Minggu, 01 Maret 2015

Karakter Tokoh Utama | Opini Bareng

Source: 
Hai halo, semoga nggak terlambat ya bikin postingan Opini Bareng ini, selain bulan ini saya males banget ngeblog, saya sempat lupa kalau cuma ada 28 hari, bulan yang sangat singkat dan cepat berlalu :D. Tema kedua untuk Opini Bareng bulan ini adalah mengenai karakter utama, cukup menarik karena menurut saya karakter adalah salah satu poin penting di dalam novel fiksi, sebuah karya fiksi tidak akan menarik kalau tidak ada 'pemainnya'. Karakter bisa menentukan apakah buku tersebut sangat bagus dan wajib dikoleksi atau hanya sebagai selingan dan mudah dilupakan.
Jika ide adalah fondasi, maka karakter adalah roda yang menggerakkan cerita. - Winna Efendi.
Karakter ada tiga jenis; protagonis (yang baik), antagonis (yang jahat) dan karakter pendukung. Tidak ada keharusan apakah karakter utama sebuah buku harus merupakan protagonis, bisa saja sang antagonis yang memegang kendali, tergantung ceritanya tentang apa. Beberapa kali saya menjumpai cerita di mana sang karakter utama adalah orang jahat, seperti The Infamous karya Silvia Arnie, terus apa lagi ya? Saya agak lupa, hehehehe. Seperti tokoh utamanya adalah pelaku selingkuh atau pembunuhan, semacam itulah. Nggak buruk juga, justru kita bisa melihat sisi yang gelap, bisa memahami mereka kenapa bersikap seperti itu, kadang pemeran antagonis tak selalu terlihat jahat.


Sedangkan untuk pemeran pembantu, saya ngak bisa bayangin kalau sebuah buku hanya ada satu karakter atau dua, saya juga lupa apakah pernah menemukan kasus seperti ini. Saya menganggap pemeran pembantu cukup penting, bisa dibilang mereka adalah pemeriah cerita, kadang bisa membantu mengenal lebih jauh akan karakter utama. Tapi jangan sampai side character ini lebih menonjol dari karakter utamanya, menarik boleh tapi saya nggak suka kalau mereka merebut posisi karakter utama karena ceritanya akan menjadi membingungkan.

Untuk karakter utama protagonis, bisa dibilang inilah yang menjadi favorit. Saya pun juga lebih senang dengan karakter yang baik-baik, mungkin karena dunia sudah terlalu banyak diisi orang-orang antagonis jadi pengen menemukan banyak pahlawan :D. Yang baik-baik ini bukan berarti karakternya sempurna, baik fisik dan sifat, NO besar! Ada kalanya saya menyukai karakter yang banyak masalah, hidupnya serasa hancur tapi dia mencoba keluar dari masalah tersebut. Ada beberapa kecenderungan, kalau karakternya cewek, saya lebih menyukai dia banyak masalah tapi tahan banting, feminis. Sedangkan karakter cowok, biasanya saya akan luluh kalau dia sinis, jenius, pendiam, berprinsip show daripada tell. Parasnya bisa rapi atau slengekan, yang jelas dia harus seksi, hot dan minta diajak nikah XD.

Membuat karakter tidaklah mudah, harus kuat, kita sebagai pembaca harus bisa merasakan apa yang dia rasakan, harus bisa membayangkan seperti apa wujudnya sehingga akan kelihatan nyata. Saya menyukai karakter yang banyak masalah karena saya menganggap itu tantangan bagi penulis, karena memang tidaklah mudah, mereka harus banyak riset yang nantinya bisa diterima secara logis, penulis harus menjadi orang lain agar bisa menghidupkan karakter yang dia buat. Cerita yang karakternya banyak masalah, gelap, depresi menurut saya lebih berwarna, karena banyak hal yang bisa diceritakan. Saya bisa juga belajar dari karakter tersebut, bagaimana menyikapi dan menghadapi kalau suatu saat saya mendapatkan masalah yang sama.



Lalu bagaimana dengan karakter yang too good to be true? Yang nggak mungkin banget ada di dunia ini, kalau pun ada pastilah langka. Nggak ada salahnya juga, kadang saya juga menyukainya. Biasanya ini terjadi sama karakter cowok, rasanya semua book boyfriend saya too good to be true, hahahahaha. Mungkin karena nggak ada yang sempurna di dunia ini jadinya sering berandai-andai, berharap mereka ada dan tercipta untuk kita :p. Oh ya, saya juga nggak suka kalau karakter favorit saya meninggal, rasanya nyesek, percuma baca buku beratus-ratus halaman tapi dibagian akhir saya mendapati karakter yang dielu-elukan meninggal, di situ kadang saya merasa sedih.

Seperti apa karakter yang tidak saya suka? Saya nggak suka kalau ada karakter cowok yang berkumis, serius deh, hahahahaha. Geli aja bayanginnya, emang dasarnya saya lebih suka cowok yang brewokan daripada kumisan #kode. Saya nggak suka karakter yang suka selingkuh, kecuali kalau ceritanya memang bercerita dari sudut pandang orang yang selingkuh, itu beda cerita. Misalnya adalah buku Good Fight karya Christian Simamora, kedua karakter utamanya adalah selingkuhan. Yang nggak saya sukai adalah si karakter utama cowoknya selingkuh dari si karakter utama cewek, mereka sudah digariskan saling cinta tapi tetep aja nggak cukup. Itu menunjukkan kalau perasaan mereka nggak kuat satu sama lain. Contohnya adalah Dinner with a Vampire karya Abigail Gibbs. Untuk karakter cewek, kebalikan dari yang saya suka, yang sudah saya jelaskan di atas tadi. Intinya sih nggak menye-menye, saya nggak suka cewek lemah dan pasrah menghadapi cobaan, dia harus kuat.

Yak itulah bahasan sedikit tentang Karakter Utama, bisa juga baca book tag tentang karakter di sini. Share juga dong karakter utama favorit kalian seperti apa? Apakah sama dengan saya atau malah anti mainstream? Sampai jumpa di Opini Bareng berikutnya, tema selanjutnya mengenai alur cerita. See ya :)


4 komentar:

  1. Ciee ngode pengen cowo brewokan XD

    BalasHapus
  2. *oke, mulai numbuhin brewok deh mulai sekarang* #salahfokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, yang nggak brewokan juga suka kok XD

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...