Sabtu, 09 Mei 2015

The Giving Tree by Shel Silverstein | Book Review

The Giving Tree
Penulis: Shel Silverstein
Ebook, 30 halaman.
"Once there was a tree...and she loved a little boy."



So begins a story of unforgettable perception, beautifully written and illustrated by the gifted and versatile Shel Silverstein.


Every day the boy would come to the tree to eat her apples, swing from her branches, or slide down her trunk...and the tree was happy. But as the boy grew older he began to want more from the tree, and the tree gave and gave and gave.

This is a tender story, touched with sadness, aglow with consolation. Shel Silverstein has created a moving parable for readers of all ages that offers an affecting interpretation of the gift of giving and a serene acceptance of another's capacity to love in return.
Buku ini simple banget, penuh dengan ilustrasi dan bisa dibaca sekali duduk, bahkan tidak lebih dari sepuluh menit. Bercerita tentang sebatang pohon yang sangat menyayangi seorang anak lelaki, pohon tersebut selalu menantikan kehadirannya, untuk bermain bersama. Sang pohon memperbolehkan si anak lelaki tersebut memakan apel, memanjat, bermain ayunan, melakukan petak umpet, bahkan menjadi sandaran ketika anak lelaki kelelahan bermaian dan ketiduran. Sang pohon sangat bahagia bisa selalu bersama dengan anak lelaki tersebut.

Waktu berlalu, si anak lelaki menjadi orang dewasa, tidak ada waktu lagi bagi sang pohon, tidak ada waktu untuk bermain bersama lagi. Membuat sang pohon kesepian, sedih akan kesendiriannya. Lalu suatu hari anak lelaki yang kini dewasa ini mengunjungi sang pohon, sang pohon sangat gembira sekali dan mempersilahkan si lelaki untuk melakukan hal sama seperi dulu, bermain bersama. Namun, bukan itu yang diinginkan si lelaki, kini dia tidak bermain. Yang dibutuhkan si lelaki sekarang ini setelah dewasa adalah uang, rumah, keluarga, hal-hal duniawi lainnya. Bukan sesuatu yang menyenangkan dan tanpa beban pikiran.

Bisa dibilang buku ini cukup mengharukan, tentang besarnya sebuah nilai pengorbanan, tentang cinta yang terlalu berlebih, tentang arti memberi. Banyak yang berpendapat kalau si pohon adalah gambaran dari orangtua dan si lelaki adalah figur anak jaman sekarang. Saya cukup setuju, tapi tidak menutup kemungkinan si pohon bisa menjadi siapa saja, mungkin sahabat atau kekasih. Bisa juga tentang seorang anak yang setelah dewasa, dia akan melupakan hal-hal yang membuatnya bahagia di waktu kecil, seperti masa-masa bermain. Atau gambaran orangtua yang ketika anaknya sudah besar dan mempunyai kehidupan sendiri-sendiri dia ditinggalkan, merasa dilupakan.

Nilai sebuah kasih sayang itu memang tak terukur, tapi kalau kita tidak membuat batasan sendiri, kasih sayang bisa menjadi bentuk yang negatif. Contohnya adalah si lelaki dewasa selalu meminta tanpa memikirkan perasaan sang pohon, dia tahu kalau sang pohon akan menuruti apa yang dia minta, tidak ingin memahami apa yang tersisa dari sang pohon, membuat si anak manja, tidak mau berusaha sendiri, inginnya instan. Dan yang paling buruk adalah jangan sampai kita meninggalkan orangtua kita ketika mereka renta, jagalah dan temani, jangan sampai membuat mereka merasa kesepian dan tidak dibutuhkan lagi setelah kita mengambil semua yang dia miliki.

Jadi, pelajaran yang bisa diambil adalah kita boleh kok menyayangi seseorang, bahkan harus, tapi jangan sampai buta. Kalau orang yang kita sayangi berbuat salah, kita sadarkan, beritahu mana yang benar, jangan langsung menuruti semua permintaanya. Benar kalau sesuatu yang berlebih itu tidak baik, harus seimbang.

3 sayap untuk sang pohon yang baik hati.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...