Senin, 08 Desember 2014

[Book Review] Vandaria Saga: Winterflame by Fachrul R.U.N

Winterflame
Penulis: Fachrul R.U.N
Penyusun Ide Cerita: Ami Raditya, Fachrul R.U.N dan Tim Vandaria Saga
Penyunting: Melody Violine
Ilustrator Isi: Staven Andersen, Rama Indra, Robert Tan, Marissa Anastasia, Yohan Power
Ilustrator Sampul: Rama Indra
Penerbit: Artoncode
ISBN: 978- 602-71089-0-5
Cetakan pertama, November 2014
528 halaman
Buntelan dari @melody_violine

Rhys empat tahun lalu melarikan diri sebelum ibu kota Ortheva diserang pasukan Pandora, negeri kaum penyihir bermata dwiwarna di utara. Pengkhianatan dan kehilangan hampir menghancurkannya di tengah jalan. Untunglah sebelum Rhys mati kedinginan di luar kota Porzar, takdir mempertemukannya dengan Algisarra, kemudian Sasha.


Algisarra, gadis bisu berkatana, sanggup menjatuhkan delapan orang bersenjata seorang diri. Sayang kekaguman Rhys kepada Algisarra dibayangi oleh satu kekhawatiran: Algisarra tampak menyimpan rahasia masa lalu yang lebih kelam daripada Rhys.


Sasha memanfaatkan kecantikannya untuk mendapatkan informasi. Dengan cerdik dia memimpin Rhys dan Algisarra menjadi trio pencuri, demi bertahan hidup di kota Porzar yang keji. Tak terduga informasi yang didapat Sasha musim dingin ini malah menjerumuskan mereka ke petualangan berbahaya. Tahu-tahu mereka terjepit dalam konflik berdarah antara Ortheva dan Pandora, juga pencarian senjata legendaris Winterflame.

“Novel Winterflame adalah pintu menuju dunia lain—penuh fantasi, magis, intrik dan kejutan yang terus muncul tak terduga di setiap bagian ceritanya. Buku wajib bagi penggemar fantasi.”
Marlin Sugama, Penulis/Produser online game Inspirit Arena dan serial animasi Hebring

Vandaria Saga: Winterflame adalah novel teranyar Vandaria Saga yang membuka sebuah epik di benua yang belum terjamah dalam buku-buku sebelumnya. Winterflame juga akan hadir dalam bentuk mobile game pada tahun 2015. Untuk membaca novel atau memainkan game Winterflame, kita tidak harus membaca dulu buku-buku Vandaria yang lain.


Kata kunci: fantasi, petualangan, pencuri, senjata legendaris
Rating: Remaja
Urutan: Salah satu buku Vandaria Saga, tapi bisa dibaca tanpa pengetahuan tentang buku-buku lainnya

Benua Acro
Berdasarkan informasi dari seseorang yang bernama Hekaloth, yang katanya mantan anak buah Lonji, Sasha mengajak kedua sahabatnya, Rhys dan Algisarra untuk melakukan pencurian di tempat Geng Lonji, salah satu penjahat terkenal dan terbesar di Porzar, Pelabuhan Cahaya, salah satu kota yang masih bebas dari jajahan Pandora. Motif melakukan pencurian berbeda-beda, Sasha ingin bertahan hidup selama musim dingin, kebutuhan hidup makin sulit ketika perang tidak pernah usai, dia juga ingin membeli rumah, perhiasan atau pakaian untuk mendukung penampilannya. Berbeda dengan Rhys, dia adalah seorang Robin Hood, dia mencuri untuk menolong orang lain yang kesulitan sedangkan Algisarra hanya ingin membantu kedua sahabatnya.

Sasha yang licik bertugas mengecoh penjaga, Algisarra yang tangguh melenyapkan penghalang, Rhys sebagai pemain utama, mencuri harta benda yang mereka idam-idamkan di tempat yang sebelumnya sudah diberikan oleh informan tadi. Tetapi bukannya uang atau barang mewah, Rhys malah menemukan sepuluh lelaki dewasa yang dikurung, mereka akan dijual dan dijadikan budak kepada para framless, kaum penyihir dari Vandaria, sang mata dwiwarna yang datang dari Pandora, makhluk berakal yang paling dibenci di benua Acro. Selama beratus-ratus tahun Pandora menjajah Ortheva, menjadikan perang tak berkesudahan. Terlebih ketika penguasa terakhir Ortheva, Bryssor Dymitrios tewas ditangan anaknya sendiri, Pangeran Vassily. Sang pewaris tahta melarikan diri, menyebabkan banyak kalangan ingin menjadi Bryssor yang baru, perebutan kekuasaan tak terelakan.

Jiwa pahlawan Rhys tidak bisa membiarkan Lonji berbuat setega itu, terlebih menjual mereka kepada para framless dan dikirim ke Alarus, lembah beracun, tidak ada tumbuhan yang bisa hidup, hewan-hewan menjadi ganas, manusia yang tinggal terlalu lama di sana akan menjadi cacat, tidak ada yang bisa kembali kalau sudah berada di sana. Tentu saja Lonji tidak akan tingal diam ketika budak-budaknya dibebaskan, dia memiliki perjanjian dengan framless, apabila gagal mengirimkan budak maka dialah yang akan celaka. Lonji pun mengerahkan kekuatannya, dia berhasil meringkus Sasha, menyebabkan Rhys dan Algisarra menyerah. Sebagai ganti budak yang mereka bebaskan, Lonji mengirim mereka bertiga ke Alarus.

Distrik Kota Tua, Porzar
Distrik Dagang Bawah, Porzar
"Sepengetahuan Rhys, Lembah Alarus awalnya tak berpenghuni hingga para mata dwiwarna mendudukinya enam ratus tahun lalu. Mereka mendirikan tembok ini dan perkampungan di arena lembahnya. Semula tempat ini tidak menarik minat para penguasa manusia. Saat beredar rumor bahwa para mata dwiwarna sedang mengeruk tambang emasnya yang melimpah, seluruh Ortheva pun berbalik mengincarnya."
Kaum framless tidak bisa mengali emas sendiri karena memiliki efek candu dan membuat mereka ketagihan menggunakan sihir sampai membahayakan nyawa sendiri, sehingga mereka sering menculik rombongan atau barter dengan Lonji untuk menjadikan manusia sebagai budak penggali tambang. Begitu sampai di Alarus, Rhys dkk disambut oleh para makhluk bungkuk, saxmor. Para saxmor lah yang sebenarnya tergila-gila akan emas, karena banyak rintangan mematikan yang ada di Alarus, mereka meminta bantuan pemerintah Pandora untuk melanjutkan penggalian. Sebagai imbalan, kaum saxmor memberitahu keberadaan senjata legendaris yang selama ini dicari-cari oleh kaum framless, senjata yang bisa mengakhiri perjuangan dan pemberontakan Ortheva, membuat kaum framless bisa menguasai Acro bahkan Vandaria, senjata tersebut bernama Winterflame.

Winterflame adalah sebuah tombak yang tebuat dari tulang belulang Brythorn Arxellias, seekor naga terkuat dijamannnya. Hanya orang terpilihlah yang bisa memegang Winterflame. Winterflame disinyalir senjata terhebat, karena kekuatanya yang membahayakan senjata tersebut disegel di lembah Alarus. Rhys mengetahui informasi senjata legendaris tersebut dari Dex dan Kiv, dua budak yang cukup bersahabat yang nantinya akan membawa mereka bertemu suku Hyomon, satu-satunya suku mata dwiwarna yang mau membantu Ortheva, yang konon punah menjelang perjanjian damai Ortheva-Pandora. Setelah mengetahui rencana sebenarnya kaum framless, tujuan Rhys tidak hanya melarikan diri dari lembah Alarus, tetapi ingin mencurinya juga.

Pencarian Winterflame tidak hanya menentukan nasip Ortheva, tetapi menguak juga rahasia kelam yang selama ini disimpan oleh Rhys, si tampan baik hati yang jago bertarung, Algisarra yang dingin dan terlihat kejam, yang lebih memilih bisu. Pun dibalik keceriaan Sasha yang ternyata menyimpan sebuah rahasia besar akan dirinya. Menjadikan kawan menjadi lawan, dan sebaliknya.

Tembok Alarus
Tempat Tinggal Suku Hyomon
Dari beberapa buku Vandaria yang sudah saya baca (dan banyak yang masih ditimbun), bisa dibilang Winterflame adalah yang paling bagus, yang paling matang dari berbagai segi, mulai dari dunianya, ceritanya, konfliknya, sejarahnya, karakternya, semua lengkap dan saling berhubungan. Bahkan buku ini diwarnai banyak ilustrasi yang sangat keren, yang menggambarkan dunia Winterflame secara visual dan kaya akan detail, memanjakan mata pembaca. Ah, covernya benar-benar minta dicomot begitu lihat pertama kali, trailer bukunya juga keren, bisa jadi panduan tentang sejarah terciptanya senjata Winterflame. Tidak heran kalau dalam proses penulisannya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Di bagian awal penulis bermain lambat, mungkin selain mengenalkan ketiga tokoh utamanya dan memperdalam karakter mereka, dia juga ingin menunjukkan tempat tinggal Rhys, Porzar dari berbagai sisi. Dari segi fisik kita akan mengenal baik Rhys, Algisarra maupun Sasha, tapi untuk mengetahui masa lalu mereka pembaca harus lebih bersabar karena setelah Porzar, penulis mengajak pembaca berkeliling ke lembah mematikan Alarus. Di sanalah rahasia mereka sedikit demi sedikit mulai terungkap. Setelah itu kita akan berkenalan dengan suku Hyomon yang katanya sudah punah dan ke Kota benteng Krev yang terkenal akan pertahanannya dan tempat para pembunuh gelap bermukim. Selain sejarah Winterflame dan para karakternya yang menjadi favorit, kota-kota di Ortheva juga mencuri perhatian, saya sangat menikmati berbagai detail dunia di Winterflame ini.

Untuk kekurangannya sebenarnya tidak ada, saya sudah punya firasat kalau membaca bukunya penulis yang terkenal sadis ini bukan kisah cinta yang akan didapat tetapi sebuah kisah petualangan. Bukan berarti tidak ada yang manis, saya suka ikatan yang penulis jalin akan persahabatan Rhys, Algisarra dan Sasha, walau tidak sempurna, mereka mencoba saling memiliki, menjadikan keluarga, bahkan ketika mereka mempunyai kesalahan fatal, mereka tetap saling memaafkan dan menerima, ketika menghadapi bahaya, mereka ingin melindungi satu sama lain. Mereka bertiga adalah karakter favorit saya di buku ini. Oh ya, sebenarnya ada kisah cinta sedikit, kisah cinta ini melatar belakangi masa lalu Rhys :p.

Hanya saja ketika pertama kali membaca buku ini, saya langsung terbesit akan buku The Hobbit dan The Lord of The Ring, ada beberapa bagian yang saya rasa memiliki kesamaan, seperti naga, senjata legendaris, bahkan sexmor si makhluk bungkuk penggila emas menginggatkan saya akan si goblin yang menyebalkan. Bagian sexmor dan Monster, makhluk gaib penghuni gua di Alarus ini sebenarnya ingin saya tanyakan ke penulis inspirasi terciptanya darimana ketika melakukan sesi wawancara beberapa waktu yang lalu, tetapi saya lupa #krikkrik.

Bagian favorit saya adalah ketika Rhys dan rombongan sampai ke kediaman suku Hyomon, bertemu dengan Katsura, panglima perang Hyomon dan Laksamana Corra Mardiss, pemimpin kapal-kapal para framless yang menemukan Acro, pemimpin suku Hyomon, seperti angin segar tiba dibagian itu :D. Aksi memperebutkan Winterflame juga tidak bisa dilewatkan. Saya rasa penulis sukses membuat karakter antagonis, buktinya saya sangat sebal dengan Selvarath.

Buku ini bercerita tentang petualangan tiga pencuri mencari senjata yang bisa merubah nasip Ortheva di masa depan, tentang perebutan kekuasaan, tentang persahabatan. Recommended bagi yang mencari kisah high fantasy dalam negeri, nggak kalah keren kok sama produk luar, bahkan sudah punya ciri tersendiri, satu dunia, Vandaria. Bagi pemula yang belum pernah membaca buku-buku Vandaria sebelumnya nggak usah sungkan, buku ini bisa dibaca terpisah dan bisa mengawali petualangan kalian ke dunia Vandaria yang luas. Walau tidak banyak adegan sadis, tetap sebaiknya buku ini dikonsumsi oleh remaja, 13+ lah :D

4 sayap untuk Brythorn Arxellias


Book Trailer:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...