Rabu, 15 April 2015

Love Lang Syne by Ridisa | Book Review

Love Lang Syne
Penulis: Ridisa
Penyunting: Anida Nurrahmi
Perancang sampul: Teguh Tri Erdyan
Penerbit: Pop
ISBN: 978-979-91-0812-8
Cetakan pertama, Februari 2015
202 halaman
Buntelan dari @IceCube_Publish
Pernah terjebak cinta masa lalu? Gagal move on? Cinta lama belum kelar memang bikin sesak, antara penasaran dengan apa yang terjadi jika hubungan dilanjutkan tapi takut kalau hasilnya tidak sejalan dengan keinginan.



Jeje tengah menapaki karier di industri event organizer. Hidupnya baik-baik saja, walaupun Jeje tak pernah memiliki kekasih setelah hubungannya dengan sosok dari tiga belas tahun lalu berakhir

buntu. Siapa sangka, kejadian acak yang dialami bersama kliennya ternyata membawa Jeje kembali bertemu orang itu. Akankah kali ini hubungan mereka memiliki titik temu?



Ini kisah tentang cinta, persahabatan, dan mimpi. Ketiganya menorehkan warna tersendiri, ketiganya membuat hidup lebih berarti. Namun jika tidak semuanya bisa dimiliki, mana yang akan kau relakan pergi?

Sabrina Jasmine Wijoyo atau biasa dipanggil Jeje ini nasipnya nggak jauh beda dengan cewek berusia 25 tahun kebanyakan, terlebih masih jomblo, sering banget ditanyain kapan kawin? Jodoh emang menjadi masalah utama orang yang suka ikut campur urusan orang lain, Jeje aja nggak mempermasalahkan statusnya, dia cukup minikmati kesendirian dan pekerjaannya. Sahabatnya, Dian berkata kalau Jeje susah melupakan cinta pertamanya. Mereka berdua memang sering cek cok perihal kisah asmara masing-masing, mereka memang mempunyai kisah cinta yang berbanding terbalik. Jeje yang sering diejek Dian setia jomblo sedangkan Jeje gantian mengolok-olok Dian kalau pacarnya nggak serius sama hubungan mereka, seharusnya waktu tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengatakan 'ya' ketika ditanya akan kemana hubungan mereka selanjutnya.

Jeje dan Dian bekerja di sebuah event organizer, mereka mempunyai atasan yang killer. Di waktu yang bersamaan mereka mendapatkan pekerjaan yang menantang, Jeje mengurusi pernikahan seorang artis di mana ternyata dulunya dia teman SD yang sering Jeje ejek sebagai anak ingusan dan cupu, yang cerewetnya bukan main, sedangkan Dian mengurusi acara reuniun kampus. Kedua acara ini nantinya akan mempertemukan Jeje dengan orang-orang di masa lalunya, cewek cupu yang berani nembak cowok populer dan seorang cowok yang diam-diam mencintai Jeje, sampai dewasa perasaan si cowok itu tidak pernah berubah.
Life is just too short to waste without doing anything you love the most.
Saya suka cara penulis bercerita, dengan gaya bahasa sehari-hari yang santai, membuat saya menikmati jalan ceritanya, terlebih dialog antara karakternya sangat menghibur, hampir semua karakternya punya sifat yang ceplas ceplos, kebayang kan ramainya gimana :D. Saya juga sangat menyukai Elang, loveable banget deh, terlebih setia, bayangin tiga belas tahun ngak pernah bertemu tapi perasaannya nggak pernah berubah, duh mau deh satu.

Di bagian awal saya suka ide ceritanya, Jeje yang selalu teringat kisah masa kecilnya yang belum selesai kemudian masuk di pertengahan dia bertemu dengan Elang, cowok yang selain menjadi rival juga mempunyai arti tersendiri, masalah yang belum terselesaikan di hidup Jeje. Sayangnya, Jeje ini muka tembok banget, dia galau akan perasaanya, agak sebel juga sih sama dia soalnya Elang itu udah jelas-jelas cinta mati sama Jeje, tapi Jeje tidak kunjung menentukan sikap, ditambah ada seorang cewek sempurna yang memiliki segalanya tergila-gila sama Elang, tambah pesimis deh Jeje. Awalnya ini yang saya kira menjadi konflik cerita, ternyata nggak hanya itu saja, berhubungan dengan mimpi Jeje, membuat Jeje bingung menentukan pilihan hidupnya.

Kalau gaya bahasa, ide cerita dan karakternya menjadi poin plus buku ini maka kekurangannya adalah ending ceritanya, hehehehe. Bukannya spoiler ya, hanya saja nggak sesuai harapan saya, saya ngerasa hubungan Jeje dan Elang belum selesai, masak gitu aja sih? Pengennya ada lanjutannya dan interaksi mereka diperbanyak lagi, chemistry-nya sih ada tapi kurang menunjukkan perasaan masing-masing :D. Selain itu, ketika Jeje flashback ke masa SD, saya ngerasa kalau nggak cocok, saya ngerasa malah di masa SMA kalau sebelumnya penulis nggak bilang, mungkin kurang detail aja kali ya atau bahasa yang digunakan nggak jauh berbeda ketika mereka sudah besar sehingga perbedaan jaman dulu dengan sekarang nggak begitu kerasa. Elang kurang banyak diceritakan, begitu juga dengan Nando, hanya sepintas aja dan buat saya kurang puas, hehehe. Intinya detailnya kurang banyak, coba kalau cerita yang bolong-bolong ditembel, nggak setengah-setengah ngejelasinnya pasti akan lebih menarik lagi, gampangannya dipertebal lagi bukunya :D.

Bagian yang saya suka adalah ketika Elang pidato di hari reuni, ketika dia mengungkapkan orang yang spesial di dalam hidupnya, dijamin klepek-klepek sama Elang :D

Buat yang kepingen baca cerita tentang friendzone dan dialog yang bikin mesam mesem, buku ini recommended.

3 sayap untuk cinta masa lalu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...