Kamis, 30 Juli 2015

Orange (Repackaged) by Windry Ramadhina | Book Review

Orange (Repackaged)
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Christian Simamora & Ayuning
Penyelaras aksara: Gita Romadhona & Widyawati Oktavia
Desain sampul: Agung Nugroho
Ilustrator isi: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-780-819-8
Cetakan pertama, 2015
306 halaman
Harga: Rp 42.500 (PO di Windry Ramadhina)
Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.


Ah, dirinya kesal setengah mati.

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Buku ini adalah salah satu buku yang menjadi awal saya menyukai tulisan Windry Ramadhina, pertemuan pertama bisa kalian baca di review Memori, penuh kenangan dan ketidaksengajaan. Mengetahui kalau akan dicetak ulang dan dilakukan beberapa perombakan, saya tidak sabar ingin memilikinya, walau Orange versi lama masih dalam kondisi bagus, tetap saja saya ingin mengetahui apa yang diubah dan ditambahkan. Setelah selesai membaca versi terbaru, bisa dibilang buku ini jauh lebih bagus dari versi lama, kalian yang selama ini kesusahan mencari Orange, akan puas ketika membeli versi terbaru.

Fayrani Muid, putri pasangan konglomerat Ahmad dan Meilanie Muid. Keluarga besar Muid memiliki banyak bisnis warabala asing dan perhotelan, namun anak tunggal pasangan suami istri tersebut lebih memilih terjun ke dunia fotografi dan tidak tertarik sama sekali menjadi penerus bisnis keluarganya. Penampilannya sangat kasual dan tidak peduli kalau dia berasal dari keluarga kaya raya. Faye, begitu pangilannya, bekerja di studio milik Erod Martin, salah satu fotografer profesional yang susah memiliki nama di kancah internasional. Faye adalah Faye, sangat menyukai memotret dan jeruk.
'Aku suka fotografi, Erod. That Simple. Selama aku bisa berkarya, di mana pun tempatnya, buatku tidak jadi soal.'
Diyan Adnan, putra pertama pasangan Tyo dan Indra Adnan, konglomerat yang hartanya tidak akan habis dalam beberapa generasi, mereka menguasai bisnis di bidang industri properti dan jasa distribusi di Indonesia selama puluhan tahun. Usaha mereka semakin sukses semenjak Diyan turun tangan langsung. Dia merupakan eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Dia seorang workaholic, sering lebur di kantor dan jarang sekali santai. Dia mempunyai orang kepercayaan yang mengurusi segalanya, Reina Adnan, sudah seperti agenda berjalan bagi dirinya. Diyan sangat menyukai kerja dan tidak bisa melupakan masa lalunya, cintanya kepada Rera.

Suatu hari keluarga Muid berkunjung ke kediaman keluarga Adnan, dari sanalah ide menjodohkan Diyan dan Faye tercetus. Meilanie tidak berpikir panjang ketika menerima tawaran dari Indra, dia membutuhkan seseorang untuk meneruskan bisnis keluarganya, dan tidak bisa berharap kepada Faye. Diyan adalah pilihan yang sangat tepat, terlebih pernikahan mereka bisa menyatukan bisnis dua keluarga yang sama-sama kaya. Dulu Faye berjanji kuliah di dunia fotografi adalah permintaan terakhirnya, dan selanjutnya dia akan menyetujui apa pun keinginan orangtuanya, dan saat inilah Meilanie ingin menagih janji Faye. Berbeda dengan Faye yang awalnya tidak setuju dengan perjodohannya, Diyan langsung menyetujui, dari dulu dia tidak pernah mempunyai pilihan lain, tidak seperti adiknya, Zaki yang pembangkang, yang lebih memilih hidup dengan penghasilannya sendiri dan tidak ingin menyentuh harta keluarga Adnan.

Pertemuan pertama mereka sangat kaku, terlebih semua diatur oleh Rei. Diyan tinggal menjalankan jadwal, kapan harus bertemu, tidak ada inisiatif dari Diyan sendiri, seperti memberikan hadiah atau menelpon menanyakan kabar, semua Rei yang mempersiapkan, semakin membuat Faye penasaran dan ingin tahu lebih dalam lagi tentang calon suaminya tersebut. Ditambah Faye mengetahui tentang gosip akan Diyan dan Rera, tentang masa lalu mereka yang membuat Faye merasa tersisih dan tidak memiliki tempat di hati Diyan. Namun, Faye tidak akan menyerah, dia mulai serius dengan perjodohan mereka, dia sudah jatuh cinta kepada Diyan yang kaku dan dingin.
"Sometimes, ending won't be the end if you don't wish so."
"Sometimes, it doesn't have to be the end by any means."
Dari segi cerita tidak banyak yang berubah, masih sama hanya saja ada 'penghalusan' di beberapa bagian, dan hal tersebut malah membuat lebih baik. Penulis mengakui kalau karya pertamanya ini masih banyak kekurangan, dan dia memperbaiki di edisi terbaru. Saya lupa bagian mana saja yang mendapatkan perubahan dan penambahan, karena saya tidak membandingkan dengan edisi lama, saya hanya ingin menikmati membaca. Ada satu bagian yang saya ingat yaitu acara pertunangan Faye dan Diyan, kalau tidak salah dulu berlangsung di hotel, sekarang diganti di rumah keluarga Adnan dan ada beberapa adegan yang berubah di bagian ini. Yang jelas membaca versi terbaru ini lebih nyaman.

Dari buku ini juga kita bisa melihat perkembangan penulis, salah satu ciri khas Windry adalah tulisannya kaya detail dan penggambaran emosi kedua tokoh utamanya. Di buku ini tidak banyak detail yang Windry suguhkan, singkat tapi jelas, tidak bertele-tele, seperti penggambaran keluarga Adnan dan Muid yang kaya raya, tidak berlebihan, hanya sebatas informasi saja kalau mereka kaya, dan itu pun terlihat ketika pasangan suami istri Adnan dan Muid bertemu, selebihnya penulis lebih menekankan cerita kepada perasaan dua tokoh utamanya, Faye yang mulai mencintai Diyan dan ingin calon suaminya memiliki perasaan yang sama sedangkan Diyan mencoba melepaskan cinta lamanya dan mencoba menerima Faye. Yah walau tidak banyak detail, saya sangat menyukai bagaimana penulis membangun chemistry antara Diyan dan Faye. Penulis juga tidak menghilangkan sejumlah informasi yang juga merupakan keahliannya, yaitu dunia fotografi.

Ilustrasi favorit di Orange

Yang menambah nilai plus dari buku ini adalah kemasannya! Sangat-sangat suka, mulai dari kaver sampai ilustrasi yang dibuat penulis sendiri. Saya kasih contoh satu ilustrasinya, masih banyak dan lebih baik kalian lihat sendiri :p. Selain itu akan ada tambahan cerita, bagi kalian yang suka mantengin blog penulis pasti tahu ada cerpen kelanjutan cerita Orange, yap, di bagian terakhir ada side light berjudul The Girl Behind the Lens, tapi hanya ada satu saja, padahal berharap The Girl Behind the Lens: II juga dimuat di Orange terbaru. Tapi nggak pa-pa sih, bagi yang ingin baca silahkan meluncur, klik aja judul cerpen tersebut, kalian bisa langsung membacanya, namun yang The Girl Behind the Lens postingannya sudah dihapus penulis.

Untuk tokoh di buku ini, favorit saya tentu saja Faye, karena menurut saya dia adalah perempuan yang tidak mudah menyerah. Dia tahu Diyan masih mencintai Rera tapi dia tetap berusaha mengambil hati Diyan. Dia mengubah kabar Diyan agar melupakan Paris dan beralih ke Hongkong, dan bahkan membela Diyan ketika dipojokkan ibunya perihal dia menemui Rera lagi. Awalnya saya sebal dengan Diyan karena gampang banget 'menyingkirkan' Faye dan lebih memilih Rera, tapi dia mengalami perkembangan karakter juga, sedikit demi sedikit dia tidak ingin kehilangan Faye. Bagian favorit adalah ketika Diyan semalaman menunggu Faye di mobil, ketika dia dihubungi oleh Meilanie bahwa walau sedang sakit Faye tetap ke kantor untuk mengambil barang berharga karena takut terkena banjir. Pas mau jemput Diyan malah melihat Faye dan Zaki bersama. Bagian ini menunjukkan kalau Diyan udah mulai mempunyai perasaan kepada Faye, dan suka dia bisa cemburu juga, hehehe.

Tidak ada yang benar-benar menjadi pemeran antagonis dalam tokoh rekaan Windry, mereka semua lebih realistis. Seperti Rera, walau egois dia tidak memaksa, dia tahu tidak akan bisa bersama dengan Diyan karena mereka sama-sama mempunyai ambisi yang besar dalam hidup mereka, hanya saja ketika mendengar mantan tunangannya akan bertunangan lagi, dia mempertanyakan kembali perasaanya akan Diyan, apakah masih ada cinta? Sedangkan Zaki tidak percaya Faye akan menikah dengan kakaknya, Faye bukan tipe perempuan kakaknya, Faye lebih mirip dengannya, seseorang yang ingin hidup bebas dan tidak ingin diatur. Zaki ini mirip Simon, jadi agak susah kalau disuruh milih Zaki atau Diyan, karena mereka mempunyai sifat dan kelebihan masing-masing.

Selain membeli buku versi terbaru, saya juga membeli tote bag bergambar para tokoh di Orange, saya memilih Faye dan Diyan, pengen semuanya apa daya kantong udah bolong, hehehehe. Suka banget sama tasnya, kainnya bagus dan yang paling bagus adalah ilustrasinya. Dapat bonus semacam postcard keempat tokoh di Orang juga, pokoknya puas banget PO kali ini :D.



Bagi kalian yang ingin membaca karya pertama Windry Ramadhina, buku ini tidak boleh dilewatkan. Bagi yang menyukai kisah perjodohan, buku ini juga recommended. Buku ini bercerita tentang bahwa cinta itu bisa diciptakan secara perlahan, sabar dan tanpa menyerah.

4 sayap untuk ilustrasi yang keren banget.

4 komentar:

  1. Dulu pernah baca yang cover lama, udah lupa sih sama ceritanya. Cuma yang kuinget pas baca dulu benci setengah mati sama cewek yang jadi saingannya karakter utama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga g suka sama Rera, hahahaha, masih aja ganggu padahal dia yang ninggalin Diyan, emang minta dipites tuh cewek XD

      Hapus
  2. Ini... salah satu wishlist yang belum juga kesampaian. Hikzzzz~ Udah nyicip 1x baca tulisan Mbak Win yang Interlude, dan aku sukaaaa! Akhirnya kenal juga gimana tulisannya Mbak Win. Mau minjem Orange versi lama sama temennya temen, tapi belom sempat ketemu. Baca blurb-nya dan review(s) orang-orang selalu aja 'menjual'. Cemana aku nggak mupeng cobak? Huhuhu.

    By the way, itu totebag nya emang bonus dari PO atau mesen lagi? I mean, itu harga diluar 40rb itu bukan ya? Soalnya kata Kak Sulis mau mesen lagi tapi kantong udah bolong hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Totebag-nya beli, terpisah sama buku, jadi bisa beli buku aja atau sekalian sama totebag-nya, bisa milih satu gambar aja atau dua sisi, aku milih yang dua sisi, aku lupa harganya tapi nggak nyampe seratus ribu kok, hehehe

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...