Jumat, 24 Oktober 2014

[Book Review] Moon in the Spring by Hyun Go Wun

Moon in the Spring
Penulis: Hyun Go Wun
Penerjemah: Sitta Hapsari
Penyunting: Selsa Chintya
Penerbit: Haru
ISBN: 978-602-7742-39-0
Cetakan pertama, September 2014
405 halaman
Buntelan dari @penerbitharu

Di malam bulan purnama, seorang dewi terjebak bersama seorang pria berhati dingin dan licik di permukaan bumi.

Dewi Langit, Pria Bumi, lalu Malaikat Kematian….



Apakah wanita itu benar-benar tunanganku?

Pria itu bernama Kang Min-Hyuk, pria berhati dingin dan licik. Ia tidak tampak terkejut ketika tunangannya bangkit dari kematian. Ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada wanita itu. Akan tetapi sesudah kejadian itu, wanita itu terlihat seperti wanita lain. Dan wanita itu tidak pernah bisa hilang dari pikirannya.



Apakah pria itu akan berhasil mengetahui identitasku yang sebenarnya?

Ji-Wan melanggar peraturan langit dan turun ke bumi untuk menggantikan posisi seorang wanita yang meninggal. Di sana, ia bertemu dengan Min-Hyuk, tunangan wanita yang ia gantikan. Sejak bertemu dengannya, Ji-Wan tahu bahwa pria itu adalah orang yang tidak mudah untuk dihadapi. Walaupun begitu, Ji-Wan berniat untuk bisa terus bertahan di dunia manusia… meski ia merasa lelah.


Dal-Hee adalah calon dewi bulan di langit, dia harus menempuh tujuh kali reinkarnasi agar bisa menjadi dewi seutuhnya. Sifatnya yang keras kepala dan bertindak semaunya sendiri, tak jarang membuat kaisar langit murka, Dal-Hee juga tak sabaran, sering kembali ke langit sebelum waktunya tiba ketika dia bereinkarnasi menjadi manusia sehingga menunda gelarnya. Berbeda dengan sang kakak, Hae-Song, sang matahari, dia malah menjadi contoh teladan dan sangat patuh akan peraturan langit. Walau mempunyai kekurangan, ada kelebihan Dal-Hee yang membuat dia selalu dimaafkan, dia selalu jujur dan suka menolong orang lain, contohnya adalah ketika dia berbuat onar sekali lagi. Dia mendengar ada manusia di bumi yang meminta pertolongan, suaranya terdengar sangat putus asa, Dal-Hee tidak bisa membiarkan, dengan gegabah dia turun ke bumi, membiarkan gelarnya tertunda lagi.

Yoon Ji Wan dinyatakan meninggal, tidak ada yang bersedih akan kematiannya, baik ibu dan saudara tirinya, terlebih tunangannya sendiri, Kang Min-Hyuk. Bukannya berduka, mereka malah meributkan siapa yang akan mewarisi perusahaan dan harta peninggalan ayah Ji Wan yang sebelumnya diwariskan kepadanya. tetapi, berselang beberapa saat tiba-tiba Ji Wan sadar. Ada penghuni baru di tubuh Ji Wan, dialah Dal-Hee, calon dewi yang sering berbuat onar. Dal-Hee tidak tahan ketika Ji Wan meminta pertolongannya. Dal-Hee memang sudah melanggar prosedur ketat reinkarnasi dan masuk begitu saja ke tubuh manusia tanpa ijin. Dal-Hee tahu kalau hukumannya kali ini akan jauh lebih berat, tapi dia tak bisa menolak permintaan terakhir Ji Wan, Ji Wan tidak tahan menghadapi tunangannya, dia sangat takut dengan sosok lelaki yang sangat dingin tersebut, lebih baik mati saja. Permintaan terakhir Ji Wan adalah agar Dal-Hee mamanusiakan Min-Hyuk.

Min Hyuk adalah lelaki yang sangat jahat, serakah dan manipulatif. Dia setuju bertunangan dengan Ji Wan karena ingin merebut hartanya, karena Ji Wan adalah tipe wanita penurut. Tidak ada yang meyukai Min-Hyuk, ibu dan saudara tirinya pun juga takut kalau berdekatan dengan dirinya. Memang bukan tugas yang mudah bagi Dal-Hee, Min-Hyuk seperti tak tertolong, dia dingin sekali, membuat orang lain terintimidasi akan kehadirannya. Dal-Hee sudah berjanji akan memenuhi permintaan terakhir Ji Wan, dengan menggunakan tubuhnya, serta bantuan dari Malaikat nomor 2999, Dal-Hee berjuang agar Min-Hyuk bisa menjadi manusia yang baik dan bisa mencintai orang lain.
Setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Begitu pula dengan usia manusia, usia hidup dan mati manusia pun telah digariskan oleh takdir. Akan tetapi bisa juga semua kembali kepada tekad dan niat yang dimiliki manusia itu. Nasib seorang manusia bisa berubah katika ia mau bertarung dengan dirinya sendiri. Namun, semua akan berbeda ketika manusia itu sendiri ingin menyerah menjalani hidupnya.
Saya tidak tahu apakah buku ini retelling dari sebuah dongeng atau cerita rakyat Korea, karena ketika membaca sinopsis dan bagian prolog, saya merasakan buku ini seperti dongeng. Dari segi cerita saya sangat suka sekali, menginggatkan akan salah satu drama Korea favorit saya, 49 Days, di mana ketika tubuh seseorang mengalami koma, jiwanya berkelana, sang malaikat maut memberi sebuah misi agar bisa hidup kembali, dia harus mengumpulkan tiga tetes air mata dari orang yang benar-benar mencintai dirinya, kecuali dari keluarga dalam waktu 49 hari. Yah sedikit mirip dengan misi Dal-Hee, hehehehe.

Dimulai dari bagian yang saya sukai, karakter para tokohnya, hampir semuanya menarik. Saya suka sekali perkembangan karakter Min-Hyuk, perkembangan hubungannya dengan Ji Wan, usaha Dal-Hee untuk memanusiakan dirinya, karena emang beneran kerasa dan prosesnya pun bertahap. Min-Hyuk mulai merasakan perbedaan Ji Wan sebelum dan setelah koma, mulai tertarik, mulai cemburu ketika ada orang yang selalu dekat dengan Ji Wan, kemudian dia tidak ingin jauh-jauh dari Ji Wan. Latar belakang sifatnya yang jahat pun tidak luput diceritakan oleh penulis sehingga kita bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Min-Hyuk, yang menyebabkan ia menjadi sosok yang terlalu kasar dan jahat. Dal-Hee pun tak kalah menyenangkan, dia sosok yang humoris, bagian yang bikin saya mesam-mesem akan tingkah polosnya adalah ketika dia bekerja pertama kali di bioskop dan dia memergoki seseorang menyelonong seenak sendiri memasuki bioskop, padahal orang tersebut adalah pemeran utama film yang sedang ditayangkan, gara-gara insiden tersebut dia dipecat tetapi sang aktor malah mengejarnya.

Walau kelebihan buku ini ada di ide cerita dan karakter, kekurangannya pun tak jauh-jauh dari kelebihan. Cukup banyak tokoh yang bermunculan, yang disayangkan penulis hanya mengekspos beberapa saja, padahal kalau bagian mereka difokuskan ke dalam cerita, buku ini akan lebih berwarna. Saya mengharapkan porsi Hae-Song, sang matahari dan Malaikat nomor 2999 lebih banyak, peran mereka dibuat lebih berarti lagi. Saya bisa sedikit mengerti kenapa penulis menghadirkan sosok Seok-Hwan, sang aktor dan cinta pertama Min-Hyuk, Seo-Yeon ke dalam cerita, penulis ingin menggambarkan masa lalu Min-Hyuk lewat mereka berdua tetapi kehadiran mereka malah menggeser peran Malaikat nomor 2999 yang di awal cukup banyak.
"Pada dasarnya dia bukan orang jahat."
"Iya. Karena tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia begitu buruk."
"Ketika mengkhianati orang yang mencintaimu, kau juga harus tahu kalau kau meninggalkan luka yang sangat dalam."
Untuk covernya, sangat khas Haru, enak dipandang mata, sedangkan untuk terjemahannya, jujur saja saya merasakan kurang luwes, ada beberapa kalimat yang butuh dicerna lebih lama tapi saya masih tetap bisa menikmati buku ini. Buku ini saya rekomendasikan bagi pecinta drama Korea, bagi yang suka fantasy romance.

Buku ini memiliki pesan moral akan betapa buruknya sifat seseorang, bisa diubah pelan-pelan, pasti ada kebaikan di dalam dirinya yang lama kelamaan akan menutupi keburukannya. Buku ini juga mengajarkan kita untuk bisa berdamai dengan masa lalu.

3.5 sayap untuk sang bulan dan sang matahari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...