Selasa, 11 Agustus 2015

Four: A Divergent Collection by Veronica Roth | Book Review

Four: A Divergent Collection (Divergent 0.1-0.4)
Penulis: Veronica Roth
Penerjemah: Esti Budihabsari
Cover art & Desain: Joel Tippie
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-979-433-859-9
Cetakan II, Januari 2015
288 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan
Dua tahun sebelum Beatrice Prior menentukan takdirnya, putra pemimpin Abnegation melakukan hal yang sama. Tobias Eaton berkhianat dari Abnegation, berpindah ke Dauntless, dan berubah menjadi Four. Mencari kebebasan dan kehidupan yang bebas dari masa lalu. Ternyata di Dauntless pun Four masih meragukan pilihannya. Apalagi secara tak sengaja dia mengetahui persekongkolan antara pemimpin Dauntless dan Erudite. Sementara, sang Ibu yang ternyata masih hidup menginginkannya bergabung dengan factionless.



Haruskah Four kembali berkhianat? Pantaskah faksi 'tanpa pamrih' yang ternyata menyembunyikan monster sekejam Marcus Eaton diselamatkan? Four dihadapkan pada pilihan sulit. Mungkinkah pengkhianatan memunculkan kebebasan?



Four: A Divergent Collection, mengisahkan perjalanan Divergent Trilogy dari sudut pandang Tobias Eaton. Dengan bonus tiga kisah ekslusif bersama Tris. Kisah pelengkap Divergent Trilogy yang romantis dan penuh aksi.
Bagi yang kecewa dengan akhir kisah Divergent dalam Allegiant, buku ketiganya, maka saya menyarankan untuk membaca buku ini. Four adalah cerita pendamping Divergent, melengkapi bagian kisah Divergent dari sudut pandang Tobias Eaton atau Four sendiri. Seperti yang kita tahu, trilogi Divergent diceritakan dari sudut pandang Tris, kecuali buku terakhir. Dari segi judul sudah jelas sekali kalau buku ini bercerita tentang Four, tentang masa lalunya.

Ada empat cerita dan tiga exclusive scene dalam Four. Tiga cerita pertama; The Transfer, The Initiate, The Son terjadi sebelum Four bertemu Tris, ketika dia masih menjadi seorang Abnegation sampai dia memutuskan berpindah ke Dauntless. Sedangkan The Traitor, setting waktunya bersamaan dengan pertengahan cerita Divergent, saat Four bertemu dengan Tris. Bila kalian mencari romansa antara Four dan Tris di buku ini, jangan berharap, buku ini fokus terhadap Four, dengan pilihan hidupnya dan kisah masa lalunya yang tidak kita temui di buku sebelumnya. Singkatnya, buku ini akan membuat kita mengenal Four lebih dalam lagi.

Cerita di mulai ketika Tobias menjalani ujian penentuan faksi. Tentu saja dia akan masuk ke dalam faksi Abnegation, tempat selama ini dia tumbuh dan ayahnya menjadi orang penting dalam faksi tersebut. Namun, dalam prosesnya, Tobias menginggat semua perlakuan kasar yang dilakukan ayahnya, kesalahan kecil yang berakibat hukuman badan, tidak ada ketenangan dan kebahagiaan yang dia dapatkan, membuat Tobias sedikit ragu. Pilihan besar pun dia ambil ketika Upacara Pemilihan, tanpa melihat ayahnya, Marcus, Tobias memantapkan diri menjadi seorang Dauntless, menjadi penghianat Abnegation.

Dauntless adalah faksi yang keras namun bebas, itulah yang dicari Tobias. Dia ingin memulai kehidupan yang baru, melupakan masa lalu. Terbiasa dengan kehidupan yang selalu mengalah dan tanpa pamrih, membuat Tobias dipandang sebelah mata, Dauntless jarang sekali mendapatkan peserta pindahan dari faksi Abnegation, Tobias adalah satu-satunya sejak bertahun-tahun silam. Tobias ingin membuktikan diri kalau dirinya bisa, dia juga sekuat yang lainnya, terlebih Eric, peserta pindahan dari faksi Erudite yang sering sekali mengganggunya. Keunggulan Tobias terlihat ketika menjalani tes ketakutan, yang membuatnya mempunyai nama baru dan meninggalkan Tobias Eaton. Amar, salah satu pelatih, memberikan nama Four karena Tobias hanya mempunyai empat ketakutan, di mana satu-satunya orang yang paling sedikit memiliki rasa takut di faksi Dauntless.

Prestasi Four tidak berhenti sampai di situ saja, dia bahkan mencapai peringkat pertama, dia bukan lagi si 'kaku'. Dia ditawari menjadi pemimpin Dauntless namun dia menolaknya. Dia tidak ingin posisi, dia hanya ingin hidup bebas, yang selama ini tidak pernah dia dapatkan. Max pun menyerahkan kendali kepada Eric, orang yang sebenarnya tidak dia suka. Di tangan Eric, Dauntless menjadi lebih kejam, bahkan di tahun berikutnya ada aturan baru, hanya orang terkuatlah yang bisa tetap tinggal, yang sebenarnya tidak disetujui Four namun dia kalah posisi, dia hanya bisa menjadi pelatih dan mengawasi Eric yang sejak dulu sudah dicurigainya, bahwa dia adalah mata-mata dari faksi Erudite, menggunakan kekuatan Dauntless untuk menghancurkan faksi Abnegation, kampung halaman Four.
Serial Divergent mengisahkan Tris dari saat dia mengambil alih hidup dan identitasnya; dan dengan kumpulan kisah ini, kita juga bisa mengetahui kisah hidup Four saat dia melakukan hal yang sama.
Pada bagian awal, kita akan menemui sosok Tobias yang lemah, yang penurut, yang merindukan kehangatan keluarga. Sejak kecil dia hanya hidup dengan ayahnya yang bertangan dingin, membuatnya tidak punya pilihan dan keberanian. Di Upacara Pemilihan lah satu-satunya jalan dia lepas dari cengkraman ayahnya. Memilih kehidupan baru, menempa dirinya di sana menjadi lebih kuat dan mendapatkan teman-teman baru, membuat Tobias tdak merasa sendirian di dunia ini. Pada bagian ini saya merasakan apa yang dialami Tris dulu, hampir sama persis hanya saja Tris mempunyai keluarga yang menyayanginya.

Buku ini akan menjawab pertanyaan yang muncul ketika kita membaca Divergent, mulai dari asal nama Four, tokoh-tokoh penting seperti Amar, tato di badan Four, bergantinya sistem ujian di Dauntless, bibit pemberontakan Erudite sampai kemunculan ibu Tobias. Saya cukup menikmati karena bisa mengenal Four lebih dekat, di mana di buku pertama dia sangat misterius, kini terjawab sudah. Saya juga merasakan perubahan yang terjadi pada diri Tobias menjadi seorang Four, seseorang yang lebih kuat baik dari segi fisik maupun psikis. Di Dauntless dia lebih ceria, mendapatkan teman-teman yang asik sampai akhirnya bertemu dengan Tris, orang yang sama seperti dirinya, mencari kebebasan. Kesedihan Four juga terlihat jelas sewaktu dia membayangkan kembali kenangannya dengan ibunya dan mendapati bahwa selama ini dia tidak meninggal. Saya suka cara penulis menyambung-nyampungkan cerita, karena terasa pas. Hanya saja sewaktu di awal saya merasakan diri Tris pada Tobias, perasaan yang sama tadi. Selebihnya saya cukup menikmati buku ini.

Buku ini berbicara tentang kebebasan, tentang pilihan hidup seseorang di mana tidak seorang pun bisa mengaturnya.

Bagi #TeamFour, kamu wajib membaca buku ini dan bagi yang merasahan banyak hal ganjil dalam Divergent, buku ini akan menjawab pertanyaanmu.
Mungkin itulah sebabnya kenapa aku memilih Dauntless. Bukan karena ingin melukai Marcus, tetapi karena aku tahu bahwa cara hidup Dauntless akan mengajariku untuk hidup dengan lebih kuat.
"Kadang mereka menghilang. Dan, kadang pula ketakutan baru menggantikannya. Tetapi, tujuannya bukanlah menjadi tak memiliki rasa takut. Itu mustahil. Tujuannya adalah mengendalikan rasa takutmu dan bagaimana cara terbebas darinya, itulah tujuannya." 
3 sayap untuk 4.


Seri Divergent:

  1. Divergent
  2. Insugent
  3. Allegiant
  4. Four

4 komentar:

  1. saya belum baca yang ini.. keburu sakit hati ama ending Allegiant.. hahaha.. cemen yah :P abis akuh syediiihhhhhhh masa jagoannya matiiiii *spoiler*

    regards,
    pipitta.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiahhh, spoiler, hahahaha
      Sama mbak, aku juga agak kecewa tapi mau gimana lagi, mungkin penulisnya punya pendapat sendiri kenapa endingnya harus gitu. Makanya, buku ini setidaknya mengobati rasa kecewaku :)

      Hapus
  2. Sepertinya menarik ya, membaca cerita Divergent dari sudut pandang Four. Tapi aku belum lanjut baca buku ketiga karena kena spoiler. Pengennya baca buku ini setelah menamatkan Allegiant. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, sama, aku dulu juga kena spoiler, yah ditabahin aja baca Allegiant, ada yang suka banget ada yang benci banget sama endingnya :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...