Selasa, 27 Oktober 2015

Sayap-Sayap Kecil by Andry Setiawan | Book Review

Penulis: Andry Setiawan
Penyunting: Yooki
Desaign Cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Inari
ISBN: 978-602-71505-2-2
Cetakan pertama, Oktober 2015
124 halaman
Buntelan dari @penerbitinari
Pembaca.
Berikut fakta singkat tentang diriku:
1. Namaku Lana Wijaya
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.
Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terjadi pada pasangan suami istri, di mana mayoritas pelaku adalah para lelaki. Namun, banyak juga kasus yang terjadi pada anak, para orangtua yang tanpa segan melukai anak mereka sendiri, seperti kisah yang dialami Lana Wijaya, tokoh utama buku ini. Lana sering menjadi korban kekerasan ibunya, dia sering mendapati lebam pada tubuhnya, beberapa kali menghindar pertanyaan teman dan tatapan guru. Kemarahan ibunya kadang tanpa alasan, hanya masalah sepele Lana harus menerima pukulan di tubuhnya, misalkan saja lupa tidak menyiapkan makan. Ibunya akan kalap, memukul dengan sadis, beberapa waktu kemudian dia akan meraung-raung minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, namun hal tersebut tidak pernah terjadi. Memukul-minta maaf-memukul lagi, begitu seterusnya.

Lana tidak bisa berbuat banyak, ibunya adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, dia masih bergantung, ibunya yang membiayai sekolah dan makan. Orangtua Lana bercerai sewaktu masih kecil, ayahnya ingin meninggalkan dunia malam dan mencari kehidupan yang lebih layak, namun ibu Lana menolak, dia memilih tetap menjadi penari malam, kemudian ibu Lana membawanya kabur, Lana tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya dan tidak tahu dia ada di mana. Lana hanya bisa bertahan, dia akan menyelesaikan sekolah, mendapatkan pekerjaan dan meninggalkan ibunya.

Kehadiran Surya, kakak kelas sekaligus tetangganya yang baru memberi warna pada kehidupan Lana yang suram, mereka sering menghabiskan waktu bersama, saling mencurahkan masalah, Surya suka mendengarkan Lana bernyanyi sambil bermain gitar di balkon sekolah. Kedekatan mereka lama kelamaan membuat Lana mempunyai perasaan lebih pada Surya, namun Surya terlalu misterius dan dia sudah keterlaluan menyangkut permasalahan Lana dan ibunya, sampai-sampai menghubungi KPAI! Lana sama sekali tidak ingin ibunya dipenjara, dia satu-satunya keluarga yang Lana punya. Sedangkan Surya hanya ingin menyelamatkan Lana, bahwa Lana bisa mendapatkan keluarga yang lain.
"Manusia pada akhirnya harus menghadapi semuanya sendirian, meskipun dikelilingi banyak orang."
Aku, seorang gadis dengan lebam di lengan kanan atas, kini duduk bersila di atas beton hangat, diteduhi tangki air sambil memeluk gitar dan menyetemnya. 
Tema yang cukup berat, kekerasan pada anak, namun dikemas secara ringan oleh Andry Setiawan dengan menggunakan teknik menulis seperti diary, halamannya juga tidak banyak, bisa dibilang buku ini masuk ke jenis novelet. Namun pesan yang ingin disampaikan penulis ke pembaca tergambarkan dengan cukup baik, aspek psikologis para tokohnya dengan mudah bisa kita pahami, penyebab ibunya melakukan kekerasan pada Lana, dampak yang Lana terima akibat kekerasan yang dia alami, serta pandangan orang lain melihat isu yang akhir-akhir ini cukup hangat di kehidupan nyata, bahwa kekerasan pada anak haruslah dihentikan, segera lapor bila kita melihat kekerasan pada anak karena sangat berpengaruh terhadap psikologis anak ke depannya.

Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, kita akan merasakan langsung bagaimana perasaan sang tokoh utamanya. Walau kehidupannya suram dan menyedihkan, penulis tidak membuat Lana menjadi seorang gadis yang lemah, dengan kalimat yang cukup sarkasme, penulis ingin menunjukkan seberapa kuat Lana menghadapi permasalahan yang dialami. Tokoh Surya sendiri walau cukup misterius dia digambarkan sebagai cowok yang tidak hanya merasa kasihan namun ingin membantu Lana keluar dari masalah, menjadi tempat berbagi, mencarikan solusi. Sedangkan untuk ibu Lana, ya, dia memang sakit, lewat kacamata Lana kita tidak akan langsung mencerca, dia sangat manusiawi, dia hanya butuh ditolong.

Kekurangan buku ini, kurang tebal, hehehe, maklum saya penyuka buku bantal, coba kalau halamannya lebih banyak dan cerita dikembangkan lebih detail lagi pasti akan sangat menarik. Tema yang diusung penulis sangat bagus, belum banyak penulis dalam negeri mengambil tema seperti ini, mayoritas memilih tema bullying sehingga bisa menambah referensi kita. Selain itu twist yang dihadirkan penulis sama sekali tidak bisa saya tebak, menjadikan buku ini beraroma fantasi. Kali pertama membaca tulisan Andry Setiawan, sepertinya saya tidak akan kapok, cara berceritanya asik, tidak melow dan cenderung sarkasme, dia bisa memalsu sebagai seorang gadis dengan cukup baik, melihat penulis sendiri adalah seorang lelaki, pasti tidak mudah. Cover buku ini juga manis sekali.

Bagi yang ingin membaca karya perdana penerbit Inari, imprint dari penerbit haru, buku ini wajib kamu baca. Penerbit Inari adalah penerbit yang fokus pada karya lokal, dengan tema yang sederhana dan cerita yang ringan untuk pembaca remaja. Selain itu, penerbit Inari juga menerima segala jenis genre, baik itu genre drama, romance, romantic comedy, romance fantasy, suspense/thriller. Saya berharap penerbit Inari juga menerbitkan genre mental illness, salah satu genre favorit saya akhir-akhir ini ^^

3 sayap untuk sayap-sayap kecil :D

5 komentar:

  1. Hebat! Kak Andry sukses menulis sudut pandang perempuan, padahal dia sendiri cowok. Jadi kepo sama tone dari Lana, deh. Dia perkawinan gaya bahasa agak sarkasme soalnya xD Aku malah punya novel pertama Kak Andry yang Then I Hate You So itu, jadi kepo gimana gaya menulis Kak Andry sekarang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah belum baca bukunya yang pertama, penasaran juga perkembangan tulisannya seperti apa :)

      Hapus
  2. pas dua hari yang iseng liat deretan novel lokal, iseng liat cover dan sinopsis belakang. Pikiran awal "oh harganya klop lah dengan setebal ini"

    dan pas baca, "wah ringan dibaca ya" dan tumben-tumbenan baca non-stop, maklum kalo baca novel speed baca berkurang atau pun kalo misalnya kecepetan (gegara tertarik banget) bakal di stop di tengah buku karena... ya sayang-sayang lah, ga tega juga langsung dikebut

    kenyataannya, dalam waktu kurang dari dua hari, gegara penasaran terus akhirnya selesai dannnnn waaaaaaaaaaaaa dat twist, ga nyangka banget bakal begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, emang nggak ketebak banget endingnya :)

      Hapus
  3. artikel yang menarik, silahkan juga baca artikel terkait floor hardener http://www.ahlibeton.co.id/2015/09/floor-hardener.html

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...