Kamis, 02 Juli 2015

Dangerous Game by Christina Tirta | Book Review

Dangerous Game
Penulis: Christina Tirta
Editor: Donna Widjajanto
Desain sampul: Dadan Erlangga
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0524-0
Cetakan pertama, Mei 2014
336 halaman
Buntelan dari @MVFShop
Bagi Josephine alias Josie, masa lalu bukan hanya kenangan manis, tapi juga cinta yang suram dan berbahaya yang membayangi hidupnya. Setengah mati ia ingin terlepas dari perangkap itu.



Namun saat ia bertemu dengan kakak-beradik Mario dan Nicole, lagi-lagi ia terjerembap ke lubang yang sama. Mario yang memikat hatinya ternyata juga memikat hati Kayla, sahabatnya. Tapi bukan itu yang menyeret Josie ke dalam sebuah permainan berbahaya.



Nicole, memesona dan penuh misteri, menuntunnya ke dalam permainan yang tak ingin ia mainkan. Dan lagi-lagi Josie harus memilih antara cinta dan nuraninya.

Ini bukan sekadar kisah cinta segitiga.

Ini kisah cinta yang tidak biasa.

Kisah cinta yang menggiringmu ke dalam permainan berbahaya.


“This is a very nice thriller novel. Alurnya jelas, dengan tokoh-tokoh yang menarik dan konflik yang menegangkan. Kita bisa merasakan empati baik pada tokoh protagonis maupun antagonis.”Lexie Xu; Penulis Johan Series.

Josephine punya masa lalu yang kelam, tidak ada yang mengetahui rahasianya, dia ingin menutup rapat-rapat, berdamai dengan masa lalu dan memulai lebaran baru. Rahasia tersebut sedikit demi sedikit mulai terkuak ketika dia bertemu dengan kakak beradik Mario dan Nicole. Sahabatnya, Kayla sangat memuja Mario dan selalu mencari informasi tentang dirinya, mencurahkan hatinya kepada Josie betapa dia ingin menjadi kekasih tetangga baru di kompleknya tersebut. Mario tidak tinggal sendirian, selain seorang pembantu, ada adiknya yang sangat cantik, menawan dan super ramah. Tidak jarang dia muncul disaat Kayla dan Josie sedang berkumpul, ingin lebih dekat dengan mereka, ingin menambah teman. Namun, Josie merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Nicole, kadang raut wajahnya dingin dan jutek ketika melihat Josie, kadang langsung berubah manis. Tidak jarang sindiran yang sering dia lontarkan menyentil Josie, tentang masa lalunya.

Sifat Nicole mulai terlihat ketika Josie dan Kayla diundang ke pesta ulang tahunnya. Ada sebuah permainan yang sudah dirancang Nicole, Dare to be Bare? Di mana para undangan yang memakai topeng akan duduk melingkar di sebuah kursi, selanjutnya musik akan di putar. Kemudian mereka berdiri dan mengitari kursi sampai musik berhenti. Tepat pada saat itu, satu lampu akan dinyalakan, melambangkan warna kursi yang menyimpan tantangan. Jadi siapa pun yang duduk di kursi yang menyala tersebut harus menyanggupi tantangan yang ada, apa pun itu. Kalau menolak, maka peserta akan membuka topengnya dan ketahuan siapa dirinya, dipermalukan dan dianggap sebagai pecundang. Selain itu, Josie juga mendapatkan sedikit informasi tentang Nicole dari Margaret, salah satu tamu undangan kalau Nicole itu sakit jiwa, psyco, dia bisa melakukan apa saja, terlebih soal Mario. Nicole sangat posesif, walau mereka saudara tiri, Nicole sangat dekat dan tidak ingin orang lain menjadi pacarnya. Di depan bisa semanis gula, tetapi sewaktu-waktu bisa menusuk dari belakang tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Mengetahui hal itu membuat Josie sedikit cemas, tidak ada yang tahu kalau dia telah berpacaran dengan Mario secara sembunyi-sembunyi, tidak ingin melukai sahabatnya, Kayla, tidak ingin melukai hati Mario karena dia juga tertarik padanya. Berbagai teror mulai muncul, Nicole tidak pernah berhenti menganggu hidup Josie, dia pasti tahu hubungan Josie dengan kakaknya. Dan puncaknya adalah ketika mereka berlibur bersama, Nicole kembali membuat permainan yang berbahaya, sebuah permainan yang memaksa Josie mengungkap rahasianya. Sebuah kebohongan, sebuah penghianatan, sebuah luka lama.
"Nggak ada yang bisa mengendalikan cinta. Cinta itu kayak angin yang nggak bisa dilihat dan hanya bisa dirasakan."
"Jangan pernah menyembunyikan kebohongan karena kebenaran akan selalu menemukan jalannya seperti bayangan selalu menemukan pemiliknya saat matahari beranjak pergi."
"Cari dan temukan cintamu. Perjuangkan apabila memang layak. Namun lepaskan bila cinta itu menyakitimu. Cinta itu seharusnya membuat hidupmu bebas dan bahagia. Bukan membuatmu merana dan tersiksa."
Buku ini seru! Banyak bagian yang saya suka, mulai dari para tokohnya sampai kisah masa lalu yang terjadi pada Josie, sangat misterius dan penulis dengan sabarnya menguak sedikit demi sedikit, menyimpannya dengan sangat rapi, membuat saya tambah penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tema ceritanya nggak jauh dari Dangerous Love, tentang balas dendam, tentang obsesi kepada seseorang. Sedangkan gaya tulisannya pun juga masih sama, lugas tanpa basa basi dan page-turner banget.

Ada dua karakter yang menjadi sorotan saya, pertama adalah Nicole. Penulis sangat piawai membuat pemeran antagonis, sangat kejam, licik, lihai dan sebagainya, seseorang yang benar-benar terlihat jahat. Namun, penulis juga menuliskan latar belakang kenapa Nicole menjadi seperti itu, selain kita sebal dengan dirinya, kita juga bisa sedikit berempati dengan kisah masa lalunya yang bisa dibilang tidak bahagia, tragis. Satu-satunya orang yang peduli padanya hanyalah Mario, membuat Nicole sangat bergantung dan tidak ingin direbut oleh orang lain. Sedangkan karakter kedua adalah Charlie. Saya sudah bisa menebak siapa dia sebenarnya ketika pertama muncul, berhubungan erat dengan masa lalu Josie. Charlie menjadi pemanis cerita. Tokoh lainnya juga berperan besar akan jalannya cerita, porsi mereka pas, tidak membuat kisah Josie tenggelam, malah menjadi salah satu jawaban dari misteri masa lalu Josie.

Sedikit kekurangannya adalah saya tidak merasakan kalau Josie menyukai Mario, bahkan hubungan mereka terkesan tergesa-gesa, tidak ada chemistry sama sekali, tidak ada alasan kuat kenapa Josie mau menjadi pacar Mario. Kemudian ketika Josie 'ditindas' Nicole, dia seperti pasrah saja, tidak ada perlawanan yang kuat, memperlihatkan kalau Josie itu lemah. Selain itu, saya menemukan formula buku ini di Dangerous Love, mulai dari karakternya, sampai konflik cerita. Misalnya saja Mario sangat mirip dengan Christ, Charlie seperti Marco, Kayla sama seperti Chantal, bahkan Nicole pun mengingatkan saya kepada Clara, hanya porsi kekejamannya lebih besar. Konflik utamanya pun mirip yaitu tentang balas dendam, tentang memaafkan, tentang penerimaan diri.

Bukan berarti menjadi sesuatu yang buruk, penulis punya modal bagus dalam cerita romance yang dipadukan dengan mystery-thriller, saya berharap buku berikutnya tidak memakai formula yang sama lagi karena akan menjadi sangat mudah ditebak, tidak ada teka teki atau twist yang menarik. Mungkin karena kesamaan ini juga judul buku hampir mirip, setidaknya jadi tahu alasan atau arti di dalamnya :D. Selain kedua tokoh tersebut yang sangat menarik, bagian yang saya suka lainnya adalah ketika Josie berinteraksi dengan Darren, lucu banget. Saya suka bagian flashback-nya, nggak sesuram kalau ketemu Nicole, hahahaha. Saya juga sangat suka dengan endingnya :D
"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Belajar melepaskan dan memaafkan, itu yang terpenting."
Buku ini recommended bagi pecinta romance yang ingin mendapatkan rasa mystery-thriller, bagi yang ingin mendapatkan cerita metropop yang tidak biasa.

3.5 sayap untuk Charlie ^^


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...