Rabu, 06 Mei 2015

Remedy by Biondy Alfian | Book Review

Remedy (Young Adult Realistic Novel #3)
Penulis: Biondy Alfian
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Perancang sampul dan isi: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: Ice Cube
ISBN: 978-979-91-0818-0
Cetakan pertama, Februari 2015
209 halaman
Buntelan dari @biondyalfian
"Lo yang nemuin dompet gue, kan?" tanya Navin.



"Ya," jawabku.



"Berarti lo sudah lihat semua isinya?"


"Ya," jawabku lagi.

"Berarti lo sudah-"

"Melihat kedua KTP-mu?" tanyaku. "Sudah."

Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.

Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompetnya di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data-data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berumur 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis itu punya rahasia yang lebih besar darinya.
Tania tidak sengaja menemukan sebuah dompet di tangga sekolahnya, merasa pemiliknya adalah orang kaya dia pun mengambil dompet tersebut dan mengunakan uang di dalamnya. Beberapa hari kemudian dia mendengar seseorang kehilangan dompetnya, seorang anak baru di sekolahnya, tapi identitas di dalam dompet tersebut berbeda dengan dirinya, orang yang kehilangan tersebut bernama Navin Naftali sedangkan identitas di dompet bernama Budi Sanjaya. Awalnya Tania tidak begitu mempedulikan isi dompet kecuali uangnya, begitu mendengar percakapan tadi dia mulai menyelidiki. Ternyata benar, selain KTP beridentitaskan Budi Sanjaya ternyata ada satu KTP lagi atas nama Navin Naftali, dua nama berbeda tetapi satu orang, data-data kedua KTP sama persis. Selain nama, usianya pun mencurigakan. Mana ada anak SMA berusia 20 tahun?

Walau misteri nama dan usia Navin sangat membuat Tania penasaran, dia tetap ingin mengembalikan dompet tersebut, secara diam-diam. Nahasnya, ketika meletakkan dompet tersebut di laci meja Navin, dia kepergok. Tania langsung melarikan diri dan setelah kejadian tersebut dia berusaha menghindar dari pandangan Navin. Tentu saja Navin tidak membiarkan Tania lepas begitu saja, dia mencari dari kelas ke kelas siapa sebenarnya orang yang menemukan dompetnya dan meminta agar menyimpan rahasianya. Ketika Navin berhasil mengajak Tania berbicara dan meminta merahasiakan apa yang dia temukan, Tania langsung menyetujui, karena Tania juga memiliki rahasia yang tidak ingin dia bagi dengan siapa pun. Tania sadar kalau Navin mempunyai rahasia yang tidak mau dibagi dan dia sendiri bilang suatu saat akan menjelaskannya sehingga tidak terlalu menjadi masalah, dia akan menunggu. Namun Navin berpikir lain, dia tidak percaya Tania dengan mudahnya menyetujui begitu saja, pasti Tania punya tujuan lain.

Navin pun mencari cara mengawasi Tania supaya dia tidak membatalkan janjinya. Beruntung ketika Viki mengajaknya bergabung menjadi panitia Porseni, Navin ikut kalau teman sekelasnya, Tania, juga ikut bergabung. Dengan berbagai rayuan yang Viki gencarkan akhirnya Tania dengan terpaksa mengiyakan. Melalui event inilah kedekatan mereka terjalin, mereka sering bersama dan sampai akhirnya mengetahui rahasia masing-masing. Navin dengan dua identitasnya dan Tania dengan luka-luka di tubuh yang dia sembunyikan, rahasia yang lebih besar daripada Navin. Mereka berbagai rahasia, berbagi kesedihan.
"Menyelesaikan urusan masa lalu itu modal yang baik untuk maju ke depan."
Sejujurnya aku tidak percaya dengan cinta. Cinta membuat seseorang berusaha tampil lebih dari diri sesunguhnya. Semuanya demi menarik perhatian orang yang dia 'cintai'.
Setelah beberapa saat cinta itu akan habis. Bahkan sering kedua orang yang tadinya saling mencintai menjadi bosan satu sama lain.
Prolognya cukup membuat saya penasaran, dan penulis tidak sedikitpun ingin membocorkan rahasia kedua tokoh utamanya, hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi sampai tiba di bagian konflik, di mana hampir setegah halaman lebih baru muncul. Ada beberapa yang saya suka dari buku ini, pertama-tama adalah penulis cukup memperhatikan pengunaan gue-elo. Biasanya ini bisa menjadi bumerang bagi penulis. Penggunaan gue-elo hanya cocok digunakan kalau asal tokoh dan settingnya di Jakarta, karena dari sanalah bahasa gaul ini muncul. Buku ini bersetting di Surabaya, Navin adalah anak pindahan dari Jakarta jadi wajar kalau dia belum bisa melepas bahasa sehari-harinya. Kedua adalah penulis cukup detail menggambarkan baik karakter tokohnya, kejadian atau tempat. Ketiga adalah ide ceritanya, saya benar-benar tidak bisa menebak konflik buku ini.

Saya tidak akan membocorkan rahasia Navin, yang cukup mengejutkan dan masuk diakal. Tapi saya akan membahas sedikit masalah yang dialami Tania. Tidak bermaksud untuk spoiler, kalau saya tidak menceritakan ini maka kalian tidak akan tertarik untuk membacanya, toh Tania dari awal sudah menyebut dirinya sebagai pengiris :D. Penulis mengambil tema self-harm untuk dijadikan konflik. Self-harm sendiri adalah tindakan melukai diri sendiri, misalnya dengan menyudutkan rokok ke tubuh atau mengiris dirinya sendiri. Tindakan ini bertujuan untuk melepaskan perasaanya dalam bentuk fisik, mereka bisanya tidak ingin mati, hanya ingin melukai diri sendiri, mereka masih ingin tetap hidup hanya saja tindakan tersebut mereka lakukan untuk meredakan stress dan trauma yang dia alami. Nah, alasan kenapa Tania menjadi seorang pengiris tidak akan saya jelaskan, itu baru spoiler :D

Saya suka sekali dengan ide ceritanya, disajikan dengan cukup baik juga, hanya saja ada dua yang menjadi ganjalan saya akan buku ini. Pertama adalah sebutan Navin untuk Ratna, kadang dia memangil mbak, kadang menyebutnya tante. Saya paham sih, mungkin Navin memanggil tantenya dengan sebutan mbak karena dia masih muda, saya pun kadang juga seperti itu hanya saja tidak ada penjelasan, hanya bisa menebak tanpa tahu jawaban pasti, nganjal aja rasanya. Kemudian adalah penyelesaian konflik. Saya cukup puas hanya saja terasa terburu-buru, terlalu singkat. Di awal penulis sudah cukup baik membangun plot, coba kalau bagian akhir juga dibuat lebih panjang dan penuh detail lagi, pasti akan lebih berkesan.

Untuk karakternya sendiri penulis cukup sukses menciptakan Navin dan Tania yang misterius, kerasa juga perbedaan Tania sebagai narator lewat sudut pandang orang pertama dan Navin dari sudut pandang orang ketiga. Bagian yang saya suka adalah ketika Navin bercerita tentang rahasianya, meyakinkan Tania kalau dia nggak sendirian menghadapi masalahnya, akan ada orang yang akan menyokongnya dari belakang.
Navin melepaskan jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. "Lo lihat? Ini bekas dari waktu itu."
Tania menyentuh bekas luka di pergelangan tangan Navin. Luka yang dia torehkan dalam upaya menghabisi nyawanya sendiri. Tania menyentuh bekas luka itu. Ada tetes-tetes air mata yang berjatuhan di kulit Navin.
"Gue nggak tahu apa yang terjadi sama lo, tapi lo bisa percaya sama gue. Gue nggak akan bilang soal luka di lengan lo. Soalnya gue juga punya bekas luka yang nggak mau gue tunjukin ke orang lain," kata Navin.
Tetap saja karya terbaru Biondy yang diterbitkan secara major ini perlu diapresiasi, ide ceritanya segar dan nggak tertebak, cukup realistis dan nggak pasaran. Saya tahu Biondy adalah seorang pembaca yang aktif juga, bacaanya lintas genre dan lewat buku ini sepertinya saya tahu jenis tulisan apa yang dia suka, yaitu sedikit dark, hahaha, semoga saja tebakan saya benar, saya jadi penasaran siapa penulis favoritnya :D. Semoga saja ini menjadi awal yang baik untuk karya-karya selanjutnya. Oh ya, gara-gara buku ini juga saya jadi tertarik untuk membaca seri YARN (Young Adult Realistic Novel) yang lain dari penerbit Ice Cube, penasaran tema apa lagi yang akan disuguhkan oleh para penulis yang lolos seleksi dari lini tersebut.

Buku ini bercerita tentang sebuah rahasia yang bisa dibagi ke orang lain, dengan berbagi siapa tahu kesedihan dan penderitaan kita akan berkurang, beban yang berat akan lebih mudah dipikul bila dirasakan bersama-sama. Recommended bagi yang mencari cerita remaja yang berbobot :D

3.5 sayap untul self-harm.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...