanggan iseng karena setidaknya sebulan sekali sembarangan memesan, misalkan saja memesan kopi Luak Sumatra yang harganya sangat mahal, sampai-sampai dia dijuluki Raja Sembarang Pesan. Kemudian ada mahasiswa Universitas Chiao Tung tingkat tiga jurusan Teknik Informatika serta ketua klub debat yang membuat Siying berbunga-bunga tiap melihatnya, Zeyu namanya, dia pecinta kopi Kenya, tapi ketika datang ke kafe bersama pacarnya yang emosional, dia akan memesan latte, jenis kopi yang tidak disukai. Siying kadang prihatin Zeyu harus menjadi orang lain ketika bersama pacar-pacarnya harus memesan kopi selain Kenya, yap, Zeyu sering sekali bergonta ganti pacar, selalu mencari gadis yang akan memesan kopi Kenya seperti dirinya.

Di Cafe Waiting Love, Siying juga bertemu dengan A Tuo, seseorang yang akan memberikan petualangan baru dalam hidupnya, kisah hidup orang lain yang menakjubkan. Kisah pemuda berusia 22 tahun yang kehidupannya tamat lebih awal tersebut sebelumnya pernah Siying dengar dari kakaknya, kisah percintaan A Tuo telah ditertawakan selama bertahun-tahun, dia dianggap sebagai lelaki yang kehilangan kejantanan karena pacarnya direbut oleh seorang lesbian. Dia sering diolok-olok oleh teman-temannya di klub seluncur Universitas Tsing Hua tiap kali klub mereka berkunjung ke SMA untuk memberikan pelatihan, kisahnya selalu diceritakan ulang. A Tuo hanya bisa menunduk malu, dia tidak pernah membela diri, dia hanya pasrah aib-nya selalu diumbar dan dijadikan lelucon. Siying tidak suka mendengar cerita tersebut, dia kasihan dengan A Tuo yang selalu dipermainkan oleh temannya sendiri, puncaknya ketika A Tuo mengunjungi Cafe Waiting Love dan dia dipermalukan dengan cerita yang sama, Siying langsung memarahi teman-teman A Tuo dan dirinya! Sejak saat itu Siying berteman dekat dengan A Tuo, bahkan lebih, hanya saja Siying lebih banyak berharap kepada Zeyu, jarang memperhatikan ekspresi A Tuo kepada dirinya.
Aku merasa sangat terhormat dapat bekerja di cafe ini, menemani Nyonya Bos menunggu belahan jiwanya. Suatu hari nanti pasti akan tiba harinya muncul seseorang yang datang dengan membawa misi dan restu dari 'dia yang dahulu', untuk menikmati gelas demi gelas kopi yang tidak enak itu.
Kopi yang penuh harapan akan kebahagiaan.
Aku berharap di dalam cerita yang romantis aku juga dapat bertemu dengan 'seseorang' dalam hidupku.
Hubungan antarmanusia, benar-benar tidak seharusnya selemah itu. Tapi, hubungan antarkekasih malah seringnya harus putus sampai tuntas dahulu, baru bisa saling membebaskan.
Emas murni tidak takut ditempa dengan api. Cinta tidak takut menunggu.
Sejak awal kehidupan, setiap orang sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat. Bagiku, suatu tempat itu mungkin adalah di sini.
Whoaaaaa, dua kali membaca cerita Mandarin ternyata begitu menarik, buku pertama memberi kesan sangat mengharukan dan memeras emosi, kali kedua membaca lewat Cafe Waiting Love ini ternyata ceritanya sangat menarik dan unik, sarat akan pesan moral dan pengalaman hidup yang berharga, bisa membuat kita belajar lewat kisah tersebut. Buku ini tidak hanya bercerita tentang kisah cinta, lewat para pembeli kopi di kafe yang bernama Waiting Love, kita akan mendapatkan cerita tentang hubungan antarmanusia. 

Ide ceritanya sangat unik dan kaya, kita tidak akan hanya mendapatkan satu cerita, tapi banyak sekali. Bisa dibilang buku ini tidak bercerita tentang sang pemeran utama, Li Siying, namun pemeran pembantunya, Siying hanya sebuah media untuk menampung kisah mereka, seseorang yang menceritakan kisah pendukung yang seharusnya tidak berarti tapi malah sebaliknya, membuat kisah hidup Siying semakin berwarna. Untuk para karakternya tentu saja unik-unik, hampir semua saya menyukainya dan yang paling favorit tentu saja A Tuo yang lemah dan Siying sang pembela keadilan.

Untuk bagian favorit banyak sekali! Diantaranya adalah ketika Siying membela A Tuo di depan teman-temannya, mengatakan kalau seharusnya cerita cinta A Tuo tidak untuk ditertawakan, mereka sama sekali tidak memahami bagaimana perasaan A Tuo yang sebenarnya. Kemudian cerita di balik 'Racikan Spesial Nyonya Bos'. Kisahnya mengharukan sekaligus romantis sekali, tentang Nyonya Bos yang menantikan seseorang mau minum seratus gelas kopi dengan rasa yang berbeda. Satu-satunya bagian yang sama dalam racikan tersebut hanyalah rasanya yang tidak enak, hanya ada dua gelas setiap harinya, untuk si pemesan dan satu gelas lagi untuk mentraktir Nyonya Bos. Menunggu seseorang berani meminumnya dan Nyonya Bos akan menemaninya mengobrol sepuasnya sampai isi gelas kopi tandas. Cerita favorit lainnya datang ketika Siying bersama dengan A Tuo yang sering berjumpa dengan orang eksentrik dan dunia yang aneh. Selain mendapatkan informasi tentang kopi, membaca buku ini kalian akan termanjakan dengan istilah panjang, absurd serta konyol yang belum pernah dibayangkan sebelumnya :D

Ada Bibi Pisau Emas, seorang Nyonya Bos dari sebuah penatu, kemampuan memasaknya sangat handal, bahkan koki hotel bintang lima saja kalah! Dia hanya memasak seminggu sekali, dan setiap masakannya ada namanya, sebut saja Salad Tujuh Buah-buahan Dalam Lingkaran Pelangi, Menyambut Tamu Ayam Ajaib atau Bubuk Sepuluh Wewangian Pelemah Otot, dari Pertarungan Ayam Besi dan Ikan Nila, hahaha masih banyak nama makanan yang aneh-aneh lagi, seru banget! Kemudian ada teman A Tuo seorang ketua gangster yang berwajah sangar dan tubuh penuh tato. Julukan Abang Bao adalah Dewa Kematian yang Bagaikan Badai Berjalan, tapi suka sekali menonton film, selain mengoleksi pistol dan pisau, koleksi filmnya sangat lengkap. Bertemu dengan Xiao Cai, murid les privat A Tuo yang gagal lima kali dalam ujian masuk Universitas, dia terlalu sibuk belajar Seni Ajaib dari Tubuh Manusia yang Tidak Terbayangkan. Kepala Besi si Shaolin yang suka berkaraoke, A Zhu gadis gendut yang selalu tenggelam ketika berenang, Cangzi si ahli bermain mesin penjepit boneka. Orang-orang yang dikenal A Tuo sangat menarik dan cerita tentang mereka tidak boleh dilewatkan!

Buku ini sangat recommended, mungkin di bagian awal akan bingung sebenarnya ceritanya tentang apa, tapi semakin membuka halaman ceritanya sangat membuat penasaran. Buku ini bisa dibaca mulai dari kalangan remaja, tidak ada bagian yang vulgar, murni bercerita tentang perjalanan hidup seseorang, belajar menjadi dewasa melalui orang-orang yang ditemuinya. Membaca buku ini akan membuka mata kita akan segala perbedaan, bahwa yang tampak dari luar tidak selalu sama dengan yang di dalam, membuat kita lebih menghargai pilihan orang lain perihal hidupnya.
"Menilai kopi sangatlah mudah, tapi menilai seseorang tidaklah sesederhana itu."
4 sayap untuk kopi panas ' Delapan Belas Jurus Penakluk Naga Jurus Sakti Menghisap Bintang', penasaran bagaimana rasanya, saya sudah berusia lebih dari delapan belas tahun jadi halal meminumnya XD.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...