Jumat, 31 Juli 2015

Paper Towns by John Green | Book Review

Paper Towns: Kota Kertas
Penulis: John Green
Alih bahasa: Angelic Zaizai
Desain sampul: Martin Dima
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0858-6
Cetakan pertama, 2014
360 halaman
Kado ultah BBI Joglosemar
Bisa dibeli di @bukupediacom
Saat Margo Roth Spiegelman mengajak Quentin Jacobsen pergi tengah malam––berpakaian seperti ninja dan punya daftar panjang rencana pembalasan––cowok itu mengikutinya. Margo memang suka menyusun rencana rumit, dan sampai sekarang selalu beraksi sendirian. Sedangkan Q, Q senang akhirnya bisa berdekatan dengan gadis yang selama ini hanya bisa dicintainya dari jauh tersebut. Hingga pagi datang dan Margo menghilang lagi.


Gadis yang sejak dulu merupakan teka-teki itu sekarang jadi misteri. Namun, ada beberapa petunjuk. Semuanya untuk Q. Dan cowok itu pun sadar bahwa semakin ia dekat dengan Margo, semakin ia tidak mengenal gadis tersebut.

Keajaiban yang didapat Quentin adalah dia tinggal bersebelahan dengan Margo Roth Spiegelman, gadis kecil yang rupawan. Waktu kecil mereka bersahabat, orangtua mereka juga dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama, bermain bersama, bersepeda menyusuri Jefferson Park, subdivisi tempat mereka tinggal. Margo suka sekali berpetualang, imajinya tinggi dan dia menyukai misteri. Namun beranjak dewasa hubungan mereka merenggang. Margo menjadi gadis populer di sekolah, sedangkan Q hanya pemuda biasa yang sering bergerombol dengan anak kuper, nerd, Ben dan Radar yang suka menghibur satu sama lain. Q masih mengagumi dan menyukai Margo, sayangnya gadis tersebut sudah sibuk dengan dunianya sendiri, dan Q hanya bisa memandang dari jauh.
Margo menyukai misteri sejak dulu. Dan dalam semua hal yang terjadi setelahnya, aku tidak pernah bisa berhenti berpikir bahwa jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri.
"Menurutku konyol orang hanya mau berada di dekat seseorang karena mereka cantik. Mirip dengan memilih sereal sarapan berdasarkan warna bukan rasanya." 
Lalu suatu malam Margo tiba-tiba saja menerobos kamar Q lewat jendela, setelah sekian lama mereka tidak berbicara, dengan gampangnya Margo ingin meminjam mobil Q, dia ingin membereskan beberapa masalah yang menimpa hidupnya, sebelas masalah. Mau tidak mau Margo menyeret Q untuk memperbaiki banyak hal yang keliru. Langkah pertama adalah berbelanja, daftarnya antara lain; 3 lele utuh, Veet yang berguna untuk mencukur bulu kaki, Vaseline, satu kaleng cat semprot biru, dan beberapa barang aneh lainnya. Semua bahan belanjaan tersebut akan digunakan dalam misi balas dendam kepada orang-orang yang selama ini hanya baik di depan Margo namun berbuat jahat di belakangnya, sahabat-sahabat dan pacarnya sendiri. 

Yang menjadi sasaran pertama adalah Becca, sahabat Margo, yang selama berminggu-minggu ini menjadi selingkuhan Jason Worthington, pacar Margo, yang menjadi sasaran juga. Babak demi babak alias kejahilan dilakukan oleh Margo, hal tersebut cukup menggelikan bagi Q yang awalnya tidak ingin terjun ke dalam tindak kejahatan, namun dia cukup puas terlebih dia berhasil balas dendam kepada Chuck Parson, orang yang sering mengolok-olok dirinya dan teman-temannya.
"Kuberi tips ya: kau imut kalau sedang percaya diri. Dan  tidak terlalu imut ketika sebaliknya."
"Yang indah dari semua ini adalah: dari sini kau tidak bisa melihat karat atau cat yang retak-retak atau apalah, tapi kau tahu tempat apa itu sebenarnya. Kau mengetahui betapa palsunya semua itu. Tempat itu bahkan tak cukup keras untuk tampak terbuat dari plastik. Itu kota kertas."
Aku selalu beranggapan bahwa seseorang itu pasti penting bila sampai mempunyai musuh. 
Reuni dua sahabat kecil menciptakan masalah hanya dalam waktu semalam tersebut membuka harapan bagi Q akan hubungannya dengan Margo, selain itu dia juga lebih memahami Margo, apa yang selama ini terjadi dengan dirinya tidak sesempurna kelihatannya. Dan yang lebih penting lagi, kejahatan mereka berdua malah membuat Q lebih berani dan terbuka, tidak ragu untuk mencoba sesuatu yang baru, Margo membebaskan Q dari penjara ketakutan-ketakutan, membuat Q mengalami petualangan terseru dalam hidupnya yang tidak mungkin dia lakukan tanpa Margo, sebuah malam yang luar biasa, mengguncang dunia.

Q menawarkan pertemanan baru dengan Margo, mengajaknya bergabung dengan teman-temannya karena apa yang mereka lakukan sudah jelas mendatangkan musuh baru, terlebih untuk Margo karena dia tidak akan berhubungan lagi dengan teman lamanya. Namun, setelah malam kejahatan mereka lakukan tidak ada kabar tentang Margo, dia menghilang, kata ayahnya sudah empat kali ini Margo pergi dari rumah tanpa kabar, meninggalkan petunjuk di mana-mana untuk ditemukan dan orangtua Margo sudah capek mengurusi keisengan anaknya tersebut. Mereka berharap Margo tidak pulang sekalian.

Q tidak bisa membiarkan Margo pergi begitu saja, dia yakin setelah menemukan petunjuk-petunjuk dari Margo, dia ingin ditemukan, kali ini bukan oleh orangtuanya tetapi Q sendiri. Margo memberikan petualangan baru lagi kepada Q, dia ingin membalas perbuatan Margo. Kali ini bukan bersama dirinya tetapi bersama Ben, Radar dan Lacey. Q ternyata tidak mengenal Margo seperti yang dia kira, namun dia harus menemukan Margo dan membawanya pulang. Misi kali ini adalah menemukan tempat persembunyian Margo, tempat Margo menunggu dirinya.
Dan aku kepingin mengatakan kepadanya bahwa bagiku kesenangannya bukan karena merencanakan atau melakukan atau pergi; kesenangan itu terletak pada saat melihat senar kami saling bersilang dan berpisah lalu beradu lagi.
Anak-anak ini, mereka mirip balon helium yang diikat. Mereka berjuang melawan ikatan itu terus menerus, dan kemudian sesuatu terjadi, dan talinya putus, mereka pun melayang menjauh begitu saja. dan barangkali kau takkan pernah melihatnya lagi.
Aku mengetahui bahwa rasa takut bukanlah khayalan semu dari seseorang yang mungkin menginginkan sesuatu yang penting terjadi pada dirinya, walaupun sesuatu yang penting itu mengerikan. Rasa takut bukanlah rasa jijik karena melihat mayat orang asing, dan bukan pula sesak napas lantaran mendengar senjata api dikokang di luar rumah Becca Arrington. Rasa takut ini tidak bisa diredakan dengan latihan pernapasan. Rasa takut ini tidak memiliki persamaan dengan rasa takut yang pernah kukenal. Inilah dasar dari seluruh emosi yang ada, perasaan yang sudah bersama kita sebelum kita ada, sebelum bangunan ini berdiri, sebelum dunia ini tercipta.
Butuh waktu yang lama bagi saya menulis resensi Paper Towns ini, salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini. Bukan John Green namanya kalau tidak bisa menyuguhkan cerita biasa menjadi luar biasa. Tema buku ini seperti kebayakan buku remaja lainnya, tentang pencarian jati diri, tentang penerimaan, tentang persahabatan, tentang pengaruh orangtua terhadap masa remaja kita. Sudah banyak cerita seorang remaja menyukai tetangganya yang sempurna, orang biasa-biasa saja tenyata diam-diam menyukai orang terpopuler di sekolah. Dengan menambahkan bumbu petualangan, road trip dan berbagai misteri, John Green membuat semua cerita biasa tersebut menjadi tak terduga, dan ketika sampai halaman akhir kita akan dibuat ternganga, bikin kembang kempis, terkagum-kagum dengan jalan pikiran Jogn Green, itulah yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, bagian pertama petualangan Quentin dengan Margo, bagian kedua petualangan Quentin beserta gerombolannya dan terakhir jawaban dari semua misteri yang ada. Sudut pandang dari orang pertama, pelakunya Quentin. Dari sudut pandang Quentin kita akan melihat perubahan yang terjadi pada dirinya, yang awalnya hanya pemuda biasa tidak ingin mengambil risiko dalam hidup menjadi pemuda yang berani, melihat persahabatannya dengan kedua orang yang sangat menyenangkan, Ben dan Radar, kehadiran mereka menambah keasikan buku ini. Kita bisa melihat juga bahwa seorang anak kadang mencari perhatian orangtua dengan melakukan perbuatan yang di luar nalar, dalam kasus ini Q melihat Margo seperti itu, menjadi orang yang sulit dipahami bahkan orangtuanya sendiri. Selain itu, dari sudut pandang Q juga kita akan tahu siapa orang-orang yang benar-benar peduli kepada Margo, sahabat yang dianggap Margo penghianat sebenarnya sangat memahami dan menyayangi dirinya, tidak semua orang yang dekat dengan Margo hanya berpura-pura, hanya saja Margo terlalu cepat mengambil kesimpulan sehingga merasa tidak ada orang yang peduli pada dirinya.

Margo memang seorang gadis yang mengagumkan, saya sendiri takjub dengan pemikiranya, tentang pendapatnya akan pemakaian huruf kapital yang acak, yang tidak setuju kalau huruf kapital hanya digunakan di awal kata depan saja, tidak adil bagi kata-kata yang terletak di tengah kalimat. Margo adalah cerminan gadis bebas, bebas melakukan apa yang dia suka, yang menjadikan dia sangat egois, tidak memikirkan perasaan orang lain. Tokoh favorit saya di buku ini tentu saja Quentin, Ben dan Radar, mereka sangat kocak dan memiliki humor tersendiri, humor cerdas ala John Green. Bagian paling favorit selain mereka menemukan jejak-jejak Margo, road trip, halaman 347, adalah bagian di bawah ini:
"Kalau begitu bisa kita telepon Ben?"
"Tidak. Ben itu bajingan."
Radar melirikku. "Tentu saja dia begitu. Kau tahu apa masalahmu, Quentin? Kau selalu mengharapkan orang lain tidak menjadi diri mereka sendiri. Maksudku, aku bisa saja membencimu karena sangat jam karet dan tidak pernah tertarik pada apa pun selain Margo Roth Spiegelman, dan karena, misalnya, tidak pernah menanyaiku tentang pacarku-tapi aku tak peduli, man, soalnya kau adalah kau. Orangtuaku punya seton sampah Santa hitam, tapi itu bukan masalah. Mereka adalah mereka. Aku kadang-kadang terlalu terobsesi pada situs referensi internet untuk mengangkat telepon ketika temanku, atau pacarku menelepon. Itu juga bukan masalah. Itulah aku. Kau tetap saja menyukaiku. Dan aku menyukaimu. Kau lucu, dan kau pintar, dan kau mungkin datang terlambat, tapi pada akhirnya kau selalu datang."
"Trims."
"Yeah, aku bukan memujimu. Hanya berkata: hentikan berpikir Ben harus menjadi kau, dan dia harus berhenti berpikir kau harus menjadi dia, dan kalian akan baik-baik saja."
Sebuah persahabatn yang benar-benar tulus dan apa adanya. Buku ini dijamin tidak akan membuat kalian bosan, setiap bab memiliki keseruan yang berbeda, banyak kalimat yang menohok dan bisa menjadikan pelajaran berharga, membuat kita lebih dewasa, seperti Quentin. Hidup kita bisa seperti senar yang putus atau wadah yang retak, meninggalkan kita sendirian. Tapi, suatu saat akan ada yang membenarkan senar yang putus tadi, menggantinya yang baru, memperbaikinya. Dan wadah yang retak juga masih bisa diperbaiki, ditembel, dilem, walau nantinya menjadi tidak sempurna lagi. Tapi, bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini?
Margo bukan keajaiban. Dia bukan petualangan. Dia bukan sosok yang luar biasa dan berharga. Dia hanya seorang gadis.
"Sepayah apa pun hidup, selalu ada alternatif lain."
"Pasti menyenangkan bila bisa berkata kepadanya bahwa, apa pun itu, itu tidak perlu menjadi akhir dunia."
Recommended bagi siapa saja, khususnya bagi Nerdfighters :D
Tapi kau harus berhati-hati memilih metafora, karena itu penting. Kalau kau memilih senar, artinya kau menbayangkan dunia di mana kau bisa pecah tanpa dapat diperbaiki lagi. Kalau kau memilih rerumputan, kau mengatakan kita semua terhubung, bahwa kita bisa memanfaatkan sistem akar itu bukan hanya untuk memahami satu sama lain tapi juga menjadi satu sama lain. Metafora itu memiliki implikasi.
4.5 sayap untuk Omnictionary.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...