Sabtu, 09 Mei 2015

Anne of Green Gables by Lucy M. Montgomery | Book Review

Anne of Green Gables
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Ilustrasi isi: Sweeta Kartika
Desain sampul: A.M. Wantoro
Penerbit: Qanita
Edisi kedua: Cetakan pertama, Januari 2015
ISBN: 978-602-1637-51-7
512 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan
Anne, gadis yatim piatu berusia 11 tahun, datang ke Desa Avonlea karena kekeliruan. Marilla dan Matthew Cuthbert ingin mengadopsi anak untuk membantu mengurus Green Gables. Tapi bukannya anak lelaki, panti asuhan malah mengirim gadis kecil berambut merah, Anne. Awalnya, Marilla dan Matthew ingin mengembalikan Anne. Namun, sikap gadis itu yang ceria, blak-blakan, dan kepolosannya yang kadang konyol, meluluhkan hati Marilla dan Matthew.



Anne, gadis penuh imajinasi, setiap hari dia lewati penuh pengalaman seru. Menjelajahi Kanopi Kekasih, Danau Air Riak Berkilau, Permadani Violet, Hutan Berhantu, dan Ratu Salju. Berpetualang dengan sahabat-sahabatnya, Diana, Jane, dan Ruby. Berseteru dengan Pye bersaudara dan Gilbert, musuh bebuyutannya. Gilbert yang memanggilnya dengan sebutan Wortel!


Anne, kisah menyentuh gadis berambut merah, karya legendaris Lucy Maud Montgomery yang dicintai para gadis di seluruh dunia hingga kini.
Sebuah kekeliruan menghantarkan Anne Shirley bertemu dengan keluarga Cuthbert. Marilla dan Matthew Cuthbert, dua bersaudara yang masih lajang di usia yang tidak muda ini rencana awal ingin mengadopsi seorang anak lelaki berusia sepuluh atau sebelas tahun dari panti asuhan di Nova Scotia, si anak lelaki ini nantinya diharapkan bisa membantu mengurus pertanian di Green Gables. Tapi, sewaktu Matthew pergi ke Bright River untuk menjemput, bukannya anak lelaki yang menunggu tetapi seorang gadis kecil berambut merah dan bermuka bintik-bintik. Matthew yang pendiam tidak tahu harus berbuat apa, karena kasihan dan melihat sang gadis sangat ceria, Matthew pun membawanya dan menyerahkan kepada Marilla, apakah menerima kesalahan yang terjadi atau mengembalikan ke panti asuhan.

Anne sangat ceria, tidak bisa diam dan sangat imajinatif, apa saja bisa menjadi sebuah cerita, Matthew mendengarkan ocehan Anne yang tanpa titik koma tersebut tanpa menyela, dia cukup menikmati dengan diam dan langsung menyukai gadis tersebut, berharap Marilla juga mempertahankannya. Sewaktu sampai di Green Gales, Marilla tidak setuju dengan pendapat Matthew dan esok hari dia akan mengurus kesalahan ini kepada Mrs. Spencer. Marilla sama sekali tidak berharap dan berpikiran akan mengadopsi anak perempuan, mereka susah diatur, dan bisa membuat kewalahan. Mengetahui kalau sebenarnya Anne tidak diharapkan dia sangat sedih sekali dan memohon untuk tidak dikembalikan ke panti asuhan, dia ingin sekali bebas, ingin benar-benar mempunyai rumah dan keluarga. Namun, Marilla yang keras kepala tetap pada pendiriannya.
Rasa iba terhadap gadis kecil ini tiba-tiba memenuhi hatinya. Sungguh seorang anak yang memiliki kehidupan hampa dan tak pernah dicintai -sebuah kehidupan penuh dengan kebosanan, kemiskinan, dan pengabaian; Marilla sekarang cukup bisa mengerti sejarah Anne yang belum terungkap semua dan menemukan kebenaran. Tidak heran anak ini begitu bahagia karena suatu harapan untuk bisa memiliki sebuah rumah yang sebenarnya. Sungguh menyedihkan jika dia harus kembali ke panti asuhan.
Ketika menemui Mrs. Spencer barulah Marilla tahu kalau Anne sangat ketakutan dan berharap dia tetap tinggal di Green Gables karena kalau Anne tidak diadopsi olehnya dia akan dilimpahkan ke perempuan jahat dan bengis, melihat itu Marilla kasihan dan tidak tega. Jadilah Anne menjadi keluarga baru, Matthew sangat senang dan dia percaya Marilla pelan-pelan juga akan mencintai gadis yang penuh khayal tersebut. Rumah mereka tidak akan pernah sepi lagi, banyak warna yang akan mengisi hari-hari mereka, banyak tawa dan kekacauan yang akan disebabkan pendatang baru di rumah mereka dan dunia baru menyambut Anne. Orang-orang baru, tempat-tempat baru, sahabat, lawan, dan tentu saja keluarga baru yang selama ini diimpikan Anne.
"Gadis kecil-Anne itu berkembang setiap saat," dia berkata. "Aku bosan dengan gadis-gadis lain -begitu banyak kesamaan yang selalu terjadi dan tingkah provokatif pada diri mereka. Anne memiliki nuansa warna sebanyak nuansa pelangi, dan setiap lapisan lebih indah daripada lapisan yang memudar sebelumnya. Aku tak tahu apakah dia sama lucunya dengan ketika dia masih kecil, tapi dia membuatku mencintainya, dan aku menyukai orang-orang yang bisa membuatku mencintai mereka. Sama sekali tak ada kesulitan untuk membuat diriku mencintai mereka."
Anne ini menginggatkan masa kecil saya, karena saya pun atau mungkin banyak gadis kecil di luar sana juga suka berkhayal, berimajinasi liar tentang segala sesuatu di sekitar kita, memberi nama unik akan tempat yang pernah dikunjungi, nama impian untuk diri sendiri, memberikan nama untuk barang kesayangan dan sebagainya, anak kecil memiliki imajinasi yang tak terbatas :D.

Ada tawa dan mengharukan pada cerita Anne, kita akan tersenyum melihat tingkah polah Anne, bagaimana dengan mudahnya dia menarik perhatian orang lain, yang awalnya membenci berbalik menyukai dirinya. Kepolosan, keceriaan, kecerewetan dan imajinasinya yang tak terbendung menjadikan dia pribadi yang menyenangkan. Dia juga sangat mengerti Matthew yang jarang bicara, tahu apa yang diinginkan lelaki tua tersebut walau tanpa mengucapkannya, Anne menganggap Matthew adalah belahan jiwanya. Berbeda dengan Marilla yang cukup keras dengannya, tapi tentu saja lama kelamaan dia luluh dengan pesona Anne. Bisa dipahami kalau Marilla gampang marah melihat Anne cukup bandel, banyak membuat masalah dan keras kepala kalau sudah punya keinginan, namun di lubuk hatinya yang tidak pernah mau dia ungkapkan, Marilla juga menyayangi Anne seperti Matthew.

Yang menarik dari buku ini selain kisah hidup Anne di Green Gables adalah kesalahan-kesalahan yang dia buat. Sama seperti Anne, kita bisa mengambil hikmah dari kekacauan yang dia buat, bisa kita jadikan pembelajaran. Misalnya saja waktu pertama kali Anne diperkenalkan kepada Mrs. Rachel, tanpa sengaja tetangganya tersebut menyebut Anne sebagai gadis yang tidak menarik, kurus, muka berbintik-bintik dan berambut merah, hal yang sangat dibenci Anne bila ada yang mengungkitnya. Anne langsung berkata tidak sopan dan marah-marah. Tentu saja membuat Marilla malu dan menghukum Anne, Anne boleh keluar dari kamar kalau dia mau meminta maaf dan mengakui tindakan tersebut tidaklah sopan dan kurang ajar. Marilla meminta Anne untuk mengerem amarahnya, walaupun Mrs. Rachel berbuat salah tetap saja Anne harus bersikap sopan pada orang yang lebih tua.
"aku mendapatkan pelajaran yang baru dan berharga hari ini. Sejak aku datang ke Green gables, aku banyak membuat kesalahan, dan setiap kesalahan menolongku memperbaiki diri untuk lebih baik lagi. Kasus bros batu kecubung telah membuatku kapok bermain-main dengan benda yang bukan milikku. Masalah Hutan Berhantu membuatku tidak membiarkan imajinasiku terlalu liar. Kesalahan kue minyak angin membuatku berusaha tidak ceroboh lagi sewaktu memasak. Mengecat rambut membuatku tidak berbangga diri secara berlebihan. Dan kesalahan hari ini akan mencegahku untuk terlalu romantis. Aku sudah menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya untuk mencoba bersikap romantis di Avonlea. Mungkin hal itu cukup mudah dilakukukan di Camelot yang penuh menara pada ratusan tahun yang lalu, tetapi saat ini romansa sudah tidak dihargai. Aku cukup yakin bahwa kau segera melihat kemajuanku dalam hal ini, Marilla."
Bagian yang menyentuh di buku ini tentu saja hubungan Anne dengan keluarga Cuthbert. Anne belum pernah merasakan apa itu keluarga, sejak kecil dia sudah ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya, singgah di beberapa tempat dan menjadi pengasuh, membuat dia tidak pernah merasakan kasih sayang. Tapi di Green Gables lah dia mendapatkan semuanya, pun dengan Cuthbert bersaudara yang selama hidup mereka hanya diisi kekosongan, Anne menghadirkan warna, menghadirkan tawa dan kebahagiaan. Saya suka sekali dengan karakter Matthew, dia baik sekali dan pengertian. Terharu ketika diam-diam dia memberi kado natal untuk Anne, sebuah gaun berlengan gembung yang sedang ngetren saat itu, impian semua gadis kecil di mana Marilla tidak terlalu mempedulikan. Marilla memang keras namun dia juga mempunyai sisi yang baik juga, hanya berbeda saja cara menunjukkannya.

Membaca buku ini membuat saya tahu posisi anak yatim piatu jaman dulu, bahwa kehidupan mereka sangat menderita, rata-rata mereka diadopsi untuk bekerja, karena bisa dibilang bayaran mereka lebih murah, hanya diberikan tempat tinggal, makan, dan pendidikan sekadarnya. Jarang mengadopsi untuk dijadikan anak sungguhan, beruntung Anne bertemu dengan keluarga Cuthbert, walau awalnya niatnya sama, tetap saja Cutbert bersaudara tidak tega mempekerjakan Anne dan malah menyekolahkannya sampai suatu saat Anne bisa meraih impiannya.

Walau kadang menjengkelkan, yang saya suka dari Anne adalah dia tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dia buat.

Buku ini bercerita tentang harapan dan impian gadis kecil yang penuh imajinasi dan gampang marah kalau ada yang menyebut dirinya memiliki rambut wortel, tentang kisah masa kecil yang penuh dengan petualangan, persahabatan, dan tentang arti keluarga. Saya suka banget sama covernya, terjemahannya pun juga bagus. Recommended bagi semua orang.

3 sayap untuk si rambut merah :p


10 komentar:

  1. Salah satu buku favoritku. Insiden2 kecilnya khas bildungsroman klasik, tapi karakter Anne (plus imajinasinya) bikin tambah mantap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, proses pendewasaanya emang kerasa banget :)

      Hapus
  2. Suka cover barunya. Punyaku masih yang gambar anak cewek. Dan masih ditimbun (dibeli tahun 2009 coba). *kabur cantik*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astaga, hahahaha, tau gitu beli yang cover kece ini aja, siapa tahu jadi semangat baca :p

      Hapus
  3. Cover barunya bagus, Sulis. Naksir buku ini sama pride and prejudice. Masukin list ah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedua cover buku tersebut emang kece badai, kolekable banget :p

      Hapus
  4. Pantesan kayaknya tau buku ini, tapi ngga terlalu ingat. Rupanya ganti cover yah. Hahah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sebenernya udah lama terbitnya, lebih kece yang sekarang :)

      Hapus
  5. Aku pernah lihat buku ini bersanding di tokbuk dg buku Wuthering Heights, apa ada kaitannya ya kak? ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda, cuma sama-sama klasik aja dan emang baru cetak ulang ganti cover :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...