Sabtu, 12 Juli 2014

[Book Review] Prodigy by Marie Lu

Prodigy (Legend #2)
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Lelita Primadani
Penyunting: Dyah Agustine
Desain sampul: Windu Tampan
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-979-433-806-3
Cetakan 1, Agustus 2013
468 halaman
Buntelan dari Dyah Agustine

Setelah berhasil meloloskan diri dari eksekusi publik, Day yang ditemani oleh June lari ke Las Vegas. Mereka memerlukan bantuan Kelompok Patriot untuk menyembuhkan luka tembak di kaki Day, menemukan Eden, serta menyelundup ke Koloni. Sebagai balas budi, Day dan June harus membantu menyulut pemberontakan rakyat Republik dan membunuh Elector yang baru, Anden. June bersedia melakukan apa pun demi Day, namun instingnya mengatakan bahwa Anden tidaklah sekejam Elector sebelumnya dan rencana pembunuhan ini adalah sesuatu yang salah. Selain itu, ada yang mencurigakan dalam diri Razor, pemimpin Kelompok Patriot. June berusaha membuat Day sepaham dengannya, tapi Day sudah terlanjur digelapkan oleh amarah pada pemerintahan Republik.


Dalam dunia yang kacau balau ini, masing-masing pihak berpegang teguh pada apa yang mereka yakini. Pihak manakah yang pada akhirnya akan menang? Berhasilkah June meyakinkan Day untuk menyabotase rencana pembunuhan Elector? Dan setelah semua ini berakhir, dapatkah June dan Day tetap bersama?



PRODIGY adalah sekuel dari novel LEGEND yang telah berhasil menjadi New York Times bestseller.

Setelah lolos dari hukuman mati, Day bersama June menumpang sebuah kereta menuju ke Las Vegas untuk mencari Kelompok Patriot. Mereka masih membutuhkan bantuan para pemberontak tersebut, selain untuk menemukan Tess, Day perlu menyembuhkan kakinya, menemukan Eden dan June ikut apa pilihan Day. kelompok Patriot menolong dengan pamrih, harga mereka tidak cuma-cuma, sebelumnya June membayar Kaede, salah satu kelompok Patriot untuk menolong Day kabur dari eksekusi, kabur dari Los Angeles, tetapi tidak membawa serta ikut ke Las Vegas. Dulu Day selalu menolak ketika diajak bergabung dengan Kelompok Patriot, dia lebih suka bekerja sendirian. Sekarang June tidak punya apa-apa lagi, terlebih Day, mereka adalah buronan paling dicari di Republik tanpa sepengetahuan masyarakat. Di mata masyarakat Day sudah meninggal dan June menghilang.

Penyamaran Day dan June berhasil menarik perhatian kelompok Patriot di kota yang penuh dengan tentara, Kaede mengajak mereka bertemu dengan pimpinan Patriot, Razor. Razor sendiri adalah orang dalam di militer, salah satu komandan di Republik, pejabat yang berkhianat. Tujuan utama membentuk kelompok Patriot adalah mereka ingin menyatukan Republik dan Koloni menjadi Amerika Serikat seperti dulu kala, mengembalikan kejayaannya. Cara kerja mereka adalah mengamati dan merekrut orang-orang yang mempunyai keahlian khusus, misalnya saja Kaede merupakan pilot yang sangat handal, bergabung setelah dikeluarkan dari Akademi Zeppelin di Koloni Razor pun membuat penawaran kepada Day dan June, dia akan menyembuhkan luka kaki Day, mencoba menemukan Eden bahkan akan membantu kabur sampai Koloni kalau perlu, dengan syarat, mereka akan membantu kelompok Patriot untuk membunuh Elector Primo yang baru.
Aku tak sanggup kehilangan dia. Aku terus berkata pada diriku bahwa aku butuh Day untuk alasan-alasan sederhana -saat ini kami hanya punya sedikit peluang untuk bertahan hidup sendirian, dan kepandaiannya melengkapi kepandaianku.
Anden Stavropoulos, putra dari Elector Primo, di usinya yang masih sangat muda, awal dua puluhan menggantikan posisi ayahnya menjadi Elector Republik yang baru. Dia dianggap masih bocah, sangat tidak disukai oleh para Senator, mereka beranggapan di bawah kekuasaanya Republik akan melemah, sangat rapuh, tidak seperti waktu di pimpin oleh ayahnya yang cenderung otoriter. Oleh karena itulah ini waktu yang tepat untuk melancarkan revolusi terhadap Republik. Dengan kemampuan yang Day miliki, di mana tidak dimiliki buronan lain; ketenaran, juara di hati orang-orang dan June, orang terpandai di Republik.

Anden pernah bertemu sekali dengan June dan dia sangat terpesona, bahkan ada kabar kalau June dicalonkan menjadi Princeps Senat selanjutnya, Pemimpin Senat, partner dalam memerintah dan kadang calon istri. June bertugas menjadi orang yang dekat dengan Anden, memberitahunya kalau kelompok Patriot akan mencoba membunuhnya, membuat perhatian semua orang teralih pada rencana palsu tersebut, baru kemudian menyerang Republik. Tujuannya bukan hanya membunuh Anden, tetapi membuat warga ikut melawannya sehingga rezimnya berakhir. Dengan revolusi, Republik akan hancur, kekuasaan akan diambil Koloni, dibangun untuk menjadi Amerika Serikat lagi.

Sejak awal June mencurigai Razor, ada yang tidak beres dengan motifnya, dia yakin ada orang dalam yang membantu dia melaksanakan tujuannya, menggulingkan pemerintahan Elector. Di lain pihak, setelah mendapatkan kepercayaan dari Anden, June menyadari walau dari segi tampilan Anden sangat mirip dengan ayahnya, tapi cara pandang dalam memimpin sebuah negara sangat berbeda. Anden tidak ingin memerintah seperti ayahnya, dia ingin menghilangkan Ujian, menciptakan hukum-hukum baru yang radikal, cara berpikir dan keputusan-keputusannya dalam menyelesaikan suatu masalah sering kali tidak disukai Kongres serta Senator. Di tengah-tengah pemberontakan yang memanas, June memberi sinyal kepada Day untuk mengenal siapa lawan, siapa kawan yang sebenarnya.
Seharusnya Ujian diadakan untuk mendorong kerja keras dan fisik yang atletis demi memproduksi lebih banyak orang berkualitas militer -dan berhasil. Tapi, Ujian juga digunakan untuk menyingkirkan yang lemah -juga yang berjiwa pemberontak. Dan secara berangsur-angsur, Ujian juga digunakan  untuk mengendalikan kelebihan populasi.
Untuk pertama-tama, saya akan komentar tentang covernya :p. Walau masih lebih suka dengan cover aslinya yang wah, cover kedua tidak terlalu mengecewakan, setidaknya cukup sesuai dengan isi buku kedua di mana June memang lebih berperan penting, sang jenius Republik, sang Prodigy.

Kalau masih bingung dengan dunia dystopia buku Legend, maka di buku inilah kita akan mendapatkan pencerahan, setting ceritanya lebih kuat dan jelas. Di buku pertama hanya menceritakan tentang Republik, maka di buku ini kita akan mengenal negara di sebelahnya, yang dulu pernah menjadi satu kesatuan yaitu Koloni. Walau nggak dikupas tuntas tentang negara tersebut, setidaknya kita akan mendapatkan gambaran singkat kalau Koloni lebih maju daripada Republik, rakyatnya lebih sejahtera, negara tersebut lebih seperti kawasan bisnis daripada Republik yang kental akan militer. Penulis juga menceritakan sejarah Republik terbentuk, sistem Ujian yang digunakan untuk merekrut tentara, bahkan kelompok Patriot. Bukan itu saja, di buku ini kita akan mendapatkan banyak kejutan yang tak akan pernah terbayangkan :D.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih mencokol di buku pertama kita akan mendapatkan jawabannya di buku kedua ini, misalnya saja kasus kematian Metias, di Legend kita mendapatkan analisis kematian dari June, maka di Prodigy kita akan mendapatkan kisah yang sebenarnya. Bukan hanya setting ceritanya saja yang menguat, baik dari karakter maupun konflik mengalami perkembangan. Oh ya, di Legend ini digambarkan kalau Afrika dan Antartika menjadi negara adidaya, bahkan Antartika menjadi pusat teknologi dunia.

Dari karakter, di buku ini June lebih bersinar daripada Day. Dengan kepandaian dan berbagai latihan militer yang pernah dia emban, June lebih berhati-hati dalam bertindak, mengambil keputusan, selalu menganalisis terlebih dahulu, sedangkan Day sering ragu, mana yang harus dipercaya? Day malah terlihat lemah, tidak lincah seperti sebelumnya. Kemudian dari segi konflik, konflik di sini ada dua, kisah percintaan dan konspirasi di pemerintahan. Di Prodigy muncul banyak tokoh baru, semua berperan penting dan porsi mereka pada tempatnya. Day sering mempermasalahkan status dirinya dengan June. Dia selalu merasa tidak serasi, tidak cocok dengan June yang mana keturunan orang elite, bukan seperti dirinya yang berasal dari kaum kumuh dan menghabiskan hidup di jalanan. Padahal June tidak pernah mempermasalahkan, kadang sifatnya yang tidak bisa basa basi sedikit menyinggung perbedaan mereka, misalnya saja June tidak mau menerima roti kering pemberian Day waktu pelarian mereka. Kemudian ada Tess yang menganggap Day bukan seperti kakaknya, ada perasaan lebih untuk Day. Sedangkan Anden, dengan sopan dia mengirimkan sinyal kalau tertarik pada June, June pun menyadarinya tapi di hatinya hanya ada Day. Konflik kedua, berbagai konspirasi menyulut perang di Republik. Tidak perlu saya ceritakan lebih lanjut ya :D.

Bagian yang paling saya sukai adalah ketika June mengawal Anden, di mana Patriot akan membunuh Anden. June memberi isyarat kepada Day agar mundur, Day tahu kode yang diberikan June, sempat membuat dia ragu tapi dia mempercayai June. Kemudian terjadi berbagai ledakan. Bagian tersebut sangat seru sekali. Sepertinya penulis tetap menjaga ritme tulisannya layaknya di Legend, masih sama, dengan mengunakan sudut pandang orang pertama lewat June dan Day secara bergantian, alurnya maju mundur, cepat tapi tidak terkesan buru-buru, kita membacanya jadi ikutan deg-degan dan nggak bosan. Endingnya bikin mencak-mencak ke penulis :p

Buat pecinta Legend dan yang menggandrungi serial dystopia, wajib baca buku ini.

4 sayap untuk sang Prodigy.

Legend Series:

  1. Legend
  2. Prodigy
  3. Champion

4 komentar:

  1. Teknik ngereviewnya komplit ta...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  2. covernya... I agree with you.. Tapi terpaksa dibuat seperti itu agar sama nuansanya serupa dgn buku pertama :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk cover kedua ini nggak terlalu mengecewakan kok, mbak, untung aja modelnya cantik :p

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...