Kamis, 30 Juli 2015

Hujan Bulan Juni: Novel by Sapardi Djoko Damono | Book Review

Hujan Bulan Juni: Novel
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Editor: Mirna Yulistianti
Desainer cover: Iwan Gunawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1843-1
Cetakan pertama, Juni 2015
144 halaman
Buntelan dari @sastragpu
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi diselembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.



Dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film, kini puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono beralih wahana menjadi novel.

Saya bukan penikmat sastra, namun sesekali mencoba membacanya. Saya bukan pecinta puisi, sangat jarang melirik karena saya tidak mempunyai bakat dalam hal membuat atau mencernanya. Ketika selesai membaca buku inilah saya mencoba memahami puisi Hujan Bulan Juni, yang bagi saya sulit dimengerti. Namun, buku ini adalah rasa lain dari puisi yang cukup fenomenal tersebut, mungkin tercipta bagi orang seperti saya yang sulit memahami sebuah puisi, karena menjadi lebih mudah saya terima.

Banyak yang bilang kalau tulisan panjang Sapardi Djoko Damono dalam novel Hujan Bulan Juni ini terlalu njlimet, susah dipahami, ceritanya ngalor ngidul. Saya menganggukkan kepala, karena saya merasakannya juga. Buku tipis namun memerlukan banyak waktu untuk mencerna kalimat demi kalimat yang terasa zadul dan sangat Jawa, mungkin orang non Jawa akan sulit mengerti karena tidak ada catatan kaki terjemahan beberapa bahasa Jawa yang digunakan penulis ke dalam bahasa Indonesia. Entah apakah buku sastra yang ditulis oleh penulis yang sudah sangat senior seperti ini semua, yang jelas saya paham karena zaman berbeda. Walau penulis mencoba menyuguhkan rasa kekinian dengan menyisipkan gadged zaman sekarang, WA bahkan selfi, umur tidak bisa berbohong. Buku ini sangat terasa kezadulannya, dan bagi saya menarik. Saya merasa akan menjadi aneh kalau penulis mengunakan bahasa seperti kisah cinta kebanyakan yang ditulis oleh penulis di era modern sekarang ini.

Buku ini bercerita tentang kisah cinta Sarwono dan Pingkan, seorang dosen dan asisten dosen di sebuah Universitas Negeri Indonesia. Sudah banyak yang tahu kalau Sarwono mempunyai rasa kepada Pingkan, adik dari sahabatnya, Toar. Semua orang menganggap mereka berpacaran, Pingkan sendiri sebenarnya memiliki perasaan yang sama hanya saja tidak ada ungkapan lisan akan status mereka berdua, bahkan Sarwono sering sekali menggoda Pingkan dan menganggap mereka sudah berpacaran.

Hubungan mereka tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Seperti adanya perbedaan agama, adat dan budaya antara Sarwono yang Jawa tulen sedangkan Pingkan peranakan Manado dan Jawa, membuat Sarwono memikirkan apakah dia bisa diterima di keluarga besar Pingkan, apakah dia pantas menjadi menantu orang Manado. Selain itu Pingkan akan melanjutkan studi ke Jepang ditemani oleh Katsuo Sontoloyo, membuatnya cemas akan kelanjutan hubungan mereka berdua, takut kalau Pingkan akan melupakan dirinya dan memilih orang lain.
Sejak menjadi mahasiswa ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga, Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam.
Namun, ternyata sampai zaman yang sudah lanjut ini masih saja ada pengaruh keluarga dalam hal perkawinan. Bukan hanya Jawa, bukan juga hanya Manado ternyata keluarga merasa memiliki sejenis hak milik atas anggotanya. Keluarga besar, bahkan.
Walau agak susah dipahami dan harus dibaca perlahan, saya cukup menikmati bahasa yang digunakan penulis, memberikan saya pengetahuan baru akan bahasa zadul, yang bisa dinikmati di masa sekarang ini, di era bahasa gaul yang menjajah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada yang berkata kalau makna dari puisi Hujan Bulan Juni adalah sebuah penantian. Dan saya setuju, novel ini juga bercerita akan penantian Sarwono menunggu pujaan hatinya.
Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas
Itu bukan pepatah, itu klise yang bersikeras untuk menjelma kembali ke habitatnya yang purba sebagai larik puisi
Jakarta itu kasih sayang
3 sayap untuk hujan di musim kemarau.




NB: Saya mendapatkan buku ini ketika mengikuti kuis yang diadakan @sastragpu. Waktu itu pertanyaanya adalah 'Pada sampul novel Hujan Bulan Juni terdapat tetesan air memburamkan judul buku. Menurutmu itu tetesan hujan atau airmata?' Dan jawaban saya, 'Keduanya, air mata seseorang yang jatuh kala hujan pagi hari di bulan Juni, merindukan pelangi.'

Dan lebih menyenangkannya lagi, saya tidak hanya mendapatkan novel Hujan Bulan Juni bertanda tangan dan ada tulisan 'untuk @peri_hutan', saya mendapatkan ketiga novel Sapardi Djoko Damono lainnya yang diterbitkan oleh Gramedia. Terima kasih sekali untuk @sastragpu dan Gramedia, buku bertanda tangan @SapardiDD ini menjadi salah satu buku berharga bagi saya *seneng kejer* *cium sajadah* :D



9 komentar:

  1. Wah.... Ngalamat pinjem ni aku... *modus*

    BalasHapus
  2. Sugoooi :D aku lumayan suka puisi, dan kutipan-kutipannya keren ih jadi pengen bacaa :""

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti cocok dong dengan buku ini, ada beberapa puisinya juga loh :D

      Hapus
  3. WAH!!! Lucky you, Kak.

    *Lempar sini ke aku*

    Dari dulu ngefans sama SDD tapi belum kesampaian ketemu pun punya buku yang ada tanda tangannya gitu :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemaren pas launching g datang ya? Semoga suatu saat kesampean ya bertemu langsung dengan beliau dan minta tanda tangan atau sekalian selfi, hehehe

      Hapus
  4. Harganya kisaran brp ya? 😊😊 penasaran bgt pengen beli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh aku lupa, coba aja cek di online book, paling sekitar 50rb-an

      Hapus
  5. Harganya kisaran brp ya? 😊😊 penasaran bgt pengen beli

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...