Rabu, 08 Juli 2015

Take Off My Red Shoes by Nay Sharaya | Book Review

Take Off My Red Shoes
Penulis: Nay Sharaya
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer cover & ilustrator: Dyndha & Lisa FR
Penerbit: Grasindo
ISBN: 978-602-375-0580
Cetakan pertama, Juni 2015
240 halaman
Buntelan dari @InayahSyar
Atha

Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna. Aku tak pernah ingin menyingkirkan siapa pun.



Alia
Aku memiliki semuanya. Memiliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi, ada seseorang. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di samping Atha. Apakah salah jika aku ingin memilikinya juga?

Ares
Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat.

Kegan
Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus adalah sahabatku sendiri.
Natasha dan Athalia adalah saudara kembar tidak identik yang sedari kecil tinggal di panti asuhan, tanpa tahu siapa orang tua yang sesungguhnya, Atha hanya samar dengan ibu yang meninggalkan mereka berdua. Atha lebih pendiam daripada Alia yang ceria, Alia lebih banyak teman dan Atha lebih suka bermain sendirian atau hanya dengan Alia saja, hubungan mereka sangat dekat, saling memiliki satu sama lain. Ketika panti mendapatkan sumbangan bertepatan dengan ulang tahun si kembar, mereka mendapatkan hadiah dari pengurus panti, sebuah buku dongeng tentang sepatu merah yang diberikan kepada Atha karena dia suka membaca, sepasang sepatu merah dihadiahkan kepada Alia karena dia cantik seperti putri. Namun Atha berharap dialah yang mendapatkan sepasang sepatu merah yang menawan, Alia menyadari hal tersebut dan berjanji mereka akan berbagi, Alia akan meminjamkan sepatunya, dan Atha gantian meminjamkan buku dongeng. Tetap saja sepatu itu bukan milik Atha.

Lalu suatu hari ada sepasang suami istri dan seorang anak lelaki mengunjungi panti, mereka berniat mengadopsi seorang anak gadis, sebagai pengganti anak gadis mereka yang baru saja meninggal. Anak lelaki bernama Ares itu sangat senang bertemu dengan Alia, belum pernah terlihat bahagia sejak ditinggal pergi selamanya oleh Aurelia, adiknya tersayang. Alia sangat mirip dengan adik Ares, raut wajah dan caranya tertawa membuat kerinduan Ares dan ibunya terobati. Tapi mereka hanya ingin mengadopsi seorang anak gadis, bukan sepasang anak kembar. Atha menyadari kalau dirinya akan berpisah dengan saudara satu-satunya, dia akan semakin kesepian dan setiap hari sebelum kepergian Alia dia selalu menangis. Alia berjanji akan memberikan sepatu merah kesayangan miliknya, dan seketika itu juga kesedihan Atha hilang. Tidak lama setelah kedatangan yang pertama, kedua pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk mengadopsi kedua gadis kembar tersebut.
Atha begitu terkejut dan senang mendapatkan dongeng tentang sepatu merah dalam buku bacaan yang dihadiahkan padanya. Gadis bersepatu merah yang sangat beruntung, ia bahkan mendapat seorang ibu yang bersedia merawatnya. Akan sangat menyenangkan kalau ia dan Alia juga seperti gadis itu.
Sejak saat itu, Atha mulai melihat sepatu dan warnanya yang mengagumkan itu sebagai sesuatu yang harus ia miliki. Harus selalu ia miliki. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti.
Obsesi Atha terhadap sepatu merah tidak berhenti begitu saja, beranjak remaja dia tetap sangat menyukai warna merah, bahkan beranggapan kalau sepatu merah akan membawanya kepada sebuah keberuntungan, seperti dalam dongeng, dia akan mendapatkan ibu yang sangat menyayanginya. Namun itu hanya impian semata, nyatanya keluarga barunya hanya menyayangi Alia, terlebih Ares. Alia selalu menjadi yang utama, anak kesayangan, dan Atha merasa dirinya ikut diadopsi karena Alia yang menginginkan, karena dulu mereka tak terpisahkan. Atha sering sekali menarik perhatian agar ibu dan kakak lelakinya sekali saja memandang dirinya, tapi tidak pernah, dia selalu menjadi yang kedua, setelah Alia.

Kesenjangan kasih sayang yang didapat Atha juga dirasakan oleh Kegan, sahabat Ares dan tetangga mereka. Ares jarang sekali memperhatikan Atha, lebih peduli kepada Alia, Ares rela menunggu Alia yang pulang terlambat, tidak mau menunggu Atha apabila dia ada latihan cheers. Dan banyak lagi pilih kasih antara Atha dan Alia, membuat Kegan penasaran sebenarnya ada apa dengan keluarga mereka? Terlebih Atha sangat berusaha ingin diperhatikan Ares, dibuat bingung oleh Alia kalau Atha tidak bisa dipercaya, selalu membenarkan kebohongan-kebohongan yang selama ini dia lakukan, tidak pernah sadar kalau berbohong. Ada rahasia apa tantang Atha?
"Kenapa merah?"
"Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol di mana pun dia berada dan kamu nggak perlu kesulitan nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing."
Saya belum pernah membaca dongeng Sepatu Merah karya Hans Christian Andersen, sebuah dongeng klasik yang di retelling oleh Nay Sharaya kedalam Take off My Read Shoes. Membaca sekilas dongeng tersebut di buku ini, memberikan sedikit gambaran bahwa ceritanya tidak berakhir bahagia, kelam dan memiliki pesan bahwa sebuah obsesi yang berlebih akan membahayakan diri sendiri. Sama seperti obsesi Atha terhadap sepatu merah, yang menyebabkan ia selalu mempercayai apa yang dia inginkan, tidak peduli apakah keinginannya itu baik atau buruk. Ketika membaca prolognya, saya sangat tertarik sekali, membuat saya penasaran. Terlebih beberapa kali penulis mengeksekusi kalimat penutup dengan bagus sekali, menambah rasa penasaran, menambah emosi pembaca. Contohnya kalimat berikut  yang menjadi penutup di prolog:
"Temannya Alia ikut juga, Ma?" tanya Ares tak mengerti seraya menatap Atha seperti orang asing.
Sejak pertama penulis langsung membuat saya tertarik akan tokoh Atha. Saya sangat tersentuh, emosinya dapat sekali, penulis sukses membuat karakter Atha, seseorang yang tidak diinginkan dan berharap mendapatkan perhatian dari orang yang dia sayang. Banyak adegan miris, terlebih yang dilakukan Ares terhadap Atha. Tidak jarang saya merasa geregetan dan capek hati melihat perlakuan keluarga Atha, mengganggap Atha sebagai orang luar. Banyak adegan yang akan membuat kalian berempati kepada Atha, salah satunya adalah ketika Mama mereka memasak makanan kesukaan Ares dan Alia yang kebetulan sama, dalam rangka Ares mendapatkan jadwal manggung di acara radio dan Alia masuk nominasi sepuluh besar lomba fotografi, padahal di saat yang bersamaan Atha terpilih menjadi anggota cheers dan Mamanya tidak akan tahu kalau saat itu Atha tidak bilang, Mamanya tidak tahu apa makanan favorit Atha, tidak tahu apa yang disukainya. Jleb banget deh adegan itu. Dan masih banyak adegan jleb lainnya.

Selain Atha, tokoh favorit saya di buku ini adalah Kegan, orang yang sangat memperhatikan Atha selain Narendra, teman di klub fotografi Kegan yang naksir Atha, bahkan sempat mengirimkan surat cinta. Saya suka interaksi mereka berdua, setidaknya mengobati luka hati karena Atha selalu dicuekin Ares, orang yang sangat mengerti Atha, bahkan beberapa keganjilan yang baru disadari Kegan di bagian akhir, tidak membuat dia langsung meninggalkan Atha. Saya tidak akan membahas Ares ataupun Alia, bikin emosi saja, hahahaha. Saya juga cukup puas dengan endingnya, walau masih khas dengan buku-buku sebelumnya, yaitu cepat sekali, setidaknya ada sesuatu yang manis sebagai penutup cerita yang sepanjang jalan cerita cukup kelam, tidak ada rasa bahagia untuk Atha.

Saya melihat semakin kesini tulisan Nay Sharaya semakin berkembang, sudah semakin mulus, tidak melupakan detail penting berhubungan dengan twist yang ingin dia suguhkan. Ciri khas penulis adalah selalu membumbui cerita dengan unsur psikologi lewat karakter tokoh utamanya, sehingga selalu terlihat menarik. Awalnya saya tidak tahu, baru ketika Ameera muncul, twist mulai kelihatan, saya menyadari bersamaan dengan Kegan yang juga merasakan ada yang aneh dengan Atha, penulis cukup rapat menyimpan rahasia tentang diri Atha sebenarnya. Sedikit kekurangan adalah penulis kurang detail menyangkut psikis Atha, saya masih penasaran apakah Atha memiliki ganguan psikologis yang sangat parah? Apa nama penyakitnya? Berbeda dengan Me(Mories) yang dijelaskan cukup gamblang oleh penulis, di buku ini hanya dijelaskan seperlunya. Mungkin memang bukan tentang kondisi psikis Atha yang ingin ditekankan penulis, lebih kepada perasaanya, dia ingin diterima, tidak dianggap orang asing oleh keluarganya sendiri, dan penulis sangat sukses menunjukkannya.

Buku ini bercerita tentang sebuah obsesi yang apabila tidak dipupuk dengan baik, akan mengarah ke hal yang buruk, tentang proses penerimaan, tentang seorang anak yang merindukan kasih sayang seorang ibu, tentang seorang adik yang ingin diperhatikan kakaknya.

Recommended bagi yang ingin baca retteling, cerita keluarga yang cukup dark.

4 sayap untuk sepatu merah, obsesi kita sama Atha, cuma kalau saya nggak hanya warna merah saja XD.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...