Jumat, 23 Oktober 2015

Last Forever by Windry Ramadhina | Book Review

Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Jia Effendie
Ilustrator isi: Windry Ramadhina
Desain sampul: Ayu Widjaja
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-843-2
Cetakan pertama, 2015
378 halaman
IDR 80k + Book Jacket (PO di @GagasMedia)
“Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana..., ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu.” — Samuel

“Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar?” — Lana

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?
Samuel Hardi adalah produser sekaligus sutradara film dokumenter paling hebat se-Asia, di umurnya yang baru menginjak sembilan belas tahun dia sudah mendapatkan penghargaan internasional, di umur dua puluh empat tahun dia memiliki studio film sendiri. Samuel terkenal dengan sikapnya yang arogan dan perfeksionis, dia salah satu seniman genius yang sering mendapatkan puji namun banyak juga orang yang tidak menyukai karena sikap sombongnya tersebut. Samuel juga terkenal playboy, banyak perempuan memujanya, dia tidak percaya dengan komitmen, tidak percaya dengan pernikahan, dia Anomali. Suatu pagi dia ditinggal pergi begitu saja oleh Lana, dia kesal namun juga merindukan perempuan tersebut, ego-nya yang sangat tinggi mau tak mau terusik.

Lana Lituhayu Hard, dia adalah tandingan kuat bagi Samuel, mandiri, keras kepala dan tidak mempercayai komitmen. Bagi Lana pernikahan tidak pernah adil bagi perempuan, mereka selalu menjadi pihak yang mengalah, misalkan saja harus melepaskan pekerjaan atau impian. Lana adalah seorang produser tetap di National Geographic Channel, dia hidup nomaden, sering bepergian ke berbagai belahan dunia untuk membuat film. Kalau dengan perempuan lain Samuel hanya sebatas berkencan, bercumbu atau bercinta, berbeda dengan Lana, dia spesial. Samuel senang membicarakan film dan budaya dengan Lana, salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan dan Samuel tidak pernah bosan dengan Lana. Kesibukan keduanya membuat mereka tidak bisa sering bertemu, namun selalu dinantikan. Lana pertama kali terpesona dengan Samuel lewat sebuah film dokumenter tentang penari Jawa yang ditayangkan pada Festival de Cannes, Prancis. Sejak itu dia mulai mencari tahu tentang dirinya bahkan tanpa malu mendekatinya. Seperti halnya Samuel, Lana sangat menyukai jenis hubungan yang mereka jalani, tanpa ikatan, tanpa status.

Pasca insiden pergi diam-diam, Lana tidak membalas surel dari Samuel, dia ingin memberikan kejutan. Proposal film dokumenter yang diajukan telah disetujui oleh atasan Lana, bersama dengan Patrick atau Pat, rekan kerja sekaligus kamerawannya, mereka akan terbang ke Indonesia, membuat film dokumenter tentang Flores, meliput keberadaan kampung megalitikum di sana, salah satu impian terbesar Lana dalam karirnya. Mereka hanya akan berangkat berdua dari Washington dan mencari kru tambahan dari studio lokal di Indonesia, dan Lana sangat tahu siapa yang akan membantunya, studio ternama yang sudah bertahun-tahun bekerjasama dengan National Geographic, studio Hardi.
"Dalam hubungan lelaki dan perempuan, memang harus ada yang dikorbankan. Itu yang membuat hubungan berhasil. Itu yang menjadikan hubungan berharga."
Dalam perfilman, ada sebuah istilah bernama Dolly. Samuel dan sineas-sineas lain menggunakan itu untuk menandakan perubahan sudut pengambilan gambar. Dolly berarti kamera bergerak menyorot dari satu titik ke titik lain sehingga pandangan penonton tidak lagi sama.
Itu lazim dalam perfilman. Perubahan menjadikan film dinamis.
Dalam kehidupan, perubahan adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh Samuel.
"Aku punya ketakutan yang sama. Aku takut apa yang kau khawatirkan benar-benar terjadi -aku akan menyakitimu dan membuatmu menyesal hidup bersamaku. Kau benar. Aku tidak bisa menjamin apa-apa. Aku memang bukan lelaki paling ideal untuk dinikahi. Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana..., ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu."
Kelar membaca buku ini, saya langsung jatuh hati dengan Samuel Hardi, lelaki arogan super genius yang perfeksionis, tapi ketika dia benar-benar berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan, dia bisa berubah menjadi super romantis. Bisa dibilang Last Forever adalah buku dari Windry Ramadhina paling favorit setelah Memori, ya, Simon masih menduduki peringkat pertama, baru disusul oleh Samuel. Kalau sudah baca Montase, pasti kalian akan mengenal Samuel Hardi, salah satu dosen yang mata kuliahnya dihadiri diam-diam oleh Rayyi, di mana dia juga muncul banyak di buku ini. Dalam Montase, kita akan menganal sosok Samuel yang hebat, arogan dan playboy, di buku ini tidak jauh berbeda, namun kita akan mengetahui lebih detail lagi perihal perkembangan karakternya.

Penulis sendiri pernah bilang dia ingin membuat tandingan Samuel, seseorang yang bisa mengalahkannya, seseorang yang mampu membuat sang Anomali bertekuk lutut di hadapannya. Lana sangat pantas, dia sangat memamahi Samuel, sangat mengerti dirinya, mereka berdua sama-sama tidak mempercayai komitmen, mereka berdua mirip. Lana punya masa lalu yang buruk akan pernikahan. Sewaktu masih muda, ibunya adalah penari profesional, dia sangat terkenal di luar negeri namun setelah menikah dengan ayahnya yang hanya seorang wartawan, dia melepaskan impian, dia berhenti menari dan memilih menjadi seorang istri dan ibu, membuat ibunya melepaskan impiannya. Lana tahu ibunya tidak bahagia, dia tidak ingin seperti dirinya. Hal itulah yang ditakutkan Lana, kehilangan impian, tidak bisa bebas, tetap memilih sendiri ketika dia dihadapkan permasalahan yang harus melibatkan Samuel, tanggung jawabnya.
"Memiliki anak," jawab Samuel, "itu yang lebih mengerikan dari menikah. Itu akhir dari kehidupan lelaki."
Sedangkan Samuel, kita akan melihat dia mengejar, berusaha memenangkan hati Lana, membuatnya berpenampilan tidak rapi dan brewokan. Lana sukses membuat seorang Samuel yang perfeksionis merana. Lana bahkan berhasil membuat Samuel memikirkan hubungan mereka lebih jauh, tentang komitmen yang mungkin saja bisa mereka jalani, dia tidak bisa berpisah dengan Lana, dia tidak bisa kehilangan perempuan itu. Saya tidak akan gamblang menceritakan konflik yang mereka berdua hadapi, sebagai kejutan saja, lebih menarik kalau kalian menemukan sendiri.

Banyak sekali adegan yang mengesankan, penulis menggambarkan perasaan kedua tokohnya secara perlahan, dan saya sangat menyukai semua hal yang dilakukan Samuel untuk Lana. Yang paling favorit adalah ketika insiden kecelakaan yang menimpa Samuel di Flores, begitu tahu sudah sampai di Jakarta, Lana langsung pergi menemui Samuel, melupakan kemarahan terhadap Samuel karena sudah menuduh merenggut impian Lana akan film dokumenter yang ingin dibuatnya. Terasa sekali perasaan Lana, di mana sebenarnya dia sudah mencintai Samuel. Pun dengan Samuel sendiri, kecemburuannya kalau ada lelaki yang dekat dengan Lana membuat saya tersenyum, bagaimana hubungannya dengan Lana sanggup mempengaruhi mood-nya di studio dan membuat bawahanya kewalahan, dibalik sikapnya yang arogan tetap saja tidak bisa menutupi perasaanya. Oh ya, ending di buku ini juara sekali!

Saya tidak bisa berkata banyak, saya menyelesaikan buku ini hanya beberapa jam setelah sampai di tangan, page-tuner banget. Yang jelas, buku ini recommended banget bagi pecinta domestic drama, tentang dua orang yang sama-sama tidak mempercayai sebuah ikatan pernikahan namun keduanya dihadapkan permasalahan yang memaksa untuk bersatu, tentu saja tidak mudah karena mereka anti komitmen. Dari sanalah penulis menggali perasaan keduanya, dengan diksi yang tidak perlu diragukan lagi, Windry Ramadhina menyuguhkan bagaimana ego seseorang runtuh karena cinta, bagaimana dua orang yang sama-sama jatuh cinta harus memikirkan kembali akan pilihan hidup yang selama ini dijalani, bahwa sebuah pengorbanan kadang diperlukan untuk bahagia.

4.5 sayap untuk India atau Lasa :D

6 komentar:

  1. settingnya menarik yaaa...dunia film niiih :)...aku belum pernah baca karya ini sebelumnya. Great to know makin banyak penulis Indonesia yang keren-kereen..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tentang film dokumenter lagi, jarang banget diangkat :)
      Windry Ramadhina adalah salah satu penulis yang bukunya autobuy, alias wajib dibaca, recommended banget :)

      Hapus
  2. salah satu wishlist akuuuuu.. makin pengen baca deh abis baca review kak Sulis :'D

    BalasHapus
  3. masukin wishlist ah. tulisan windry bagus2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, salah satu penulis favoritku :p

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...