Sabtu, 21 Maret 2015

The Chronicles of Audy: 21 by Orizuka | Book Review

The Chronicles of Audy: 21 (The Chronicles of Audy #2)
Penulis: Orizuka
Penyunting: Tia Widiana
Cover desainer dan ilustrator: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Haru
ISBN: 602-774-237-2
Cetakan pertama, Juli 2014
308 halaman
Pinjam @dyahmuawiiyah
Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: "bagian dari keluarga".

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang,
salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.

Melanjutkan kronik kehidupan seorang Audy Nagisa setelah dianggap bagian keluarga oleh 4R. Apakah benar? Tetap saja dia harus melakukan pekerjaan rumah dan menjadi seorang babysitter. Hubungan Audy dengan para 4R memang semakin akrab, dia sudah bisa menerima perasaan Regan yang hanya menganggapnya sebagai adik. Walau kadang menjengkelkan dan senang membully-nya, Rafael sudah seperti menjadi tanggung jawabnya, dia harus mengembalikan Rafael ke jalan yang benar layaknya balita pada umumnya. Audy masih belum selesai menulis skripsinya, dia selalu menghindar ketika Rex mengingatkan dan akan membantunya. Sedangkan Romeo masih saja jorok. Semua tampak normal sampai Rex mengungkapkan perasaanya kalau dia menyukai Audy.
Namun, bukankah keluarga seperti itu? Bertengkar, lalu berbaikan, begitu seterusnya?
Awalnya Audy menganggap Rex becanda, tidak ada tanda-tada orang yang kasmaran, Rex masih saja memperlakukan Audy seperti biasa, masih sinis dan cuek, membuat Audy bingung. Selain itu tantangan baru menyambut Audy di sekolah Rafael, bocah itu memang sulit beradaptasi, pemikirannya jauh berbeda dengan anak kebanyakan. Ketika disuruh menyanyikan lagu anak-anak untuk ulang tahun sekolah, dia malah menyanyikan lagu Call Me Maybe - Carly Rae Jepsen. Tentu saja pengaruh dari Romeo. Audy pun memperkenalkan lagu anak-anak kepada Rafael, lagu yang seharusnya dia dengar dan nyanyikan. Audy juga mengajarkan kesopanan karena Rafael sempat membuat temannya menangis, supaya Rafael lebih halus lagi ketika berbicara, agar dia tidak menyinggung perasaan temannya. Kemudian Audy mengetahui beberapa rahasia dari Romeo, kenapa dia tidak pernah keramas atau selalu memakai kaos kaki.
"Love is the desire for perpetual possession of the good. Kata Plato."
"Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus kekuatanku; yang membuatku merasa hidup."
"Sori-entitas?" ulangku, merasa salah dengar. "Ini apa? Plato lagi?"
"Bukan. Ini aku," tandas Rex. "Rex Rashad." 
4R sudah Audy anggap seperti keluarga sendiri, ketika Regan mengumumkan berita kalau Maura sudah siuman dari koma, itu tandanya Audy harus berpisah dengan mereka. Itu berarti segala-galanya.
"Peran antagonis nggak selalu jelek kok, Au," katanya lagi sambil bangkit dan melangkah keluar bathtub. "Kalau nggak ada Covenant di Halo, nggak ada pahlawan, kan?"
Analogi yang tidak biasa, tapi ada benarnya.
"Lagian, kita kan nggak tahu kenapa mereka bisa begitu," lanjut Romeo. "Kalau dari sisi mereka, bisa aja kita yang antagonis."
Akhirnya kesampean juga baca lanjutan 4R1A, walau nggak seseru buku pertama yang sangat emosional, soalnya nggak sampai membuat saya nangis megep-megep, hehehe, kalau tertawa pasti dong, tetap saja buku ini tidak bisa dilewatkan. Perkembangan karakternya sangat terasa sekali, terutama Rafael, saya semakin gemas dengannya, dia lebih pengertian, sedikit. Romeo juga sedikit demi sedikit mau bertoleransi, terlebih soal Rafael, nggak secuek dulu. Regan tidak banyak dibicaran di buku ini, penulis lebih fokus ke hubungan Rex dan Audy, di mana bikin mesam-mesem. Rex sendiri tidak berubah sama sekali, tetap cool, sinis dan cuek.

Buku pertama memang lebih bermakna banyak karena berisi pengenalan para tokoh yang unik-unik dan konflik yang beragam dan cukup berat. Di buku ini lebih ke pendalaman karakter, pendalaman hubungan Audy dengan 4R. Tetapi masih banyak adegan yang cukup mengharukan, kok, misalnya saja ketika Audy dan Rafael cemas akan tulisan 1A di kotak surat akan luntur bila terkena hujan, ternyata Rex sudah mengantisipasi dengan menempelkan plester bening di atas tulisan tersebut. Ketika Audy membantu Romeo keramas, ketika Rafael mengajari Audy bermain rubik-kubik, dan bagian akhir yang nyaris membuat saya menangis. Ah, Rafael, hiks. Banyak adegan yang memorable sekali.

Kalau ditanya siapa karakter favorit saya di buku ini, maka jawabannya adalah semuanya! Magnet buku ini adalah Audy dan 4R, kisah perjalanan hidup mereka akan selalu dinantikan pembaca, penulis sangat sukses menciptakan karakter utama buku ini. Saya berharap akan ada lanjutannya lagi, entah sampai buku keberapa, rasanya tidak rela jika harus berpisah dengan Rafael, Rex, Romeo dan Regan. Akan kangen dengan kekonyolan yang Audy lakukan. Seri The Chronicles of Audy ini masih menjadi favorit dari Orizuka selain Our Story.
Aku adalah bagian dari keluarga ini - tanpa tanda kutip.
4 sayap untuk 21, nomor yang sesungguhnya.


4 komentar:

  1. Jadi beneran Rex naksir Audy ya? Hihi. Berasa njomplang banget ya. Aku suka Rafael. Anak kecil yang cerdas dan kritis. ♥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, emang lebih tuaan Audy sih tapi lucu aja si Rex, dia tetep datar sama Audy walau katanya suka :)
      Aku juga sukaaaaaa banget sama Rafael, ngemesin dan nyebelin XD

      Hapus
  2. Aku pengennya Audy sama Regan. Kayaknya serasi gitu T.T
    Rex nya buat aku aja.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...