Kamis, 30 Juli 2015

Tentang Rating Buku | Let's Talk

source: tumblr
Beberapa waktu yang lalu twitter sempat ramai masalah writer vs reviewer, jujur saja saya tidak mengikuti karena sibuk libur lebaran, hanya tahu dari teman kemudian sedikit kepo dan mencari tahu ada apa sih sebenernya, mungkin bahasan kali ini akan sedikit menyinggung masalah tersebut karena akan membahas bagaimana cara saya me-rating sebuah buku.

Semua berawal dari Goodreads, dari sanalah saya belajar memberikan nilai pada sebuah buku. Hanya berupa bintang namun bisa menjelaskan buku tersebut layak baca atau tidak, apakah sesuai dengan my cup of coffee? Di Goodreads hanya ada nilai 1-5 bintang, sedangkan kalau di blog saya menambahkan 0.5 di tiap angka pokok, bisa berarti buku tersebut ada kelebihan yang menarik. Beberapa reviewer ada yang tidak memberikan rating, tergantung pribadi masing-masing serta tujuannya, dari resensi yang ditulis kita bisa menilai sendiri kok buku tersebut cocok bagi kita atau tidak. Namun bagi saya rating itu sangat penting. Ibaratnya kalau kita sedang ulangan, rating adalah hasilnya, nilai yang diperoleh.

Dari dulu kalau saya me-rating buku, hal yang sangat penting adalah ceritanya, yang lainnya hanya bumbu penyedap, kalau ceritanya bagus maka kekurangan entah itu kesalahan ketik, typo dan hal teknis lainnya tidak terlalu berpengaruh bagi saya. Saya tidak ahli dalam editing, proofreading, menerjemahkan dan sebagainya karena hal tersebut bukan bidang saya, itu menjadi kelemahan saya sebagai pembaca dan peresensi. Ketika membaca yang saya lihat adalah ceritanya, suka atau tidak? Berkesan bagi saya atau tidak? Sesederhana itu. Saya tahu menulis bukanlah hal yang mudah, kalau sudah sampai diterbitkan pasti mempunyai nilai tersendiri di mata penerbit, dan selalu diingat bahwa setiap penulis itu punya pembacanya sendiri, jadi kita tidak bisa memaksa, semua tergantung selera masing-masing, dan itu harga mati, tidak bisa diganggu gugat, hak setiap pembaca untuk menyukai atau tidak.

Perihal my cup of coffee or tea or whatever, saya setuju dengan perumpamaan tersebut. Maksudnya bukan hanya sebatas genre favorit. Saya pernah menulis tentang Perlukah Kita Keluar Dari Zona Nyaman Ketika Membaca? Saya tidak membatasi diri sendiri untuk mencoba sesuatu yang baru. Kalau saya membaca sebuah buku dan ternyata suka, itu saya masukkan ke dalam cangkir kopi saya, sesuatu yang membuat saya sangat menikmatinya, membuat saya nyaman dengan rasa yang diberikan penulis, entah itu penulis baru atau sudah memiliki nama di dunia buku.

Misalnya saja, saya bukan pembaca Mistery-Thriller, namun ketika membaca Inferno by Dan Brown, saya sangat menikmatinya, tidak bisa lepas sebelum menamatkan, bahkan memberi rating bagus. Saya menyukai tulisan Sefryana Khairil bahkan menjadi salah satu penulis favorit saya, namun dalam buku Coba Tunjuk Satu Bintang saya memberikan penilaian yang rendah. Saya pecinta happy ending garis keras, namun saya menangis sampai megap-megap ketika membaca The Kite Runner dan sangat menyukainya, padahal saya benci cerita sad ending. Jadi, jangan berpikir sempit kalau bacaan yang masuk ke dalam cangkir seseorang itu hanya sebatas dari penulis favorit, sebatas cerita yang sehari-hari dinikmati. Cerita dari genre apa pun bisa menjadi menarik kalau penulis pandai meramunya. Semua tergantung bagaimana cara penulis bercerita.

Berikut adalah rating yang saya gunakan dalam menilai sebuah buku, mungkin terdengar sedikit kasar dan kejam, hahahaha, setidaknya mewakili perasaan saya ketika membacanya. Saya menamai rating dengan sebutan 'sayap', bukannya 'bintang' pada umumnya, alasannya biar menjadi ciri khas dari Kubikel Romance. Pengennya berupa gambar sayap yang bisa mengepak-ngepak dan bergerak, apa daya saya terlalu gaptek dan tidak punya keahlian di bidang menggambar, jadi berupa tulisan aja deh biar nggak ribet :p

1 Sayap: Minta Ditendang
Saya jarang banget memberi rating 1 sayap, bisa dihitung dengan jari dan sudah lama banget tidak menemukan buku yang ingin saya tendang. Beberapa tahun ini saya memang menjadi agak pemilih dalam membaca. Buku yang masuk ke kategori ini biasanya yang membuat saya kecewa parah dengan ceritanya, tidak masuk di akal sama sekali dan tidak mempunyai tujuan yang jelas cerita akan dibawa kemana, tidak ada yang menarik sama sekali. Buku yang membuat saya menyesal sudah membacanya.

1.5 Sayap: Minta Dilempar
Hampir sama dengan rating 1 sayap, hanya saja ada sedikit kelebihan seperti idenya cukup unik namun penulis gagal mengeksekusinya dengan baik sehingga ceritanya berasa mentah, kurang diolah dan tidak menggugah untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

2 Sayap: Hanya Bisa Menghela Napas
Dari segi ide bagus, cara berceritanya lumayan namun semua yang dilakukan oleh tokoh utamanya sia-sia belaka, tidak fokus dengan tema yang diusung sehingga membuat bingung cerita akan dibawa kemana, lebih parah lagi endingnya tidak singkron sama sekali dengan jalannya cerita, sehingga tidak masuk di akal.

2.5 Sayap: Baiklah, Kasih Kesempatan Lagi Untuk Buku Berikutnya
Saya suka membaca karya debut, karena saya bisa menemukan penulis baru yang bisa dimasukkan ke dalam list favorit lagi. Dalam tahap ini, dari segi ide, cara bercerita dan endingnya saya suka, namun belum ada yang spesial dari penulis, ceritanya masih datar dan tidak ada yang membuat saya terkagum-kagum akan ceritanya. Berharap untuk buku berikutnya akan lebih baik lagi.

3 Sayap: Layak Dibaca!
Ceritanya bagus, cara berceritanya enak, nyaman untuk terus diikuti dan ada kelebihan yang dimiliki penulis, entah itu ide ceritanya yang sangat menarik, ending yang tidak bisa ditebak atau sesuatu yang baru dan menarik bagi saya. Biasanya dalam tahap ini saya sangat puas dengan ending ceritanya.

3.5 Sayap: Recommended
Sangat menikmati cerita yang disuguhkan penulis, bahkan cerita mainstream pun tidak menjadi masalah asalkan cara penyajiannya menarik bagi saya. Bisa membuat saya tertawa, sedih, dan banyak rasa yang saya dapatkan, dalam hal ini penulis sukses mentransfer perasaan tokoh rekaanya. Banyak adegan yang memorable, kalimat yang quoteable atau tokoh yang membekas di hati.

4 Sayap: Wajib Dibaca!
Buku yang bermakna bagi saya. Banyak menyajikan pengetahuan baru dan pesan moral yang bisa saya dapatkan ketika membacanya. Buku yang membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Page-turner banget. Buku yang tidak sia-sia ditulis.

4.5 Sayap: Bikin Kembang Kempis
Buku yang bisa membuat saya book lag, book hangover dan kesusahan membuat resensi saking terkagum-kagum akan cerita yang ditulis penulis. Buku yang membuat hati saya berdebar-debar, terbawa emosi, membuat saya sesak napas ketika membacanya. Buku yang sangat berpengaruh bagi diri saya pribadi.

5 Sayap: Dibaca Sampai Lecek
Buku yang tidak akan pernah bosan saya baca ulang, buku yang wajib dipunya dan dikoleksi.

Itulah pendapat dan bagaimana cara saya memberi rating pada sebuah buku. Rating memang bukan segalanya, yang lebih penting adalah apa yang kita dapatkan dari hasil bacaan kita. Rating hanya membantu kita untuk menyortir bacaan, membantu kita memilih bacaan yang tepat bagi diri kita, walau tentu saja hanya dengan membacanya langsung kita akan tahu sendiri mana yang cocok :D. Banyak sekali buku yang diterbitkan dan saya tidak mempunyai kemampuan untuk membeli dan membaca semuanya. Dari melihat seberapa besar rating sebuah buku, setidaknya kita bisa tahu seberapa banyak orang menyukainya, walau belum tentu juga kita akan ikut menyukainya. Yang jelas, rating mempengaruhi saya untuk memilih mana buku yang ingin saya baca ketika bingung menentukan pilihan.

Kalau menurut kalian seberapa penting sih rating buku ini? Bagaimana cara kalian memberi rating? Apakah kamu tipe pembaca yang menganut my cup of coffee atau hanya menunjukkan nilai buku berdasarkan resensi saja tanpa memberi rating? Pembaca bisa tahu kalau buku tersebut sesuai cangkirnya hanya dengan membaca cuplikan cerita tanpa melihat rating. Let's Talk! Pengen denger pendapat kalian :D


21 komentar:

  1. Aku jarang ngasih rating di blog. Biasanya, rating cuma kuupdate di goodreads. Untuk cangkir teh, aku omnivora sih, jadi selama buku itu terlihat menarik, ya akan aku coba baca. Dan meskipun bukan genre favoritku tapi kalau ternyata ceritanya bagus, aku ga akan segan segan ngasih rate tinggi.
    Tapi kalau bukan genre favorit, tapi masih nekad baca, dan ngga suka.. ya.. bilang apa adanya sih. Plus ngasih catatan tambahan bahwa mungkin aja buku yg ngga aku suka ini bisa jadi malah disukai pembaca lainnya. X)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa, jujur itu penting banget dalam mereview buku :D

      Hapus
  2. Aq malah suka baca di luar genre kesukaanku Mbk, supaya gak monoton. Tentang rating, aq selalu kasi minimal 3 di goodreads, untuk menghargai penulis :) klo lebih dari 3 brarti masuk buku bagus versi aq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak unik nih, aku kalo lagi bosan dengan romance juga cari yang dark dan bikin depresi, hahahaha. Jenuh dalam membaca itu sudah pasti kok :D

      Hapus
  3. Ulasannya keren Lis. Sip sip. Aku sama dg Vina. Hanya ngasih rating di goodreads. "Ya iyalah, orang jarang update blog".
    Buat Esti: simpatimu pada penulis bikin hatiku berdesir. 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakaka, ayo nulis lagi mbak, biar nggak banyak sarang laba-laba blognya XD

      Hapus
  4. Hai, mba sulis..

    Kalau aku belum sempat kasih rating di setiap review yang aku tulis. Lebih seringnya langsung ke goodreads. Kalau bacaan sih aku jarang keluar dari zona aman, tapi sekalinya keluar dari zona aman, langsung penasaran setengah mati nanti the endnya gimana itu cerita. So, aku fleksibel ajah sih..

    Mungkin ada baiknya aku bikin ramuan untuk rating tiap buku yang kureview yaaa.. Hmm.. Enaknya pake ramuan apaan yaaa? Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku beri nama Sayap karena akun sosial mediaku Peri Hutan, jadi biar macing aja, kalau buku dewasa biasanya aku nambahin lagi dengan Kipas untuk adegan hotnya. Cocokin aja dengan ciri khas kamu atau blog kamu :D

      Hapus
  5. Bagus nih artikelmu nduk, aku setuju banget. Kalo soal rating, aku selalu kasih di blogku maupun di goodreads, walo kadang-kadang beda coz masalah 0,5. Walo aku penganut rating 1-5, aku ga pernah kasih bintang 1 ato 5, karena aku percaya sesuatu itu ga ada yg sempurna (halah) dan aku ga tega ngasih 1 doang coz aku tau penulis itu kerja keras banget kalo nulis. Paling rendah bisa 1,5 ato 2 dan paling tinggi 4,5. Setengahnya bisa dgn berbagai pertimbangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nulis itu emang nggak mudah dan nggak ada yang sempurna, aku pernah ngalamin juga soalnya, makanya lebih milih nulis resensi buku aja, hahahaha

      Hapus
  6. artikelnya mbak sulis menarik, terutama karena aku jarang banget ngasih rating. rating biasanya cuma di GR. lebih suka ngasih review yang apa adanya, terlepas dari ada-enggaknya rating. tapi dari segi bacaan, masih mencoba omni untuk memperluas wawasan, walaupun masih kesusahan. sama kayak mbak sulis yang lebih suka romance daripada misteri-thriller, aku kebalikannya. tapi aku bisa menikmati karya-karyanya Ilana Tan yang kebanyakan romance. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, mungkin belum menemukan buku yang tepat aja, aku yakin kok di setiap genre buku pasti ada salah satu yang akan kita suka :)

      Hapus
  7. Jadi pengen bikin review buku :)
    Bisa contek cara kasih rating nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai inspirasi boleh banget, lebih bagusnya kamu bikin yang khas, lain dari pada yang lain :D

      Hapus
  8. Aku gak suka memberi rating ^^ suka bingung juga kalau memberikan rating apalagi aku reviewers yang kejam .-. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rating bisa juga mempunyai arti kesimpulan dari apa yang kita review kok, jadi bisa dinilai sendiri apakah buku itu cocok dengan kita :)

      Hapus
  9. Dulu awalnya aku taunya kalo review itu cuma ngasih kesan tentang cerita di bukunya. Kesan, thok! Paling banter 5 paragraf. Itu pun hanya aku tulis di kolom review di Goodreads. Dulu nggak punya blog karena hape masih butut dan mengira bahwa blog itu musti rajin internetan di pc, something that I can't do as daily routine.

    Tapi lama-lama kalau lihat review orang lain di goodreads kok ya ada yang pada panjang-panjang, trus ada 0,5 nya juga? Hahaha. Yah, akhirnya coba-coba bikin review kayak gitu. Waktu udah punya blog. Then I know gunanya apa hal itu di blog, supaya pembaca review itu bisa ngeraba dulu itu ceritanya tentang apa.

    Awal-awalnya akika masih suka sekalian ngoreksi bagian typo itu. Ini mata emang rada jeli kalo urusan kayak gitu walo udah minus. Kalo typo huruf atau tanda baca dan cuma beberapa sih ya nggak masalah deh. Tapi kalo yang mbleber sampe mempengaruhi kalimatnya itu lho yang bikin dongkol kan. (Ini editornya or proofreader-nya kemanaaa?!)

    Tapi kalo untuk urusan rating or bintang or sayap itu, akunya malah nggak konsisten. Nyahahaha. Nggak semua buku yang ku-review di blog itu aku kasih keterangan rating-nya. Karena aku maunya si pembaca review-ku fokus dengan tulisanku dan bisa menyimpulkan sendiri, itu buku emang bagus atau nggak atau di tengah-tengah. Tapi kalo di goodreads sih selalu ada rating-nya.

    Well, setelah baca ini akan kucoba untuk selalu ngasih keterangan rating-nya berhubung kata Kak Sulis itu penting :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah panjang sekali, hihihi :D
      Nggak harus nurut apa yang aku bilang di atas, sesuai apa yang kamu sreg aja :)

      Hapus
  10. Artikelnya menarik sekali mbak Sulis. Dengan konsep a cup of coffe, saya jadi tahu bahwa rating juga penting. Saya tidak pernah memberi rating dalam setiap review saya karena malas dan saya juga tidak pernah terpengaruh dengan rating di setiap buku yang ingin saya miliki. Kalau saya harus perhatian dengan rating, maka saya akan sangat subjektif karena indikator yang saya pakai berasal dari idealisme saya he he :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang lebih terkesan subjektif sih kalau memberi rating, hehehe, tergantung selera aja, kadang kalau nggak enak dengan buku pemberian aku meniadakan rating, hanya review yang jujur aja :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...