Minggu, 21 September 2014

[Book Review] Take Me to Your Heart by Yudhita Hardini

Take Me to Your Heart
Penulis: Yudhita Hardini
Editor: Jumali Ariadinata & Yuke Ratna P.
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-746-0
Cetakan pertama, 2014
238 halaman
Harga: 48k (Beli di Gramedia Slamet Riyadi)
Bisa juga dibeli di @bukupediacom

Bagiku, menemukan cinta semudah memecahkan teka-teki yang hanya perlu dihitung dan diukur probabilitasnya. Tak ada kata “menunggu” dalam kamus hidupku.


Namun, ternyata, masih ada perempuan yang percaya akan kekuatan penantian. Baginya, cinta sejati akan datang pada waktu, di tempat, dan kepada orang yang tepat. Lalu, entah bagaimana, aku ikut terjebak dalam sesuatu yang bertahun-tahun tak mungkin kulakukan: menanti.



Aku harus menanti sirnanya memori masa lalu dan rasa perih. Juga menanti kepingan rasa yang dialamatkan hanya pada hatiku. Kini, harapanku hanya satu: semoga menanti sesuatu yang tepat tak akan pernah membuatku kehabisan hari-hari yang pasti. Namun, ragu semakin menyergapku…

"Yang namanya jodoh itu sama aja kayak mesin. Nggak bakalan jalan kalau cuma dipelototin. Nggak bakalan dapat kalau cuma mengandalkan takdir. Harus pakai usaha juga. Lo harus membuka diri, mencari peluang, dan mencoba kesempatan apa pun demi mendapatkan pasangan hidup idaman lo! Love will find you if you try!"
Dina, sahabat Raisa sejak SMA prihatin dengan sahabatnya yang diumur 28 tahun masih saja melajang tanpa alasan jelas, dia menyarankan agar Raisa mendatangi biro jodoh yang cukup terkenal, biro jodoh nomor satu di Jakarta, siapa yang mencari jodoh di sana dipastikan akan langsung ketemu dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menikah. Biro jodoh tersebut cukup eksklusif karena kalau mau menjadi klien harus atas rekomendasi dari mantan klien terdahulu, pemiliknya sangat mementingkan bibit, bebet, bobot. Latar belakang klien di biro jodoh ini jelas, mampu berkomiten, dan berkualitas tinggi. Nama biro jodoh tersebut adalah Dewi Kamaratih, pemiliknya adalah mak comblang nomor satu di Jakarta, professional matchmaker, Irene Ambarwati.

Tingkat keberhasilan Ambar dalam menjodohkan kliennya sangat tinggi, tidak pernah gagal mencarikan pasangan bagi tunaasmara, apabila tidak berhasil garansi uang kembali. Waktu yang dibutuhkan untuk mencarikan jodoh bagi Raisa adalah tiga bulan. Dalam tiga bulan tersebut ada beberapa tahapan yang harus dilalui, salah satu contohnya adalah menganalisis kecocokan klien dan calon pasangan melalui sebuah aplikasi komputer yang didesain khusus oleh Ambar sendiri. Klien-klien yang tingkat kecocokannya paling tinggilah yang akan saling diperkenalkan. Setelah berkenalan dan cocok mereka akan berkencan minimum tiga kali, setelah itu terserah kepada klien apakah ingin melanjutkan hubungan atau minta dijodohkan dengan calon lain yang mungkin lebih disukai. Jadi, rahasia Ambar dalam meraih kesuksesannya selama ini adalah dia bekerja secara logika, bukan dengan perasaan.
"Tidak selamanya perasaan yang kita miliki itu benar. Terkadang, perasaan malah mendorong kita memilih pasangan yang salah. Manusia, kan, sebenarnya hanya memilih sesuatu berdasarkan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang mereka butuhkan."
Sayangnya, aplikasi yang dibanggakan Ambar tidak berhasil pada Raisa, banyak macam calon dengan tingkat kecocokan tinggi yang ditawarkan tetapi dia selalu harus mengembalikan biaya yang sudah Raisa keluarkan. Dua tahun Ambar menjodohkan Raisa tanpa hasil, dua tahun dia frustrasi karena belum bisa menemukan pasangan yang tepat untuk Raisa, dua tahun dia berhadapan dengan klien paling keras kepala di dunia. Raisa cantik dan sangat menarik, bukan sesuatu yang susah menemukan lelaki yang tertarik padanya, masalahnya dia terlalu banyak keinginan dan alasan dia menolak calon yang dikenalkan padanya tidak masuk akal. Sebagai mak comblang legendaris, tentu kasus Raisa adalah sebuah tantangan, nama baiknya dipertaruhkan, hidupnya tidak akan tenang karena Raisa Rahmad menjadi noda hitam dalam kariernya yang cemerlang.
Kalau mengunakan bahasa statistik, Raisa tidak ubahnya sebuah data ekstream di luar kurva normal. Outlier. Penyimpangan. Data anomali yang tipikal dengan data lain sehingga perlu ditransformasi agar dapat dimasukkan kembali ke dalam basis data.
Dan, Ambar sudah punya strategi untuk itu. Strategi yang ia yakini akan menaklukkan sifat keras kepala Raisa, juga membuat kliennya itu akhirnya menyerah. Strategi rahasia yang sudah ia persiapkan sejak satu tahun belakangan ini. Strategi yang ia percaya mampu mengubah Raisa, si Data Anomali, menjadi normal kembali.
Sama halnya Ambar yang dibuat frustrasi oleh Raisa, saya dibuat penasaran akan Yudhita Hardini, ini cerita mau dibawa kemana? Kebiasaan saya membaca buku, terutama romance adalah saya suka sekali menebak jalan cerita, endingnya nanti akan seperti apa, di novel ini penulis benar-benar mengecoh saya. Awalnya saya sempat bosan karena penulis terlalu sering membicarakan biro jodoh, bukan tokohnya sendiri, tidak jarang mengulang kalau keberhasilan biro jodoh tersebut 100%, terlalu panjang pengenalannya. Saya sampai berpikir, please, jangan sampai saya rugi karena beli buku yang nggak sesuai harapan saya, saya sempat sebel karena saking bosannya saya sampai ketiduran.

Saya pikir tokoh utama novel ini adalah Raisa, tapi makin ke belakang fokus cerita berubah menjadi Ambar dengan biro jodohnya, dengan masa lalunya, dengan obsesinya menemukan pasangan untuk Raisa. Cerita yang awalnya saya kira bakalan seperti kebanyakan cerita yang mengambil tema tentang biro jodoh ternyata jauh dari perkiraan saya. Bisa dibilang Yudhita membuat cerita yang orisinil, yang tidak mudah ketebak, yang tidak saya temukan di buku lain. Di saat itulah cerita novel ini berubah menjadi menarik.

Saya menganggap tokoh Ambar lah yang menjadi tokoh utama buku ini. Dia digambarkan seorang perempuan yang tanpa lelah mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan saking seringnya menjodohkan Raisa dan memantau perkembangan perjodohan tersebut mereka menjadi bersahabat. Bagian dia menguntit bersama Bayu, partner kerjanya cukup seru dan menghibur, terutama waktu di bioskop, hehehe. Saking sibuknya mengurus kisah cinta orang lain, Ambar sampai tidak sempat mengurus kisah cintanya sendiri, ada bagian dari masa lalu yang disesali Ambar, ada pengorbanan yang harus dia ambil.
Sedari dulu, Ambar adalah orang yang tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaanya sendiri.
Buat apa? Ambar sudah sering melihat perasaan manusia kerap membutakan seseorang. Membuat orang itu mengambil keputusan yang tidak seharusnya diambil. Perasaan adalah hal yang rumit dan susah diartikan. Perasaan sering kali membuat seseorang tersesat dan menyesal di kemudian hari. Nothing good happens if she follows her feeling.
Buku ini menarik ketika tokoh Bayu muncul, lebih seru lagi kalau bagian Daniel diperbanyak. Saya suka karakter Daniel, dia tipikal cowok playboy yang menyegarkan suasana. Oh ya, saya suka penulis tidak melupakan bagian latar belakang Ambar membuat biro jodoh, bagian di mana dia lebih percaya logika daripada perasaan, alasan utama Ambar selalu menilai sebuah hubungan perlu diperhitungkan dan diukur sejak awal, tanpa dibutakan rasa cinta, kasih sayang dan perasaan yang manusiawi. Ada sebab-akibat konflik utama buku ini. Cukup disayangkan memang penulis terlalu berlama-lama di awal cerita tentang pengenalan biro jodoh, penginnya penulis lebih mengembangkan cerita yang berada di bagian akhir, soalnya lebih seru. Tapi, saya puas sekali dengan ending cerita ini :D.
Cinta terkadang tak cukup kuat membuat sebuah hubungan bertahan.
Cinta terkadang tak cukup kuat mencegah dua orang manusia yang saling mencintai untuk tidak saling menyakiti.
Cinta terkadang berlalu cepat tanpa meninggalkan jejak. Dan, cinta yang menghilang tanpa peringatan itu ternyata menyakitkan sehingga bisa membuat sesesorang merasa begitu kesepian.
Ini adalah kali kedua saya membaca tulisan Yudhita Hardini, setelah saya mencicipi tulisannya yang renyah di Kekasih (saya lupa apakah sudah pernah baca Orang Ketiga, hehehe). Pertama kali membaca tulisan penulis, saya langsung menyukai, gaya tulisannya mirip dengan Ika Natassa dan Nina Ardianti, ceplas ceplos, campur aduk dengan bahasa Inggris, menampilkan tokoh cowok yang playboy, banyak kejutan yang dia sisipkan di cerita. Tulisannya bikin nagih! Setelah membaca buku ini, yang sedikit memiliki kesamaan dengan novella-nya di Kekasih, saya mulai memahami style penulis, dia suka sekali membuat cerita yang mengarah ke sad ending. Bukan cerita yang tokohnya mati sih, tetapi tidak sesuai harapan saya, sering bikin tokohnya patah hati.

Buku ini bercerita tentang seseorang yang menempatkan perasaan setelah logika, yang percaya kalau cinta bisa dikalkulasi.
Perhitungan seakurat dan secanggih apa pun, kalau urusannya terkait manusia, tetap saja hasilnya nggak terduga.
Mungkin inilah definisi jodoh. Someone that you just can't refuse
Yang merasa sebagai tunaasmara, buku ini cocok banget buat kalian baca karena banyak tips tentang kencan pertama, dari mak comblang nomor satu lagi. Oh ya, yang suka menolak perjodohan juga wajib baca buku ini karena nggak ada salahnya kok, serius *ngaca* :D

4 sayap untuk Dewi Kamaratih.


6 komentar:

  1. buku2 gini nih yang disukai anak2 muda :D hehe... *pengalaman* LOL

    BalasHapus
  2. Seru banget kayaknya tuh. Novel soal biro jodoh, aku baru baca di Blind Date (AliaZalea), tapi gak bener-bener fokus di dunia biro jodohnya sendiri. Makin penasaran pengen baca buku ini.

    Btw, quote di awal review itu jleb sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. penggambaran biro jodohnya lengkap banget malah kelengkapan kalo ak lebih suka fokus ke hubungan para tokohnya, makanya di awal sempat bosan :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...