Jumat, 15 Mei 2015

Empat Puluh Kaidah Cinta by Elif Shafak | Book Review

Forty Rules of Love - Empat Puluh Kaidah Cinta
Penulis: Elif Shafak
Penerjemah: Indah Lestari
Penyunting; Maria Hartiningsih
Perancang sampul: Aldy Akbar
Penerbit: KPG
ISBN: 978-979-91-0687-2
Cetakan pertama, Mei 2014
492 halaman
Buntelan dari @IceCube_Publish
Dalam novel ini, Elif Shafak, novelis terkemuka Turki, merangkai dua jalinan cerita dengan latar berbeda: kehidupan Ella Rubinstein, seorang ibu tiga anak yang tak bahagia dengan pernikahannya, serta kisah perjumpaan dua tokoh dari abad ke-13, Jalaluddin Rumi dan Syams dari Tabriz, seorang darwis pengembara yang eksentrik. Berdua, mereka menjelmakan puisi-puisi cinta yang tak lekang oleh waktu.

Ella berusia empat puluh tahun ketika menerima tawaran sebagai pembaca naskah dari suatu agen di Boston. Naskah yang menjadi tugas pertamanya, Sweet Blasphemy, novel karya Aziz Zahara, membuat Ella hanyut dalam kisah perjumpaan Syams dan Rumi; suatu perjumpaan yang mengubah Rumi dari seorang ulama konvensional menjadi penyair mistik penuh semangat, penganjur cinta, dan perintis tarian ekstatis darwis yang berpusar-pusar. Empat puluh kaidah cinta yang dituturkan Syams menyadarkan Ella bahwa kisah Rumi tak lain merupakan cerminan dirinya, dan Aziz yang mirip Syams itu, memang datang untuk dia, untuk membebaskan Ella.
Kali pertama membaca sastra Turki, sama seperti membaca buku historical fiction sebelumnya, saya membutuhkan waktu yang lama untuk meyelesaikannya XD. Entahlah, mungkin isinya yang terlalu berat sehingga perlu waktu yang lama untuk memahami ceritanya, tetapi biasanya lama kelamaan saya akan menikmati dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Seperti Empat Puluh Kaidah Cinta ini, saya menebak sastra Turki isinya tidak akan jauh tentang perihal agama, dan benar, hanya saja ceritaya dikemas secara menarik, mengambil konsep buku di dalam buku dan memiliki pesan moral melimpah.

Ada dua cerita utama di buku ini, pertama kisah tentang Ella, seorang ibu rumah tangga yang merasa hidupnya hampa dan tidak bahagia. Disibukkan dengan berbagai masalah rumah tangga, anak pertamanya yang ingin menikah muda, kedua anak kembarnya yang susah diatur dan terburuk, suaminya yang selingkuh. Tidak ada cinta yang Ella rasakan lagi. Beruntung dia mendapatkan pekerjaan di sebuah penerbit yang cukup besar, dia ditugasi menjadi pembaca paruh waktu di satu agen naskah, menentukan apakah naskah yang dia baca layak terbit atau tidak. Naskah tersebut berjudul Sweet Blasphemy, ditulis oleh A.Z. Zahara yang tinggal di Belanda.

Kemudian bergulirlah cerita utama yang kedua, ketika Ella membaca naskah Sweet Blasphemy, penulis mengajak pembaca turut serta mejadi Ella, mengarungi cerita yang berlatar di Konya, sebuah tempat di Asia pada abad ketiga belas. Novel bersejarah yang mengisahkan persahabatan Rumi, seorang sufi, penyair terhebat dan pemuka agama yang paling dihormati dalam sejarah Islam dengan Syams Tabriz, seorang darwis tak ternama namun eksentrik yang penuh dengan skandal dan kejutan, yang berjasa mengangkat Rumi menjadi terkenal sampai sekarang.
Selagi aku mengalami hal-hal tersebut, aku mulai menyusun daftar yang tidak tercatat di buku mana pun, hanya tertera di jiwaku. Aku menyebut daftar pribadi ini Prinsip-prinsip Dasar Mistikus Musafir Islam. Bagiku prinsip-prinsip ini sama universal, terpercaya, dan tak berubah layaknya hukum alam. Jika digabung, keduanya membentuk Empat Puluh Kaidah Agama Cinta, yang dapat diraih lewat cinta dan hanya cinta.
Dikisahkan Syams Tabriz adalah seorang darwis pengembara, tidak pernah tingal menetap di satu tempat, hidupnya dihabiskan untuk mencari Tuhan, menafsirkan mimpi orang lain, mengumpulkan bermacam-macam kaidah atau pandangan hidup sesuai dengan pengalaman yang pernah dia alami, berpegang teguh pada Al-Quran, menebar kebaikan. Suatu ketika dia mendapat penglihatan akan masa depannya yang membuat Syams harus mencari seseorang sebagai pendamping, cerminan dirinya, untuk mewarisi kaidah yang selama ini dia kumpulkan, untuk diceritakan ke banyak orang.
"Setiap pembaca memahami Al-Qur'an pada tingkat berbeda sesuai kedalaman pemahamannya. Ada empat tingkat wawasan. Tingkat pertama adalah makna luar dan kebanyakan orang puas dengan makna itu. Berikutnya adalah tingkat batin atau makna dalam. Ketiga, dalamnya dalam. Dan tingkat keempat begitu mendalam sehingga tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata dan karena itu memang seharusnya tetap tak terlukiskan."
"Jadi Anda mengerti, jangan menilai cara orang lain berhubungan dengan Tuhan," Syams menyimpulkan. "Masing-masing dari kita punya cara dan doa kita sendiri. Tuhan tidak hanya menilai kata-kata kita. Dia melihat jauh ke dalam hati kita. Bukan upacara atau ritual yang membuat perbedaan, tapi apakah hati kita cukup tulus atau tidak."
Dimulailah pencarian Syams akan pendampingnya. Penglihatan yang dimiliki Syams mengatakan dia harus ke Baghdad, menetap di sana selama beberapa musim, menjadi bagian dari sebuah pondok darwis yang diasuh oleh Baba Zaman, menunggu dengan sabar. Lalu tibalah sebuah surat dari sahabat Baba yang mengubah semuanya, Guru Seyyid Burhaneddin. Dalam surat tersebut sang sahabat bercerita kalau dia mempunyai seorang murid yang sekarang berbalik menjadi gurunya, bernama Maulana Jalaluddin atau sering dipangggil dengan nama Rumi. Dia adalah seorang ulama besar, cendekiawan, punya pengikut yang amat banyak. Walau hidupnya sukses ada yang masih menjadi ganjalan, dia tidak merasa puas dengan hidupnya, ada sesuatu yang hilang, kekosongan yang tidak dapat diisi baik oleh keluarganya ataupun murid-muridnya. Rumi juga pernah bermimpi dia sedang mencari seseorang, dan Seyyid menyarankan agar Rumi mencari seorang pendamping. Dari mimpi yang Rumi ceritakan, Seyyid menduga pendamping tersebut berasal dari pondok darwis Baba Zaman dan berpesan perjalanan nanti tidaklah mudah, penuh bahaya. Kesukaan Rumi akan pendampingnya kemungkinan akan membuat keluarga dan orang-orang terdekatnya menjadi iri dan cemburu.

Tapi Syams tidaklah gentar, dengan teguh dia ingin mencari dan ditempuhlah perjalanan spiritual penuh bahaya tersebut, Syams sudah siap dengan rintangan yang akan menghadang, dia seperti mempunyai misi khusus terhadap dunia, ingin mencerahkan orang yang tercerahkan, memandu orang lain menuju Kebenaran dengan kaidah-kaidah yang selama ini dia kumpulkan, yang tidak lepas dari Al-Qur'an. Lalu bagaimana dengan cerita Ella sendiri? Saking kagumnya akan naskah Sweet Blasphemy, dia menyurati sang penulis. Lama-kelamaan hubungan mereka menjadi lebih dalam. Ella merasa Aziz mengubah hidupnya yang datar dan tenang menjadi lebih berwarna, merasakan bahwa hidupnya tidaklah jauh berbeda dengan cerita Syams dan Rumi. Bagaimana dengan akhir Sweet Blasphemy? Lalu apa saja empat puluh kaidah cinta yang Syams kumpulkan? Dengan mengikuti perjalanan Syams bertemu dengan Rumi, kalian akan mengetahuinya :D.
"Setiap orang adalah sebuah buku yang terbuka, masing-masing dari kita adalah Qur'an berjalan. Pencarian akan Tuhan tertanam dalam hati kita semua, baik pelacur atau orang suci. Cinta ada di dalam masing-masing dari kita sejak lahir dan menunggu untuk ditemukan sejak saat itu. Itulah inti dari salah satu dari empat puluh kaidah itu: Seluruh alam semesta terkandung dalam seorang manusia tunggal -yaitu Anda. Segala sesuatu yang Anda lihat di sekitar, termasuk hal-hal yang mungkin tidak Anda sukai dan bahkan orang-orang yang Anda benci atau menjijikan, hadir dalam diri Anda dalam beberapa tingkat. Oleh karena itu, jangan pula mencari syaitan di luar diri Anda. Iblis bukanlah sebuah kekuatan luar biasa yang menyerang dari luar. Iblis adalah suara biasa yang ada di dalam. Jika Anda mengenal diri Anda sepenuhnya, dan menghadapinya dengan kejujuran dan kegigihan baik sisi gelap dan sisi terang Anda, Anda akan mencapai bentuk kesadaran tertinggi. Ketika seseorang mengetahui dirinya sendiri, dia mengenal Tuhan."
Tidak banyak komentar saya akan buku ini, bisa dibilang buku ini penuh dengan filosofi, nilai-nilai kebaikan, dijamin bakalan menghabiskan stok post-it kalian karena banyak sekali kalimat yang quoteable. Selain itu saya cukup menyukai pandangan hidup Syams, pikirannya sangat terbuka luas, sama sekali jauh dari kata fanatik dan tidak membeda-bedakan orang lain sesuai dengan agama dan kedudukan orang tersebut. Berprinsip bahwa kebaikan tercipta untuk siapa saja, orang yang kotor dan penuh dosa tetap bisa bertobat dan memulai semua dari awal. Bagian yang paling saya suka tentu saja ketika Syams bertemu dengan si pengemis dan si pelacur, rasanya seperti membaca kisah nabi jaman dulu yang menyadarkan orang tersesat. Bukannya menyamakan tetapi tujuan ceritanya sama, sama-sama membawa orang yang melenceng ke jalan yang benar, sebuah kisah teladan. Kemudian ketika menemukan kaidah-kaidah dari Syams, rasanya pengin menyalin semuanya.

Sebelumnya saya tidak tahu tentang Rumi, sejarahnya, sehingga tidak bisa memastikan apakah buku ini hanya cerita yang terinspirasi dari hidup Rumi atau memang berdasarkan kisah nyata, tidak ada penjelasan dari penulis, tebakan saya adalah yang pertama. Namun demikian, yang jelas buku ini secara singkat menyuguhkan kisah perjalanan Rumi yang awalnya hanya seorang ulama menjadi peyair yang terkenal.

Cerita bagian Ella tidak sulit untuk dimengerti, sebaliknya, awal membaca Sweet Blasphemy, saya kebingungan dengan banyaknya narator yang berbicara dan setting waktu, walau di tiap bab ada nama sang narator tetap saja harus jeli, buku ini memang harus dinikmati secara pelan-pelan. Secara umum gaya bahasanya enak kok, terjemahannya juga tidak ada masalah, hanya perlu menyesuaikan dengan banyaknya tokoh saja. Saya suka sekali dengan cara penulis bercerita, buku di dalam buku. Jadi ketika Ella membacakan Sweet Blasphemy, kita menjadi Ella, dan sesekali Ella akan berhenti membaca, kita akan mendapatkan kisah hidup Ella sendiri. Saya lebih suka kisah Syams daripada Ella, bisa dibilang Ella hanya cerita kedua, cerita utamanya adalah tentang Syams dan Rumi.

Buku ini recommended bagi siapa saja, entah kamu beraga Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha atau Ateis.
"Kita tidak emnjadi orang beriman dalam semalam. Orang berpikir dia adalah seorang yang beriman, kemudian sesuatu terjadi dalam hidupnya dan dia menjadi orang yang tak beriman, setelah itu, dia menjadi beriman lagi, dan kemudian tidak, dan seterusya. Sampai kita mencapai tahap tertentu, kita terus goyah. Ini adalah satu-satunya cara untuk maju. Di setiap langkah baru, kita mendekati kebenaran."
3.5 sayap untuk kaidah-kaidah yang mencerahkan.


4 komentar:

  1. wah keren ya ini nduk. sepanjang aku baca sastra Turki (yah, cuma Pamuk sama Livaneli sih) seringnya ngomongin politik, sejarah, sama masalah sosial. belum pernah aku baca yg filosofis macam begini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jadi penasaran sama Pamuk, mbak, penulis favoritmu, kapan-kapan pinjam bukunya ya :p

      Hapus
  2. ini genre nya melodrama bukan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih ke hisfic kalau menurutku :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...