Minggu, 22 Maret 2015

My Brief History by Stephen Hawking | Book Review

My Brief History: Sejarah Singkat Saya
Penulis: Stephen Hawking
Alih bahasa: Zia Anshor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0006-1
Cetakan pertama, 2014
160 halaman
Buntelan dari @Gramedia
My Brief History menceritakan perjalanan luar biasa Stephen Hawking, dari masa kecilnya di London sesudah Perang Dunia II sampai menjadi pesohor yang terkenal di seluruh dunia. Dilengkapi foto-foto yang jarang terlihat, buku singkat, kocak, dan cerdas ini memperkenalkan pembaca dengan seorang Hawking yang belum tampak di buku-buku terdahulu: anak sekolah yang ingin tahu dan dijuluki “Einstein” oleh teman-temannya; orang yang suka bercanda dan pernah bertaruh dengan temannya perihal keberadaan lubang hitam; serta suami dan ayah muda yang berjuang untuk mendapat tempat di dunia akademia.

Dengan tulisannya yang khas, rendah hati dan penuh humor, Hawking mengungkap mengenai tantangan yang dia hadapi sesudah didiagnosis mengidap penyakit neuron motor pada umur dua puluh satu. Dia menelusuri perkembangannya sebagai pemikir untuk menjelaskan bagaimana kemungkinan mati muda mendorong dia meraih banyak terobosan intelektual, dan berbicara mengenai kelahiran mahakaryanya A Brief History of Time—salah satu buku terbesar pada abad keduapuluh.

Jernih, akrab, dan bijak, My Brief History membuka jendela bagi kita untuk menengok jagat raya pribadi Hawking.

Pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Stephen Hawking, terlebih baru-baru ini kisah hidupnya bersama Jane Hawking telah diangkat ke layar lebar. Seorang ahli kosmologi (ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta), profesor matematika, ahli teori fisika, penulis buku sains yang sangat sukses, A Brief Hostory of Time. Nahasnya, pada saat usianya baru beranjak 21 tahun dia didiagnosis mengidap amyotrophic lateral sclerosis/ sklerosis lateral amiotrofik (ALS), penyakit syaraf motorik yang menyerang sel syaraf pengendali otot, menyebabkan kelumpuhan. Tapi semua kekurangan yang dia miliki tidak membuat Hawking berhenti berkarya. Selama berpuluh-puluh tahun dia telah berjasa terhadap kemajuan ilmu sains, khususnya fisika kuantum, menjadikan dia salah satu ilmuwan modern abad ini.
Fisika selalu menjadi mata pelajaran paling membosankan di sekolah karena sangat mudah dan gamblang. Kimia lebih asyik karena ada hal-hal tak terduga seperti ledakan. Tapi fisika dan astronomi menawarkan harapan memahami dari mana kita ada di sini. Saya ingin merenungi luasnya alam semesta.
Buku ini adalah autobiography Stephen Hawking. Lahir di Oxford, pada 8 Januari 1942, tiga ratus tahun sesudah kematian Galileo. Stephen lahir dari pasangan Frank (seorang peneliti penyakit tropis) dan Isobel Hawking. Masa kecil Stephen dihabiskan di Highgate, London utara bersama kedua adiknya, Mary dan Philippa. Ketika berumur empat belas tahun orangtuanya mengadopsi Edward. Pekerjaan Frank sering membuat dia harus berpindah-pindah, pada tahun 1950, keluarga Hawking pindah ke St. Albans, di sana Stephen sempat bersekolah di High School for Girls, sekolah khusus perempuan tetapi menerima anak laki-laki sampai umur sepuluh tahun. Di sekolah itulah Stephen Hawking pertama kali bertemu dengan Jane Wilde, yang bertahun-tahun kemudian akan menjadi istrinya.
Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang kita ingin lakukan.
Ada yang pernah bilang, ilmuwan dan pelacur dibayar untuk melakukan apa yang mereka sukai.
Setelah itu Stephen bersekolah di St. Albans School selama tiga tahun. Dari sini minatnya terhadap matematika dan fisika muncul. Dia terinspirasi oleh seorang guru matematika di sekolah, Mr. Tahta sehingga ingin mengikuti jejaknya. Tapi keinginan Stephen ditentang oleh sang ayah yang menganggap tidak ada pekerjaan untuk ahli matematika selain menjadi guru. Ayahnya ingin Stephen kuliah di University College, Oxford seperti dirinya dulu. Pada tahun 1959, Stephen mendapatkan beasiswa di Oxford dan mengambil ilmu alam, mendalami fisika dan sempat bergabung dengan Klub Perahu untuk mendapatkan banyak teman. Kemudian pada tahun 1962, Stephen melanjutkan pendidikan ke Cambridge untuk meneliti kosmologi. Karena kosmologi waktu itu belum dianggap bidang tersendiri, dia mempelajari astronomi, melakukan banyak riset yang berhubungan dengan relativitas umum.

Stephen menikahi Jane Wilde pada Juli 1965. Waktu itu Jane masih mahasiswi strata satu di Westfield Collenge, London. Pernikahan mereka dikaruniai tiga anak; Robert, Lucy, dan Timothy. Stephen mendapatkan beasiswa riset di Gonville dan bekerja di Caius College sampai sekarang. Pada saat itu juga ALS yang didera Stephen semakin parah, dia tidak bisa mengetik lagi. Pada tahun 1985 ketika sedang melakukan perjalanan ke CERN (Organisasi Riset Nuklir Eropa) di Swiss, Stephen menderita penumonia dan diperkirakan hidupnya tidak akan lama lagi. Jane tidak menyerah, membawa suaminya kembali ke Cambridge, di sana Stephen melakukan trakeostomi (pemotongan tenggorokan) sehingga bicaranya semakin tidak jelas. Sejak itu Stephen berkomunikasi menggunakan korsi rodanya yang telah dipasang program komputer, Speech Plus.

Depresi yang dialami Jane membuat hubungannya dengan Stephen kian merenggang, ketenaran dan parahnya penyakit Stephen membuat dia tertekan. Stephen sadar hidupnya tidak akan lama lagi dan perlu seseorang untuk menyokong anak-anaknya sesudah mati. Kemudian Jane semakin dekat dengan Jonathan Jones, seorang pemusik dan pemain organ di gereja. Pada tahun 1991 Stephen bercerai dengan Jane karena sudah tidak tahan melihat hubungan mereka, dia kemudian menikahi perawatnya, Elaine Mason pada tahun 1995. Pernikahan mereka pun hanya bertahan sampai tahun 2007.
Ketika saya berumur dua puluh satu tahun dan mulai menderita ALS, saya merasa itu sangat tidak adil. Mengapa harus terjadi kepada saya? Waktu itu, saya merasa hidup saya sudah berakhir dan saya tak bakal mencapai potensi yang saya rasa saya miliki. Tapi sekarang, lima puluh tahun kemudian, saya bisa puas dengan hidup saya.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan Stephen, salah satunya adalah keterbatasan tidak menyurutkan impian seseorang, kendala fisik tidak menjadi halangan serius dalam sains. Dengan kelumpuhannya, Stephen Hawking malah semakin berkarya. Dia berburu beasiswa agar bisa membiayai riset dan keluarganya. Beberapa kali diambang kematian tapi dia tetap bertahan hidup. Sesuai judulnya, buku ini bercerita tentang sejarah hidup Stephen, kita akan mengetahui apa yang dilaluinya dulu saat sebelum terdiagnosis ALS sampai dia menjadi ahli fisika teori, membuat buku yang menambah pemahaman kita akan alam semesta.

Buku ini dilengkapi dengan foto masa kecil sampai Stephen menikah dengan Jane dan mempunyai anak. Bagi yang ingin mengetahui sejarah hidup Stephen Hawking secara langsung, buku ini sangat recommended. Saya tidak sabar menamatkan Travelling to Infinity yang ditulis oleh Jane Hawking, melihat kisah hidup mereka dari sudut pandang orang yang dengan tegar mendampingi hidup Stephen ketika mengalami masa-sama yang sulit. Dan tentu saja tidak boleh melewatkan filmnya.
Jika bisa mengerti cara bekerja alam semesta, maka boleh dikata kita bisa mengendalikannya.
3 sayap untuk kisah panjang Stephen Hawking.


4 komentar:

  1. Harusnya udah nonton Theory of Everything dong? ;) Aktingnya Eddie Redmayne keren banget!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada rencana, mau ngelarin Travelling to Infinity dulu :)

      Hapus
  2. Wow Sulis, bacaannya sadesh. Aku nggak gitu suka biografi/autobiografi, tapi melihat buku ini tebalnya cuma 160 halaman, kayaknya gak ada salahnya dicoba. Stephen Hawking gitu loh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku aja juga heran bisa namatin =))
      Nggak ngebosenin sih, soalnya ngak bertele-tele, full colour lagi dan nggak tebal jadi enjoy aja bacanya :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...