Senin, 01 September 2014

[Book Review] Casablanka by Dahlian

Casablanka (STPC ke-2 #2)
Penulis: Dahlian
Editor: Yooki
Desain sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-712
Cetakan pertama, 2014
336 halaman
Pinjem @destinugrainy

Pembaca tersayang,


Ambil petamu dan bentangkanlah. Dahlian, penulis "Promises Promises" dan "Andai Kau Tahu", akan mengajak kita berkunjung ke Casablanca, salah satu kota eksotis di Maroko.


Temui Vanda di lobi sebuah hotel. Dia bimbang dengan rencana pernikahannya dan ingin menenangkan diri, jauh dari Jakarta. Pertemuan berkali-kali dengan seorang pria Indonesia bernama Laz mengganggu pelariannya. Namun, kegigihan pendekatan Laz membuat Vanda luluh, dan memberinya kesempatan untuk sekadar berteman.

Di tengah-tengah itu, sang tunangan datang dan mendesaknya pulang. Keadaan semakin genting ketika Laz mendadak muncul di antara mereka berdua. Vanda harus segera mengambil keputusan. Di manakah hatinya tak lagi bimbang; pulang ataukah tetap berada di kota yang diam-diam memberinya hangat dalam bincang akrab?

Setiap tempat punya cerita. Dihembus aroma angin Mediterania, ada rahasia yang segera terkuak.


Enjoy the journey,

Editor

Saya merasakan perbedaan yang terlalu mencolok dalam serial Setiap Tempat Punya Cerita season ke-2 ini daripada season yang pertama, dari segi kualitas khususnya. Entah ya, dari ketiga nama penulis yang ikut andil dalam serial ini, nama Dahlian lah yang paling familier melihat saya hampir membaca semua bukunya dan termasuk penulis yang bukunya saya tunggu-tunggu. Dari segi negara yang diambil pun sebenarnya lebih menggoda untuk dibaca, cukup asing ditelinga dan jarang disorot. Sayangnya, sama halnya dengan Athena, saya tidak puas ketika menutup buku. Entah.

Vanda tidak yakin dengan rencana pernikahannya dengan Rommy, laki-laki tersebut memang baik, jelas-jelas mencintainya, hanya saja Vanda merasa bukan dialah yang tepat, di hatinya masih ada rasa akan teman sekolahnya dulu, Ardi, baik rasa bersalah dan rasa cinta. Sayangnya dia kehilangan jejak, tidak pernah bertemu lagi pasca insiden yang mempermalukannya. Ibu dan adiknya malah menambah beban karena ingin dia segera menikah. Keputusan ekstrem pun diambil, dia pergi ke Casablanka untuk menjernihkan pikiran, memikirkan kembali akan rencana pernikahannya.
"Semua manusia pasti punya hati -sekecil apa pun itu. Mengakui atau nggak, pasti punya rasa bersalah setelah menyakiti orang lain. Dan, rasa bersalah nggak akan pernah bisa terhapus waktu."
Laz, dia patah hati ketika pacarnya memberitahu kalau dia akan menikah dengan bosnya. Padahal, Laz sudah menyiapkan cincin pernikahan. Melihat tidak akan ada harapan lagi, Laz akhirnya menyerah dan bersiap untuk meninggalkan negara yang meremukkan hatinya. Tapi, dia melihat seseorang di hotel tempatnya menginap. Rencananya berubah.
"Kamu pernah dengar filosofi lili?"
Vanda menggeleng.
"Lilin selalu menerangi sekitarnya, tetapi dia mengahncurkan dirinya sendiri. Kamu mau seperti itu?"
Laz mulai mendekati Vanda, selalu membuntutinya. Vanda yang gerah karena tidak ingin berhubungan dengan orang asing yang seperti ulet bulu itu, walau dia sama-sama dari Indonesia tetap saja Vanda merasa terganggu. Dia datang ke negara yang jauh dari Indonesia untuk menenangkan diri, mencari pencerahan. Ketika Laz berhasil mendapatkan kepercayaan Vanda ketika menolongnya, rencana untuk menggagalkan pernikahan Vanda semakin sukses, demi dendam masa lalu.
"Jodoh itu seperti sepatu. Sejak awal dibuat, sudah ditentukan pasangannya. Itulah jodoh sejati. Jodoh yang hanya akan dipisahkan oleh maut."
Ceritanya gampang sekali ketebak dan bisa diprediksi. Saya selalu merasa gaya cerita dan tulisan Dahlian sedikit mirip dengan Christian Simamora, hanya saja dia lebih kalem, saya nggak melihatnya di buku ini. Saya kehilangan ciri khasnya. Konflik utamanya walau bisa dibilang tidak wah tetapi cukup menarik. Penulis ingin menghadirkan sosok antagonis yang bisa dicintai pembaca, sayangnya gagal.

Laz memang digambarkan sosok yang nggak loveable, liciknya dapat, tapi saya nggak bisa mendapatkan chemistry antara Laz dan Vanda. Saya nggak bisa menyukai Laz. Tidak ada bagian yang memorable di buku ini, berasa lewat saja semua ceritanya. Bahkan saya nggak bisa jatuh cinta dengan kota Casablanka. Semoga saja buku Dahlian selanjutnya lebih bagus. Oh ya, saya suka tulisan Dahlian ketika berkolaborasi dengan Gielda Latifa.

2.5 sayap untuk lift akuarium di Marocco Mall.


2 komentar:

  1. Belum pernah baca karya Dahlian. Kalau memang gayanya mirip2 Christian S, harusnya bakalan jadi favoritku nih. Tapi kayaknya bukan yang Casablanca yah. Kira2 bukunya yang terbaik menurut Ibu Peri apa aja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling recommended sih Promises, Promises; The Pilot's Woman, After Office Hours, selamat mencoba :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...