Senin, 06 Juli 2015

Above The Stars by D. Wijaya | Book Review

Above The Stars (YARN #13)
Penulis: D. Wijaya
Penyunting: Anida Nurrahmi
Perancang sampul dan isi: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: Ice Cube
ISBN: 978-979-91-0884-5
Cetakan pertama, Juni 2015
248 halaman
Buntelan dari @authorde
“Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.



Danny menggeleng.



“Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”


Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

Bagi William Anderson, hidup itu seharusnya dinikmati, lakukan apa yang ingin kita lakukan, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada karena kita tidak akan tahu kapan bisa menikmatinya lagi. Sedangkan bagi Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah, dia selalu bergantung kepada tongkat yang membantunya berjalan, orangtua dan sahabatnya, Mia yang sanggat protektif, dianggap selalu berisik karena menggunakan mesin tik Braille di sekolah, tidak punya banyak teman, hanya gelap yang bisa Danny lihat. Semua tidak mudah dijalani. Dia mempunyai mata biru yang indah namun tidak berfungsi, Danny membutuhkan warna dalam hidupnya, yang kemudian dibawakan oleh William.

Di sekolahnya yang dulu, William adalah murid yang pandai menciptakan segudang masalah, cara hidup yang Will pilih tidak banyak dimengerti orang lain, kemudian ayahnya mendapatkan promosi, dia harus pindah dan tinggal di Magnolia. Di sekolahnya yang barulah Will bertemu dengan Danny. Awalnya Will tidak tahu kalau Danny tidak dapat melihat, baru ketika uluran tangganya tidak disambut dia merasakan ada yang aneh. Sejak itu Will mulai tertarik, tertarik dengan cara Danny bertahan hidup, bertahan dari ejekan teman-temannya (John Schueller, Craig Martin, Leon Parker), cara Danny menyesuaikan dengan lingkungannya. Will ingin berteman dengan Danny, mengenalnya lebih jauh, walau harus rela menghadapi tempramental Mia, yang sangat protektif pada Danny, takut kalau Will hanya ingin mengerjai sahabatnya.
"Memangnya berteman itu butuh alasan?"
"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada. Haya gelap."
"Itulah yang aku lihat," gumam Danny. "Itu yang aku lihat pertama kali di pagi hari, yang aku lihat sepanjang siang hari, dan yang aku lihat sebelum tidur di malam hari. Seperti punya bekas luka permanen, kau tahu. Bedanya, kalau bekas luka sungguhan, aku mungkin bisa melupakannya sewaktu-waktu. Kalau bekas luka yang ini, tidak bisa dilupakan. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau semua yang aku lihat sepanjang waktu cuma kegelapan?
Sejak pertemuan pertama, Will selalu bersama dengan Danny dan Mia, bahkan berangkat dan pulang dari sekolah, membela dan memberi pelajaran ketiga orang yang suka menganggu Danny, dan yang paling penting Will mengetahui rahasia tentang Danny bahwa dia memiliki suara yang amat sangat indah. Namun tetap saja Danny iri dengan hidup Will yang bebas, berbeda dengan dirinya yang harus menghadapi kedua orangtua yang protektif. Kemudian Will pun punya ide, dia meminta Danny menyebutkan tiga keinginannya; ingin berlagak seperti orang biasa sehingga tidak ada yang menyadari kalau dia tidak dapat melihat, pergi ke klub malam, dan terakhir, dicium.

Apakah William berhasil mengabulkan ketiga keinginan Danny? Kenapa di saat Danny mulai yakin dan percaya diri akan dirinya sendiri William malah tidak pernah muncul lagi? Sejak William hadir, Danny merasa dirinya lebih hidup.

"Kau tahu," sambung Will, "bintang-bintang tidak hanya muncul saat malam. Sebenarnya mereka selalu ada di sana, di atas sana. Mereka cuma bisa dilihat saat malam karena di pagi dan siang hari ada terlalu banyak cahaya. Polusi cahaya itu menyebabkan mereka tidak terlihat."
"Jangan ragu untuk mencoba lagi. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah awal yang baik."
Saya akan menjabarkan alasan kenapa kalian harus membaca buku ini. (1) Walau debut, penulis mempunyai keahlian dalam hal mendiskripsikan kalimat, penuh detail dan kaya akan kosa kata baru, sehingga (2) saya sangat menikmati jalannya cerita, plotnya sangat rapi, bahasanya indah, twist sudah dimunculkan sejak awal namun penulis 'memeliharanya' dengan baik sampai akhir, membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Kemudian, kelebihan yang lain adalah (3) tema yang diambil untuk ukuran buku teenlit alias Young Adult sangat berani sekali yaitu tentang LGBT, bukannya membuat pembaca merasa jijik malah bisa membuat kita memahami perasaan para tokoh-tokohnya, perasaan yang tulus dan hubungan yang manis antara Will dan Danny, di mana menjadi kelebihan selanjutnya, (4) penulis sanggup menyentuh hati pembaca dengan karakter tokoh yang dia buat. Walau memiliki penderitaan masing-masing, Will dan Danny bukanlah orang yang lemah.

Will yang sangat bertolak belakang dengan Danny, Will yang sanggup memberikan warna dalam hidup Danny, dan sebaliknya, Danny mengenalkan Will kepada penderitaan lain, kepada kegelapan. Menyadarkan satu sama lain bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, namun kita bisa berdamai dengan ketidaksempurnaan tersebut. Mereka bagaikan dua kutup negatif, yang apabila digabungkan akan menjadi positif. (5) Setiap adegan sangat menyentuh dan memorable, bagian yang paling saya suka sekaligus yang sangat mengharukan adalah ketika kedua orangtua Danny mengetahui tentang perasaannya kepada William, siap-siap tissue.
"Danny sayang, aku tidak akan duduk di sini dan bersikap seolah-olah ini bukanlah apa-apa karena kenyataannya tidak begitu. Ini jelas-jelas sesuatu. Sesuatu yang besar. Tapi, aku senang kau mengatakannya kepada kami. Dan seberapa besar pun ayahmu mencintaimu, aku selalu meyanyangimu sepuluh kali lebih besar."
Danny terkekeh pelan.
"Apa maksudmu, Sayang?" protes Mr. Jameson sambil bercanda. "Akulah yang paling menyayangi Danny."
"Marcus, yang benar saja.." erang Mrs. Jameson tidak tahan. "Aku ini ibunya, yang mengandung dan melahirkannya. Sudah pasti rasa sayangku lebih besar."
Danny tidak sanggup menahan diri untuk tertawa lebar.
Selain permasalahan dalam keluarga Danny, (6) saya juga cukup menyukai hubungan William dengan ayahnya. Mr. Anderson berduka karena kematian ibu Will, sejak itu dia mencoba menjadi ayah yang sempurna sekaligus menjadi pengganti ibu, namun tidaklah mudah. Will menganggap ayahnya mulai melupakan dirinya, sibuk dengan urusannya sendiri namun Will tidak tahu beban berat yang ditanggung ayahnya, duka yang menghinggapi, dan Danny memahami perasaan Mr. Anderson, membuatnya lebih terbuka akan perasaannya dan menyemangati agar lebih berani menghadapi hari esok. Alasan terakhir buku ini wajib baca, (7) endingnya nendang banget. Sempurna banget, saya suka cara penyelesaian yang dipilih penulis, kalimat-kalimatnya benar-benar indah.

Sedikit kekurangan buku ini selain sedikit typo adalah saya tetap tidak suka dengan orang berwarna putih yang ada di cover, saya lebih suka kalau orangnya dihilangkan. Kata penulisnya dia menunjukkan Will, hanya saja saya merasa kehadiran orang tersebut malah membuat nggak mecing dengan cover yang seharusnya indah. Tapi bukan hal yang besar sih, toh isi di dalamnya yang penting, dan yang jelas saya akan menantikan karya D. Wijaya selanjutnya.

Buku ini sangat-sangat recommended bagi yang ingin mencari bacaan YA lain dari pada yang lain, sebuah teenlit berkualitas dari penulis dalam negeri, karya debutnya. Buku ini tidak hanya bercerita tentang cinta terlarang, namun juga tentang sebuah penerimaan. Mengajarkan kepada kita kalau kebahagiaan akan selalu muncul di belakang penderitaan, yang suatu saat akan menyalip, mengalahkannya.
"Kau tahu, manusia itu bisa diibaratkan sebuah pohon," gumam Will. Ia melirik dari sudut mata dan saat itu Danny telah berbalik -mereka sama-sama menghadap ke halaman. "Kita tumbuh tinggi, begitu juga dengan pohon. Kita membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, begitu juga pohon membutuhkan daun-daun untuk bertahan hidup."
Will melirik lagi. Ketika Danny tidak kunjung berkomentar, Will mendesah. "Perumpamaan yang payah, ya?"
"Tidak, bukan begitu," Danny buru-buru menggeleng. "Aku kira masih ada lanjutannya."
Will terkekeh pelan.
"Jadi, kalau yang kaukatakan itu benar, bahwa kita itu ibarat pohon dan orang lain adalah daunnya, kurasa aman bagiku untuk mengatakan bahwa kau itu adalah daun sweet gum di pohon kehidupanku?" tanya Danny.
"Kalau kau tidak keberatan," sahut Will. Ia melipat tangan di atas langkan batu, membungkuk, lalu menumpukan dagunya di sana. "Danny, kau tahu kenapa aku suka daun?"
Will menoleh. Danny mengedikkan bahu.
Will kembali memandang ke depan Avenue West Nomor 27, belasan daun sweet gum luruh ke halaman, dan Will mengawasi salah satunya. Kemudian dengan satu tarikan napas, ia menjawab, "Kurasa mereka gugur, seperti setiap detik dalam kehidupan kita, seperti kita semua pada akhirnya."
4.5 sayap untuk daun sweet gum.

10 komentar:

  1. Wiw. Temanya LGBT ya. :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hehehehe, mungkin bukan genre kesukaan Ila :D

      Hapus
  2. Hmmmm ^^
    pertama aku jarang suka buku YA kecuali yang fantasi, kedua aku malas baca buku-buku non terjemahan yang fokus membahas "romance" seringnya (menurutku si) eksekusinya sampah ^^V
    tapi sepertinya buku ini menarik ya? kalo ada yang pinjemin nanti kubaca ahhh ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku ini kayak buku YA terjemahan kok, setting dan para pemainya digambarkan orang Amerika, kalau nggak lihat penerbit dan nama penulis pasti nyangkanya buku YA terjemahan :)

      Hapus
  3. Aku kebetulan dapat buntelan buku ini dan begitu tahu ada LGBT langsung semangat baca nih XD >> aku memang suka tema yang begini sih

    BalasHapus
  4. Wah bukunya bagus sih, aku kira malah will itu cewek *eh ternyata.. Hmm kurang begitu suka sih LGBT. But well okelah quetes dibuku ini. kena banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, banyak kalimat yang quoteable, temanya emang agak 'rawan' sih, hehehehe

      Hapus
  5. Novel ini sempat jadi omongan karena kemiripan jalan ceritanya sama suatu film asing.
    Tapi disamping itu juga banyak yg muji cara penyampaian ceritanya, seperti diksi dan plot yang bagus.

    Benernya aku bukan penikmat bacaan LGBT, tapi selama eksekusinya bagus, enjoy-enjoy aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung aku belum pernah nonton filmnya dan penulisnya sendiri juga ngaku kalo beneran nggak tau kalo ada kesamaan cerita. Aku percaya sih, soalnya aku juga pernah ngalamin cerita yang aku buat sama persis dengan buatan orang lain, dan itu beneran nggak disengaja.

      Penulis punya ciri khas kok, walau baru baca satu buku dia, menyimak jawaban ketika aku interview kelihatan banget, yang jelas D punya modal yang bagus dalam hal bercerita :)

      Soal LGBT, aku nggak mendukung tapi menghormati pilihan mereka, itu kan hak hidup mereka dan bukan urusan kita untuk ikut campur. Dan setuju, kalau eksekusinya bagus dan enak dinikmati aku pun nggak menolak cerita bertema apa pun :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...