Kamis, 17 September 2015

Cermat Membeli Buku ala Kutu Bokek | How To


Bagi pecinta buku seperti saya ini, membeli buku adalah salah satu pengeluaran yang hampir tiap bulan selalu ada, bisa dikatakan saya menyiapkan dana khusus, salah satu pengeluaran tetap. Dulu saya memberi batas maksimal setiap bulan tidak lebih dari dua ratus ribu ketika membeli buku, namun makin lama makin membesar. Bahkan tidak jarang menyedot tabungan kalau tidak terkontrol, lapar mata tiap kali ada diskon baik dari toko buku offline, online maupun dari lapak teman-teman blogger yang menjual koleksi pribadi mereka. Banyak pecinta buku yang menyebar racun dengan dalih 'mumpung murah', siapa yang tidak tergoda? Benar-benar membuat saya bokek, mungkin juga disebabkan karena pengaturan finansial saya yang kacau balau. Ini baru dalam hal membeli buku, belum lagi pengeluaran saya yang lain seperti menonton film, jajan, membeli baju, tas dan sepatu. Yah, namanya juga perempuan, nggak jauh-jauh dari sifat komsumtif XD.

Agar pengeluaran saya tidak kacau balau dengan pendapatan tiap bulannya hanya berdasarkan UMR, saya harus pintar-pintar mengatur keuangan. Berikut adalah cara saya mengatasi agar tetap hemat namun juga bisa tetap membaca, membeli buku tiap bulannya, mengerem kalap membeli buku dan menginggatkan kalau besok saya masih butuh makan. So many books, so little money.

1. Bikin Prioritas
Bagian ini penting banget, kalau kita tidak membuat prioritas buku mana yang ingin sekali dibaca, maka jangan heran deh kalau belum tengah bulan gaji kita sudah ludes. Bahkan di goodreads saya membuat rak buku mana yang 'harus punya', 'cari pinjaman', 'cari murah atau seken', atau 'cari buntelan'. Tiap bulan banyak sekali buku baru terbit, kalau mengikuti hawa nafsu gaji sebulan nggak bakalan mencukupi, harga buku sekarang mahal bok! Makanya saya harus benar-benar membuat prioritas buku apa yang ketika dibeli akan dibaca langsung atau hanya akan menjadi timbunan. Kalau memang tidak akan dibaca segera, mending simpan dulu uang kamu, beli beberapa bulan kemudian atau satu tahun lagi karena pasti banyak yang sudah didiskon atau seken. Nggak pa-pa beli seken asal masih layak dibaca. Lha daripada beli baru tapi nggak dibaca-baca juga? #Jleb

2. Beli Murah, Kenapa Malu?
Nggak ada ya di kamus saya malu ketika membeli buku bekas alian seken. Buku nggak akan lekang oleh waktu kecuali dibakar atau dimakan kutu, buku walaupun seken nilainya tidak akan berkurang sama sekali. Jadi kalau pengin hemat, rajin-rajinlah mencari online shop atau lapak penjual buku bekas karena harganya bisa jauh lebih murah dari buku baru. Di facebook banyak atau di blogger-blogger buku karena biasanya mereka suka menjual koleksi pribadi dengan alasan rak sudah penuh XD. Bahkan kita bisa mendapatkan buku baru yang masih segel kalau ada pameran buku, banyak diskon disana. Kadang online shop juga memberikan diskon besar dalam waktu tertentu, misalkan saja pas ulang tahun, pas hari belanja online nasional, kemerdekaan, dll. Intinya rajin-rajinnya kita berburu buku murah :p.

3. Tetapkan Limit
Saya memang sudah mempraktekan ini walau kadang berhasil diingkar juga, hahaha. Kalau bisa, setiap bulan sisihkan uang untuk membeli apa pun barang yang kamu suka dan sering dibeli, dalam hal ini favorit saya adalah buku. Kenapa? Agar tidak mengganggu uang yang digunakan untuk kebutuhan lain. Saya menetapkan limit membeli buku tidak boleh lebih dari dua ratus ribu setiap bulannya, kalau bulan ini melebihi, maka saya ambilkan dari uang bulan berikutnya, di mana di bulan berikutnya tersebut saya nggak boleh beli buku alias puasa beli buku.

4. Gunakan Bank Berbeda
Awalnya saya hanya punya satu akun di bank untuk tabungan sekaligus keperluan belanja online. Berhubung bank tempat saya menabung tidak bersahabat dengan cara pembayaran online, di mana kebanyakan online shop menggunakan BCA atau Mandiri, ada tambahan biaya di sana sini sehingga pengeluaran menjadi tambah besar, tambah boros kan. Saya memutuskan membuat satu akun lagi di bank yang bersahabat dengan online shop, akun di bank ini hanya khusus untuk transaksi online. Sedangkan tabungan di bank lama benar-benar saya gunakan untuk tabungan masa depan yang tidak boleh diganggu gugat atau tidak bisa seenaknya sendiri diambil, hanya kalau kepepet saja baru digunakan.

5. Berburu Buntelan
Nah yang ini paling enak karena biasanya tidak mengeluarkan biaya alias gratis, hehehe. Banyak banget kok pihak yang mengadakan kuis buku, biasanya dari penerbit, penulis atau blogger buku. Jenis lombanya pun bermacam-macam, ada yang harus membuat review, menjawab pertanyaan, follow sana sini, dsb. Kita memang harus aktif di sosial media. Atau kalau lebih rajin lagi, cari kuis yang berhadiah uang, bisa digunakan untuk membeli macam-macam walau kadang kuisnya agak sulit atau butuh kreativitas, disesuaikan dengan seberapa besar hadiah yang ditawarkan. Saya pernah menulis artikel tentang Bagaimana Cara Menjadi Ordo Buntelan? Semoga membantu :D.

Selain cara yang saya terapkan di atas, di era modern ini banyak portal yang menyediakan informasi seputar produk financial, yang bisa membantu kita mengatasi masalah financial, salah satunya adalah cermati.com. Cermati adalah perusahaan start-up yang bergerak di bidang teknologi finansial, fokus cermati adalah untuk menjadikan informasi finansial lebih mudah diakses dan lebih berguna bagi setiap orang dengan menggunakan platform teknologi. Cermati.com menyediakan berbagai macam informasi untuk membantu masyarakat Indonesia menemukan produk keuangan terbaik. Cermati juga menyediakan akses data ke ribuan produk keuangan secara gratis untuk memudahkan masyarakat Indonesia membuat keputusan finansial yang cermat. Misi Cermati adalah membantu masyarakat Indonesia dapat lebih memahami produk-produk finansial yang tersedia bagi mereka. Sebab, seringkali informasi produk finansial sangat sulit ditemukan dan sulit dimengerti. Selain itu, cermati juga membantu masyarakat Indonesia dalam mendapatkan produk finansial yang ideal dengan mencermati semua layanan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan. (sumber: cermati.com)

Perusahaan ini didirikan oleh para ahli teknologi veteran yang sudah berpengalaman bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi global terkemuka seperti Google, LinkedIn, Microsoft dan Oracle. Meyakinkan sekali karena cermati diisi oleh orang-orang yang memang ahli dalam hal finansial dan sepak terjang yang tidak perlu diragukan lagi. Banyak sekali produk yang ditawarkan, seperti kartu kredit, tabungan, deposito, sampai kredit pemilikan rumah. Dari beberapa pilihan produk, saya cukup tertarik dengan kartu kredit dan tabungan berjangka. Kenapa? Memang kartu kredit identik dengan pemborosan, tapi kadang diperlukan dalam hal membeli buku, khususnya membeli buku impor secara online atau e-book yang biasanya pembayarannya menggunakan kartu kredit atau paypal, saya nggak punya dua-duanya, adanya hanya melalui ATM. Banyak bank yang bekerja sama dengan cermati, salah satunya adalah bank Danamon, kebetulan saya punya tabungan di sana jadi bisa bikin kartu kredit danamon atau apply kartu kredit danamon, hehehe. Sedangkan tabungan berjangka melindungi simpanan dari kalap kalau ada diskon sewaktu-waktu, biar nggak bisa diutak-atik. Nggak ada salahnya kan kita harus cermat mengatur keuangan sejak dini?

Nah, kalau kamu bagaimana biasanya mengatasi masalah keuangan khususnya dalam hal membeli buku? Apakah ada tips tersendiri? Yuk share pengalaman kamu di kolom komentar di bawah ini siapa tahu bisa menjadi tips tambahan bagi saya atau pembaca yang lain :D



13 komentar:

  1. Keren!! tapi kalo gue biasanya kalo beli buku nggak bayar sih...
    yang gue beli soalnya buku tulis adek gue...
    tinggal lep!! tinggal lep!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha enak banget nggak bayar *ngiri* :p

      Hapus
  2. Perpustakaan mbak... udah lama ga kesana, apalagi semenjak pindah ke Palembang belum pernah menjelajah lagi (kecuali perpus di kantor). Menurutku perpus layak dijadikan pilihan, karena biasanya syarat keanggotaannya mudah. Mungkin kekurangannya ya agak makan waktu terutama buat kutubuku yang rumahnya jauh.

    Taman bacaan bagus juga menurutku. Bisa jadi koleksinya lebih advance daripada perpus karena dia punya dana lebih untuk beli buku sedangkan perpus ya biasanya nunggu donasi atau subsidi pemerintah.

    Bagus tipsnya mbak :) Keep writing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, mbak! Dulu aku suka pinjem buku di rentalan tapi sekarang udah jarang banget karena keterbatasan waktu, kalau pinjam rental kan dikejar waktu, hehehe. Kalau perpustakaan jujur aja aku belum pernah mengunjungi yang ada di daerah tempat aku tinggal, alasannya sama sih, sekarang aku nggak bisa baca secepat dulu, jadi nggak pengen terburu-buru juga. Tapi ada niat kok pengin ke perpustakaan suatu hari nanti :)

      Hapus
  3. Wah makasih info tentang cermati.com Mbak! Nice post :D (Baru tahu ada layanan web semacam itu, hehe)
    Kalau saya, selama masih menjadi mahasiswa bertekad memaksimalkan penggunaan layanan perpus, cos banyak novel sastra dunia di perpus kampus hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di perpus memang lebih banyak karya sastra ya, tapi pernah pas ke perpus daerah ada komik juga, kalau novel populer ditambahin pasti ramai :)

      Hapus
  4. aku tiap bulan udah budgetin buat beli buku, tapi kadang bisa over limit trus nyaplok budget nonton dll.
    beli buku seken ini menarik lho..entahlah aku suka beli buku yang udah lecek plus ada coretan-coretannya..ahhahaa kayak seri nya harpot itu sekeeen, yang penting kebaca.

    tips: jangan buka web nya toko buku online (hahhahahah)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi lapar mata ya kalau buka? :))
      Kalau seken walau lecek tapi nggak ada coretan, aku nggak suka buku dicoret-coret atau distabilo, kalau cuma pas halaman awal aja nggak masalah, kalau penuh dengan coretan, mending beli yang lain aja :)

      Hapus
  5. Poin ke perpustakaan belum ada... :D #SinyalPustakawanLangsungKuat

    Aku juga dari dulu (nggak cuma buat beli buku), kalau beli apa pun biasanya selalu aku masukin wish list tersendiri. Lalu kerja keras, nanti hasilnya bisa ngedapetin barang yang apa yang kita inginkan, salah satunya buku incaran. Dapet barang hasil dari keringat sendiri lebih memuaskan ketimbang barang dikasih orang lain. Jadi misalnya kita agak boros akan hal-hal yang kita sukai, ya ngga papa sih, asal pakai uang sendiri, hehehe... tapi ya musti ngerem juga, jangan sampai lebih besar pegeluaran daripada pendapatan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betulllll, kalau beli sendiri itu serasa berharga, nggak akan menyia-nyiakannya :)
      Iya ke perpustakaan nggak kepikiran karena lama g ke sana juga, hihihi *maafkan*

      Hapus
  6. Ikutan kuis di radio. xD Kalau ikutan GA & blogtour, saingannya banyak kali. Tapi kalau di kuis radio, modal dengerin dari awal, cepet-cepetan jawab, biasanya menang xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pernah dapat hadiah dari kuis di radio, saingannya emang nggak sebanyak di media sosial :p

      Hapus
  7. alhamdulillah bermanfaat sekali <a href="http://google.com>artikelnya</a>

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...