Kamis, 06 Agustus 2015

The Truth About Forever by Sarah Dessen | Book Review

The Truth About Forever
Penulis: Sarah Dessen
Alih bahasa: Shandy Tan
Editor: Andriyani
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-02-3555-4
Cetakan pertama, Maret 2014
388 halaman
Buntelan dari @bukupediacom
Musim panas panjang yang membosankan terbentang di hadapan Macy saat kekasihnya, Jason, pergi jauh mengikuti Kamp Otak. Siang hari dihabiskannya dengan menjalani pekerjaan membosankan di perpustakaan, malam hari diisi dengan melatih kosakata untuk ujian SAT, dan waktu senggang dilewati bersama ibunya, menikmati perkabungan bisu atas kematian ayahnya yang traumatis. 


Tetapi, terkadang hal-hal tidak terduga bisa terjadi—misalnya pekerjaan katering di Wish, bersama pegawainya yang kacau-balau namun mengasyikkan. Atau proyek kakaknya merenovasi rumah pantai mereka yang telantar, sehingga membangkitkan kenangan-kenangan yang lama terkubur. Atau bertemu Wes, pemuda dengan masa lalu tidak menyenangkan, punya cita rasa unik dalam permainan Truth, serta bakat seni mengagumkan, tipe pemuda yang bisa menjungkirbalikkan dunia semua gadis. Saat Macy melangkah keluar dari tempurungnya, dia mulai mempertanyakan apa benar lebih baik merasa aman daripada menyesal. 

Pengarang terkenal Sarah Dessen dengan lembut menjelajahi hati seorang gadis dengan luka batin yang rindu melepaskan kekang emosinya—namun tidak berani.


Editor's Note
Sarah Dessen, pengarang novel remaja: That Summer, Someone Like You, Keeping The Moon, dan Dreamland.

Hidup Macy Queen tampak sempurna, memiliki pacar yang cerdas serta mendapatkan semua penghargaan, Jason membuat Macy menjadi orang yang lebih baik, ibunya pun sangat setuju dengan hubungan mereka. Ibunya sendiri adalah seorang pengusaha, hari-harinya dihabiskan dengan bekerja, membawa keluarga mereka hidup berkecukupan. Dia ingin Macy juga sama sempurnanya dengan Jason, sehingga menganggap hubungan Macy dan Jason sangat positif, terlebih untuk masa depan Macy. Namun, kesempurnaan yang dikejar Macy tidak seindah bayangannya ketika bertemu dengan orang-orang di Wish Catering.

Selama musim panas, untuk mengisi liburan, Jason meminta Macy mengantikan dirinya di perpustakaan, kegiatan yang sangat membuat Macy bosan dan tidak nyaman, terlebih dua orang petugas di sana sangat sinis dengan Macy. Selain itu dia merasa sendirian, ibunya sibuk dengan pekerjaan dan kesedihannya, hampir tidak ada waktu untuk Macy, padahal dia bisa diajak berbagi, mereka berdua sama-sama masih berduka pasca meninggalnya sang ayah. Bahkan Macy menanggung beban yang sangat besar, dia melihat ayahnya meninggal, membuat semua orang kasihan padanya, membuat Macy berhenti dari lari, membuat dirinya tidak sempurna. Kemudian dia melihat keriuhan Wish Catering. Penuh kebebasan, tanpa rencana.
Di perpustakaan, aku menjalani masa pelatihan selama dua minggu. Di sini, masa pelatihanku dua menit.
Bahkan aku sendiri sebagai anggota baru, tahu hal ini tidak mungkin. Sepanjang malam terus timbul satu masalah kecil di susul masalah berikutnya, kekacauan meningkat, memuncak, lalu setelah itu entah bagaimana akhirnya terselesaikan -semua kecepatan sekilat sabetan cambuk. Selama ini aku sangat terbiasa mengendalikan kejadian yang tidak terduga sehingga kurasakan tingkat stresku naik-turun, bereaksi terus menerus. Tapi, bagi yang lain, sepertinya ini amat sangat lumrah. Kelihatannya mereka dengan tulus percaya bahwa keadaan akan beres. Dan yang paling anehnya, itu memang benar. Entah bagaimana. Akhirnya beres. Meskipun ketika aku berdiri  di sana aku tidak bisa mengatakan bagaimana caranya. 
Orang-orang di Wish jauh dari kata sempurna. Delia, sang pemilik sangat ceroboh dan sering melakukan kesalahan ketika menyuguhkan makanan, ada saja yang lupa. Kemudian ada Wes, laki-laki yang membuat setiap gadis mengeces melihatnya, pernah di tahan di sekolah anak nakal, memiliki tato di lengan, pendiam dan sangat cool, memiliki bakat yang luar biasa dalam hal memperbaiki barang rongsokan. Bert, adik Wes, merasa dirinya sok dewasa sekaligus kekanakan. Lalu Kristy, gadis cantik yang memiliki bekas luka di wajahnya ketika mengalami kecelakaan waktu kecil dulu, dia tidak ingin dikasihani sehingga membuat penampilannya mencolok, mengalihkan orang lain dari wajahnya. Kemudian angota terakhir adalah Monica, adik Kristy. Minim bicara dan sedikit dingin, namun dia sangat mengerti perasaan orang lain. Tanpa bisa dicegah, Macy ingin bergabung dengan ketidaksempurnaan tersebut.
"Semua tergantung bagaimana caramu memilih untuk mejalaninya. Hidup itu seperti kata 'selamanya', selalu berubah-ubah."
"Semua tergantung cara pandang, Macy. Seperti itu pula yang kumaksud tentang 'selamanya'. Bagi siapa pun dari kita, selamanya bisa berakhir dalam satu jam, atau seratus tahun dari sekarang. Kau tidak pernah bisa mengetahuinya secara pasti, jadi lebih baik kaujadikan setiap detiknya berharga."
"Jadi, janganlah takut. Hiduplah."
Selalu ada yang khas dari tulisan Sarah Dessen, permasalahan yang dihadapi tokoh utamanya tidak akan jauh-jauh dari konflik keluarga, para tokoh yang unik-unik, disajikan dengan cara yang berbeda namun tetap mengagumkan. Kali ini penulis mengambil tema tentang bagaimana seseorang mengatasi kehilangan, tuntutan menjadi seseorang yang sempurna dan bahwa apa yang tampak dari luar itu belum tentu menjelaskan segalanya. Lewat sudut pandang orang pertama, Macy, kita akan disuguhkan permasalahan pelik hidupnya.

Sebelum ayahnya meninggal, hubungan Macy dan ibunya cukup baik, mereka mengatasi kesedihan dengan cara masing-masing, ibunya dengan pekerjaan yang menyita waktu, sedangkan Macy membuat segalanya baik-baik saja, membuat dia menjadi anak yang baik dan sempurna di mata ibunya. Namun, dampak kesedihan tersebut membuat jarak diantara mereka berdua, kakak Macy, Caroline sadar kalau hal tersebut sangat salah, terlebih untuk Macy yang masih remaja, seharusnya ibu mereka tidak egois, seharusnya mereka semua saling berbagi kesedihan. Kehadiran Jason yang sempurna dianggap baik oleh ibu Macy, namun Macy tidak bebas, dia serasa diatur dan tidak bisa melakukan hal sesuai apa yang dia inginkan, dia tidak sempurna namun dituntut untuk menjadi sempurna.

Sehingga ketika Macy melihat orang-orang di Wish merasa iri, dia ingin sebebas mereka, penuh masalah namun selalu ada jalan keluar untuk mengatasinya, secara bersama-sama. Wish penuh keriuhan, kehangatan, dan terasa keluarga, yang tidak dirasakan Macy lagi setelah kepergian ayahnya. Sejak bergabung dengan Wish dia tidak kesepian, selalu ada hal menarik yang bisa dilakukan. Melakukan permainan Truth dengan Wes, tersenyum melihat Beth yang selalu kalah dalam permainan 'Kena Kau' dengan Wes, menghadiri pesta setelah bekerja mengantar makanan dan harus rela didandani oleh Kristy.

Ibu Macy tidak menyukai kalau anaknya bergaul dengan orang-orang Wish, membawa dampak yang buruk, ditambah melihat sejarah mereka, seperti Wes yang pernah di tahan, penampilan Kristy yang mengundang simpati. Namun, itulah yang menarik dari ketidaksempurnaan yang dimiliki teman-temannya di Wish. Delia sangat ceroboh, namun dia selalu bisa mengatasi, dengan ajaib. Dari sekolah anak nakal, Wes menjadi tahu apa bakatnya. Bert yang terobsesi pada kiamat, yang percaya semua tidak akan kekal dan akan ada ledakan dahsyat yang akan terjadi pada diri kita. Dari kepercayaan diri yang dimiliki Kristy, mampu membuat orang lain melihat dirinya yang berani, dari cara berpakaian dan berdandan. Bahkan Monica yang hanya bergumam, dia sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya. Membuat Macy percaya bahwa ketidaksempurnaan itu tidak selamanya salah.

Bagian yang paling saya suka adalah ketika Macy bermain Truth dengan Wes, ketika Macy bertemu dengan teman sekolahnya, yang menyebutkan kalau Macy sangat pandai berlari dan berhenti setelah melihat ayahnya meninggal, membuat teman-temannya di Wish tahu akan rahasia yang tidak ingin dia bagi dengan orang lain. Namun, Kristy hanya mengenggam tangan Macy, Bert menyebut perempuan tersebut bodoh, Wes dan Monica tidak berkata apa-apa. Mereka tidak bertanya lebih jauh, hanya memberi dukungan yang dibutuhkan oleh Macy, kalau dia belum siap bercerita, mereka hanya berada di sisi Macy, sebagai pendukung, sebagai orang yang membuat Macy tidak sendirian di dunia ini. Orang-orang di Wish adalah tokoh favorit saya di buku ini.
"Berduka tidak membuatmu tidak sempurna."
"Berduka membuatmu manusiawi. Kita semua menghadapi keadaan dengan cara berbeda-beda."
"Terkadang sesuatu terjadi begitu saja. Tanpa terduga. Atau tercantum di daftar."
"Justru itu intinya. Sesuatu itu takkan disangka-sangka, terjadi secara mengejutkan. Sesuatu yang mungkin kita tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya."
Buku ini recommended bagi yang ingin membaca kisah remaja yang cukup kompleks, yang tidak hanya berbicara tentang cinta.

4 sayap untuk Kena Kau!


4 komentar:

  1. Wah saya suka buku remaja yang seperti ini >.< sayang terbitan Elex. Saya kapok baca terjemahannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak semuanya jelek kok, terjemahannya lumayan menurutku :)

      Hapus
  2. Mbak, bukunya Sarah Dessen apa diterjemajin semua sama elex?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum semua, tapi kebanyakan iya :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...