Senin, 09 Maret 2015

The Kite Runner by Khaled Hosseini | Book Review

The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Pangestuningsih
Desain sampul: Windu Tampan
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-95-2
Edisi Keempat: Cetakan II, Februari 2014
492 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan
Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengambil keputusan, untuk menentukan apa jadinya diriku. Aku bisa melangkah memasuki gang itu, membela Hassan dan menerima apa pun yang mungkin menimpaku.

Atau, aku bisa melarikan diri.
Akhirnya, aku melarikan diri.

Amir telah mengkhianati Hassan, satu-satunya sahabatnya, saudaranya. Rasa bersalah menghantuinya. Menyingkirkan Hassan dari kehidupannya adalah pilihan tersulit yang harus diambil Amir.

Namun setelah Hassan pergi, tak ada lagi yang tersisa dari masa kecil Amir. Seperti layang-layang putus, sebagian diri Amir terbawa terbang bersama angin. Tetapi, masa lalu yang telah terkubur dalam-dalam, senantiasa menyeruak kembali. Hadir membawa luka-luka lama. Dan seperti rapuhnya layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

The Kite Runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Di tengah belantara puing di Kota Kabul, akankah Amir menemukan kebahagiaan yang kelak menyapu kesedihannya?
Kesalahan membaca buku ini malam-malam, efeknya saya nggak bisa tidur karena nggak bisa berhenti baca. Nangis bengep-bengep pas subuh, kepala rasanya nggak karuan, antara ngantuk, pusing, mata bengkak dan hidung mampet. Jadi, tips bila ingin membaca buku ini, jangan baca pas waktunya mau tidur dan cari tempat sepi kalau nggak ingin ada orang lain tahu kamu lagi sesegukan ketika membaca buku ini.
Lalu dia akan mengingatkan kami tentang ikatan persaudaraan bagi orang-orang satu susuan, ikatan persaudaraan yang tak akan bisa diputuskan, bahkan oleh waktu.
Aku dan Hassan menyusu dari payudara yang sama. Kami mengambil langkah pertama di tanah pada halaman yang sama. Dan, di bawah atap yang sama, kami mengucapkan kata pertama kami.
Kata pertamaku adalah Baba.
Kata pertamanya adalah Amir. Namaku.
Amir adalah anak dari salah satu pengusaha tersukses di Kota Kabul, Afghanistan, ayahnya sering dipanggil Baba. Baba punya pelayan yang setia bernama Ali, mereka besar bersama. Ali berasal dari kalangan Muslim Syi'ah dan suku Hazara. Ali menderita kelumpuhan bawaan pada otot wajah bagian bawah yang menyebabkan dia tidak bisa tersenyum, wajahnya tanpa ekspresi dan selalu tampak menyeramkan. Ali memiliki anak bernama Hassan, berbibir sumbing, lebih muda setahun dari Amir. Kalau Amir kehilangan ibunya setelah melahirkan, Hassan ditinggal oleh ibunya bersama rombongan penyanyi dan penari keliling. Sama halnya dengan ayahnya yang setia dengan Baba, Hassan sangat setia kepada Amir.

Ali dan Hassan adalah kaum Hazara, sedangkan Baba dan Amir dari kaum Pashtun di mana kaum ini telah menjajah, menindas, membantai dan memperlakukan kaum Hazara dengan sangat buruk. Alasannya kaum Hazara menganut mazhab Syi'ah sedangkan Pashtun menganut mazhab Sunni. Perpedaan ideologi membuat kedudukan kaum Hazara hina dan rendah di mata kaum Pashtun. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Baba, dia sangat baik kepada Ali dan Hassan, dia bahkan selalu memberikan hadiah ketika Hassan berulang tahun, tidak pernah lupa akan tanggal kelahiran Hassan, bahkan pada salah satu hari ulang tahunnya Baba memberi hadiah paling berharaga bagi Hassan, Baba membiayai operasi bibi sumbingnya sehingga Hassan bisa hidup normal layaknya anak yang lain.

Hubungan Amir dan Hassan bisa dibilang sangatlah dekat walau kadang dia merasa cemburu akan perhatian Baba terhadap Hassan. Amir ingin Baba hanya untuknya. Pernah suatu ketika Amir mendengar percakapan Baba dengan Rahim Khan -sahabat ayahnya, yang mengatakan kalau Amir tidaklah seperti yang dia harapkan, Amir terlalu lemah, sering dipermainkan temannya dan tidak pernah melawan, lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku, Baba ingin Amir kuat, tegas, pemberani seperti dirinya, bukannya malah Hassan yang selalu menolongnya, melindunginya, menyelesaikan segala kekacauan yang dia buat. Karena itulah sedikit demi sedikit Amir merasa benci pada Hassan, dia cemburu karena ayahnya juga perhatian pada Hassan, Amir pun tidak ingin membuat hubungan mereka menjadi pertemanan, hanya sebatas majikan-pelayan. Kadang Amir mempermainkan Hassan dengan berbohong ketika membacakan dongeng, menggunakan kelemahan Hassan yang tidak bisa baca tulis.
"Hanya ada satu macam dosa, hanya satu. Yaitu mencuri. Dosa-dosa yang lain adalah variasi dari dosa itu. Kau paham?"
"Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya," kata Baba. "Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau menipu, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Mengerti?"
"Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau tak bisa begitu saja mengisi mereka dengan warna-warni kesukaanmu." 
Musim dingin 1974 adalah musim dingin terakhir yang dilalui Amir dan Hassan dengan suka cita. Setiap musim dingin, semua distrik di Kabul selalu mengadakan turnamen layang-layang. Turnamen adu layang-layang adalah tradisi musim dingin yang sudah dijalankan sejak lama di Afghanistan, di mulai pada pagi hari dan berakhir sampai hanya ada satu layang-layang yang bertahan di udara. Hassan adalah asisten Amir dalam turnamen layang-layang, dia bertugas membawakan gulungan benang dan mengulurnya. Hassan juga sangat ahli menemukan layang-layang yang terputus dan selalu berhasil mendapatkannya, dia adalah pengejar layang-layang terhebat. Bila anak-anak lain selalu mengikuti arah layang-layang yang jatuh, maka Hassan berbeda, dia akan menunggu di tempat yang berbeda, tepat di suatu tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, dan hebatnya di sana lah layang-layang tersebut mendarat dan diberikan kepada Amir.
Bagi pengejar layang-layang, hadiah yang paling berharga adalah layang-layang yang terjatuh paling akhir dalam sebuah turnamen musim dingin. Itulah trofi kehormatan yang diperebutkan, sesuatu yang bisa dipajang untuk dikagumi para tamu.
Pada musim dingin 1975, Hassan mengejar layang-layang untuk terakhir kalinya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Amir dan Hassan adalah tim yang hebat, ketika layang-layang Amir berhasil menumpangkan lawan, Hassan langsung berlari untuk mendapatkan layang-layang yang kalah. Tetapi sampai hampir malam Hassan tidak kunjung pulang. Dengan cemas Amir pun mencari, ketika dia menemukan Hassan yang dikeroyok oleh tiga orang yang selalu mengangap kaum Hazara hina, dia mengurungkan diri untuk mendekat. Peristiwa itulah awal mula hubungan Amir dan Hassan berubah, mereka tidak lagi bermain bersama, bahkan Amir melakukan sebuah perbuatan yang akan diingatnya terus, sebuah perbuatan yang membuat Baba sangat bersedih. Tindakan pengecut Amir mengubah segalanya.

Bertahun-tahun kemudian setelah Amir dan Baba pindah ke Amerika, setelah mempunyai kehidupan baru, di San Francisco, Amir mendapatkan pesan dari Rahim Khan. Permintaanya untuk kembali ke Afghanistan, ke negara kelahirannya yang sudah tidak bersahabat lagi, permintaan terakhir mengenai Hassan, penebusan dosa di masa lalu, tentang jalan untuk kembali menuju kebaikan.
"Mungkin ini tidak adil, tapi sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang, Amir"
Kisah Amir dan Hassan ini bersetting pada tahun 1970-an sampai awal 2000-an. Selain bercerita tentang kisah persaudaraan, Khaled Hosseini juga sedikit banyak menyisipkan sejarah Afghanistan. Di mulai pada 17 Juli 1973, di mana kekuasaaan Monarki berganti menjadi Republik. Zahir Shah, yang selama 40 tahun menjadi  raja dan kala itu sedang berkunjung ke Italia, dipaksa turun dari singgasananya, di negara asalnya telah terjadi kudeta yang dilakukan oleh sepupunya sendiri, Daoud Khan dengan bantuan Uni Soviet. Setelah itu banyak faksi baru bermunculan, salah satunya adalah faksi Mujahiddin yang terkenal, Taliban. Taliban menerapkan hukum islam versi mereka sendiri, salah satunya membantai kaum Hazara yang katanya pemberontak, posisinya dianggap lebih rendah dari pada kaum Pashtun, Tajik atau Uzbek, membuat banyak istri menjanda dan anak menjadi yatim piatu. Untuk lebih detailnya tentang sejarah perang saudara di Afghanistan, silahkan baca artikelnya di sini dan di sini. Bisa dibilang The Kite Runner ini adalah buku historical fiction versi modern.

Yang membuat buku ini spesial adalah kisah perjalanan hubungan Amir dan Hassan, sangat ironis sekali. Kesetiaan yang Hassan lakukan benar-benar membuat saya terharu. Semua yang dilakukan Hassan membuat saya meraung-raung dalam hati, nyesek banget, tidak sanggup menahan air mata. Karakter Amir memang agak menyebalkan, kecemburuannya membuat Hassan menjadi menderita tapi di lubuk hatinya Amir sangat menyayangi Hassan, perbedaan kasta membuat dia tidak mau mengakuinya, dia tetaplah anak biasa, yang haus akan kasih sayang.

Karakter favorit saya tentu saja Hassan, sedangkan untuk adegan favorit mengharukan, banyak sekali, terutama yang melibatkan Hassan. Salah satu yang nyesek adalah ketika Hassan menulis surat untuk Amir. Percaya deh, siapkan tissue, jangan sampe lupa. Oh ya, satu lagi, ketika Hassan berkata akan menuruti apa saja kemauan Amir, bahkan memakan tanah sekalipun T.T. Kadang saya sangat benci dengan Amir.

Bisa dibilang buku ini sempurna dan akan membekas bagi setiap pembacanya. Khaled Hosseini banyak menyiapkan kejutan di setiap akhir bab, alur flashback membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan semua karakter pendukungnya berperan penting. Lewat Baba, penulis menunjukkan seperti apa orang Afghan itu sebenarnya, lewat Hassan penulis ingin bercerita tentang ketidakadilan yang diterima kaum tersisih, lewat Taliban penulis ingin menunjukkan kekejamannya, bahwa ada orang-orang yang merusak Islam di mata dunia. Lewat Amir, penulis ingin menunjukkan kalau setiap orang tidak luput akan sebuah dosa dan suatu saat akan menebusnya. Lewat buku ini, penulis dengan mulusnya akan mengenalkan kita akan tanah kelahirannya.

Buku ini bercerita tentang brotherhood, kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, tentang sebuah rahasia yang bisa berdampak besar. Wajib dibaca bagi siapa pun, entah kamu orang Hazara, Pashtun, Tajik, Uzbek, atau dari antah berantah, baca lah buku ini. Recommended banget. Terjemahannya juga bagus, tidak mengurangi feel buku ini sama sekali.
"Untukmu, keseribu kalinya."
5 sayap untuk pengejar layang-layang.


6 komentar:

  1. Nangis malem-malem, I can relate to that! Mana waktu itu besoknya ujian. Untung lancar walaupun agak pusing sama mata bengkak. haha
    Hassan itu .... astaga dia tokoh teroptimis yang pernah kubaca. Padahal dia punya banyak alasan untuk mengeluh :'(
    Setuju banget kalo buku ini bakal membekas di pembacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama banget, awalnya aku mau benci banget sama Amir tapi yah mau gimana lagi, nyesek banget deh baca cerita mereka :(

      Hapus
  2. Bukunya Khaled Hosseini emang selalu bikin banjir air mata. Abis ini baca And The Mountains Echoed mbak ;))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah ada nih bukunya, jadi nggak sabar baca :)

      Hapus
  3. Baru tahu klo buku ini historical fiction, mba. Amir dan Hassan berarti bakal ketemu lagi ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku masukin ke historical fiction karena memuat sejarah Afghanistan, mbak :)
      Kalau soal itu baca sendiri aja ya, nanti jadi spoiler :p

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...