Minggu, 20 Desember 2015

Wheels and Heels by Irene Dyah Respati | Book Review

Wheels and Heels
Penulis: Irene Dyah Respati
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: PT Elexmedia Komputindo
ISBN: 978-602-02-75475
Cetakan pertama, November 2015
320 halaman
Buntelan dari @aikairin
Pangeran memalsukan citra saat bertemu Cinderella di belantara
Cinderella memalsukan busana saat berdansa dengan Pangeran di istana
Dan toh, mereka bahagia selamanya

Abhilaasha tak bisa lepas dari gaun mewah, high heels, dan dunia gemerlapnya. Sedangkan, Aidan selalu lekat dengan kemeja aneh, serbakaku, dan dunia otomotifnya.

Dua dunia berbeda itu mempertemukan Abby dan Aidan.

Mereka berperan, berpura-pura, beradu dalam rahasia.

Ketika kejujuran ditunjukkan oleh masing-masing pemeran, apakah semua akan tetap sama?

------------------------------
"Karakter tokoh utama yang kuat ditambah kisah cinta yang rumit dan nggak biasa jadi kombinasi cerita yang sempurna"
- Evi Mauliza (minvi), admin Twitter @NovelAddict_


Editor's Note
Novel dengan tema unik, menyuguhkan sesuatu yang baru, dengan teknik bercerita yang membuat nyaman pembacanya. Ketika sampai ending, pembaca bisa jadi terbawa suasana dan menginginkan karakter tokoh pria di novel ini benar-benar hadir di dunia nyata.
Bagi Abhilaasha yang seorang usher atau talent iklan, penampilan sangat penting, berwajah cantik dan punya tubuh molek merupakan modal utama dalam pekerjaanya. Sering memakai barang mewah dan buatan desainer terkenal, terlebih semua gratis, salah satu bonus yang disukai Abby. Namun, kadang dia risih juga dengan pendapat orang tentang pekerjaannya, sering dibilang bodoh bahkan simpanan orang, sangat-sangat tidak menghargai jerih payah. Salah satunya contoh ketika Abby mengikuti training usher motor show, sang pelatih tidak lepas memandangi kakinya. Yang lebih nyebelin lagi, sang pelatih yang bernama Aidan itu sangat kaku, dingin, memiliki selera humor yang garing, dia juga menanyakan hal yang sangat menyinggung Abby, apa mobil apa yang dimiliki Abby.

Mungkin terdengar sepele, melihat penampilan Abby memang mewah, tapi terlepas dari make-up dan barang branded yang dia pakai, Abby adalah tulang punggung, ATM bagi keluarganya. Ayah Abby sudah meninggal, menyisakan warung makan yang akan digusur, ibunya tidak pandai mengelola keuangan serta keras kepala dan beberapa adiknya yang masih sekolah. Membuat Abby harus pintar mencari uang, membanting tulang nyaris tanpa libur dan tidak jarang mengirit pengeluaran, seperti berpikir seratus kali untuk naik taksi dan memilih ojek sebagai alat transportasi. Abby memiliki sahabat kaya raya yang tidak akan segan menolongnya, Nicolette, tapi Abby sangat berprinsip, dia tidak suka dikasihani orang lain. Nicolette sering menjodohkan Abby dengan lelaki kaya, berharap kemiskinan yang menimpa Abby akan sirna ketika menemukan pasangan yang berada, sayangnya tidak ada yang cocok bagi Abby. Abby malah tertarik dengan Aidan, lelaki yang tanpa sengaja menghina status sosialnya.

Pertemuannya dengan Aidan ternyata tidak hanya sekali itu, beberapa kali setelahnya Abby sering bersingungan dengan Aidan, bahkan lelaki tampan tapi canggung tersebut sampai repot-repot membelikan bolu ketan favorit Abby dan satu-satunya orang yang membawakan berbagai macam bahan makanan ketika rumah Abby terkena banjir. Semakin lama hubungan mereka semakin dekat, bahkan Aidan mengajak Abby berkenalan dengan keluarganya. Awalnya Abby tidak tahu kalau Aidan menyandang nama Artalasmana, nama keluarga pemilik gedung perkantoran dan pertemuan serta pemilik grey importer (importir pemasok mobil-mobil premium), Abby tidak menyangka kalau Aidan sangat mapan, tidak heran juga kalau dia menyukai dunia otomotif. Abby tidak matre tapi dia juga sudah lelah hidup miskin, Aidan pun percaya kalau Abby bukan seorang perempuan yang hanya mengerogoti harta kekasihnya. Aidan mengenali orang semacam itu dengan baik, Abby berbeda, Aidan benar-benar mencintai Abby apa adanya. Namun, perbedaan status sosial mereka mau tidak mau tetap menjadi penghalang, sanggup menciptakan jarak.

Kali pertama membaca tulisan mbak Irene, gaya tulisannya ringan, tanpa berbelit-belit dan bisa saya kategorikan metropop banget. Alurnya sangat cepat, disuguhkan dari sudut pandang orang pertama, Abby, kita akan lebih memahami kehidupan dan perasaannya. Walau tema utamanya bersinggungan dengan kehidupan mewah, penulis tidak sering mengumbar barang branded, untuk dunia otomotifnya, walau tidak detail banget, setidaknya saya mengetahui beberapa hal tentang mobil dan terutama kehidupan seorang usher (tidak ada penjelasan langsung pengertian tentang usher ini, tapi menurut saya sama dengan model iklan sebuah produk).

Ceritanya sendiri mengambil tema si kaya dan si miskin, disuguhkan secara berbeda, terlebih lewat karakter para tokohnya. Walau miskin, Abby tidak malu dengan keadaanya, dia bekerja keras dan menabung untuk keluarga, dia juga tidak terlena dengan kemewahan teman-temannya, dalam artian tidak ikut-ikutan membeli barang mahal, dia cukup sadar diri. Dia digambarkan sebagai perempuan yang riang dan suka usil kalau menyangkut Aidan, baginya Aidan terlalu kaku untuk seorang cowok. Aidan sendiri orangnya kikuk dan pemalu, masa lalunya yang kelam akan cinta membuatnya berhati-hati dengan perempuan cantik, dan memilih berusaha mandiri tanpa bantuan nama keluarganya yang kaya raya. Aidan menyukai Abby karena dia tampil apa adanya, tidak berpura-pura atau hanya menebar kecantikan tapi hatinya busuk. Abby juga sering dijodohkan dengan lelaki kaya oleh Nicollete, namun se-hopeless-nya dia, kalau tidak cocok dengan lelaki tersebut, Abby akan mundur teratur. 

Nicolette sendiri tipe sahabat setia, dia tidak akan segan-segan atau perhitungan ketika membantu temannya yang kesusahan. Namun, sifat keras kepalanya Abby yang gengsian kadang membuat Nicolette senewen. Padahal niat membantu bukan karena kasihan terhadap Abby tapi peduli, masalah status ini jugalah nantinya yang menjadi konflik diantara Abby dan Aidan. Untuk tokoh favorit jelas jatuh pada Aidan, karakternya tidak umum, dia terlihat lemah, namun di sisi lain juga tampak romantis dan perhatian banget pada Abby. Bagian favorit adalah ketika Aidan memberikan tanaman bunga matahari kepada Abby, agak lucu sebenarnya tapi romantis. Terus ketika Aidan mengalami kecelakaan dan ditengok oleh Abby dia jadi manja banget, hahahaha.

Untuk kekurangannya, tidak banyak, mungkin lebih ke plotnya yang kurang rapi saja dan kedetailan cerita. Cara penulis membangun perasaanya kedua tokoh utamanya cukup membekas dan terasa hanya saja beberapa konflik yang disuguhkan sedikit membingungkan. Konflik utama yang saya tangkap adalah Abby merasa tersinggung ketika Aidan ingin membantu masalah keuangan keluarganya, intinya status sosial mereka. Namun, ada juga bagian Nicollete yang ternyata akan dijodohkan dengan Aidan dan masalah Abby dengan ibunya, saya menganggap keduanya sebagai sub konflik, tidak terlalu masalah juga sebanarnya, hanya saja penyelesaiannya terlalu cepat dan sempat bingung mana konflik yang utama. Selain itu saya berharap mendapatkan lebih banyak lagi informasi tentang dunia otomotif, soalnya awam banget saya ini, hehehe.

Overall, saya cukup menikmati tulisan mbak Irene yang beralur sangat cepat ini, tanpa basa basi, saya juga suka cara penulis menyelesaikan masalah Abby dengan ibunya, cukup jelas penyampaiannya. Dari segi pengkarakeran tokohnya juga sukses, semoga buku berikutnya lebih bagus lagi :D Bagi yang ingin mengintip kehidupan para usher cantik, kalian bisa membaca kisah hidup Abby. Recommended bagi pecinta metropop.

3 sayap untuk mobil SUV, baru tahu kepanjangannya dari buku ini XD.

7 komentar:

  1. mbak boleh tau caranya gimana tentang biografi nya Irene Dyah R krn untuk rugas akhir kuliah saya, saya meneliti novel wheels and heels ini . terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba kamu kontal langsung beliau ya, hubungi saja akun twitter-nya @aikairin :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...