Sabtu, 07 Maret 2015

Requiem by Lauren Oliver | Book Review

Requiem (Delirium #3)
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Prisca Primasari
Penyunting: Dyah Agustine
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-979-433-856-8
Cetakan pertama, Desember 2014
488 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan
Masa lalu sudah mati, tidak pernah ada lagi.

Setelah menyelamatkan Julian dari hukuman mati, Lena dan para pemberontak melarikan diri ke Alam Liar. Namun pemerintah terang-terangan menyatakan perang dan Alam Liar bukan lagi tempat aman. Para Invalid diburu dan dibunuh. Hal terpenting sekarang adalah bertahan hidup, dan melawan… atau mati.

Sementara itu, Hana hidup nyaman tanpa cinta di Portland. Dia telah disembuhkan, dan akan menikahi gubernur muda. Namun bayangan Lena selalu menghantui. Jauh di dalam hati, Hana merasa bersalah atas pengkhianatan yang telah dia lakukan.

Requiem, puncak perjuangan melawan penguasa. Requiem, saksi pertemuan sepasang remaja yang pernah saling mencinta, pertemuan kembali seorang ibu dengan anak gadisnya, dan pertemuan kembali dua sahabat dari dua dunia berbeda. Tembok sudah dirobohkan, dunia harus siap menerima perubahan.
Delirium series:
3. Requiem

Lena bertemu kembali dengan Alex, cinta pertamanya. Ternyata selama ini Alex selamat dari para Regulator, dia berhasil meloloskan diri dari Kriptus dan bergabung dengan para Invalid lainnya, bergabung dengan dirinya. Tapi Alex sekarang tidaklah seperti dulu. Sekarang dia orang asing yang tidak pernah tersenyum, tidak tertawa, dan jarang sekali bicara. Dia seperti tidak mengenal Lena, seperti tidak pernah menjalin hubungan dengannya. Tidak pernah mengajak bicara atau memandang, dia seperti lelaki bayangan, hanya ilusi. Dia lebih tertarik berbicara dengan Coral daripada dirinya.

Setelah berhasil menyelamatkan Julian Fineman, Lena dan para invalid harus ekstra hati-hati, karena para zombie-zombie (orang-orang yang sudah disembuhkan), para DFA dan Regulator akan memburu mereka. Julian merupakan simbol, mereka ingin membunuh Julian sebagai peringatan, agar masyarakat belajar darinya, sebagai bukti bagi yang melanggar aturan akan mendapatkan hukuman setimpal. Mereka kembali ke Alam Liar untuk berlindung, melarikan diri dari kejaran para Regulator.
Mungkin kami dibuat gila oleh perasaan kami. Mungkin cinta memang sebuah penyakit, dan hidup kami akan lebih baik tanpanya.
Namun, kami sudah memilih jalan yang berbeda. Pada akhirnya, itulah inti dari pelarian kami: kami bebas untuk memilih.
Kami bahkan bebas untuk memilih jalan yang salah.
Hubungan Lena dengan Julian pun tidak tentu arah, dengan kehadiran Alex semua menjadi rumit. Lena masih menginggat Alex, masih mencintainya, tetapi perasaannya akan Julian tidak bisa dia abaikan juga. Julian sangat mencintai dirinya, sejak kedatangan Alex hubungan mereka menjadi kaku, Lena tahu Julian bertanya-tanya akan status mereka, dia tahu kalau Alex lah cinta pertamanya, tapi Julian sabar dan berharap keadaan diantara mereka menjadi normal kembali, dia berharap Lena akan menerima perasaanya.

Kehidupan di Alam Liar tidak seaman dulu, kini para DFA dan Regulator menyewa Scavenger untuk membumi hanguskan semua yang ada di sana. Mereka membuntuti, memburu dan tidak akan membiarkan para invalid hidup. Para Scavenger mengebom pemukiman, membakar gudang penyimpanan makanan. DFA menganggap pemberontakan mereka sebagai ancaman besar, mereka tidak bisa mengabaikan lagi, harus segera bertindak untuk melenyapkan mereka, agar amor deliria nervosa tidak ada lagi, meyakinkan masyarakat kalau semua orang-orang terinfeksi sudah dibasmi. Sekarang para invalid harus memutuskan, apakah terus berlari dan mencari tempat yang dianggap aman atau balik melawan?

Di sisi tembok yang lain, Hana Tate akan menjadi Hana Hargrove. Dia telah disembuhkan dan sebentar lagi akan menjadi istri calon wali kota yang baru, Fred Hargrove. Dia juga akan menjadi simbol bahwa penyembuhan di dunia ini merupakan tindakan yang tepat. Tetapi ada bayangan masa lalu yang menghantui, dia selalu teringat pada Lena, teringat akan penghianatan yang sudah dilakukan pada sahabatnya tersebut. Seharusnya pasca penyembuhan semua perasaan tersebut ikut hilang, namun semakin lama semakin kuat, penyembuhan tidak bekerja sacara sempurna terhadap dirinya. Dia menginggat Lena, menginggat kecemburuan yang dia rasakan terhadap Lena.
Namun, barangkali kebahagiaan tidaklah terletak pada pemilihan itu sendiri. Barangkali, kebahagiaan terletak pada kepura-puraan untuk percaya: bahwa kita akan selalu tiba di jalan yang kita tuju sejak awal.
Lebih baik dari buku kedua, karena Alex muncul lebih banyak :D. Alex memang sudah berubah, dia menjadi orang lain tapi bisa dipahami kok. Penulis tidak luput menceritakan keadaan Alex pasca buku pertama, yang menjadi tanda tanya besar saya, pun dengan Lena. Disiksa dan hampir mati tentu saja tidak akan membuat keadaan seseorang kembali seperti semula, trauma bisa mengubah sifat seseorang, mengubah segalanya, terlebih ketika bertemu kembali dengan Lena, ternyata dia baik-baik saja dan malah bermesraan dengan lelaki lain, bagaiamana perasaanmu kalau jadi Alex? Itulah yang terjadi dengan Alex, dia penuh kesedihan dan kesuraman, bagaimana pun dia sekarang, Alex tetap menjadi favorit saya di buku ini.

Sama seperti sebelumnya, Lena masih tetap kuat dan berani, Julian pun ikut berubah, mencoba bertahan hidup dan beradaptasi seperti Lena ketika awal-awal menjadi seorang invalid di Alam Liar. Ada pemeran tambahan yang cukup penting, Hana. Lewat dirinya kita akan mengetahui seperti apa rasanya menjadi seseorang yang disembuhkan, apakah semua perasaan akan hilang? Ternyata ada kelemahannya juga, tidak semua orang bisa kebal dengan perasaan cinta.

Kali ini Lauren Oliver menyuguhkan dua sudut pandang, lewat Lena dan Hana. Lena yang menjalani hidup sebagai invalid, Hana yang menjalani hidup sebagai orang yang sudah disembuhkan. Menarik karena kita bisa melihat perspektif dari dua sisi tembok yang berbeda. Cukup inovatif dalam penggarapan seri Delirium ini, selalu ada yang baru. Bisa dibilang seri Delirium ini 'aku banget'. Penulis menggabungkan dunia dystopia dengan romance, dimana keduanya menjadi favorit saya. Sayangnya, saking barunya semua ide yang dia torehkan, dia seperti kehabisan ide untuk membuat ending cerita buku ini. Saya merasa tidak ada penyelesaian, saya sampai bingung dan membaca ulang apa yang sebenarnya diinginkan penulis. Baiknya ada satu seri lagi sebagai pamungkas. Karena sayang sekali, buku pertama sangat bagus, idenya sangat brilian tapi kelanjutannya seperti tanpa arah.

Walau banyak pembaca yang kecewa dengan ending buku ini, yah, mau bagaimana lagi? Lanjutkan saja membaca sampai akhir kalau sudah terjangkit amor deliria nervosa.
Hidup bukanlah tentang mengetahui segalanya. Hidup adalah tentang melangkah ke depan. Orang-orang yang disembuhkan ingin mengetahui segalanya; kami, sebaliknya, memilih keyakinan kami sendiri. Aku meminta Grace untuk memercayaiku. Kami juga harus percaya -bahwa dunia tidak akan berakhir, hari esok akan tiba, dan kebenaran pasti akan terungkap.

3 sayap untuk Alex Alex Alex


2 komentar:

  1. abis requiem ini gak ada kelanjutannya lagi ya?
    udah berpanjang2 dan berlama2 baca, gak inget ama ending cerita di buku ini.. haha.. long term memory loss gini..

    regards,
    pipitta.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah nggak ada, tapi ada cerita pendamping kayak Four :)
      Endingnya agak antiklimak sih ya, jadi mungkin kurang bekesan :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...