Rabu, 07 Oktober 2015

Amora Menolak Cinta by Rainy Amanda | Book Review

Amora Menolak Cinta
Penulis: Rainy Amanda
Penyunting & Perancang Sampul: Amanda Bahraini
Penerbit: AB
Cetakan pertama, September 2015
238 halaman
Buntelan dari @rainyamanda
Amora : 



Kalian percaya cinta? Aku tidak. 
Menurutku, cinta hanyalah khayalan para penyair renaissance yang kurang kerjaan. 
Jantung mereka berdebar, dan mereka artikan itu sebagai cinta. Bibir mereka bergetar dan mereka artikan itu sebagai cinta. Mereka susah tidur, susah makan, 
dan mereka artikan itu sebagai cinta. 
Bahkan yang kelewat posesif dan main tangan mengartikan tindakan mereka sebagai cinta. 
Padahal itu semua hanyalah reaksi kimia dari otak yang mempengaruhi kerja organ-organ tubuh kita. Bedah sedikit, suntik sedikit, hilanglah kupu-kupu dalam perut yang mereka elu-elukan itu. Apa istimewanya? 

Tapi kenapa semua orang masih saja memuja cinta?
Amora menganggap kalau cinta itu sebenarnya nggak ada, jatuh cinta hanya reaksi kimia dari otak yang mempengaruhi kerja organ-organ di tubuh kita, semua terjadi karena kerja hormon, sehingga tidak ada yang istimewa. Begitulah cara Amora menasehati sahabatnya, Erin yang habis putus cinta dengan pacarnya karena diduga selingkuh. Erin tidak perlu berlama-lama bersedih, dia akan lekas move on kalau tahu cara menyiasatinya, perasaanya bisa diatur. Lewat buku The Science of Love, Erin bisa mendapatkan panduan asupan nutrisi dan gaya hidup yang menormalkan hormon yang ada di tubuh kita.

Tentu saja menyembuhkan luka hati tidak semudah teori yang dijabarkan Amora, nyatanya sampai sekarang Amora masih saja melajang, tidak lagi percaya cinta karena dahulu dia pernah disakiti, dia kapok jatuh cinta. Mantan pacar sahabatnya itu, Shinji, cowok tampan blasteran Jepang yang memiliki logat sunda kental dan konon seorang playboy tersebut satu jurusan dengan Amora, jurusan Biologi di Universitas Negeri Bandung. Erin tidak henti-hentinya menanyakan kondisi Shinji, apakah dia menyesal telah putus atau sudah memiliki gandengan baru. Tidak hanya Erin, banyak juga teman cewek satu jurusan yang mengincar Shinji untuk dijadikan pacar, selain tampan, cowok tersebut juga terkenal baik pada siapa pun.
"Salah satu zat yang terstumulasi saat lo merasa 'jatuh cinta; itu serotonin. Reaksinya bisa membuat lo hanya terfokus pada satu hal. Ada juga dopamin, efeknya sama kayak otak yang sedang dalam pengaruh kokain. Jadi, Gak heran kalau sekarang rasanya berat banget. Itu karena lo lagi dalam kondisi terobsesi kayak stalker dan sakaw kayak pemakai narkoba. Tapi itu kan otak lo -elo yang pegang kendali. Lo gak akan nangis kayak gini kalau tahu cara menyiasatinya."
Suatu hari Amora tanpa sengaja melihat Erin dan Shinji sedang serius berbicara, hari ketika mereka putus. Kemudian ada seorang laki-laki yang mencurigakan dan tidak lepas memandang tas Erin, dan benar saja kalau dia adalah pencopet, Amora langsung mengejar laki-laki tersebut, Shinji juga langsung gerak cepat. Setelah itu, ada kejadian yang tidak akan pernah dilupakan Amora, niatnya dia ingin melempar sang pencopet dengan botol susu moka yang baru setengah dia minum, namun lemparannya meleset, tepat mengenai Shinji. Sejak itu, Amora selalu menghindar ketika berpapasan dengan Shinji. Tentu saja dia malu, namun sebaliknya, semenjak kejadian tersebut Shinji seperti selalu ada di sekitar Amora, bahkan mereka satu kelompok dalam Diklat Himpunan atau ospek jurusan.

Seringnya berinteraksi membuat hubungan Amora dan Shinji semakin dekat. Amora masih ketus tapi dia sudah mulai menerima kehadiran Shinji, sedangkan Shinji tetap saja perhatian, memberikan banyak sinyal kalau dia tertarik dengan Amora. Ketika hubungan keduanya semakin dekat, Erin malah menjauh, membuat Amora merasa bersalah, dan menegaskan kalau mereka hanya berteman. Apakah benar demikian? Kenapa Shinji menyanggah dan dia tidak ingin membohongi isi hatinya? Belum lagi kehadiran Daniel, salah satu asisten pembimbing dalam HIMBI, orang yang telah menorehkan luka di hati Amora, membuatnya harus berdamai dengan masa lalu dan memulai lembaran baru.
Cinta itu tidak ada. 'Cinta' adalah reaksi kimia akibat hormon dari otak yang mempengaruhi kerja organ tubuh kita. 'Cinta' yang kita kenal merupakan hasil romantisasi penyair-penyair melankolis.

Dan itu, adalah satu-satunya teori cinta yang perlu kupercaya.
Dulu saya pernah berkata kalau tidak mau lagi menerima tawaran review buku dari self-published karena kebanyakan tidak sesuai dengan selera saya. Namun, ketika membaca beberapa bab awal novel ini, saya terpaksa menelan ludah sendiri, mengingkarinya. Ide ceritanya cukup unik, bergenre mainstream romance kemudian menggabungkannya dengan sedikit sains dan Biologi, tidak terlalu terkesan dipaksakan, melihat tokoh utamanya memang berkecimpung dalam hal ini, Amora berharap bisa menggeluti bidang neurosains, terutama yang berhubungan dengan hormon, sehingga menjadi sangat informatif. Tidak hanya tentang cerita cinta pasaran yang ingin diutarakan, namun penulis juga mencoba menghadirkan sesuatu yang beda dalam karyanya.

Selain itu, saya sangat suka cara penulis bercerita, cukup mengalir bahkan humornya juga terasa. Bagian melempar kotak susu itu lucu banget, belum lagi ketika Amora mengalami kejadian yang tidak mengenakkan soal haid-nya, waktu dia bilang ke Shinji tentang dinding rahim yang ngelotok, soal pentol korek, hahaha, banyak adegan yang memorable dan bikin mesam-mesem. Saya juga sangat suka cara penulis menceritakan proses jatuh cinta kedua tokoh utamanya, pelan-pelan namun berkesan, sama sekali tidak dipaksakan, layaknya proses alami seseorang jatuh cinta. 

Pengkarakteran para tokohnya juga sangat sukses, saya suka dengan karakter Shinji, dengan ketulusan dan perhatiannya terhadap Amora, dia manis banget. Bahkan Amora yang sangat skeptis terhadap cinta bisa membuat kita berempati. Persahabatannya dengan Erin juga realistis banget, saya suka cara penulis mengakhiri kisah Amora ini, nggak ada pertemanan yang selalu adem ayem aja, pasti suatu saat akan ada konflik di dalamnya, untuk menguji seberapa kuat ikatan tersebut, sama halnya dengan hubungan yang lain. Dan poin plusnya, deskripsinya juga cukup detail, baik itu para tokohnya maupun cara penulis menggambarkan suasanya yang dialami tokohnya, ini sangat penting sekali bagi saya, karena saya bisa ikut merasakan apa yang tokohnya alami. Sedikit saran, mungkin penulis bisa mengembangkan lagi cerita lewat buku The Sience of Love yang menjadi 'kitab suci' Amora dalam percintaan, soalnya jarang dibahas, belum terlihat kehebatannya, padahal buku tersebut sangat menarik bagi saya :p

Saya sempat heran kenapa tulisannya yang bagus ini hanya diterbitkan lewat self-published? Yang jelas, Rainy Amanda mempunyai bakat dalam bercerita. Bisa dibilang ini buku self-published pertama yang paling saya suka. Sebenarnya nilainya bisa lebih, hanya kemasannya saja yang membuat saya tidak nyaman ketika membaca, bisa dimaklumi karena self-published. Semoga selanjutnya lebih baik lagi dan karya selanjutnya bisa diterbitkan secara major, amin :D
"Tapi biar kamu bisa tenang... gimana kalau kamu anggap hubungan kita ini semacam antigen?"
"Ha?"
"Kayak vaksin. Efek sampingnya bisa jadi gak menyenangkan. Sakit hati, nangis, kecewa. Tapi kalau penanganannya benar dan kamu gak nyerah, bisa buat antibodi kamu lebih kuat lagi."
Amora Menolak Cinta bisa didapatkan dalam bentuk paperback dan e-book. Untuk info mengenai pembelian, sneak peek 3 chapter awal novel, dan lainnya, kalian bisa mengunjungi blog penulis di tulisanmanda.wordpress.com atau via twitter @rainyamanda.

Recommended bagi kalian yang ingin mengetahui seberapa besar pengaruh hormon dalam percintaan :p

3.5 sayap untuk sang ilmuwan cinta.

6 komentar:

  1. Dooooh, yang anak biologi cocok banget nih baca ini. Tapi nyerempet soal kimia juga dong kalau ada reaksi-reaksinya *kibas poni*. Ada penjabaran reaksi turunannya juga nggak nih? Hahaha. Tapi buku The Science of Love itu beneran ada ya? Penasaran deh! XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti malah jadi buku pelajaran dong, wakakaka, nggak, nggak banyak kok tentang Biologi-nya, porsinya pas lah untuk cerita inti. Kurang tahu juga, seperti yang aku katakan di review, penjelasan tentang The Science of Love tidak banyak.

      Hapus
  2. Udh baca juga.. Sediih bgt deh gw baca buku ini, soalnya jadi habis deh. Trus sekarang gw kayak ada yg ilang gitu krn biasanya tiap hari gw menunggu waktu me time buat baca buku ini.. Bagus bangeeeeet.. Dan gw belum bisa move on dari buku ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhhh, membekas banget ya, hehehe, kalau aku masih aja terbayang-bayang sama manisnya Shinji :p

      Hapus
  3. Jadinya, belajar biologi dan kimia sambil belajar nih. Ada dopaminnya juga, terus hormon lagi yang kebetulan nyerempet materi biologi lagi :3 Covernya lucuuuu, rambutnya gemesin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bisa sampil belajar juga :)
      Untuk ukuran self-published covernya juara!

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...