Selasa, 28 Juli 2015

Critical Eleven by Ika Natassa | Book Review

Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Editor: Rosi L. Simamora
Desain sampul: Ika Natassa
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1892-9
Cetakan pertama, Juli 2015
344 halaman
Harga: 79k (Beli di @ParcelBuku)
Bisa dibeli di @bukupediacom
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.



In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.



Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.


Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

Mengetahui Ika Natassa sedang menulis buku terbaru pasca Antologi Rasa kurang lebih dua tahun yang lalu, bahkan Twivortiare 2 belum rencana terbit, saya sangat tidak sabar untuk segera membaca, kangen tulisan Ika yang bukan kumpulan tweet. Begitu baca cerpen Critical Eleven di Autumn One More, buku ini langsung menjadi buku yang wajib dibaca dan dikoleksi, menjadi salah satu buku yang sangat saya nanti-nantikan. Ditambah promosi yang dilakukan penulis, sebuah cerpen beberapa tahun sebelum terbit, beberapa bulan mendekati pre-order penulis menggoda pembaca dengan kumpulan foto dan cuplikan kalimat di buku, membuat pembaca sangat penasaran dan sangat tertarik ingin segera memiliki. Nggak heran 1.111 buku langsung ludes hanya dalam hitungan menit, semua dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari cerita, kemasan dan penjualan.

Sewaktu membaca cerpen Ctitical Eleven di Autumn One More, yang menjadi bab pertama buku ini serta ada sedikit penambahan, saya menebak cerita nggak akan jauh-jauh dari LDR, melihat profesi kedua tokoh utama yang memaksa mereka harus tinggal jauh, Aldebaran Risjad berprofesi sebagai petroleum engineer, menghabiskan waktunya 5/5 di Teluk Meksiko, lima minggu kerja dan lima minggu libur. Sedangkan Tanya Laetitia Baskoro adalah seorang management consultant tinggal di Jakarta dan tidak jarang terbang ke berbagai kota atau negara lain. Namun, dugaan saya ternyata salah besar, langkah Ika benar-benar tidak bisa saya tebak kemana cerita akan dibawa, baru di bab 5 lah kita akan jelas dengan apa yang disembunyikan penulis. Dengan menggunakan alur maju mundur, kita akan dibawa ke masa sekarang, lima tahun sejak mereka pertama bertemu di pesawat dan masa sebelum masalah terjadi. Kemudian kembali ke masa setelah mereka menikah, ketika telah menjadi orang asing satu sama lain.
In a way, I think it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama, right? Senyumnya, gesture-nya, our take on their physical appearance. Semua terjadi dalam tiga menit pertama.
And then there's the last eight minutes before you part with someone. Senyumnya, tindak tanduknya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda apakah akhir pertemuan itu akan menjadi "andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi" atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.
Awalnya pernikahan yang dilangsungkan tidak lama setelah berkenalan, hanya setahun, tidak beda dengan pasangan lain. Walau harus tinggal berpisah selama beberapa waktu setiap bulannya, pernikahan mereka sangat bahagia, Ale dan Anya sudah yakin dengan perasaan mereka, bahwa mereka memang ditakdirkan untuk satu sama lain. Lalu sebuah tragedi menimpa pernikahan mereka, sebuah kehilangan yang sama-sama membuat mereka berdua terluka. Puncaknya adalah perkataan Ale kepada Anya, membuatnya sangat kecewa dan terluka, sejak saat itu dia tidak pernah merasakan apa itu bahagia, tidak yakin akan tujuan mereka bersama selanjutnya sehingga dia ingin mengambil jarak dengan Ale. Ale pun hanya bisa menjauh, sesuai permintaan Anya, hanya sebatas itu saja, dia tidak bisa kalau berpisah, dia akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya.

Gaya bercerita penulis masih khas, lugas, bahasa campur aduk dan informatif, lebih menginggatkan saya ketika membaca Divortiare, alurnya sama dan lebih banyak narasi daripada dialog, sering menginggat masa lalu. Bedanya sang narator dari sudut pandang orang pertama, Anya dan Ale secara bergantian, sama seperti di Antologi Rasa. Keunggulannya perasaan tokoh akan mudah kita pahami. Walau ada beberapa bagian yang menjadi repetitif, sepertinya penulis ingin menekankan perasaan masing-masing tokoh dalam satu waktu, dan itu sukses sekali. Ketika membaca buku ini saya bisa merasakan kehilangan Anya, betapa kecewanya dia terhadap Ale, ingin sekali melupakan namun tidak bisa. Sedangkan Ale sendiri, dia membuat kita sebagai pembaca akan berempati kepadanya, bertapa besar cintanya untuk Anya, usahanya untuk mendapatkan maaf, ingin memulai dari awal lagi.
"Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu."
Hidup memang tidak pernah sedrama di film, tapi hidup juga tidak pernah segampang di film. 
Ujian keimanan seorang laki-laki itu bukan waktu digoda oleh uang, perempuan, atau kekuasaan seperti banyak yang dikatakan orang-orang. Ujian keimanan itu sesungguhnya adalah ketika yang paling berharga dalam hidup laki-laki itu direnggut begitu saja, tanpa sebab apa-apa, tanpa penjelasan apa-apa, kecuali bahwa karena itu sudah takdirnya.
Marriage is a little bit like gambling, isn't it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. Waktu kita duduk di depan meja poker atau blackjack atau dice, kita bisa memilih ingin mempertaruhkan seberapa banyak. Sedikit, sepertiga, setengah, atau semua, kemenangan yang bisa kita peroleh atau kekalahan yang harus kita tanggung semua tergantung dari seberapa besar risiko yang berani kita ambil. Tapi pernikahan tidak begitu. saat kita duduk di depan meja penghulu dan melaksanakan ijab kabul, semua kita "pertaruhkan".
In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that. 
Kalau ditanya tokoh favorit di buku ini, tentu saja Ale, walau tetap Harris yang nomor satu, hehehehe. Walau karakternya nggak jauh beda dari tokoh rekaan Ika Natassa sebelumnya, tetap saja menjadi kategori book boyfriends, mungkin sudah menjadi ciri khas penulis. Nggak sekali ini menemukan penulis yang tokoh buatannya memiliki karakter hampir sama seperti di buku-buku sebelumnya, dan hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah bagi saya. Ale ini nggak playboy seperti Harris, nggak selempeng Beno, dia cool, pendiam tapi nggak cuek, suka serius, suka main lego dan sangat terencana. Salah satu contoh adalah ketika dia ingin menikahi Anya. Sebelum melamar, Ale udah membangun rumah, menghabiskan tabungannya dan membayar sendiri pesta pernikahannya, bahkan dia mengembalikan semua uang kuliah kepada ibunya, Ale punya sejarah buruk dengan ayahnya, membangkang dari profesi pilihan ayahnya dan membuat hubungan mereka nggak baik sampai Ale menikah dengan Anya. Bertanggung jawab banget, kan? Anya sendiri sedikit digambarkan sebagai wanita lemah, manusiawi banget kok, kalau kita diposisi Anya, kita akan melakukan hal yang sama, mencoba berdamai dengan kehilangannya.

Kalau ditanya bagian yang paling saya suka, susah jawabnya. Setiap kalimat yang dibuat penulis rasanya bermakna semua. Contohnya bagian ketika Anya ingin sekali melupakan Ale, mulai dari penjelasan beberapa film sampai bagian otak yang berhubungan dengan memori, agak bertele-tele dan mungkin cukup membosankan. Namun begitu kita sampai di bagian akhir tentang informasi tersebut, kita akan tahu kenapa. Sangat suka gaya bercerita seperti ini, sangat informatif dan genius kalau saya bilang. Nggak banyak penulis yang bisa membuat narasi menjadi nikmat untuk terus diikuti, dan Ika punya cara tersendiri agar pembaca tidak bosan.

Sebenarnya ada adegan yang saya ingat banget karena bikin deg-degan, bisa dibilang adegan favorit deh, yaitu sewaktu Harris dan Raisa, adik Ale ingin memberikan kejutan kepada kakaknya tercinta pas ulang tahun. Skenarionya, Anya berpura-pura pergi dari rumah, kemudian Harris akan menggiring Ale ke tempat semua keluarganya berkumpul, termasuk Anya juga. Bagian ini bener-bener deh, kita akan sangat merasakan perasaan Ale, cemas, khawatir dan takut, takut kalau semua itu bukan hanya sebuah skenario, tetapi kenyataan. Dan tentu saja adegan sepulang dari pesta ulang tahun Ale tidak boleh ketinggalan XD.

Buku ini tidak hanya bercerita tentang Anya dan Ale saja, namun juga keluarga dan teman-temannya. Berbeda dengan sebelumnya, Ika sering sekali menceritakan profesi tokoh utama beserta para sahabatnya. Masih sama hanya saja kali ini porsi mereka pas, tidak kebanyakan dan sebagai pelengkap saja, benar-benar sebagai pendukung cerita. Yang sangat saya suka dari buku ini adalah cerita fokus pada Anya dan Ale, perasaan dan permasalahan dalam pernikahan mereka, hanya tentang mereka berdua. Oleh karena itulah buku ini menjadi paling favorit dari Ika Natassa, saya bisa merasakan apa yang dirasakan para tokoh utamanya, tema cerita yang sangat saya suka, pesannya juga dapat banget. Bahwa tidak ada yang mulus di dunia ini, ada saatnya kita terpuruk dan mencoba untuk berdiri tegak lagi. Bahwa semua orang punya salah dan berkesempatan memperbaikinya.

Ada juga hubungan Ale dan ayahnya, cukup banyak berseliweran namun menjadi bagian yang cukup penting, terlebih dalam menyelesaikan masalah pernikahan, bisa jadi pelajaran berharga buat kita juga baik yang belum maupun sudah menikah. Dan bagi yang ingin membaca kelanjutan cerita Harris dan Keara di Antologi Rasa, buku ini tidak bisa dilewatkan. Saya sangat berharap penulis juga membuat cerita lain tentang keluarga Risjad, gantian para ceweknya dong, kak, pengen ada cerita lengkap tentang keluarga Risjad yang tersisa, trus kisah Ale dan Anya bisa diselipin juga kayak Harris dan Keara XD.
"Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami -yang membuat kopi- memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le. Rasanya nggak pas. Butuh waktu lebih dari dua tahun dulu baru Ayah merasa sudah memperlakukan Ibu kamu sebagaimana seharusnya dia diperlakukan. Dari mana Ayah tahu sudah bisa? Dari perlakuan Ibu ke Ayah. Memang butuh belajar lama, butuh banyak salah dulu juga, tidak apa-apa. Yang penting kita tekun, sabar, penuh kesungguhan, seperti kita membuat kopi, Le. Bedanya dengan kopi, kalau kita sudah bingung dan putus asa, bisa cari caranya di Internet. Tinggal google. Istri tidak bisa begitu, harus kita coba dan cari caranya sendiri." 
"Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita."
"Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harus kuat hidup untuk dia. Rela mati sih gampang, dan bego." 
"Dengan kamu, aku sudah bakar jembatan, Nya. I've burned my bridges. There's no turning back. There's only going forward, with you.
Karena beginilah  dari dulu gue mencintai Anya. Tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata. 
Buku ini bercerita tentang kehilangan, tentang kesempatan kedua. Buku ini sangat recommended bagi kamu yang ingin mencari cerita tentang domestic drama, bagi kamu yang ngaku sebagai penggemar Ika Natassa :D.

5 sayap untuk si tukang ngebor :p.


16 komentar:

  1. Kereeeen tapi kalo boleh tau emang masalah mereka apa ya? sempet bingung kenapa si Anya gak mau maafin Ale harus beli bukunya dulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ya nggak bisa bilang soalnya nanti jadi spoiler, hehehehe

      Hapus
  2. aku bingung mau ngereview buku ini tanpa spoiler XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama banget, makanya sedikit banget ulasan ceritanya, biar pembaca lain ngrasain tanda tanya yang aku alami selama membaca buku ini, hehehe

      Hapus
  3. sudah beli bukunya, tapi masih dalam tahap pengiriman. udah nggak sabar pengin baca bukunya!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat membaca, semoga suka seperti saya :)

      Hapus
  4. Baru baca beberapa BAB dan saya sayang buat ngelanjutin ke BAB berikutnya. takut keburu selesai #terlalumenikmati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget! Aku juga nggak rela tamat kok, pengen ada lanjutannya lagi atau kisah keluarga Risjad yang lain XD

      Hapus
  5. Kak Sulis, si Tanya itu management consultant, bukan manager consultant.
    Beda loh kak. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya ya? Nggak terlalu merhatiin, nanti dicek lagi ya, makasih koreksinya :)

      Hapus
  6. Kak Ika selalu detail banget kalo nulis profesi yaa di ceritanya :)
    Aku jadi tertarik baca nih habis baca ulasanmu hehehe Berhubung fase hidup lagi mengarah ke sono #eh :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieeeeee mau menikah nih, selamat ya :)
      Buku ini memang banyak tips tentang pernikahan, berpesan bahwa pernikahan itu tidak mudah dan banyak cobaanya, namun bukan berarti tidak ada penyelesaianya :)

      Hapus
  7. buku kesekian karya Ika Natassha yang sempet2in baca saat di kantor... bukannya siapin bahan presentasi tapi malah baca novel ini. dibuat jatuh cinta sama sosok ale (andai laki gw kayak ale)hahahahhahaa... dan yang parahnya jadi rela ke kantor naek kereta daripada nyetir sendiri.. biar terus lanjut bacanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya emang page turner banget, aku juga langsung habis sekali baca, nggak rela kalau ditunda-tunda :)

      Hapus
  8. Harus aku akui... baru Critical Eleven lah yang mampu mengobrak-abrik emosiku. Pokoknya karya Ika Natassa yang satu ini bikin nagih bangeett.
    Oh iya, adegan favoritku justru adalah saat Anya berkunjung ke makam ***** (sensor). Sumpah, terenyuh sekali :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya emang menguras emosi banget T.T

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...