Sabtu, 13 Juni 2015

Bitter Winner by Mita Miranti | Book Review

Bitter Winner (Seven Deadly Sins #4)
Penulis: Mita Miranti
Editor: Prisca Primasari & Tesara Rafiantika
Desain cover: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-804-1
Cetakan pertama, Mei 2015
248 halaman
Buntelan dari @mitamiranti_
Di antara banyak harapan yang belum juga terjawab, kau salah satunya. 

Namun, aku akan setia menunggu tiada henti. 

Lagi pula, siapa yang bisa melarikan diri dari patah hati? 

Aku tidak akan pernah menyesal menjatuhkan hati kepadamu. 

Juga tak akan pernah takut untuk kehilanganmu. 

Cinta tak akan pernah tersesat dan akan menentukan sendiri ke mana muara yang ia tuju. 

Jika di ujung jalan bercabang ini aku tak menemukanmu, aku akan berbalik arah dan kembali mencarimu. 

Kembali menyusuri jalan setapak yang kutemui. 
Tak peduli berapa putaran telah aku lewati. 
Berapa lama lagi aku akan menunggu? 
Berapa banyak lagi luka yang akan kurasa? 
Karena cinta adalah candu, luka tak akan masuk hitunganku. 
Bukankah hanya cinta yang akan membuat hati utuh?
Kali pertama membaca seri seven deadly sins, sebuah kompetisi yang diadakan oleh GagasMedia di mana para penulis ditantang untuk menuliskan karakter utama yang tidak sempurna, memilih kekurangan dari tujuh dosa mematikan. Tujuh dosa yang kita kenal adalah wrath (amarah), lust (nafsu), gluttony (kerakusan), greed (keserakahan), sloth (kemalasan), envy (kecemburuan/iri hati), dan pride (kesombongan). Dalam Bitter Winner penulis memilih tema lust atau nafsu.

Audrina adalah anak yang pendiam dan penurut, di sekolah dia hampir tidak mempunyai teman kecuali Bastian, cowok yang dengan senang hati menemani hari-harinya. Audri tinggal bersama Papa dan Ibu tiri, yang biasa dia panggil Ibu. Tidak banyak kenangan yang diingat Audri akan Mama, ketika kedua orangtuanya berpisah Audri baru berumur lima tahun. Perceraian tersebut juga membuat Audri berpisah dengan adik satu-satunya, yang sekarang tidak tahu seperti apa. Hanya sebuah foto usang yang Audri miliki tentang mereka. Papa tidak pernah bercerita akan Mama dan keluarganya, selalu marah bila Audri menanyakan di mana Mama sekarang tinggal. Papa jarang ada di rumah sedangkan Ibu Audri adalah cerminan ibu tiri Cinderella, di mana tidak menyayangi Audri sedikit pun, malah pembantu di rumah lah satu-satunya orang yang perhatian pada Audri.

Hidup Audri penuh kesepian dan haus akan kasih sayang, beruntung Audri mempunyai keahlian dalam scrapbook, membuat Audri mempunyai kegiatan yang positif, penghilang jenuh dan kebosanan yang tiap kali dia rasakan baik di sekolah maupun di rumah. Awalnya ia hanya mengikuti kursus singkat, melihat potensi yang dimiliki Audri, sang pengajar sekaligus pemilik tempat tersebut, Tante Rosa menawari Audri untuk menjadi pengajar di Scrappy Corner. Audri seperti mempunyai keluarga baru karena Tante Rosa sangat baik dan sering mengajaknya menginap di rumah. Suatu waktu Tante Rosa mempunyai ide untuk mengadakan lomba scrapbook bagi pelajar berusia 15-18 tahun, bertujuan agar para remaja bisa produktif menyalurkan kreativitas untuk hal-hal yang bermanfaat.

Ternyata banyak yang antusias akan lomba tersebut, banyak peserta yang hasilnya mengagumkan, namun hanya satu yang menjadi minat Audri, sebuah scrapbook di mana terdapat foto yang sama persis dengan kepunyaan Audri, foto usang yang memuat dirinya ketika masih kecil bersama Mama dan adiknya yang masih bayi. Satu-satunya petunjuk Audri bisa menyingkap masa lalunya, satu-satunya cara agar ia bisa bertemu kembali dengan keluarganya, orang-orang yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus.
Kata-kata memang memiliki dua sisi. Kadang ia dibutuhkan untuk mengeluarkan isi hati, tapi terkadang justru menghancurkan perasaan.
"Terkadang, kita harus berani memutuskan sebelum kita tahu itu salah atau benar. Mama juga pernah melakukan kesalahan, tapi selalu ada jalan lain yang mungkin lebih tepat untuk Mama saat ini." 
Ini juga merupakan kali pertama saya membaca karya mbak Mita Miranti, kesan yang saya dapatkan adalah ceritanya kental sekali dengan tema keluarga dan cara menulisnya pelan tapi pasti, dalam artian pelan-pelan membangun cerita di awal, terjelaskan semuanya di akhir. Karena tidak ada tulisan dosa apa yang penulis ambil di buku, saya menebak-nebak. Ada beberapa pilihan antara envy, lust dan wrath, melihat sifat Audri, namun setelah kebelakang dan bermodal berselancar saya jadi tahu dosa apa yang dipilih.

Menurut saya tantangan terbesar dalam seven deadly sins ini terletak pada perkembangan karakternya, penulis harus bisa menggambarkan karakter sesuai dosa yang dia pilih. Dalam hal ini menurut saya penulis cukup sukses, kerasa sekali perkembangan karakter Audri, dari yang awalnya bermuka dua dan sering berbohong menjadi karakter yang lebih dewasa. Nafsu yang dimiliki Audri diperlihatkan ketika dia mengingingkan sesuatu, dia akan berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan apa yang ia inginkan, dapat melakukan hal yang buruk agar bisa mendapatkan perhatian dari orang lain. Tampak luar memang pemalu dan tak berdaya, namun ada sedikit sisi jahat yang ia miliki. Misalnya saja ketika Audri pergi ke pesta prom bersama Bastian, dia melihat Bastian sedang bersama gadis lain, kemudian dia berpura-pura diganggu teman Bastian dan meminta Bastian mengatarkannya pulang. Audri juga kadang berbohong kepada Tante Rosa untuk mendapatkan simpatinya.

Tentu saja karakternya bukan karakter yang biasa kita sukai, penulis membuat karakter yang tidak sempurna, namun dari ketidaksempurnaan tersebut karakternya belajar menjadi lebih baik lagi. Itu yang saya lihat dari sosok Audri. Sejak kecil dia hanya dibesarkan oleh seorang ayah, di mana tidak banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Ibu tiri yang tidak menganggapnya sebagai anak, hanya baik ketika Papa ada, sosok seorang ibu yang Audri idamkan tentu saja tidak dia dapatkan darinya. Sering berteman dengan kesendirian membuat Audri mendambakan kasih sayang, dia ingin seperti anak yang lain, mempunyai keluarga yang utuh. Maka dari itu dia sangat penasaran dengan masa lalunya, ingin menggali dan menemukan kembali kebahagiaan yang dulu pernah ia rasakan.

Karakter yang lain menurut saya juga cukup menarik, awalnya saya cukup menyukai karakter Bastian, namun ketika adegan di pesta prom night saya tahu dia bukan orang yang tepat untuk Audri. Saya menyukai karakter Papa, dengan pencarian yang Audri lakukan saya jadi bisa memahami amarah yang Papa rasakan, bahwa sebenarnya dia sangat menyayangi Audri hanya saja caranya menunjukkan tidak seperti orangtua kebanyakan. Gazali menjadikan cerita sedikit lebih ceria, dia juga berperan 'menyadarkan' Audri. Sedangkan karakter Mama adalah bentuk karakter tidak sempurna lainnya, bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan kemudian hari menyesalinya.

Buku ini lebih banyak kadar narasi daripada dialognya, dengan sudut pandang orang pertama, saya merasa sangat pas dengan pilihan penulis karena perkembangan karakter Audri menjadi lebih kerasa. Bagian favorit saya adalah ketika Audri berada di Makasar, selain mendapatkan banyak informasi akan daerah tersebut, di sanalah semua misteri terpecahkan, kilasan-kilasan masa lalu yang Audri ingat dengan lengkap dijelaskan. Saya juga suka cara penulis menyelesaikan konflik dan sangat puas dengan endingnya. Walau tema utamanya adalah tentang keluarga, penulis tidak melupakan kisah asmara khas remaja dan pilihan yang harus Audri tentukan untuk masa depannya. Ada juga informasi dan quote tentang scrapbook  yang tidak boleh dilewatkan.
"Scrapbooking isn't about scraps of paper and photos. Scrapbooking ia about scraps of life -yours and those special to you."
Dari segi cover sebenarnya tidak jelek, hanya saja menjadi berbeda dengan buku sebelumnya, menjadikan tidak seragam. Mungkin untuk menandakan kapan terbitnya kali ya, cover buku ini senada dengan Sweet Karma yang terbitnya juga tidak berselang lama dengan Bitter Winner. Overall saya sangat menikmati membaca buku ini. Banyak hal yang bisa kita ambil, selain mendapatkan cerita tentang proses pendewasaan dan pencarian jati diri, tema keluarga juga sangat kental, kasih sayang orangtua kepada anak, kasih sayang kepada saudara, serta proses memaafkan dan menerima.

Recommended bagi yang ingin membaca karakter utamanya tidak sempurna.

3.5 sayap untuk nafsu yang membara.

2 komentar:

  1. Weh, aku sama sekali ga kepikiran dosanya tuh Lust. Abis Lust kesannya kayak nafsu antara cewek dan cowok sih ya. Aku lebih mikir ke Wrath.
    Aku suka ceritanya, tapi mungkin karena udah bayangan "Seven Deadly Sins" itu udah lebih ke cerita dosa yang bener-bener fatal dan bahaya, jadi agak kaget juga kok ceritanya malah remaja banget. hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kira juga wrath tapi yeng bener lust kok, hehehe. Sama, tak kira karakter utamanya antagonis dan jahat banget, untung aja nggak, kalau iya pasti aku nggak suka XD

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...