Rabu, 13 Agustus 2014

[Book Review] Daisuki Da Yo, Fani-chan by Winda Krisnadefa

Daisuki Da Yo, Fani-chan: Cinta Akan Indah pada Waktunya
Penulis: Winda Krisnadefa
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Desainer sampul: Windu Tampan
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-1637-36-4
Cetakan I, Juni 2014
300 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan

Fani


Aku sama sekali tak punya keinginan untuk kembali bekerja di hotel, sejak job training-ku di masa kuliah dulu. Ada sesuatu yang membuatku tak pernah ingin kembali ke hotel, sebagai tamu, apalagi sebagai pekerjanya. Terlalu sakit untuk mengingatnya kembali. Nama Lana dan Ogi kembali mengangguku. Kupikir aku sudah bisa melupakan kejadian itu. Yang jelas, untuk sekarang ini dan entah sampai kapan, aku tidak mau terlibat hubungan cinta, whatsoever! Lho? Kok jadi ngomongin cinta? Argh! Lupakan!



Tanabe

Saya suka Fani-chan. Dia cantik dan pintar. Tapi entah kenapa, sulit sekali membuatnya terbuka tentang perasaannya pada saya. Dia seperti menahan sesuatu dalam hatinya. Saya tahu dia juga menyukai saya, tapi mengapa begitu berat mengungkapkan itu pada saya? Padahal saya sudah begitu jujur dan terbuka. Ini membuat saya terus bertanya-tanya. Ada apa dengan kamu, Fani-chan?

Mempunyai masa lalu kelam yang berhubungan dengan hotel ketika mengikuti job training, Fani berjanji tidak akan menjadi pengunjung atau pekerja di sana, dia pun memilih menjadi seorang resepsionis di sebuah perusahaan Jepang yang berada di Indonesia, Misako and Co., Ltd. Fani juga enggan mempunyai sahabat lagi, terakhir kali mempunyai sahabat malah menorehkan luka yang dalam. Fani juga tidak ingin jatuh cinta, hanya menambah rasa sakit di hati saja.

Fani tidak menyadari kalau di tempat kerjanya semua yang dia hindari mau tidak mau malah dia temukan lagi. Fani mempunyai teman kerja yang ramai, Anis atau biasa dipanggil Onis. Dia pribadi yang santai, cerewet, suka dandan dan mata duitan. Sering sekali dia mengencadi klien atasannya yang sesama orang Jepang, padahal dia sudah punya pacar. Fani hanya bisa pasrah melihat tingkah laku Onis, mereka sama-sama melindungi dalam hal pekerjaan, dan ketika Onis mengalami masalah, Fani rela berkorban demi dirinya.

Penampilan Fani yang biasa saja dan cenderung pendiam menarik perhatian bosnya, Mister Tanabe. Beberapa kali Tanabe-san mengajak Fani bertemu, sekedar makan siang misalnya tapi Fani terus saja menghindar. Fani belum siap untuk jatuh cinta lagi dan dia tidak ingin terjadi kisah cinta antara bos dan bawahan, cukup melihat kisah Onis saja sudah cukup.  Ketika Fani mulai melihat keseriusan dari Tanabe-san, lelaki berkebangsaan Jepang tersebut malah percaya dengan apa yang tidak Fani lakukan, perbuatan yang mencoreng nama presusahaanya. Daripada mengulang masa lalu, Fani memulih mundur.

Bisa dibilang ada dua cerita di buku ini, yang pertama masa sekarang dengan sudut pandang orang pertama, Fani sebagai naratornya dan cerita kedua adalah masa lalu Fani dengan kudua sahabatnya dengan sudut pandang orang ketiga. Cerita selang seling dari masa sekarang ke masa lalu. Konflik cerita di masa sekarang sebenarnya lebih kepada Onis, saya seperti melihat Fani hanya sebagai penonton drama keidupan Onis di mana mempunyai ending yang tidak mengenakan dengan kisah masa lalunya. Fani tidak ingin mengulang kejadian masa lalu, yang mengahancurkan sahabatnya. Fani memilih biarkanlah dia yang menjadi korban asalkan orang yang disayang tidak menderita.

Kekurangan dari buku ini adalah penulis tidak fokus ke hubungan Fani-Tanabe tetapi malah banyak bercerita tentang Onis, melupakan sang tokoh utama, bisa lah cerita Onis sebagai pendamping tapi saya berharapnya tetap Fani yang mempunyai konflik utama, bukan pemeran pembantunya. Sebenarnya konflik masa lalu Fani bisa dibawa ke masa sekarang, dikembangkan menjadi cinta segitiga. Memang ada pemecah masalah di konflik masa lalu tetapi cepat sekali, padahal itu bagian yang saya tunggu-tunggu melihat saya cukup penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan persahabatan mereka bertiga. Selain itu sedikit sekali bagian Fani-Tanabe sehingga chemistry mereka berdua tidak terasa. Walau memakai orang Jepang sebagai tokohnya, penulis tidak banyak menyisipkan kebudayaan mereka, hanya sebatas sifat-sifat orang Jepang yang disuguhkan, misalnya mereka menuntut kedisiplinan dalam bekerja.

Buku ini bercerita tentang bagaimana berdamai dengan masa lalu, bagaimana memaafkan diri sendiri dan orang lain, bagaimana memahami sifat orang yang berkebalikan dengan kita. Buat yang pengin baca cerita cinta yang sedikit agak melow, buku ini bisa menjadi pilihan :)

2.5 sayap untuk Tanabe-san.


2 komentar:

  1. Punya bukunya yang diberikan langsung sama penulisnya, mak Winda, tapi brlum sempat baca. Jadi makin penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga nanti suka mbak, sebenarnya konflik yg disuguhkan menarik hanya saja chemistry kedua tokoh utamanya saya nggak dapat :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...