Jumat, 07 Agustus 2015

Ignite Me (Shatter Me #3) by Tahereh Mafi | Book Review

Ignite Me (Shatter Me #3)
Penulis: Tahereh Mafi
Penerjemah: Dina Begum
Penyunting: Dyah Agustine
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-979-433-857-5
Cetakan pertama. Februari 2015
504 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan
Suatu hari nanti aku akan hancur…

Suatu hari nanti aku akan hancurkan semua jeruji yang mengekangku.

Saat ini, aku tak tahu bagaimana nasib Omega Point dan semua penghuninya. Mungkin mereka sudah tewas. Mungkin perang sudah berakhir, sebelum benar-benar dimulai. Di mata Tatanan Baru, aku adalah pemberontak terakhir.

Namun, aku akan bertahan hidup dan terus berjuang untuk meruntuhkan pemerintahan yang sewenang-wenang ini, bagaimana pun caranya. Meskipun harus meminta bantuan orang yang paling tidak kupercaya: Warner. 

Seluruh dunia mungkin akan menyerangku, tapi aku tidak akan gentar. Tidak ada kata mundur atau menyerah dalam kamusku. Akan kupertaruhkan semuanya. Inilah puncak perjuanganku.

Omega Point telah hancur, dibumi hanguskan oleh Anderson yang kejam, dia juga berhasil membawa Sonya dan Sara untuk menyembuhkan lukanya. Namun sebelum mereka dibawa pergi, Warner memanfaatkan kekuatan mereka untuk menghidupkan kembali Juliette, satu-satunya orang yang dia inginkan dalam dunia ini. Hancurnya Omega Point tentu saja menambah luka batin Juliette, di sanalah dia menemukan rumah, tempat orang-orang yang dia sayang berada. Dia tidak percaya sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri, dia akan membalas semua perbuatan Anderson, membayar apa yang telah dia lakukan kepada kaumnya. Warner memberikan tawaran kepada Juliette kalau mereka berdua bisa mengalahkan Anderson.

Harapan muncul ketika Juliette mengunjungi Omega Point yang tak bersisa, dia bertemu dengan Kenji. Dengan kekuatan yang dimiliki Warner -menyerap kekuatan orang lain dan menggunakannya sendiri- dia menjadi tak terlihat, karena kehadirannya tentu saja akan menjadi masalah. Bukan hanya Kenji saja yang selamat, Adam, James, dan beberapa orang berhasil meloloskan diri, bahkan Castle masih hidup, namun keadaan berubah, mereka semua kehilangan semangat hidup, mereka tidak bisa melawan kekejaman Anderson, mereka kalah. Juliette membawa semangat baru, mengajak mereka untuk bertempur lagi, kali ini dengan bantuan Warner.

Ide tersebut langsung dikecam Adam, dia sangat membenci Warner dan ayah mereka, dia tidak sudi bergabung dengan orang yang telah menghancurkan rumahnya, menghancurkan hidupnya. Hubungan mereka juga semakin memburuk, Adam bukan lagi orang yang penuh semangat, kini dia hanya ingin bertahan hidup bersama James, tidak ingin adiknya dalam bahaya. Hanya Kenji lah yang benar-benar bisa diharapkan, teman-teman yang lain, bahkan Castle yang awalnya seperti orang gila, mendengar rencana Juliette dia bersemangat lagi. Juliette pun meminta Warner agar mengijinkan teman-temannya bergabung, yang awalnya ditolak mentah-mentah karena dia hanya ingin bersama dengan Juliette. Di tempat rahasia yang disediakan Warner, mereka berlatih menghimpun tenaga, untuk melawan Anderson, menggulingkannya.
"Kukira aku bisa pergi tempo hari," katanya. "Kukira aku bisa melepaskanmu dan membencimu karenanya, tapi tidak bisa. Karena kau membuatnya begitu sulit," katanya, suaranya bergetar. "Karena kau tidak bermain dengan adil. Kau berbuat sesuatu seperti membuat dirimu ditembak," lanjutnya, "dan kau menghancurkan aku dalam prosesnya."
Akhirnya berakhir juga penantian saya membaca ending dari seri Shatter Me ini, ceritanya benar-benar tidak terduga. Satu hal yang paling kerasa dari tulisan Tahereh Mafi adalah perkembangan karakternya, bahkan baru kali ini saya mendapati tokoh utamanya berganti, bukannya dengan mendadak, penulis membuatnya secara bertahap sehingga kerasa proses peralihannya. Di buku Shatter Me kita akan dibuat jatuh cinta akan Adam dan sangat membenci Warner, di Unravel Me kita akan melihat kalau Warner tidak sejahat di buku pertama, ada sisi baik yang dimilikinya dan malah melihat kalau Adam tidak sekuat yang terlihat. Di buku ini, kita akan melihat perkembangan karakter Warner dan Adam, posisi mereka berbalik. 

Saya semakin jatuh cinta dengan Warner, dengan perasaan cintanya yang sangat tulus kepada Juliette, tentang luka yang dia alami dan tak seorang pun memahami dirinya, tidak ada yang bersamanya untuk berbagi luka tersebut. Ada alasan khusus dibalik kejahatan yang kita lihat di buku pertama, penulis membeberkan alasan kenapa Warner berbuat kejam, kenapa dia sangat terobsesi dengan Juliette, kenapa dia sangat membenci ayahnya. Kita akan mendapatkan semua jawabannya di buku ini. Sedangkan karakter Juliette juga berkembang, dia tidak lagi menye-menye, dia cukup kuat dan menjadi penyemangat teman-temannya untuk bangkit kembali. Dia juga lebih dewasa menyingkapi hubungannya dengan Adam.
Aku sudah tidak lagi takut terhadap ketakutan, dan aku tidak akan membiarkan itu menguasaiku.
Ketakutan akan belajar untuk merasa takut terhadapku.
"Mungkin kau benar. Mungkin aku tidak tahu seperti apa rasanya hidup. Mungkin aku belum cukup manusiawi untuk mengetahui lebih dari apa yang ada di hadapanku." Aku menatap langsung matanya. "Tapi, aku tahu seperti apa rasanya bersembunyi dari dunia. Aku tahu seperti apa rasanya hidup seakan-akan tidak ada, dikurung dan dikucilkan dari masyarakat. Dan, aku tidak akan melakukannya lagi," sahutku. "Aku tidak bisa. Akhirnya, aku tiba pada titik dalam hidupku ketika aku tidak takut angkat suara. Tempat bayanganku tidak lagi menghantuiku. Dan, aku tidak ingin kehilangan kebebasan itu -tidak lagi. Aku tidak bisa melangkah muncur. Aku lebih baik ditembak mati sambil menjeritkan keadilan daripada mati sendirian di dalam penjara yang kubuat sendiri." 
"Ini bukan tentang Adam atau Warner," jelasku. "Ini tentang aku dan apa yang kuinginkan. Ini tentang aku yang akhirnya mengerti di mana aku ingin berada dalam sepuluh tahun ke depan. Karena aku akan hidup, Kenji. Aku akan hidup dalam sepuluh tahun ke depan, dan aku akan bahagia. Aku akan kuat. Dan, aku tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk mengatakan itu kepadaku. Aku cukup, dan akan selalu cukup." 
Action di buku ini sama sekali tidak terasa. Saya tidak merasakan kehebatan perang yang terjadi, semua perlawanan bagi saya biasa saja. Namun penulis cukup baik menggambarkan Castle dan teman-teman yang kehilangan Omega Point, memang seperti itulah seharusnya kalau kita mengalami kekalahan telak, jiwa mereka seakan ikut hancur, tidak ada lagi semangat hidup. Buku ini menarik dari segi drama percintaan, penulis lebih fokus ke hubungan Juliette dan Warner. Dan saya sangat menyukainya, hahahaha.

Bagi #teamWarner, kalian wajib baca buku ini.

4 sayap untuk si arus deras :D



Seri Shatter Me:

  1. Shatter Me
  2. Unravel Me
  3. Ignite Me

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...