Jumat, 11 Desember 2015

When The Star Falls Blog Tour | Guest Writer + Giveaway


Hello good readers, nggak bosan kan dengan blog tour yang ada di Kubikel Romance? Nggak dong ya, buku yang saya hadirkan pasti kece-kece :p. Blog tour kali ini berbeda dengan sebelumnya, biasanya kan saya meresensi, mewawancarai penulis dan mengadakan giveaway. Nah, kali ini cukup spesial karena tugas saya simple banget, memberikan tema artikel yang akan ditulis oleh penulis secara langsung kemudian tinggal saya posting di blog, enak kan? Hehehehe. Kalau sebelumnya saya menghadirkan Guest Post sesama blogger, kali ini postingannya berupa Guest Writer.

Saya belum selesai membaca When the Star Falls, dari beberapa review yang saya baca mengatakan kalau buku tersebut mengambil tema Sick Lit. Saya ingin mendengar pendapat penulis tentang Sick Lit yang sering banget diangkat menjadi tema utama sebuah cerita khususnya YA. Misalkan saja tentang pengertian, alasan kenapa mengambil tema tersebut, kesulitan dan keseruan dalam proses penulisan, sampai pesan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca dengan tema Sick Lit. Selain itu saya juga meminta rekomendasi buku Sick Lit yang pernah penulis baca dan menjadi favorit. Dan terakhir, lewat buku When the Star Falls, saya ingin tahu apa harapan penulis yang bisa pembaca dapatkan ketika membaca bukubertema Sick Lit.

Berikut jawaban dari penulis ^^

Mungkin banyak dari teman-teman yang belum akrab dengan istilah sick-lit’. Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, sick-lit adalah novel yang ditulis dengan tema utama kematian, penyakit fatal, dan kelainan psikologi. (http://www.theglobeandmail.com/arts/books-and-media/sick-lit-a-symptom-of-publishings-decline/article8632529/)

Saya tidak tahu bagaimana dengan teman-teman, tapi saya cukup menyukai genre ini, baik untuk dibaca, maupun untuk ditulis dalam sebuah karya. Kenapa? Karena sick-lit selalu mengisahkan orang-orang, yang meskipun tahu mereka tidak akan lama berada di dunia ini, tapi mereka masih berusaha untuk melakukan yang terbaik. Semacam tamparan bagi kita yang kadang masih suka menyia-nyiakan waktu, kan?

Terus, apa sih serunya menulis Sick-Lit? Kan Sick-Lit temanya sama saja; tokoh utama sakit, tokoh utama meninggal. Selesai. Kok nggak ada seru-serunya? Jangan salah, justru alur yang sangat mudah ditebak kadang menjadi alur yang cukup bikin nyesek. Bukan hanya saat membaca, tapi proses penulisan. T.T

Bagi saya yang males banget riset, proses penulisan When The Star Falls tidak mudah. Konsep naskah ini sendiri sudah ada saat saya membaca salah satu novel karya Takuji Ichikawa di tahun 2005. Tapi, tidak seperti membaca, menulis dengan tema ini ternyata membutuhkan riset yang cukup menguras tenaga.

Saya harus membaca banyak blog dan artikel tentang tumor otak, juga tentang otak itu sendiri. Saya juga harus mengerti bagaimana perawatan pasca operasi otak, bahkan harus tahu sayatan seperti apa yang harus dilakukan, dan posisi perbannya juga harus tahu. Efek samping obat-obatannya tentu saja juga harus dipahami betul.

Namun, terlepas dari semua itu, proses When The Star Falls sangat berarti bagi saya. Setiap tokoh serasa punya cerita mereka masing-masing dan mereka ingin cerita itu disampaikan. Tugas penulis, adalah mengerti dan menerima setiap tokoh apa adanya, kemudian menulis dan menyampaikannya.

Para karakter inilah yang membuat proses penulisan When The Star Falls terasa menyenangkan, sekaligus menenangkan. Karena, di balik sifat mereka, semenyebalkan apa pun itu, mereka punya cerita dan pesan yang harus disampaikan.

Terus twistnya... astaga, bahkan saya sendiri kaget waktu menulis twist itu.
Selain proses menulisnya, saya juga suka dengan proses membalut pesan moral dengan kisah sendu Sick-Lit.

Menurut saya, ada satu hal umum yang menjadi pesan utama Sick-Lit. Pesan itu adalah: ‘jika kamu tidak suka dengan suatu keadaan, berusahalah memperbaiki keadaan itu. Jika kamu tidak bisa memperbaiki keadaan tersebut, ubahlah sikapmu atas keadaan itu’. Para tokoh utama Sick Lit tidak bisa mengubah keadaan diri mereka. Karena itu, mereka memaksa diri mereka untuk berubah, menerima keadaan, dan berjuang sekuat tenaga mereka meskipun keadaan tidak mendukung. Tapi paling tidak, mereka berdamai dengan diri mereka sendiri.

Menambah hal di atas, saya rasa yang menjadi pesan utama When The Star Falls adalah quote berikut: ‘Semua orang, tanpa kecuali, memiliki perasaan dan pikiran mereka sendiri saat mengambil sebuah keputusan. Ketakutan mereka, rasa cemas, bahkan rasa sayang bisa menjadi alasan itu. Apa hakku untuk mengabaikan perasaan itu dan menyuruh mereka mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan perasaan mereka?’

Sam punya alasan kenapa dia begitu menyebalkan. Bahkan Ayah Sam juga punya ketakutannya sendiri saat dia kabur dari rumah. Ayah Lynn punya alasan kenapa dia berbuat di luar akal sehat. Leon, Billy dan tokoh lainnya pun punya alasan mereka masing-masing.

Quote tersebut membuat diri saya sendiri bertanya, apakah saya pernah mencela seseorang tanpa berusaha untuk memahami keadaannya terlebih dahulu?

Harapan saya bagi teman-teman yang sudah membaca When The Star Falls, sebelum mencela dan menghakimi seseorang, cobalah berdiri di posisi orang tersebut dahulu untuk mengerti keadaannya.

Nah, dengan begitu banyaknya sick-lit, saya punya tiga rekomendasi buku sick-lit. Semoga teman-teman juga menyukainya.
1. The Fault in Our Stars karya John Green
2. Be With You (Ima, Ai ni Yukimasu) karya Ichikawa Takuji
3. People Like Us karya Yosephine Monica

Akhir kata, semoga artikel ini berguna, dan mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati teman-teman. Terima kasih juga untuk Peri Hutan yang sudah menjadikan saya tamu di blognya yang kece ini.

Jangan lupa membaca When The Star Falls. Saya titipkan Sam dan Lynn ke tangan kalian!

Seruuu, kan? Kalau ada yang masih ingin ditanyakan silahkan komen di kolom komentar di bawah, nanti kak Andry akan langsung menjawab pertanyaanmu! Selain menulis artikel, penulis juga akan rutin mengunjungi blog, 'berjalan-jalan' dan menjawab pertanyaan dari pembaca. Kesempatan nih kalau mau tanya-tanya, ayo jangan sungkan :D.


Tentang Penulis:
Andry Setiawan lahir di Ponorogo pada tahun 1985. Dia menghabiskan masa kecilnya di kota kelahiran, dan pindah ke Malang untuk jenjang SMA. Andry mendapatkan gelar Master di bidang Informatika dari Gunma University, Jepang dan kemudian bekerja sebagai teknisi perangkat lunak di sebuah perusahaan Jepang selama 1,5 tahun. Dia kemudian berhenti dan pulang ke tanah air untuk mewujudkan mimpinya sebagai penulis. Sekarang dia bekerja sebagai penulis dan penerjemah lepas, bidang yang disukainya.

Karya-karyanya, antara lain:
Terjemahan:
Girls in the Dark by Akiyoshi Rikako
Bonus Track by Koshigaya Osamu
The Dead Returns by Akiyoshi Rikako

Karya sendiri:
Then I Hate You So
(Not) Alone in Otherland co author dengan Lia Indra Andriana dan Fei
Ojou!
When The Star Falls
Sayap-Sayap Kecil

Bisa dihubungi via:
Twitter: @konstantin0609
Facebook: Andry Setiawan

Blog tour nggak seru dong kalau nggak ada hadiahnya, bagi SATU orang pembaca setia Kubikel Romance dan berdomisili di Indonesia yang pertanyaannya kece akan mendapatkan buku When The Star Falls ini, biasanya saya yang tanya kini giliran kalian ^^
Syaratnya seperti biasa, :
  1. Follow Kubikel Romance via Google Friend Connect (klik sign in atau join this side), boleh juga kalau mau follow bloglovin dan G+, hehehe

  2. Follow
  3. Follow twitter @konstantin0609, @penerbitharu dan @peri_hutan
  4. Share postingan ini di sosial mediamu, boleh mention tiga akun di atas dan pakai hastag #GAWTS
Udah itu aja, tulis pertanyaanmu tentang artikel di atas atau pendapatmu di kolom komentar di bawah, nanti akan saya pilih SATU orang yang beruntung, jangan lupa tuliskan akun twittermu ya biar kalau menang mudah menghubunginya, ingat yang menang yang sudah mengikuti persyaratan secara lengkap :D. Giveaway berlangsung sampai tanggal 17 Desember, pengumuman pemenang di postingan ini juga satu atau dua hari setelah deadline. Ayo tanya dan dapatkan hadiahnya :D.


*UPDATE*

Haiiii, saatnya pengumuman pemenang, maaf ya agak terlambat, kak Andry lagi sakit jadi jawaban pertanyaan kalian agak lama, nggak pa-pa ya, semoga kak Andry juga lekas sembuh :D. Sudah puas belum dengan jawaban dari kak Andry? Enak kan langsung dijawab penulisnya sendiri, pasti berkesan banget, nambah ilmu juga, banyak tips dan trik yang dibagikan, semoga bermanfaat ya :D

Sebelumnya saya minta maaf kalau di awal giveaway mengumumkan bakalan ada dua pemenang, saya kurang teliti bacanya, yang benar hanya satu, maaffff banget *sungkem*. Setelah memilih random dan mengecek persyaratan kalian, saya memutuskan yang mendapatkan buku When the Star Faals adalah...
@FarrMaSi

Selamat ya, saya akan menghubungi kamu via dm twitter, bagi yang lain jangan bersedih, ada beberapa giveaway di Kubikel Romance yang sedang berlangsung, antara lain Meet Lame dan Love Theft, bukunya nggak kalah seru kok. Kalau ingin mencoba peruntungan When the Star Falls lagi kalian bisa mengunjungi blognya @Lovaren_. Semoga beruntung :)

89 komentar:

  1. Suka banget dengan genre Sick Lit. Dari novel seperti inilah aku bisa lebih bersyukur kepada Tuhan telah diberikan kesehatan. Pertanyaan untuk kak Andry :
    Apa sih yang membuat novel When The Stars Falls berbeda dengan novel bergenre Sick Lit lainnya?

    @tasyaamanda95

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Tasya,

      Aku berusaha untuk membuat semua karakter serealis mungkin. Dan mungkin kamu tidak akan menemukan karakter cowok yang seperti novel remaja pada umunya. Semua karakter cowok dalam naskah ini bermasalah, termasuk para ayah.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  2. Twitter : @NelyRyanti
    Saya sudah share dan follow ya..

    Artikel yang kerreen..baru tahu ada Genre Sick Lit...he..he
    Banyak pesen moral dalam novel When The Stars Falls..jadi penasaran pengin segera baca bukunya
    Pertanyaan buat Penulis : Kenapa membuat novel dengan tema Sick Lit seperti ini, apa yang melatar belakanginya? apakah ada pengalama pribadi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Nely,

      Ide cerita ini sudah ada sejak lama. Waktu itu aku baca buku dan ada dorama Jepng dengan tema sick-lit dan pengin banget menulis tentang seseorang yang sedang berjuang menghadapi penyakit.

      Untuk pengalaman pribadi... Ada beberapa di dalamnya, seperti waktu Leon melempar petasan di ruang guru. Hehe.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  3. Wow, saya lupa pernah baca novel bergenre sick-lit atau belum, yang jelas saya belum baca The Fault in Our Stars dan 2 buku rekomendasi lain dari Kak Andry tsb. Saya ingin menanyakan beberapa poin berikut:
    1. Kenapa tumor otak dipilih?
    2. Judul novel Kak Andry ini, kalau sepintas dibaca agak mengingatkan akan judul "The Fault in Our Stars", ya. Ada elemen "star". Oleh karena saya belum baca novel Kak Andry ini, jadi saya pengin tahu, apa kaitan antara filosofi "bintang yang jatuh" dengan isi cerita itu sendiri?

    Terima kasih!
    @kimfricung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Frida,

      1. Karena aku ingin mengangkat tema tentang hilang ingatan. Aku juga ingin mengangkat tema bahwa rasa suka itu tidak berdasarkan kenangan, tapi hati.

      2. Nah... Kalau itu, silakan dibaca novelnya. Hehe.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  4. Ternyata novel seperti itu genre-nya Sick-Lit toh. Aku baru tau :3
    Ah, aku punya pertanyaan untuk kak Andry. Dari yang sebelumnya kakak males riset, dan harus buka banyak artikel dan blog, apa sih yang akhirnya membuat kakak menyelesaikan When The Star Falls ini dan diterbitkan? Hehe. Terimakasih^^
    Twitter: @Firdhamelia_

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Firdha,

      Karena kalau tidak diselesaikan, kisah para tokoh ini tidak akan tersampaikan.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  5. Membaca novel dengan genre sick-lit biasanya mempunyai banyak kalimat-kalimat motivasi dan aku suka membaca novel Sepeti itu ^^
    Pertanyaan saya untuk Kak Andry adalah
    1.bagaimana cara kakak membuat kalimat-kalimat yang mampu membuat pembaca When The Star Falls akan mengerti isi hati si tokoh dan membuat para pembaca ikut merasakan bagaimana jika dia menjadi si tokoh ?
    2. Kan mesti nyari tau sana sini tentang tumor otak dan sebagainya untuk membuat novel ini Kak,kakak pernah gak kepikiran (selama proses penulisan) untuk gak usah selesain novel ini? Mending buat novel yang gampang aja ?
    Terima kasih kak :)

    Twitter: @dillasyam27

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Nurfadillah,

      1. Kalimat-kalimat akan mengalir sendiri kok. Asal tokoh-tokoh berkarakter kuat dan cerita kamu latar belakangnya kuat, kalimat-kalimat itu akan keluar dengan sendirinya. Menurutku, para tokoh memiliki kisahnya sendiri. Tugas penulis hanya menuliskannya.

      2. Tidak pernah.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  6. Wah...bingung mau nanya apa ke Author, karena hampir semua pertanyaan seputar When The Stars Falls yang pengen aku tanyain, uda dijawab.

    So, kalau gitu nanya buat seseruan aja deh, hehe...

    Rapid Questions buat kak Andry yang terinspirasi dari Mbanya :D
    *Kasih alasannya ya Kak Andry

    1. Membaca atau menulis?
    2. Negative riview atau positif review?
    3. Sad ending atau happy ending?
    4. Best seller tapi gak dapat penghargaan atau penjualan biasa aja tapi dapat penghargaan?
    5. Romance atau Family?
    6. Baca bukunya dulu atau nonton filmnya dulu?
    7. Baca buku dalam negeri atau baca buku terjemahan? Plus penulis favorit.
    8.Lynn atau Sam?

    Terima kasih

    @Kimol12

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai,

      1. Dua-duanya. Menulis tidak bisa tanpa membaca. Membaca akan membuatku ingin menulis.
      2. Positif untuk moodbooster, negatif untuk membangun... Nggak bisa milih juga karena aku butuh dua-duanya.
      3. Happy ending
      4. Best seller tanpa penghargaan, karena lebih baik banyak orang yang membaca karyaku daripada mengejar prestige.
      5. Romance dengan bumbu family
      6. Baca bukunya dulu (kalau enggak males)
      7. Keduanya suka. Penulis dalam negeri: Windry Ramadhina, Ilana Tan, Lia Indra. Luar negeri: James Dashner, J.K. Rowling, Akiyoshi Rikako
      8. Sam (tokoh utama, jadi waktu menulisnya terasa lebih dekat dengan Sam daripada Lynn)

      Salam,
      Andry

      Hapus
  7. Wah kembali mengunjungi blognya kak peri hutan deh :D
    Aku suka banget novel yg bertema sick Lict karena walaupun menguras air mata dan bikin nyesek tapi ceritanya bakal berkesan dan sulit untuk dilupain juga kita dapat mengambil pesan dari cerita itu,walaupun emang klise sih tapi kalau pengarang dapat meramuhnya dgn baik pasti ceritanya akan jauh lebih menarik,nah aku mau tahu gimana sih kak Andry meramuhnya:) Agak sulit buat pertanyaannya karna kak andry sdh memaparkannya dgn baik:)Aku mau tanya gaya bahasa dan diksi seperti apa sih yang kakak pakai dalam novel ini? karna menurut aku gaya bahasa dan diksi itu juga menentukan menyentuh tidaknya suatu cerita,iya gak sih kak? :D hehe Gimana caranya kakak bikin orang yang membaca merasa tersentuh dan menguras air mata? eh gimana sih kata2nya ah begitulah pokoknya,semoga kak Andry mengerti :D
    salam
    Akun twitter : @Ukhty_ana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Ana,

      Menurutku bukan hanya gaya bahasa dan diksi yang menentukan bagus atau tidaknya cerita. Gaya bahasa dan diksi adalah pelapis luarnya, seperti bungkus kado yang cantik.

      Selain bungkusnya, menurutku isinya juga nggak kalah penting. Isi itu terdiri dari penokohan, alur, konflik, dan masih banyak lagi. Yang membuat orang merasa tersentuh dan terharu adalah kokoh atau tidaknya isi di dalamnya. Tentu saja kekokohan isi juga harus dibalut oleh bungkus yang cantik.

      Jadi, selain gaya bahasa dan diksi, untuk membuat cerita yang bisa menyentuh hati irang perlu diperhatikan juga kekokohan isinya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. terimakasih kk Andry pendapat dan jawabannya sgt menginspirasi :)

      Hapus
  8. Satu lagi pengetahuan tentang novel bertema sick lict aku peroleh dari novel ini.
    Pertanyaan untuk Mas Andry:
    Novel ini didedikasikan untuk siapa? Alasannya?

    Twitter: @nunaalia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Nunaalia,

      Hehe, silakan dibaca di bagian thanks to dalam buku ini, karena ada banyak sekali orang yang terlibat dalam menyelesaikan buku ini.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  9. Sejujurnya saya lumayan sering sih baca novel di mana salah satu tokohnya sakit, tapi saya serius baru tahu kalo itu yang dinamakan genre sicklit. Oh iya saya juga selalu tertarik sama karya yang ditulis cowok apalagi genre seperti ini. Justru biasanya lebih dapet feelnya :3
    Saya ajukan pertanyaan ya :
    1. Pembuatan novel ini terinspirasi dari sesuatu nggak Kak? Misalnya dari kehidupan nyata Kak Andry ada tokoh yang seperti itu?
    2. Apa kelebihan dari novel ini sehingga dapat menarik pembaca yang seperti kata Kak Andry banyak menganggap bahwa Sick-Lit ya ceritanya begitu-begitu aja?
    3. Apa yang paling Kak Andry nikmati dari proses pembuatan novel ini sendiri? Terus yang melatarbelakangi untuk membuat Sick-Lit itu apa Kak?
    4. Yang terakhir, apa harapan Kak Andry untuk novel When The Stars Falls ke depannya?

    Terima kasih :)
    Twitter : @ritzkyy99

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Rizky,

      1. Ide novel ini dari buku yang waktu itu aku baca dan sebuah dorama. Ada juga beberapa scene yang merupakan pengalaman pribadi.

      2. Tokoh utama cowok tidak seperti buku remaja lain yang relatif berkarakter kuat dan percaya diri. Sam adalah cowok yang minder. Lalu, twistnya.... Hehe.

      3. Pembuatan karakternya. Aku suka banget dengan semua karakter di dalam novel ini, bahkan termasuk Leon yang begitu pengin aku tonjok.

      4. Berharap agar lebih banyak orang yang membacanya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  10. halo kak Andry.

    karena ini novel bertema sicklit pasti anda kendalanya, apalagi soal twost ataupun plot yang berusaha sesuai dengan tema yg kita inginkan. nah pertanyaanku

    1.apakah kakak pernah mendapatkan jalan buntu mengenai twist supaya twist yg kakak buat itu benar-benar mengena di hati pembaca?
    2.pernahkan kakak ragu apakah cerita ini cukup menyedihkan bagi pembaca, karena biasanya pendapat pembaca itu beda dengan penulis. kalau ada apa solusi yg kakak buat?

    alasan aku ngasih pertanyaan ini karena aku juga suka cerita sicklit tp pas buat cerpennya ya kendalanya seperti yg di atas kak.
    makasih kak.

    twitter : @sandrafaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Sandra,

      1. Tidak, karena konsep When the Star Falls pada dasarnya sama dengan naskah lamaku. Aku hanya sedikit memperdalam karakter dan alurnya. Twistnya masih tetap sama dengan naskah lama, jadi tidak ada kendala yang berarti tentang twist.

      2. Sebelum terbit, naskah adalah milik penulis. Aku tidak pernah memikirkan karyaku akan dianggap seperti apa oleh pembaca. Kalau aku mulai memikirkan hal itu, tidak akan ada habisnya. Aku menulis apa yang aku sukai, dan berharap pembaca menyukainya juga.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  11. terakhir baca sick-lit itu People Like Us dan suka banget :D
    Ada pertanyaan nih kak,
    1. Menurut kakak, sedih mana antara People Like Us dan When Star Falls?
    2. Apa riset yang dilakukan hanya dari blog dan artikel? pernah muncul keraguan tidak atas hasil riset yg didapat?

    terimakasih:)
    @FarrMaSi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Farah,

      1. Masing-masing punya kelebihannya masing-masing. Untuk yang satu ini aku serahkan pada pembaca saja. Hehe.

      2. Iya, artikel dan blog. Tidak ada keraguan, terutama yang dari blog adalah blog orang-orang yang berhasil melewati keadaan yang serupa dengan Lynn, yaitu pengangkatan tumor otak.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  12. akun twitter : @MukhammadMaimun
    Wah, jadi tahu yang namanya novel sick lit. selama ini pernah baca novel yang kayak gitu tapi baru tau nama genrenya.
    Ada beberapa ertanyaan nih yang pengen saya tahu dari mas andry sebagai pengarang When The Star Falls. yaitu :
    1. Kenapa buku ini diberi judul When The Star Falls ?
    2. Butuh waktu berapa hari untuk riset sebelum menulis buku ini ?
    3. Biasanya membutuhkan waktu berapa hari untuk menerjemahkan sebuah karya ?
    demikian komentar dan pertanyaan saya.
    Mohon Maaf apabila ada kata-kata yang kurang sopan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Mukhammad,

      1. Berhubungan dengan quote yang ada di dalam buku ini. Jika kamu sudah membacanya, pasti paham kenapa aku memberinya judul ini. Hehe.

      2. Cek artikel di host sebelumnya, ya. Aku menceritakan tentang proses kreatif WTSF, dan kendala apa saja yang aku hadapi, termasuk pertanyaan kamu.
      http://atriadanbuku.blogspot.co.id/2015/12/blog-tour-when-star-falls.html

      3. Tergantung panjang naskahnya. Bisa sebulan, bisa dua bulan, bisa tiga bulan. Tergantung panjang naskah.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  13. Moshi-Moshi kak Andry^^ Uhukk tadi sempet kaget ternyata kakak pernah kerja di Jepang? Wah pasti asik tuh kak. Jujur aja nih kak aku suka banget sama negara Jepang dengan aneka budayanya, anime, manga apalagi doramanya:3
    Kenapa sih kak, kakak memutuskan berhenti bekerja di Jepang? Padahal pekerjaan itu kelihatan asik dan menjamin hidup kakak. Apa alasan kakak menjadi seorang penulis dan meninggalkan pekerjaan lama kakak? Padahal dengan menjadi penulis di negara ini belum tentu menjamin dan di hargai karyanya. Kenapa tak menjadi penulis di Jepang kak? Bukannya aku lebih cinta sang penjajah tapi aku cuma prihatin dengan beberapa penulis yang di jiplak karyanya dan tak di hargai sedikit pun. Arigatou Gozaimasu Senpai^^


    @AuliaaRez

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ahmad Reza,

      Aku memutuskan berhenti bekerja dan kembali ke tanah air, karena ingin mengejar cita-citaku sebagai seorang penulis dan penerjemah. Daripada keasyikan dan kesenangan hidup layak di negara orang, aku lebih suka hidup di dalam cita-cita di negara sendiri. Hehe.

      Aku ingat ada seseorang yang pernah bilang bahwa sebuah karya yang sudah dipublikasikan adalah milik pembaca, bukan lagi milik penulis seorang diri. Jadi, jika sudah ada di pasaran, aku tidak memedulikan apakah karyaku tersebut dihargai atau tidak, yang penting aku menulis dengan sepenuh hati dan dengan tulus.

      Untuk penjiplakan karya, memang memprihatinkan dan harus tetap kita lawan. Semoga ke depannya tidak ada lagi naskah-naskah jiplakan, maupun buku-buku replika dan buku bajakan.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  14. Genre sick-Lit ya ... baru dengar genre ini hehe

    aku setuju saat kak Andry mengatakan alur yang mudah di tebak kadang bisa menjadi nyesek bahkan saat proses penulisannya. Meski tema yang diangkat itu udah biasa banget. Karena beberapa kali aku juga pernah mencoba menulis cerpen dengan sad ending yang temanya udah biasa banget, tetap mendapat responnya yang bagus. Malah rasanya ketagihan membuat tema yang serupa. di tengah-tengah jalan penulisan, sempat saya berpikir, kok rasanya tema ini mirip sama karya si itu ya. Sehingga itu membuat saya hilang semangat buat nulis.

    Nah menurut kakak, tema yang udah biasa dan alur yang mudah di tebak, bagaimana kakak memainkan kedua hal tersebut hingga pembaca atau Kakak sendiri (saat membaca karya kakak sendiri) gak merasa bahwa ini tema ini udah pasaran? Intinya kakak sendiri pun gak merasa kalau karya kakak ini mirip dengan karya orang lain.

    @ntarienovrizal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Neneng,

      Menurutku, semua tokoh punya cerita mereka masing-masing. Meskipun alur besarnya rata-rata sama, tapi setiap tokoh dalam novel yang berbeda pasti memiliki masalah mereka masing-masing. Itulah yang harus diekspos. Gaya bahasa juga memengaruhi hal tersebut.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  15. ya, sama seperti beberapa pembaca yang lain saya juga baru ngeh apa itu novel Sick-lit. sekedar baca saja tapi nggak tahu itu masuk genre apa.

    untuk kak Andry, apakah suasana hati atau mood juga mempengaruhi selama proses penulisan When the Star Falls yg alurnya kita tahu bakal nyesek itu?

    kedua, karena tahu bahwa alurnya akan seperti apa, apa kakak tergolong penulis yang merancang plot cerita sejak awal atau mengalir saja dengan tidak menutup kemungkinan menemukan twist yang berbeda di tengah jalan?

    itu saja pertanyaan saya, terima kasih.

    @meilismiati

    BalasHapus
  16. Hai Mei,

    1. Aku rasa semua penulis harus suasana hatinya dalam menulis, karena itu memengaruhi gaya penulisannya nanti.

    2. Aku membuat plot secara garis besar, tidak secara detail. Tapi tetap ada plotnya.

    Salam,
    Andry

    BalasHapus
  17. Hallo Kak Andry..
    Mau tanya, apa yang kaka lakukan sebagai penulis jika ada pembaca awam yang membaca karya kaka, tapi ada satu atau beberapa patah kata dari tulisan kaka yang tidak dimengerti olehnya? Sedangkan kebanyakan penulis menggunakan diksi yang indah, kata-kata yang berbelit-belit, tapi ada beberapa orang yang tidak mengerti arti dari kata itu sendiri, sehingga pesan yang disampaikan penulis tidak dapat dicerna oleh pembaca itu.
    Terima kasih sebelumnya.

    Twitter: @uyunistaff

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Uyun,

      Seperti yang aku bilang di pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, naskah yang sudah terbit sudah bukan lagi milik penulis. Naskah itu adalah milik pembaca. Dimengerti atau tidaknya sebuah karyaku adalah hak pembaca untuk menilai dan aku sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Yang bisa aku lakukan hanyalah belajar dari kesalahan untuk bisa menulis lebih baik.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  18. Hai, Kak Andry. Kakak yang menerjemahkan buku-buku Akiyoshi Rikako di Haru, kan, ya? Pada novel yang akan terbit selanjutnya, apakah kakak masih mengangkat sick-lit remaja? Berhubung kakak adalah penggemar Akiyoshi Rikako, ada keinginan untuk menulis atau mungkin sudah menulis novel thriller, nggak? Kasih saran agar bisa menulis novel thriller yang bagus, dong, Kak. Thanks, Kak. :)
    — @aa_muizz —

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ahmad,

      Untuk saat ini, tidak ada rencana untuk menulis novel thriller. Bagiku, thriller adalah bahan bacaan dan kelihatannya aku tidak bisa menulis thriller dalam waktu dekat. Hehe.

      Untuk sarannya, karena aku bukan penulis novel thriller, jadi nggak bisa kasih banyak saran. Saranku adalah: perbanyak saja baca buku.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  19. Haiii Ka Andry!
    Mau tanya,
    1. Apa arti genre Sick-lit menurut Ka Andry sendiri?
    2. Bagaimana sikap Ka Andry jika ada pembaca yang menghujat karya Kaka yang When The Star Falls ini?

    Twitter: @biancanitta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Aubrey,

      1. Arti genre sick-lit menurutku? Erm… sama saja sih dengan pengertian di artikel di atas. Aku pribadi nggak punya definisi sendiri untuk genre ini.

      2. Kritik dan saran yang membangun akan aku jadikan masukan untuk bisa menulis lebih baik lagi.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  20. Untuk selanjutnya satu orang satu pertanyaan aja ya, biar nggak kedobelan dan yang lain punya kesempatan juga, terimakasih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Sulis!!
      Terima kasih kesempatannya yaa.
      Semoga artikel ini berguna dan pengunjung blog ini makin rameee. Hehe

      Hapus
    2. Aku yang seharusnya makasih kak, udah mau repot-repot jawab pertanyaan di blogku, semoga share ilmunya bermanfaat bagi yang lain ya. Yang tanya banyak banget, pasti capek jawab satu per satu, salut deh :D
      Untuk review bukunya menyusul, beberapa hari ini agak keteteran soalnya *pentung* :p

      Hapus
  21. Halo Andry (gak pake kak, soal lebih tua) ^^

    Sebagai seorang penulis, saat membaca review negatif, menurut Andry perlu ga mengomentari review dari pembaca?

    Mau tanya lebih sih tapi seperti yang Sulis bilang 1 saja, biar yang lain ada kesempatan.

    Twitter: @arynity

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Kak Lina,

      Menurutku, buku yang sudah ada di pasaran adalah milik pembaca, bukan lagi milik penulis. Jadi review seperti apa pun harus aku terima. Jika memang reviewnya buruk, daripada ditanggapi dan membela diri, aku lebih suka menyimpannya sebagai sebuah pelajaran untuk aku aplikasikan di naskah berikutnya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  22. Hi Kak Andry,

    Mau nanya kedepannya mau terus nulis tentang sick-lit atau mau cobain nulis tema yang lain? Kalo tetep mau nulis tentang sick-lit kenapa? dan kalo ngga sick-lit lagi mau tema apa?

    Ah emang, TFIOS itu buatku sendiri yang mengenalkanku sama tema sick-lit sih. Itu jadi buku favoritku sepanjang masa!

    Twitter: @afingleek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Akhfin,

      Sebenarnya genre utamaku adalah romance. Untuk genre naskah berikutnya, aku rasa aku akan tetap ada di genre romance. Kalau toh ada genre tambahan, misalnya fantasi, itu akan menjadi pemanisnya saja.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  23. Hallooo kak Andry ketemu aku lagi kali ini diblognya mbak Sulis.
    Pertanyaan edisi tengah malam nih dari ku sambil nonton Matrix: )
    Tanya apa yaaa, semua pertanyaan udah dilontarkan jadi bingung hehe

    Menurut kak Andry apa saja hal penting yang harus diperhatikan para penulis pemula dalam menulis karyanya? Apakah pemilihan sudut pandang dan menentukan sinopsis adalah kunci dari menariknya sebuah karya??

    Mohon bagi tips bimbingannya ya kak, sedikit tips dari kak Andry adalah motivasi bagi para pemula untuk lebih semangat lagi dalam membangun pondasi karyanya hehe.
    Sekian terima kasih

    Akun twitter: @RizAnNie88

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Eyis,

      Yang pertama harus diperhatikan oleh penulis pemula adalah, banyak baca. Kamu harus banyak-banyak membaca buku, terutama genre yang ingin kamu tulis, dan dari penulis kesayangan kamu.

      Pemilihan sudut pandan dan sinopsis bukan kunci sebuah karya. Itu hanyalah kulit luarnya saja, sebagai pemanisnya. Yang paling penting adalah karakter para tokoh, alur, dan konflik yang ada di dalamnya, juga cara kamu membawakannya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  24. Twitter: @Elyadelsunjarat
    Kak, apa sih yang bikin kakak geregetan ataupun sebel saat menggarap novel ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Elya,

      Tidak ada yang signifikan. Aku cukup banyak dibantu oleh tim penerbit dalam hal ini. Jadi tidak ada yang terlalu membuatku sebal.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  25. Hai (lagi) kak Andry! hehe
    Oh... astaga... aku baru tau ternyata ada juga genre Sick-lit. Kukira hal-hal begitu termasuk dalam kisah Romance... karena kebanyakan melibatkan perasaan. Sungguh aku baru tau-_-
    Aku boleh ngga sih nanya hal diluar genre ini? Karena aku penasaran banget. Soalnya waktu ada AskAndry, pertanyaanku ngga ada yang masuk fyuh.
    "Kenapa Kak Andry memilih karakter wanita yang kuat dan pemberani. yang kubaca dibeberapa review tentang WTSF mengisahkan lana yang lebih berani dan melindungi tokoh laki-laki. dan dicerita SSK juga wanita kuat, tegar... yang biasanya para penulis menuliskan karakter wanita itu lemah, butuh perlindungan lah, dan hal sebagainya. Tapi kak Andry berbanding terbalik, merasa kalo wanita itu ngga selamanya identik dengan cengeng dan rapuh. Mengapa?"

    T: @Anggitarav

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Anggita,

      Aku ingin menunjukkan sebaliknya: tidak semua cowok kuat, tegar dan bisa diandalkan.


      Salam,
      Andry

      Hapus
  26. twitter : @yannie_minnie

    ada gak genre novel yang dari dulu pengen kakak tulis tapi belum bisa kakak realisasikan hingga sekarang? terus, apa suka dan duka yang kakak rasakan saat menjadi seorang penulis ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Rizki,

      Genre yang dari dulu ingin ditulis adalah fantasi, tapi sayangnya aku tidak berbakat dalam menulis fantasi, padahal suka banget bacanya.

      Suka menjadi penulis, ya bisa menyapa pembaca seperti ini di dunia maya. Bahkan kadang bisa bertemu secara langsung waktu ada acara dari penerbit. Dukanya… saat naskah ditolak mungkin ya, juga waktu revisi naskah. Hehe.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. fantasi? wah.. keren banget tuh kak, semoga suatu saat kakak bisa mewujudkan keinginan kakak untuk nulis novel fantasi :)

      Hapus
  27. GFC: etika setya
    link share: https://twitter.com/tikikabum/status/676577072320352256
    twitter: @tikikabum
    Saya juga pernah nulis tema sick-lit. Lebih tepatnya sih 'pernah mulai nulis' hehehe. Sebenernya jalan ceritanya sudah terpikir. Akhir ceritanya juga udah dipikirin. Intinya, kerangka sudah ada *meski cuma disimpen di kepala aja*. Tapi masalahnya saya bingung tentang bahasan penyakitnya. Sudah baca-baca artikel, juga sudah tanya-tanya temen yang lulusan kedokteran. tapi tetep aja nggak pede. "Gimana kalo ternyata saya salah info?" gitu terus yang ditakutkan hiks. Kalo kak Andri risetnya selain lewat artikel, lewat mana aja sih? terus berapa lama risetnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Etika,

      Yang paling berguna waktu riset adalah blog orang-orang yang mengalami hal tersebut. Jadi, yang menurutku dibutuhkan bukan istilah-istilah kedokterannya, melainkan prosesnya, pengobatannya, juga perasaan orang waktu mengalami hal tersebut.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  28. Twitter: @chaecungmochi

    Halo kak Andry.

    Aku baru tau kalau ada genre sick-lit. Dan ternyata genrenya People Like Us sama kayak When The Star Falls ini. Sepertinya aku bakal suka juga sama bukunya kak Andry yang satu ini. Mengingat buku kak Andry yang sebelumnya juga suka banget.

    Gak tau nih mau tanya apa. Tadi sekilas baca kak Andry suka nulis yang berbumbu romance sebagai genre utama. Ada minat atau rencana gak buat nulis genre lain dan romancenya aja yang buat bumbu? Hehehehe.

    Terima kasih kak. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Rizcha,

      Untuk sementara aku nggak ada rencana untuk menulis genre lain. Romance akan tetap menjadi fokusku.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  29. Hello kak Sulis yg blognya selalu ramai, dan makin sering di-kepo-in.. hihihii numpang ikutan yaa

    Hai ka Andry, karena pertanyaan-pertanyaan di atas sudah jelas terjawab, aku cuma mau nanya, menurut kk seberapa 'harus' para penggemar/pembaca novel untuk baca novel When The Star Falls ini? dan kenapa?

    Terima kasih kk kk, maaf kalau pertanyaannya membingungkan..hehe
    @tirr_

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Tiara,

      Harus banget.
      Tidak seperti novel romance biasanya dengan karakter pria yang kuat, novel ini penuh dengan cowok-cowok penuh masalah. Dan tentu saja, twist yang ada di akhir novel akan membuatmu tidak bisa melupakan kisah Sam dan Lynn.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. Makasih ka udah dijawab.. skrg jadi yakin, kalau ga dapet lewat giveaway, aku harus beli novel ini.hihi><

      Hapus
    3. Makasih ka udah dijawab.. skrg jadi yakin, kalau ga dapet lewat giveaway, aku harus beli novel ini.hihi><

      Hapus
  30. wah baru tahu kalau ternyata kak andry itu yang nulis terjemahn buku girls in the dark. Aku jujur lebih suka novel genre seperti itu. Novel jepang suka banget menimbulkan teka-teki pas waktu baca kak. Sekarang banyak juga sih novel yang genrenya sick-lit dan menurut aku emang alurnya mudah di tebak. Tapi aku ga tau kalau yang WTS ini, makanya bagi satu kak novelnya hehe...

    pertanyaan aku,
    Kenapa kakak ngambil tema sick-lit yang sudah umum kak? Ga tertarik buat genre fantasy advanture ? kan jarang novel indonesia temanya seperti itu. atau aku yang gak tau ya? hehe. makasih tolong di jawab.

    maaf jika typo, keyboard keras
    @hany_aln

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Hany,

      Sick-Lit pun masih jarang di Indonesia, kok. Dan genre utamaku sebenarnya adalah romance. When the Star Falls juga sebenarnya adalah romance dengan latar belakang sick-lit.

      Alasan kenapa tidak genre lain, karena untuk saat ini aku merasa nyaman dengan romance, dan masih perlu banyak belajar di genre ini sebelum mencoba yang lain.

      Salam, andry

      Hapus
  31. Awalnya aku tahu sama Sick-Lit itu dari novel dan film-nya Nicholas Sparks yang A Walk to Remember. Sekalinya tahu, langsung suka banget. :D

    Pertanyaan untuk Andry Setiawan:

    Pernah nggak selama nulis novel ini sempat terpikirkan untuk membuatnya sedramatis dan setotal mungkin dengan harapan bisa dilirik oleh rumah produksi perfilman? :)

    @murniaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Aya,

      Selama menulis sih, tidak pernah. Karena, tujuanku adalah menulis.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  32. Langsung aja aku kasih pertanyaan ya :D

    Menurut seorang Andry Setiawan, apakah sebuah novel sick lit itu salah satu tokohnya HARUS mengidap penyakit MEDIS yang parah dan berakhir tragis di mana si tokoh utamanya meninggal karena tidak sanggup melawan penyakitnya lagi?
    Kalau berkesempatan bikin novel sick lit lagi, ada nggak keinginan untuk membelokkan ceritanya supaya tidak mainstream?

    Twitter: @btgmr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Bintang,

      Untuk penyakit, karena genre sick-lit, harus ada salah satu tokoh yang mengidap penyakit. Untuk meninggal atau tidaknya, itu terserah penulis ingin membawa ceritanya ke mana.

      When the Star Falls sudah bukan mainstream kok. Coba dibaca ya. ^^

      Salam,
      Andry

      Hapus
  33. Twitter : @annisa_nurazza

    Hmm...kalau sick lit udah beberapa kali baca sih , dan emang bener walaupun aku sudah tahu endingnya dia bakal meninggal , tetep aja nangis pas bagian waktu dia meninggal :"

    Nah menurut kakak novel ini bisa bikin pembaca sampe meneteskan air mata gak ? kira - kira berapa orang yang nangis baca novel ini diantara 10 pembaca ? Terus yang bikin aku penasaran itu covernya , aku suka banget covernya tapi aku gak paham makna nya, kayak lagi mancing gitu , punya makna tersendiri kah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Annisa,

      Wah, untuk itu kamu harus baca sendiri deh kayaknya. Terus kamu bisa minta 10 teman kamu untuk baca, kemudian tanya apakah mereka sempat menangis.

      Untuk makna covernya... Karena spoiler, tidak akan saya jawab di sini. Bisa kamu baca sendiri di novelnya. ^^

      Salam,
      Andry

      Hapus
  34. Tema yang kak Andry hadirkan dalam novel When The Star Falls cukup sulit dan tentunya sensitif karena bercerita tentang bagaimana tokoh dalam novel berjuang menjalani hidup dengan penyakit yang diderita. Sebenarnya nggak selalu berhubungan dengan kematian, walau bisa saja mengarah kesana. Pertanyaan saya untuk kak Andry :

    "Bagaimana cara kak Andry membuat novel When The Star Falls bisa diterima oleh penikmat cerita fiksi, khususnya pecinta novel Kak Andry ?"

    Terimakasih.

    @HikariMio

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Hikari,

      When the Star Falls memiliki tokoh-tokoh dengan karakter yang kuat. Karakter itu juga didukung oleh latar belakang mereka masing-masing.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  35. Halo Kak Andry, semoga belum bosan untuk menjawab seabrek pertanyaan yang sudah masuk.

    Sebenarnya Kak Andry sendiri sukanya bacaan genre apa? Apa memang kebanyakan sering baca fiksi yang genre sick lit juga? Karena biasanya tulisan yang kita tulis itu merupakan cerminan dari yang biasanya suka kita baca.

    Oh ya, kan sudah nerjemahin beberapa novel Jepang nih. Berarti udah fluent dong bahasa Jepang-nya. Adakah terlintas niat untuk next project bikin tulisan atau buku (nggak harus fiksi atau novel) yang bertemakan Jepang bahkan berbahasa Jepang?

    (Twitter: @chynrm)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Cahya,

      Aku suka baca genre fantasi, juga romance. Sicklit juga suka.

      Untuk bertema Jepang, aku sudah pernah ada. Judulnya Then I Hate You So dan (Not) Alone in Otherland. Coba cek ya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  36. Wah ... Pertanyaannya udah banyak banget ya Kak Andry. Hehheeee Karena cuman boleh nanya 1 pertanyaan saja sih. Aku mau tanya ini nih, kak Andry gimana sih proses pengeditan naskah ini mulai dari sebelum hingga terbitnya, pernah nggak terlibat pertengkaran kecil dengan editor bahkan mungkin sampai harus mengganti beberapa bagian dalam naskah (atau banyak cuttingnya kak)?

    Kepanjangan ya ... Maaf ...

    (Akun twitter : @Agatha_AVM)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Agatha,

      Untuk edit, lancar kok. Nggak pernah ada pertengkaran. Paling cuma pilihan diksi, tapi secara garis besar lancar.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  37. Hai, Kak Andry.
    Saya pribadi cenderung menyukai genre angst yang akrab dengan tema sick-lit. Saya penasaran, apa yang mendorong dan menginspirasi Kakak sehingga menulis novel dengan tema tersebut?
    Terimakasih, Kak Andry.

    Akun twitter: @cha_ichie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Eka,

      Ide WTSF sudah lama sekali. Saya tertarik menulis kisah Sam dan Lynn sejak membaca buku karya Ichikawa Takuji, dan menonton dorama dengan tema sick-lit.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  38. Wah, secara gak langsung artikel ini udah berhasil menjawab pertanyaan saya di blog sebelumnya... :D makasih banyak kak Andry...

    Nah, pertanyaan saya berikutnya mungkin agak lari kali ya tapi semoga gak lari terlalu jauh... :D dan pertanyaan nya adalah percayakah kak Andry pada mitos "memohonlah ketika kau melihat bintang jatuh, maka permintaan mu akan terkabul" ?? :D

    Itu aja deh :D

    Sukses terus untuk novelnya dan terima kasih untuk infonya yang bermanfaat dan juga waktunya... :)

    Salam

    @n0v4ip
    Link share : https://twitter.com/n0v4ip/status/677434247376842752

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Nova,

      Separuh percaya separuh tidak. Karena, permohonan tanpa usaha tidak akan pernah bisa mengabulkan keinginan.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  39. GFC : Mawar Hs
    Akun twitter: @goodenoughoks

    Siapa tokoh paling favorit di When The Star Falls ini? Dan siapa tokoh yang paling sulit untuk ditulis?

    Terima kasih kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mawar,

      Tokoh fave: Billy
      Yang sukar ditulis: Lynn

      Salam,
      Andry

      Hapus
  40. Hello !! waw saya nggak nyangka anda co author (Not) alone in otherland ! sudah pengin buku itu dan akan sampai bulan januari, yah tahun baru saya akan baca pengalaman anda di jepang, dan dua pengalaman lain di china dan korea ^0^ salam kenal ...

    saya Lutfi, baru mendengar istilah sick lit hehehe, tapi saya juga suka tema itu, sudah baca enam buku john green dan the fault in our stars juga favoritkuuu ah perasaanku TAT

    cerita sick lit yang sangat berbeda cara penyampaian ceritanya itu the fault in our stars dan surat kecil untuk tuhan. Hal yang saya sangat sukai adalah Gus, dia bisa jadi the best boy in the books ...dia meninggal dengan dignity. Ah ya, sebenernya yang paling aku suka karena Gus nggak banyak mengeluh, dan dia super funny.

    1. Pengin tanya sih, filosofi (?) atau alasan yang fit kenapa sampulnya when the star falls bergambar demikian? ... menurutku sampul itu punya daya magis loh, berkali-kali salah sangka beli novel tapi nggak akan jera. Apakah anda juga tipe yang juga suka beli buku jika sampulnya menarik?
    2. Apa yang membuat anda menjadi penulis? Apakah menulis itu terapi? ... untuk menulis berton-ton kalimat perlu disiplin diri. Bagaimana disiplin diri yang anda terapkan dalam menulis, apakah ada hukuman, hadiah dll? Sebenernya pertanyaan kedua ini intinya dari alasan anda menulis, lalu disiplin seperti apa sehingga ide itu dapat terwujud buku ...

    3. Anda suka menulis dimana?

    4. Kadang-kadang aku heran sama orang yang menyarankan bacalah buku setiap hari. Kalau saran ini, aku okay. Tapi kalau sarannya bacalah satu buku setiap hari. Hal ini terlalu berat menurut saya. Karena, saya belum terbiasa membaca dimana-mana. Dan jika ingin menyelesaikan satu buku sehari, kadang saya merasa isolasi sosial. Bagaimana pola membaca anda? Dan adakah saran bagi saya untuk cara membaca saya? Feedback sangat diapresiasi :)

    Oh iya ini kata favorit saya dalam novel Tokyo Tower : 'Tetap berjuang, ya'

    @lutfixx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Lutfi,

      1. Sudah ada pertanyaan ini. Cek di atas ya.
      2. Menulis adalah hobi, jadi saya asyik aja waktu menulis. Tidak ada sanksi, tidak ada tekanan.
      3. Dalam kamar.
      4. Baca satu buku sampai selesai. Kalau bosa di tengah-tengah, ya sudah ditinggal dan pindah dulu ke buku lain. Tidak perlu dalam satu hari dilahap habis. Membaca harus perlahan dan dinikmati.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  41. Hai kak Andry ^^
    Hm... Nambah ilmu baru nih ^^ hehehe
    Kak, aku pernah membuat cerita yg bergenre Sick-lit (waktu itu belum tau nama genrenya). Awal-awalnya semangat, tapi ujung-ujungnya malah jadi bosen. Karena males banget riset2 tentang penyakitnya :D trus aku juga bingung mau lanjutin gimana lagi. Jadi kak, aku mau minta saran nih dari kakak, gimana caranya menghilangkan rasa malas untuk riset sekaligus cara menulis bergenre Sick-lit yang bagus :D

    Makasihh ^^

    Twitter: @FebrinaAdriani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Adriani,

      Rasa malas hanya bisa ditanggulangi oleh dirimu sendiri, dan rasa tanggung jawabmu terhadap para tokoh dan kisah mereka. Jadi, jangan malas ya. ^^

      Salam,
      Andry

      Hapus
  42. Senang sekali bisa nambah ilmu tentang genre sick-lit yang jarang ku baca. Tapi sangat menarik sih jadi pengen lintas baca ke genre ini juga. Selain itu, proses penulisannya cukup panjang ya, risetnya juga total banget. Salutt!

    Kak Andry, selama proses editing apakah banyak ada brainstorming atau revisi naskah? Kebanyakan revisi tentang apa dan kenapa?
    Apakah revisi ini memakan banyak waktu juga?
    Sukses terus yaa! Semoga makin produktif. Mau baca Then I Hate You So dulu deh, sebelum novel ini dan Sayap-Sayap Kecil :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Rini,

      Karena ini naskah lama, proses brainstorming sudah tidak ada. Revisi alur sempat satu kali. Coba cek di blog sebelum ini ya. Aku ceritakan di sana.

      Salam,
      Andry

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...