Sabtu, 13 September 2014

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya

Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febiratri
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-721-5
Cetakan pertama, 2014
278 halaman
Pinjam @daneeollie

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.


Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.



Buku ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pria yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi suami. Dan tentang seorang ibu yang membesarkan mereka. Dan tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan, untuk mereka.
Gunawan Garnida tahu kalau hidupnya tidak lama lagi, dia harus meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya, terlebih kedua anak lelakinya yang masih kecil. Maka dari itu, dia membuat keputusan untuk melakukan sesuatu yang nantinya bermanfaat untuk anak-anak mereka, sekaligus panduan bagi sang istri, Itje, menjadi pilot untuk keluarga Garnida. Dengan bermodal handycam, dia merekam setiap pengalaman hidup yang pernah dia lalui. Guna mendampingi pertumbuhan anak-anak mereka kelak, sehingga walau mereka tidak punya Bapak, mereka masih bisa merasakan figur seorang Bapak, mereka akan mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang selalu hadir dalam masa-masa pertumbuhan mereka, melalui kaset video yang direkam-nya.

Ketika ditinggal Bapak, umur Satya masih delapan tahun sedangkan Cakra terpaut tiga tahun dengannya. Bagi mereka berdua, waktu yang wajib mereka habiskan di dalam rumah adalah sabtu sore, apa pun godaanya mereka tidak terpengaruh, padahal hari sabtu adalah hari nongkrong sedunia. Karena sesudah azan Ashar, sang Ibu memperbolehkan mereka memutar video baru dari Bapak. Sabtu bersama Bapak.
"Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat."
"Iya, sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. Mamah tahu itu. Bapak juga gitu, dulu."
Bertahun-tahun kemudian, mereka besar sesuai harapan Bapak, mereka lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Tetapi, walau mereka sukses, ada beberapa kendala yang membuat Itje resah. Saka, nama kecil untuk Cakra, di usianya yang sudah 30 tahun tidak juga menemukan jodoh, dia sampai pusing memikirkan-nya, dijodohkan selalu saja menolak, padahal dia sudah mapan, sudah menjadi bos di bank tempatnya bekerja, mempunyai rumah sendiri, semua tercukupi, hanya satu yang kurang, istri.
Menikah itu banyak tanggung jawabnya.
Rencanakan.
Rencanakan untuk kalian.
Rencanakan untuk anak-anak kalian.
Satya Garnida, dia memang lebih tampan, lebih tegap, tinggi daripada sang adik, yang menjadikan dia playboy di masa muda. Sekarang, di usianya yang 33 tahun dia mempunyai istri dan tiga anak lelaki, mempunyai pekerjaan yang berpenghasilan besar sebagai geophisicist di sebuah kilang minyak dan berdomisili di Denmark. Segalanya sempurna, tetapi kehadirannya setiap kali pulang ke rumah, disambut dingin oleh keluarganya. Dia tidak bisa pulang setiap hari karena lokasi pekerjaanya yang terletak di tengah lautan, komunikasi dilakukan via telepon atau webcam. Satya sangat penuntut, dia ingin segalanya sempurna dengan apa yang dilakukan anak-anak dan istrinya. Nilainya harus bagus, sudah bisa berenang, masakan harus enak, dan bla bla bla. Padahal, Satya tidak ada untuk membantu Rissa, dia seperti orangtua tunggal dan lelah dengan berbagai tuntutan Satya. Pertengkaran terakhir lewat telepon disambung dengan email dari Rissa yang mengatakan kalau tidak perlu pulang ke rumah untuk sementara waktu, karena dia sudah capek, mereka tertekan, setiap pulang selalu marah-marah, anak-anak menjadi takut bila ada Satya.
Dia kemudian mengingat perlakuan ketiga anak kepadanya. Takut berbicara. Takut meminta. Jauh lebih lepas ketika bersama Ibunya.
Saat itu, Satya baru sadar. Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk.
Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.
Saat merasa putus asa itu lah, Cakra dan Satya ingat akan video dari Bapak, yang membuka pikiran mereka dalam hal mencari jodoh, menjadi suami yang baik bagi anak-anak dan istrinya. Dalam menjalani hidup dan menjadi orang yang lebih baik.

Bagi saya, buku ini tanpa cacat, banyak banget pelajaran yang bisa saya ambil lewat peninggalan sang Bapak. Mungkin kekurangannya hanya satu, penulis tidak menampilan semua isi rekaman dari sang Bapak #yakali. Buku ini jauh dari menye-menye, kalau sukses membuat pembaca berurai air mata, saya percaya. Tapi air matanya adalah air mata yang penuh kehormatan. Penulis tidak menampilkan seseorang yang bersedih dan bermuram durja karena ditinggal sang Bapak, tetapi apa usaha terakhir yang dilakukan sang Bapak agar keluarganya tetap merasakan kehadirannya. Dan itu berharga sekali.

Berkat didikan Bapak yang hanya melalui sebuah video, membuat Cakra menjadi seseorang yang penuh rencana. Dia tidak ingin segera menikah kalau dirinya belum siap lahir dan batin. Dia merasa harus mengejar karier terlebih dahulu, belajar agama, menabung dan apabila semuanya sudah siap, dia siap menjadi seorang suami. Lewat bagian Cakra, kita akan sedikit terhibur atau bahkan ngakak-ngakak. Di sini penulis menunjukkan kepiawaian-nya dalam hal komedi. Saat tunjukkan beberapa bagian yang membuat saya mesem-mesem kayak orang yang lupa minum obat.
"Pagi, Pak Cakra."
"Pagi, Wati." Cakra membalas sapa salah satu sales yang duduk tidak jauh dari ruang kantornya.
"Udah sarapan, Pak?"
"Udah, Wati."
"Udah punya pacar, Pak?"
"Diam kamu, Wati." Cakra masuk ke dalam ruangannya dan menyalakan laptop.
"Pagi, Pak," sapa Firman di depan pintu. Dia adalah bawahannya yang lain.
"Pagi. Firman."
"Pak, mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting."
"Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?"
"Mau nginggetin aja, Bapak masih jomblo."
"Enyah, kamu."
Saya sangat terhibur sekali interaksi Cakra dan anak buahnya, dia selalu jadi olok-olokan karena sudah mapan tetapi jomblo, bertahun-tahun pula, selalu ditolak cewek, hahahahahha, apalagi pas bagian e-mail, kocak abis. Tapi, selain banyolan yang sangat melekat pada diri Cakra, saya ajungin jempol buat pandangan dia tentang pernikahan, terlebih waktu ngobrol dengan Ayu di museum. Boleh minta Cakra dibungkus satu, Bang?
'HATINYA! HATINYA!
JEROAN DIJUAL MURAH!
HATINYA, BU! MASIH SEGAR! HATI JOMBLO BU, LIHAT INI BANYAK BEKAS LUKANYA
HIDUPNYA BERAT INI, BU!'
Sedangkan Satya. Dia gelap mata, sejak kecil dia ingin menjadi yang terbaik dan dia ingin anak-anaknya juga sama baiknya dengan dirinya. Tapi cara yang dia lakukan sangat keras dan terlalu menuntut, ketika sang anak tidak bisa melakukan apa yang dia minta, sang istrilah yang dia salahkan. Kemudian dia ingat video dari sang Bapak, dia mulai merenung, apa yang salah dengan dirinya sehingga istri dan anak-anaknya merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Dengan waktu yang tidak banyak karena tidak setiap hari pulang ke rumah, kalau pas weekend saja, dia ingin menebus semua yang terlewat oleh dirinya.

Kalau kisah Cakra diperuntukkan bagi para jomblo yang ingin mencari pasangan sejati, kisah Satya lebih banyak mengandung unsur parenting, bagi yang sudah berkeluarga. Sumpah, ini bermanfaat sekali dan sama sekali tidak membosankan atau mengurui, pesannya dengan mudah bisa kita pahami. Dengan berbekal video dari sang Bapak, Satya pun mendidik anaknya sama seperti dia mendapatkan pelajaran dari Bapak. Misalnya pentingnya meminta maaf, menjadi anak sulung, berani melawan kejahatan walau akhirnya kita menjadi babak belur, dan masih banyak lagi. Bagian Satya ingin menebus kesalahan untuk istrinya, bikin terharu.
Mendiang Bapak telah mengajarkan pada anak-anaknya dalam sebuah posting, bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan. Satya tidak mau istrinya berpikir dia punya suami seperti itu.
She deverse better.
Bagian Itje, ibu dari anak-anak yang mengagumkan ini, saya salut akan prinsipnya yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya, bahkan di saat dia benar-benar butuh orang lain. Ada kata-kata dia yang membekas sekali, ketika ingin mencarikan jodoh untuk Cakra. Rumusnya ini bisa dicontoh oleh para calon mertua!
Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang.
Berikut adalah bagian yang sangat saya suka, cukup banyak quote yang saya suka di buku ini, kalau buku sendiri percaya deh sudah penuh dengan tempelan post-it, hampir setiap halaman ada saja bagian yang saya suka. Buku ini bikin boros!
"Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan."
...
"Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adik-adiknya.
Menjadi panutan adalah tugas orangtua-untuk semua anak."
"Harga diri kita, datang dari akhlak kita.
Anak yang jujur.
Anak yang baik.
Anak yang berani bilang 'Saya benar' ketika benar.
Anak yang berani bilang 'Maaf' ketika salah.
Anak yang berguna bagi dirinya,
dan orang lain."
"..."
"Harga diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar.
Bukan dari barang'orang luar, berdampak ke dalam hati."
"Kalo saya..." Cakra terdiam lama. "Kalo saya, saya gak akan mencari perempuan yang melengkapi saya."
"Kata Bapak saya... dan dia dapat ini dari orang lain. membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu."
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain." 
"Laki, atau perempuan yang baik itu, gak bikin pasanganya cemburu.
Laki, atau perempuan yang baik itu... bikin orang lain cemburu sama pasangannya." 
Udah ya, kalau saya lanjutkan lagi bagian atau quote yang saya suka, bisa-bisa saya menuliskan semua isi buku ini. Penulis lihai sekali, di saat dia membuat kita megap-megap karena tangis, dia akan menyembuhkannya dengan tawa.

Buku ini adalah salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini. Banyak banget pelajaran tentang berkeluarga yang saya dapat dari membaca buku ini, baik menjadi seorang anak, calon istri dan calon ibu. Terlebih, buku ini wajib dibaca oleh semua cowok, agar menjadi Bapak idaman baik bagi anak dan istrinya kelak. Walau status buku ini pinjam, saya berjanji kok akan beli sendiri karena buku ini benar-benar wajib punya, suatu saat bisa saya pinjamkan kepada calon suami masa depan, agar dia siap, agar dia merencanakan masa depan kami. Atau, lebih baiknya dia sudah membaca buku ini :D.

Buku ini baiknya dibaca yang sudah berusia tujuh belas tahun ke atas, karena ada pelajaran bagi suami istri, obrolannya cukup dewasa :).

5 sayap untuk bandit asmara.

18 komentar:

  1. Aaaah Sulis. Baca review ini bener-bener pengen beli bukunya!

    Caranya Cakra perlu dicoba tuh. "Pan, kapan kawin?" | "Enyah kamu!"

    LOL.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo beliiiiiii
      tapi, kalau orangtua yang tanya kejam juga jadinya XD

      Hapus
    2. Wakakakak. Jadinya gak sopan banget ya. ^^

      Hapus
    3. Kena tabok, iya, malah =))

      Hapus
  2. saya juga saluuuttt banget sama gambaran sosok Bu itje mbak... kereeenn :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rosa udah baca? Pengen baca reviewnya nih :)

      Hapus
  3. salah satu buku yang belom sempet kebeli nih -.-

    BalasHapus
  4. masuk wishlist nih kak dan makin kepincut setelah baca review kak sulis :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hore, semoga nanti juga suka ya :)

      Hapus
  5. menarik mbak bukunya.. dan udah di film kan ya novelnya.. judul filmnya Sabtu Bersama Bapak..asyik nonton filmnya atau baca novelnya ya mbak? biasanyanya baca bukunya lebih rinci ceritanya..lihat yang mana bisanya saja..makasih reviewnya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum nonton jadi nggak tahu, formula yang sama tapi beda rasa, jadi tergantung suka yang mana :)

      Hapus
  6. Mau beli novelnya blm sempet juga. Udah mau difilmkan aja. Moga2 bisa nonton film ini bareng keluarga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau versi buku agak dewasa tapi kalau difilmin mungkin targetnya bisa untuk remaja :p

      Hapus
  7. nyesal ! nyesal baru baca ni novel. haha. pas udah difilmkan baru tertarik,
    nice review kak :D

    www.katamahdi.wordpress.com

    salam book blogger // masih pemula :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo salam kenal juga, nggak ada kata terlambat kok :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...