Minggu, 20 September 2015

Chit Chat Seru Bersama K. Fischer | Ask Author


Hai hoooo, dalam rangka blog tour novel Amore terbaru dari penulis K. Fischer terbitan Gramedia, selain ada book review dan giveaway, saya berkesempatan ngobrol seru dengan penulis yang sekarang bermukim di Austria. Kali kedua saya mewawancarai penulis yang tinggal jauh dari Indonesia, pertama dengan Amanda Inez, penulis Beauty Sleep yang tinggal di Canada. Kalau dulu teknik mewawancarai dengan melontarkan semua pertanyaan baru menunggu jawaban, kali ini saya menggunakan fasilitas chat facebook untuk ngobrol dengan penulis yang biasa dipanggi mbak Uti ini.

Chatting dilakukan pada tanggal 11 September 2015, pukul dua belas dini hari WIB, di sana jam tujuh malam, beda lima jam. Kalau bulan Oktober perbedaan waktunya malah enam jam, dikarenakan summer time dan winter time, kalau musim dingin gelap banget sehingga waktunya dimundurin satu jam, biar anak-anak yang sekolah yang jalan kaki masih bisa lihat jalanan, begitu kata mbak Uti, udah jadi masalah klasik kalau di sana, hihihi, tapi seru juga ya, beda bulan bisa beda waktu.

Nggak usah lama-lama ya pembukaanya karena nanti bakalan panjang obrolan saya dengan mbak Uti, dan pastinya seru dong :D

Untuk pertama-tama boleh dong mbak Uti memperkenalkan diri, biar pembaca lebih tau sosok penulis yang sekarang jauh dari Indonesia
Saya awalnya suka baca, terus jadi suka nulis. Pertama kali karya muncul di majalah pas saya kelas 5 SD, puisi, diterbitin majalah Kawanku. Sejak itu jadi makin semangat nulis, diterbitin Bobo, si Kuncung, Ananda, Kawanku (nama-nama majalah tahun 80an ahahha ketahuan umurnya deh).

Ketika kerja di Austria (saya insinyur mesin, jadi kerja di perusahaan yang membangun pabrik baja), saya melanjutkan kesukaan nulis dengan bikin cerita sehari-hari saya di sini. Terus banyak temen suka, baru deh kepikir buat jadi buku.

Tapi karena background sekolahnya bukan sastra, saya awal-awalnya bikin artikel majalah, non fiksi, gelar data. Sempat menjadi pengasuh rubrik Jelajah Budaya di majalah anak Bravo! (terbitan Erlangga), baru lama-lama belajar sendiri bikin cerita fiksi. Sekarang sudah ratusan artikel di berbagai majalah dan 16 buku yang terbit.

Nama asli mbak Uti siapa?
Kusumastuti. Titik. Doang. Saja. Makanya di Eropa jadi masalah karena ngga ada nama keluarga. Panggilan Uti.

Jadi, Fischer nama suami ya?
Bener nama keluarga suami... haha.  Saking ngga biasa pake nama keluarga, pas awal-awal kawin aku ngga nengok dipanggil Fischer.. nunggu di apotek.. dipanggil-panggil aku diemmmm aja.. malah mikir... kenapa ibu mertuaku dipanggil-panggil ya, dia kan ngga di sini. 

Untuk buku anak aku pake Kusumastuti (seperti yang akan terbit bulan depan), buat romance dewasa K. Fischer.

Sejak kapan pindah ke Austria? Apakah ingin menetap di sana atau suatu hari nanti kembali ke Indonesia?
Sejak 1996. Awalnya sama sekali ngga niat pindah. Jadi ceritanya begini. Setelah lulus mesin UI, saya bekerja di perusahaan Austria di Jakarta. Niatnya dikirim ke head quarter 2 minggu, September 1996, buat kenal orang-orang di sana. Dari 2 minggu jadi 3 minggu, jadi sebulan, jadi 3 bulan, jadi 7 bulan, jadi bablas. Awalnya sama sekali ngga bisa bahasa sini, sama sekali ngga mikir bakal di sini, tapi ya anggap sebagai challenge. Dari nol sampai jadi Project Manager. Sekarang kayaknya terus di sini, karena sekarang sudah berkeluarga dan anak-anak juga sekolah di sini.

Dapat orang sana juga mbak? Hihihi. Baca Blue Vino dan Berlabuh di Lindoeya tokoh utamanya sarjana mesin, sama kayak mbak Uti, nih. Bahkan ada beberapa kemiripan dengan kisah mbak Uti sendiri. Emang di sengaja ya?
Hahaha itu kualat. Yah namanya di kantor pasti ada rekan kerja yang ok ada yang engga. Di sini jarang cewek kerja di bagian teknik, jadi banyak "rintangan"nya. Dulu aku selalu bilang "duh benci banget bangsa Aria" hahhaha kualat kan... dapatnya malah sama orang Austria. Jadi jangan benci yang berlebihan hahaha.

Soal banyak tokohnya bisa mesin, ya hahaha penulisnya tahunya itu hahha tapi aku juga berusaha membuat tokoh yang bukan mesin sekarang. Kalau pernah baca Denting Lara, tokoh wanitanya bukan anak mesin.

Hmmmmm.. kalau cerita mungkin engga mirip dengan ceritaku (aduh kasihan banget akunya haha banyak amat cowoknya hahahha), tapi ada beberapa adegan yang mirip dengan adegan yang mirip dengan kejadian di hidup nyata baik dariku atau dari orang yang aku kenal.

Yah, belum baca Denting Lara, huhuhu. Baru baca Olez, Blue Vino dan Berlabuh di Lindoeya. Tiga novel yang aku baca itu kan bersetting di luar negeri semua (Austria dan Norwegia). Apakah sedari awal memang ingin menulis novel bersetting luar negeri? Terus apakah mbak Uti juga pernah ke sana alias tempatnya beneran ada?
Karena pernah ke sana jadi menulis tempat yang aku tahu. Jadi tidak sengaja di luar negeri, kan Denting Lara itu 100% Jakarta - Depok. Memakai rumah teman kuliah sebagai rumah si tokoh utama. Kalau Blue Vino, bukan hanya suka ke padang anggur di sini, aku juga suka wine. Tepatnya tertarik belajar jenis-jenis wine. Karena pas baru kesini tahunya wine merah, wine putih, udah. Tahunyaaaa buanyak jenisnya. Berlabuh di Lindoeya itu hasil ke Norwegia dua tahun lalu.

Ide-ide cerita yang mbak Uti buat dapatnya dari mana, nih? Terus kapan biasanya menulis? Pasti sibuk banget dong selain mengurusi keluarga dan kerjaan
Idenya dari mana-mana. Dari ngeliat/ baca/dengar sesuatu tiba-tiba timbul ide. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan, sampai saat ini sih belum pernah keabisan ide, nah kendala terbesar waktu. Nggak ada jadwal khusus, biasanya ya malam.

Setelah menceritakan makanan di Olez, anggur di Blue Vino dan indahnya pulau kecil di Norwegia dalam Berlabuh di Lindoeya, berikutnya pengin menggangkat hal apa lagi nih mbak? Apakah udah ada calon buku terbaru?
Ada. Oktober nanti keluar buku anak dari BIP biar balance. Buat dewasa, lagi dalam proses bikin jadi masih takut cerita-cerita dulu hahaha..

Ada perbedaan besar nggak sih mbak sewaktu menulis buku anak dan dewasa? Lebih susah mana? Aku lihat produktif banget nulisnya, nggak pernah ngalamin yang namanya write's block atau kendala lain selain waktu?
Perbedaan besarnya di kompleksnya kalimat. Lebih susah buat anak. Karena ruangnya (jumlah kata) lebih terbatas. Jadi suka geregetan sendiri, kurang puas, data masih banyak, cerita masih bisa panjang, udah harus abis. Kalau dewasa ya cuma jumlah halaman biasanya yang membatasi. Penerbit nggak suka kalau novel tebel-tebel karena urusannya dengan harga jual. Writer's block belum pernah ngalamin, benar-benar thanks God, ya kendalanya waktu. Soalnya di sini semua harus dikerjakan sendiri.

Oh ya, aku nggak terlalu mengerti bahasa sana (pakai bahasa Jerman ya mbak?) kenapa huruf o dibaca oe? Hehehe, penasaran
Yang Lindoeya, itu bahasa Norwegia, aslinya o dicoret garis, bacanya oe. Kalau Jerman ö pake titik dua diatas o , bacanya juga oe.

Austria itu bahasanya Jerman ya mbak?
Emmm mirip. Kayak Indonesia Malaysia. 95% Jerman deh. Ada kata-kata yang beda, dan bahasa Austria sehari-harinya beda banget. Yang aku ngga bisa ngomongnya hahaha lidahnya susah, jadi official pake Jerman dengan kata-kata Austria, bahasa gaulnya Austria.

Ada adegan yang paling berkesan nggak di novel Berlabuh di Lindoeya?
Yang paling berkesan, adegan mancing. Karena ngalamin, tepatnya diajarin mancing malam-malam di laut utara hahaha.. Banyak orang Indonesia di sana yang doyan mancing ternyata. Jadi kalau weekend, pada melaut. Jadi pas nulis novelnya, adegan mancing itu harus masuk ke novel.

Dari semua novel dewasa yang mbak Uti pernah buat, mana yang paling berkesan dan paling susah? Berapa lama waktu penggarapannya?
Susah tidak aku pikir kurang lebih sama, aku lebih milih paling menantang, itu Denting Lara. Temanya ngga biasa, rentang waktu ceritanya dari tokoh utamanya SMA sampai lulus kuliah.

Siapa penulis yang disukai mbak Uti? Buku apa yang paling menginspirasi?
Oha, banyak. Enid Blyton, Agatha Christie, Clive Cussler, J.K. Rowling haha malah ngga ada yang roman..
Banyak buku yang menginspirasi.. bingung juga disebut satu-satu, saat ini lagi baca series POLDARK - Winston Graham. Jadi sekarang terinspirasinya itu. Little House of the Prairie - Laura Ingals. Masih punya cita-cita nerbitin serial buku anak tinggal di pertanian.

Oh ya, selain menulis, mbak Uti suka merajut ya? Ceritain dong tentang hobi yang satu ini :)
Wah hobby nya banyak.. merajut itu awalnya karena kebutuhan, tinggal di negara yang 8 bulan dingin butuh syal, etc. Terus nyoba pake knitting loom, bisa disambi (ngga kayak pake jarum rajut) jadi makin suka dan sampai bikin buku panduan dalam bahasa Jerman dan fb pagenya. Hobby lain melukis, kalau ini dari kecil udah sering pameran, juga di Austria. Tapi sejak rajin menulis, melukisnya dianaktirikan hihihi.

Boleh nggak minta foto atau pemandangan yang ada di sana? Siapa tau nanti bisa menyusul mbak Uti ke Austria atau Norwegia, hihihi, baca buku-bukunya jadi kepengen banget ngunjungi latar yang ada di novel.


Ini rumah di Lindoeya yang menginspirasi ceritaku, cuma dua rumah di pinggir laut, satu biru satu kuning, pas liat ini aku mikir, apa yang terjadi antar tetangga ya? Akur atau malah diem-dieman.

Wahhhh keren banget, emang banyak banget ya mbak satu pulau hanya terdiri dari beberapa rumah aja? Pengen ke sana deh, huhuhu
Iya pulaunya kecil, jadi dibatasi sama pemerintah Norwegia hanya boleh sekian rumah.

Yang ini gedung operanya yang mendaki sampai ke puncaknya hahaha aku sampai puncaknya tapi ngga berani liat kebawah.. ngeri,.. orang sana duduk-duduk dengan cuek di atas atap.
Kalau yang ini bendungan di dekat rumahku (30 menit nyupir lah) kalau summer jadi pusat pariwasata /olah raga.
Itu parkiran kapal. Di sana orang punya kapal ngga punya mobil
Toko di Lindoeya, yang jualan bensin kapalnya Rasmus
Itu feri datang, jadi sistemnya yang datang keluar dulu, baru kita masuk.
OH INI bagus buat pembaca, ferinya beneran ke lindoeya! ini mbak. Liat tulisan di kapal feri. Ini yang ke Lindoya kapalnya.


Mbak mau tahu kenapa aku mikir Rasmus matanya memancar kuat? Gara-gara liat foto di atas.
Dia itu Fridtjof Nansen, bersama dengan Amundsen, sebagai orang-orang pertama yang mampu ke Kutub Utara. Jadi kapal yang membawa mereka ke Kutub Utara dijadikan museum, kapal utuh satu gitu, asli melongo banget deh. Terus ada fotonya. Si Nansen ini yang bikin alat ski pertama, pas mudanya asli ganteng banget hahaha, ini foto pas dia ke kutub. Itu foto dia dipajang di dinding kapal, matanya kayak ngikutin gitu. Nah pas sampai rumah aku google, ternyata keren orangnya.. nama dia diabadikan jadi Nansen Passport, passport buat orang-orang yang ngga punya negara.

Yaampun mbak, seksi banget matanya si Nansen, jadi bisa bayangin gimana si Rasmus, hahaha *cari jodoh orang Viking aja kali ya* 
Orang Norwegia matanya emang ajaib gitu.

Aku buta banget sama Eropa, emang Austria dan Norwegia itu berdekatan sama Kutup Utara ya, mbak? *bakar rapor* =))
Austria ngga, di tengah (tenang aku kalau ngga tinggal di sini juga parah Geografi). Austria mikirnya tengah Eropa, gunung Alpen, ngga ada laut. Norwegia deket dengan kutub, gara-gara orang-orang ini (Nansen dan Amundsen ) yang pertama menjejakkan kaki ke sana jadi sebagian Kutub Utara milik Norwegia. Aku tuh pas denger ah museum OK dikepala gedung meuseum gitu kan, pas masuk, kapal! Satu kapal gede di depan mata! Kapal yang mereka pake buat ke kutub jadi museum. Asli.. Wow. Jadi beneran bisa merasakan mereka dulu hidup gimana, lha wong itu kapalnya, kabinnya, semua utuh.

Jadi kayak gitu mbak prosesnya aku liat sesuatu, terus tinggal ada ide, gara-gara liat pulau, dibawa mancing, liat dua rumah kuning biru tadi, terus liat si Nansen.

Beri alasan dong kenapa orang harus baca novel-novel mbak Uti, terlebih yang paling baru ini, Berlabuh di Lindoeya

Karena masalahnya tidak melulu di seputar cinta. Seperti kehidupan nyata, masalah hidup tokoh-tokohnya juga nyata. Bisa terjadi dengan siapa saja. Ditambah penggambaran lokasi dan pendewasaan tokohnya dari awal cerita ke akhir, novel-novel ini berbeda dari novel yang lain.

*ambil koper* *berenang ke Norwegia* *kelelep di samudera Hindia*

***
Cukup seru ya mengenal mbak Uti lebih jauh lagi dan proses penulisan buku-bukunya, selain itu ide yang didapat juga simple banget, berawal dari mengunjungi Norwegia, melihat pengalaman yang terjadi di sana, langsung deh tercetus ide untuk membuat novel. Asli, baca cerita mbak Uti saya jadi kepengin ke Norwegia, rasanya damai gitu, walau kadang ada hujan es, tetep aja berasa romantis, tiap hari bisa naik kapal, bisa mendayung bersama dengan pasangan tercinta #eaaaa. Selain itu juga informatif, dapat sejarah orang-orang yang pertama sampai ke Kutub Utara. Jadi pengen dapet bule kayak Rasmus, tatapan matanya begitu menggoda dan seksi. Yuk, siapa yang mau ngajak saya bulan madu ke sana? *jejelin es kutub* =))

Mbak Uti ini orangnya asik banget, nggak marah saya tanya macam-macam (saya orangnya kepo dan nyablak banget) malah menawarkan diri kalau ada yang kurang silahkan ditanyakan lagi, dia juga sangat terbuka, mau menerima saran dan kritik apa saja. Merasa bukan orang sastra jadi dia suka mendapatkan kritikan. Jadi teringat sama buku pertama mbak Uti yang Olez, dulu saya cuma ngasih dua sayap, belum sempat bikin reviewnya, bukunya udah keburu saya hibahkan, agak nyesel juga. Tapi masih sedikit ingat kok, emang beda kalau udah punya jam terbang dan sering menulis, pasti ada perubahan dan saya merasakan di dua novel mbak Uti, Blue Vino dan Berlabuh di Lindoeya, khususnya dalam hal mendeskripsikan tempat, suasana dan perasaan para tokohnya, bisa dibilang perkembangan menulis mbak Uti sangat bagus.

Saya belum pernah membaca buku anak yang ditulis mbak Uti, cukup penasaran, bahkan mbak Uti juga menerjemahkan beberapa buku ke bahasa Jerman, Blue Vino juga sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris yang nantinya akan dibawa ke Frankfurt Book Fair 2015, keren banget ya! Saya juga sangat tertarik dengan Denting Lara, langsung jadiin wishlist, baca sinopsisnya bikin penasaran dan sepertinya konflik yang diangkat cukup berat dan kelam, favorit saya nih. Blue Vino, Denting Lara dan novel kelima belasnya, Berlabuh di Lindoeya masih tersedia di toko buku, kalau untuk buku-buku lamanya kemungkinan bisa di dapatkan di toko buku online, bahkan ada yang versi ebook.

Ditunggu buku terbarunya ya mbak Uti, semoga semakin produktif, dan semoga saya kesampaian jalan-jalan ke Austria maupun Norwegia, amin :D

Mbak Uti bisa ditemui di:

NB: Nantikan blogtour #BerlabuhdiLindoeya mulai besok ya, bakalan ada hadiah menarik menanti :)

17 komentar:

  1. Aku bacanya ada yang sampai ngakak lhooo... Apa mau berenang dan kelelep bareng nih Sulis? Wahhh ... Keren Mbak Uti. Temen KKN dulu juga cewek jurusan teknik mesin. Heheheee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ayo, hihihi, syukurlah kalo bisa bikin ngakak :p

      Hapus
  2. Awalnya nggak tau ada nama Lindoeya, aku pikir itu nama fiksi aja. Ternyata beneran ada :)
    ihh seru banget chit chatnya mbak, jadi pingin baca bukunya mbak Uti :D
    Omong-omong, aku suka fotonya yg di danau. Itu rumahnya kayak kastil, keren banget.
    Aku ikut dong mbak, kalau jalan-jalan ke Austria hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama banget, sebelumnya aku juga nggak tau kalo Lindoeya itu ada :)
      Ayooooo, semoga mimpi kita kesampaian ya :p

      Hapus
  3. Jadi penasaran baca bukunya setelah baca postingan ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asikkkk, ayo ikutan giveawaynya :)

      Hapus
  4. Obrolannya Mbak Sulis dan Mbak Uti ini seru banget. Bikin mupeng ke Norway juga... Waktu pertama kali baca judul Berlabuh di Lindoeya, aku sama sekali nggak kepikiran kalau itu ternyata di Norway.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaaaa, aku juga seneng ketika baca dapat pengetahuan baru :)

      Hapus
  5. Mbak Uti, tolong culik aku ke sana!! :D

    BalasHapus
  6. Seru banget tuh kayaknya bisa tinggal di tempat yang nggak mengandalkan motor/mobil, melainkan kapal. Pola hidup masyarakat di sana kemungkinan besar lebih teratur seperti negara-negara yang ngandalin transportasi kereta: disiplin dengan jadwal datang dan perginya. Nggak harus ngerasain bete-nya macet kan. Hihihi.

    Semoga sukses ya bukunya Mbak Uti di Frankfurt Book Fair 2015. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuuuu, pengin ngrasain juga pakai transportasi laut, hihihi

      Hapus
  7. Itu rumah kuning birunya keren benar....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, aku jadi pengin tinggal di Norway =))

      Hapus
  8. Baru tau kalo Lindoya itu adanya di Norwegia kak dan waktu aku liat gambar parkiran kapal itu jadi teringat sama salah satu gambar favorit di kalender rumah. Apa memang kalendernya ngambil tempat di Lindoya juga ya..? :D
    Makasih kak Sulis dan Mbak Uti untuk chit chat nya yg informatif... ^^

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...