Rabu, 04 Juni 2014

[Let's Talk] Negative Reviews


Semua penulis pasti ingin karyanya disukai oleh para pembaca, tapi layaknya manusia biasa, kita nggak bisa nyenengin semua orang, pasti ada aja yang suka dan nggak suka dengan apa yang kita lakukan, dalam hal ini mengenai karya kita. Bagi blogger buku, mereview adalah wadah bagi pembaca untuk curhat, menceritakan kembali apa yang kita dapat lewat tulisan, pendapat kita tentang buku yang baru saja dibaca. Selain cerita, poin penting dalam mereview adalah apa kekurangan dan kelebihan buku tersebut. Kalau kekurangannya lebih banyak daripada kelebihannya, orang yang nggak sependapat dengan kita mengganggap kalau review yang kita buat adalah Negative Reviews.

Negative reviews saya analogikan seperti negative campaign dan black campaign. Negative campaign berlandaskan fakta yang ada sedangkan black campaign belum tentu isu yang ada itu benar adanya, nggak ada pertanggungjawaban sama sekali. Begitu juga dengan negative reviews. Negative reviews bukan bermaksud menjatuhkan penulis agar karyanya tidak laku di pasaran, negative reviews sendiri hanya memaparkan fakta yang ada, menjelaskan dengan detail kenapa buku tersebut banyak kekurangangannya, bukan hanya bilang pokoknya nggak suka titik (kalau ini saya sebut sebagai Bad Reviews, sinonimnya Black Campaign :p). No no no, negative reviews nggak senaif itu.


Menurut saya tipe pembaca itu ada dua, pembaca yang hanya ingin menikmati cerita dan pembaca yang detail. Pembaca yang hanya ingin menikmati cerita ini maksudnya adalah pembaca yang tidak memperhatikan hal lain selain ceritanya itu sendiri, misalnya adanya typo atau salah cetak, terjemahan yang kurang mulus, itu nggak jadi masalah, yang penting ceritanya, kalau bagus ya suka kalau jelek ya nggak suka. Sedangkan pembaca yang detail itu semua hal diamati, baik cerita, alur, karakter, penulisan; tanda baca, konsisten tidak (misalnya bagian awal diceritakan kalau ada balon berwarna biru, tapi di belakang berubah menjadi balon berwarna pink), salah ketik atau typo, bahkan kadang ada kosa kata yang nggak sesuai KBBI dia tahu, semua komponen dia sorot. Untuk blogger buku, kebanyakan adalah pembaca yang detail, seperti yang saya katakan tadi, kekurangan dan kelebihan adalah poin yang paling penting selain ceritanya sendiri.

Selera memang berpengaruh besar, kalau sudah menyangkut itu artinya sudah harga mati. Saya pernah menghadiri sebuah talkshow buku, dalam talkshow tersebut ada yang bertanya bagaimana sikap penulis kalau ada pembaca yang merating jelek bukunya? Lalu dia menjawab kalau itu tidak masalah karena dia tahu dia bukan pembaca bukunya jadi lumrah aja kalau nggak suka dengan karyanya, bisa saja dia nggak suka genre yang ditulisnya. Ini ada benarnya, kalau kamu nggak biasa baca genre yang nggak kamu banget maka kamu akan susah suka dengan bacaan baru tersebut, ini saya alami sendiri, emang nggak selalu tapi mayoritas. Misalnya saja, saya susah ngasih rating buku non romance dan fantasi lebih dari 3 sayap kecuali buku tersebut benar-benar membuat saya nggak bisa tidur tiga hari tiga malam. Ya karena nggak makanan kita sehari-hari, butuh waktu untuk belajar suka. Kemudian berdasarkan penulis favorit, yang namanya fans garis keras mau penulisnya nulis tulisan sekacrut apa pun dia masih bisa menerima, paling minimal ngasih rating 3. Ini juga berdasarkan pengalaman saya sendiri, nggak peduli reviewer lain merating buku dari penulis favorit satu bintang, kita tetap suka. Balik lagi dengan selera dan pembaca bukunya :D.

Apakah saya pro dengan Negative Reviews? Absolutely Yes. Karena negative reviews nggak selalu berarti buruk, negative reviews bisa menjadi editor gratis bagi penulis karena dia tahu kekurangan apa yang terlewatkan, sebagai masukan agar karyanya selanjutnya lebih baik lagi, belum tentu juga menjatuhkan penjualan buku, bisa jadi malah membuat orang lain penasaran baca dan ingin membuktikan sendiri, buku tersebut malah jadi terkenal, contohnya Fifty Shades of Grey :p. Negative reviews tidak berisi hal-hal yang omong kosong, tetapi menjelaskan dengan detail apa yang pembaca rasa kurang, memberikan solusi, memberikan saran yang membangun.

Saya pernah dengar cerita dari seorang penulis kalau ada temannya -yang seorang penulis juga- pernah mendapat perlakuan yang kasar dari pembacanya, sang pembaca tersebut nggak suka dengan bukunya dan malah menyuruhnya mati saja. Ini bukan negative reviews, ini sudah pelanggaran HAM, waktu pertama baca saya geram sendiri, kalau nggak suka ya udah, mungkin belum berjodoh dengan buku tersebut tapi jangan sekali-kali, jangan pernah sekalipun menghina penulisnya, entah itu fisik atau yang berhubungan dengan dirinya, kalau ingin mengkritisi ya bahas karyanya bukannya malah menyinggung penulisnya. Nggak usah jauh-jauh deh, coba kalau diri kita sendiri yang digituin, pasti terluka banget kan? Negative reviews itu membahas karyanya, bukan yang lain. Kalau banyak kekurangan dalam buku tersebut, sampaikan dengan sopan, walau menyakitkan kalau cara penyampaian kita santun itu bisa mengurangi kekecewaan para penulis.

Apakah kamu setuju dengan negative reviews? yuk share pendapat kamu di kolom komentar di bawah ini, tuliskan juga tipe pembaca yang manakah kamu? Oh ya, untuk tema let's talk hari rabu berikutnya ada Reread, Book Hype dan How We Rate Books. So, stay tune terus ya di Kubikel Romance :p

Keep reading, keep writing
Much love
@peri_hutan


21 komentar:

  1. Topik yang menarik, Lis. Saya juga setuju kok sama negative review, bila diartikan membahas kekurangan-kekurangan sebuah buku dan memberikan saran/masukan kepada penulis (tidak diniatkan untuk menjelek-jelekkan karya si penulis, apalagi penulisnya sendiri).

    Saya sendiri dulunya adalah pembaca tipe pertama, yaitu yang hanya ingin menikmati bacaan. Tujuan awal saya untuk mereview buku sih, utamanya sebagai media untuk merekam inti cerita sebuah buku, serta perasaan saya saat membacanya.

    Akan tetapi, seiring bertambahnya buku yang dibaca dan direview, tanpa sadar saya mulai memperhatikan detail-detail yang Sulis sebutkan di atas. Bisa jadi, semakin sering membuat review, membuat kita semakin jeli terhadap detail. Setidaknya itu yang saya alami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, semakin sering kita menulis review kita akan semakin jeli, aku pun juga tipe pembaca pertama soalnya dari awal suka baca dulu ya ceritanya yang penting sedangkan untuk yang lainnya itu sebenarnya bukan keahlian aku karena aku nggak menguasai bidang editing atau profreader :)

      Hapus
  2. Saya termasuk pembaca pertama, tp kadang juga yang kedua sih kalo memang sudah kebangetan. Tp perlu digarisbawahi, resensi yang mengkritik itu beda dengan rsensi yang negatif. Resensi yg isinya mengkritik buku si A, dijelasin mana kurangnya, nah resensi ini sebenarnya positif karena dia memberi masukan. Yg negatif itu kalo si resensi sudah menjatuhkan penulis, seperti menyinggung fisik si penulis dan kehidupan pribadinya. Menulis: "mending jgn baca buku ini" itu termasuk negatif karena menghalangi orang jualan. Biar pembaca yg memutuskan mau beli or tidakk setelah baca resensi kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam postingan ini resensi yang mengkritik dan resensi negatif itu sama aja, kang, kalau di luar lebih familier dengan negative reviews di mana kekurangannya dijelaskan dengan detail :P, kalau yang kamu contohin itu aku nyebutnya sebagai bad reviews :)

      Hapus
  3. Saya setuju sama negative review, selama memang niatnya tulus, dalam artian nggak bermaksud menghina dan menjatuhkan. Kalo dikritik dan si penulis bisa menerimanya, kan justru bisa jadi pembelajaran buat karya2 dia selanjutnya.

    Saya tipe pembaca yg pertama deh kayaknya, meskipun kalo typonya banyak ya merasa terganggu dan risih juga sih. Oh ya, sama satu lagi yg sering saya perhatiin banget: logika cerita.

    Salam kenal Mbak Sulis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mbak rosa, kalau soal logika cerita, iya banget! itu kadang yang bikin aku suka nggak sama cerita tersebut, kecuali kalau buku fantasi :)

      Hapus
  4. Postingan yang menarik, pembaca puas penulis senang.. di tengah-tengahnya ada para reviewer.
    hidup reviewer buku.
    somehow penulis kudu berjabat tangan dengan para pereview pasti bakal damai dunia perbukuan (ngundang avatar aja kali ya :p) dan banyak karya yang bisa dilahirkan karena ada simbiosis mutualismenya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, kang. sebenernya penulis itu diuntungkan oleh hadirnya reviewer karena bukunya diulas dan diperkenalkan, entah nantinya ikut membaca atau malah ilfil, tergantung dari mana kita melihatnya :)

      Hapus
  5. karena saya juga tukang review fanfic, typo itu bukan masalah, yang penting ceritanya, tapi klo keterlaluan ya udah gak usah dibaca.

    simple, simple aja deh klo gak suka gak usah sampe nyuruh mati, don't like, don't read.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahha, typo itu biasanya kesalahan teknis tapi ya bener juga, kalau sehalaman typonya lebih dari lima itu namanya udah keterlaluan :)

      Hapus
  6. kadang suka juga sih baca review yang negatif, soalnya kalo orangnya bikin review positif terus jadi bikin bertanya-tanya juga, ini buku beneran bagus atau orangnya yang memang baiiiiiiiik banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. malah nggak ada yang menarik ya kecuali kalau bukunya emang mantap surantap :D

      Hapus
  7. Topik ini sering dibahas akhir-akhir ini. Semenjak perlakuan Kiera Cass ke pembaca yang dianggap rude..
    Kalau saya sendiri lebih ke pembaca yang kedua, karena detail itu penting buat saya, kalau mau sekedar baca buat hiburan ya baca fanfic :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahhhhh ketinggalan berita, padahal pengen banget baca bukunya Kiera Cass, kalau boleh tau itu di mana ya perdebatannya? :D

      Hapus
  8. Halo...halo... bahasan yang menarik nih...
    Aku setuju sama Sulis. Apa pun komentar kita, harus disampaikan dengan sopan dan santun. Toh nggak ada salahnya juga kan ngomong baik-baik, kalo emang niatnya baik demi memajukan si penulis? Tapi pada prinsipnya, sebenarnya pembaca dan penulis berada pada posisi yang sama. Pembaca tidak bisa berharap kritiknya selalu dihargai penulis, sama seperti penulis tidak bisa berharap karyanya selalu disukai pembaca. Jadi kalo penulisnya ga trima dikritik... yah yo wis lah, nasyib. hahahaha.
    Tapi di sisi lain aku juga setuju sama pendapat Mas Dion di atas. Yang namanya negative review, mau gimana pun juga efeknya akan tetap negative. Kalo emang mengkritik karya penulis dalam resensi kita supaya si penulis lebih baik lagi, nah itu namanya positive review. Karena justru si penulis mendapatkan manfaatnya.
    Kalo menurutku, yah ini menurutku aja lho ya, dunia maya akan menjadi tempat yang damai sejahtera kalo pembaca dan penulis mau sama-sama saling menghargai dan menghormati dalam berpendapat. Walaupun kita tidak menyukai suatu buku dan memberi rating cuma satu, paling tidak dalam review kita mengutarakan pendapat kita dengan sopan dan santun. Dengan begitu, kalopun si penulis nggak terima dikritik dan bukunya dirating rendah banget, paling tidak (insya Allah) nggak bakalan ngomel-ngomel dan bikin keributan di seantero jagad dunia maya ;p. Kadang-kadang kita juga harus tahu batas dalam berucap dan berpendapat, jangan asal jeplat dan pake kata-kata kotor di “ruang umum” seperti media sosial. Kalo aku lihat, di dunia maya banyak pembaca (biasanya orang bule sih) yang ngerepiu sambil misuh-misuh dan ngata-ngatain penulisnya. Lha, situ mau komentar apa mau misuh-misuh??? Yang bener aja, dong. Di sisi lain, penulis juga harus bersikap dewasa. Kalopun tidak terima bukunya direpiu jelek, ya jangan marah-marah di tempat “umum” seperti media sosial. Kalo perlu, nggak usah baca repiu aja biar matanya nggak pedes, hehe.
    Pada akhirnya, kita semua ini sama-sama minta dihargai. Pembaca minta dihargai karena sudah capek-capek baca, dan penulis juga minta dihargai karena sudah capek-capek nulis. Setahuku, ada penulis yg proses nulisnya tuh bisa sampe setahun lho. Jadi, ada baiknya kalo pembaca dan penulis saling menghargai satu sama lain, jadi dunia maya tuh nggak dipenuhi dengan orang-orang yang marah hanya gara-gara masalah buku. Di dunia ini banyak hal lain yang (menurutku) jauh lebih penting. Damai-damai aja lah... ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. komentarnya keren banget deh :)
      setuju banget, di dunia ini lebih banyak hal lain yang perlu diperhatikan, berbeda pendapat itu udah biasa, nggak perlu menyakiti satu sama lain :D

      Hapus
  9. Setuju bagnet sama ini :D
    Kalo menurut aku sih negative review itu sah-sah aja, selama review nya sendiri emang ngebahas tentang kekurangan bukunya dan bukan personally nge-attack si author.
    Malah kadang negative review juga ngebantu aku milih2 diantara tumpukan TBR yang gaada abisnya itu .__. ahaha.

    Nice topic, though! And awww, just realize my blog is there on your bibliophile list! :D *sooo touched*

    Neysa @ Papier Revue

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo nesya, salam kenal ya :)
      aku suka tampilan blogmu :D

      Hapus
  10. Hihi aku tipe ya review dari ceritanya saja ^^ baru nyinggung typo, salah cetak, atau pun cover kalo udah parah banget aja ^^

    Aku juga kadang jadi negative review kok... bagiku ya aku review karena mau mengeluarkan unek-unek ku pada sebuah buku. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, menulis apa yang kita rasakan :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...