Sabtu, 01 Maret 2014

Meet The Clique: Adrianna

Glam Girls (Glam Girls #1)
Penulis: Nina Ardianti
Editor: Christian Simamora & Widyawati Oktavia
Desain sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-283-3
Cetakan pertama, 2008
342 halaman
Pinjem @noninge

GLAM GIRLS. YOU WILL LOVE US—WE PROMISE.

Jadi pintar itu gampang—belajar aja yang rajin. Jadi cantik lebih gampang lagi. Dengan semua servis ala Nip/Tuck yang ada sekarang, apa aja mungkin. Kekayaan? Well, hanya karena lahir di keluarga kaya raya sampai tujuh turunan, bukan berarti kamu lantas punya potensi sebagai pusat perhatian. You can buy Gucci, but you can’t buy style.

Kami nggak pernah pelit kok ngasih tahu rahasianya jadi terkenal. Kamu nggak boleh dijengkal, apalagi jadi orang yang gampang ditebak. Kalau ada yang bersikap buruk ke kamu, jangan takut. Kamu juga punya hak penuh buat balik nge-bitchy-in dia. Kamu juga harus berani tampil beda. Sesekali, nggak ada salahnya tampil kontroversial. Yang nggak masuk akal biasanya susah dilupakan.

Ribet? Emang! Siapa juga sih yang bilang jadi populer itu gampang?

Kesan pertamaku saat mereka berjalan bertiga masuk ke hall pagi tadi, well, pasti tipe tong kosong yang nyaring bunyinya. Cewek-cewek kayak mereka selalu ada di sekolah mana pun. Dan, perlu digarisbawahi, cewek kayak mereka selalu kuhindari sebisa mungkin.
Formatnya sudah jelas: ada queen bee dan lebah pekerja nggak penting. Queen bee yang mengambil keputusan apa pun di dalam clique mereka -para pekerja tinggal manut saja. Mereka cuma peduli perkara popularitas; siapa yang lebih cantik, siapa yang punya tas Dior edisi terbaru. Cewek yang bangga -SANGAT bangga dengan kekayaan dan status keluarganya. Padahal, berani taruhan, otak mereka nggak lebih besar daripada amuba.
Adrianna Fernandhita Fauzi atau biasa dipanggil Ad, sebal dengan kedua orangtuanya yang terlalu menyetir dirinya, Ad ingin sekolah di Harapan Bangsa bersama para sahabatnya, lagian dari TK sampai SMP dia sudah sekolah di VIS. VIS atau Voltaire International School adalah sekolah bertaraf serta mempunyai kurikulum Internasional, para siswanya diharapkan lebih aktif dalam belajar, banyak ektrakulikuler yang bisa dipilih baik sebelum pelajaran atau setelahnya. Tapi, perbedaan paling mencolok dari VIS dengan sekolah yang lain adalah penampilan murid-muridnya. Syarat utama menjadi murid VIS ada dua: kalau nggak KAYA BANGET, ya, harus PINTER BANGET. Sedangkan Ad tergolong murid yang nggak kaya banget tapi hidupnya berkecukupan dan mempunyai otak yang cukup gemilang. Makanya Ad males banget harus sekolah di VIS lagi karena bisa ditebak persaingan penampilan dan pamer kekayaan pasti lebih heboh dari tingkat sebelumnya, tanpa kedua sahabatnya lagi.

Ad tipe cewek yang cuek, dia tidak terlalu memperhatikan penampilan tapi bisa dibilang pilihannya cukup kece dan dia juga 'melek merek'. Hanya saja teman-temannya di VIS jauh lebih heboh lagi, dan yang menjadi juara adalah trio glossy yang bisa dibilang newbi di VIS tapi langsung menjadi perhatian banyak orang, clique-nya Rashi, bersama dua sahabatnya, Marion dan Maybella. Rashi atau Rashida Agashi Pradokso adalah putri dari pengusaha konglomerat yang hartanya nggak akan habis sampai tujuh turunan pun, punya fashion blog yang cukup tenar, sering di-endorse oleh merek-merek terkenal, bisa dibilang dia Paris Hilton-nya Indonesia, sifatnya angkuh, bossy dan jutek, dia harus selalu menjadi sorotan utama. What Rashi wants, Rashi gets. Sedangkan Shinna Maessa Wijaya atau nama bekennya Maybella adalah blasteran pindahan dari US, di usianya yang masih 15 tahun dia sudah menjadi model Maybelline waktu di New York, makanya namanya menjadi Maybella. Rashi menganggap keputusan Maybella pindah ke Indonesia bisa dibilang menyia-nyiakan masa depannya menjadi model Internasional. Di otaknya hanya ada belanja, dandan (dia terobsesi dengan lipstik), dan pacaran. Sering gonta-ganti cowok dan jangan tanya nilai pelajarannya, sering remedial. Sedangkan Marion adalah bule asal Prancis yang keluarganya dekat dengan keluarga Pradokso, makanya bisa dekat dengan Rashi.

Sebagian besar cewek di VIS ingin menjadi clique-nya Rashi, menjadi bagian dari mereka, mempunyai tempat yang spesial di VisCaf, bisa datang ke berbagai acara kaum hedon yang bahkan privat atau undangan yang terbatas, dan setiap Jumat -di mana VIS memperbolehkan muridnya berpakaian bebas setiap hari Jumat- berpakaian dengan tema tertentu, yang lain daripada yang lain dan setelah itu akan menjadi acuan murid lain di minggu berikutnya. Hanya Ad saja yang tidak tertarik dengan mereka, sama sekali tidak ingin berurusan dengan orang-orang berotak kosong, menyebalkan yang hanya memperhatikan penampilan luar, dia nggak peduli dengan Rashi and the clique selama mereka nggak menganggu dirinya. Kekesalah Ad memuncak ketika mereka berisik tidak bisa mengerjakan ulangan dari gurunya dan demi mendapatkan ketenangan Ad pun memberi contekan.

Tidak hanya sekali Ad membantu pelajaran bahkan bisa dibilang memberi les privat kepada Rashi dan Maybella, walau banyak diisi dengan mengosip, shopping dan pergi ke pesta. Waktu Ad sekelompok dengan Rashi dan Maybella pada tugas Indonesia Studies, jalan hidupnya mulai berubah. Tanpa ia sadari sendiri, Ad memasuki kehidupan yang mulanya dia bilang akan dijauhi, tanpa segaja dia memasuki kehidupan seperti yang dijalani Rashi, kehidupan yang ia benci, bahkan menjadi salah satu clique-nya, mengantikan lebah yang mengkhianati queen bee.

"Ad, gue bilangin sekali ini ke elo, ya-" Sasya bersikap seakan-akan dia akan memberi tahuku rahasia mengapa dinosaurus hilang dari permukaan bumi. "- Di VIS, elo nggak bisa menjadi orang yang biasa-biasa saja. Gue tahu kalau otak lo itu mungkin nggak berbelah sehingga lo bisa punya photographic memory. Tapi, satu yang perlu lo ingat, Ad: pintar aja nggak cukup untuk bisa menjadi somebody di VIS. Tapi, kalau elo memang milih jadi just another face in the crowd, sih, gue nggak bisa bilang apa-apa."
"This is your first lesson. You have to stand out of the crowd -then you'll be the next thing."

Clique atau biasa dikenal dengan geng cewek sepertinya udah nggak asing dengan kalangan remaja, bahkan para perempuan yang sudah matang pasti juga masih punya, melihat salah satu sifat perempuan adalah berkelompok :p. Di serial pertama glam girls ini lebih banyak menyorot tentang Rashi and the clique, perkenalan para tokoh dan VIS, disuguhkan dari sudut pandang sang protagonis, orang luar yang kemudian masuk ke clique tersebut dan menjadi sorotan. Kalau sering nonton film teenlit luar pasti bisa ngebayangin glam girls series ini seperti apa, tidak jauh beda, tentang popularitas, di mana sang tokoh utama sebelumnya nobody kemudian menjadi somebody, tentang persahabatan dan masalah remaja pada umumnya, seperti pencarian jati diri, bullying.

Untuk buku pertama ini lebih ke pencarian jati diri, di mana sebelumnya Adrianna adalah seorang cewek dorky yang mementingkan belajar dan nilai di atas segalanya, tetapi setelah bertemu dengan Rashi dan terjerumus ke dalam kehidupan cewek hedon tersebut, Ad mulai berubah, dia cukup menikmati bersenang-senang dengan Rashi dan Maybella tapi di sisi lain nilainya menjadi jelek dan dia menjilat ludah sendiri. Tentang pilihan hidup Adrianna apakah langkah yang dia ambil salah atau harus kembali seperti semula?

Untuk roman-nya, ada tetapi tidak menjadi fokus utama, yang menjadi sorotan adalah kisah persahabatan tiga orang yang populer di sekolah; Rashi, Maybella dan Adrianna. Apa saja permasalahan yang biasanya dihadapi oleh orang seperti mereka, apa saja yang dipakai, kemana saja tempat mereka kongkow-kongkow, semacam itulah. Untuk kisah Adrianna ini, dia bertemu kembali dengan Rifky, yang sekarang dia panggil coach karena menjadi pelatih tim sepak bola di sekolahnya. Dulu dia adalah tetangga sekaligus teman kakaknya, sedikit percikan cinta terjadi ketika Adrianna bergabung dengan tim sepak bola cewek di sekolah.

Seperti yang pernah saya ulas di Bahasa Gado-Gado & Barang Branded Dalam Novel Lokal, buku ini penuh dengan bahasa campuran, gaul, Inggris, jauh dari kesan formal serta berbagai macam merek baju, sepatu, aksesoris bertebaran hampir di seluruh cerita. Jadi, buat yang nggak betah membaca buku seperti ini, tidak saya sarankan membacanya. Tapi, kalau sedang menjadi buku tentang persahabatan, lika liku dunia remaja cewek, dan sedikit berbau asing, buku ini bisa menjadi pilihan.

"Ada tiga kunci rahasia untuk jadi terkenal," Rashi menghela napas perlahan. "Satu, be THE scene. Lo nggak boleh dijengkal orang, apalagi jadi orang-orang yang gampang ditebak. Lo harus kasih semua orang ini," katanya sambil menunjuk ke arah keramaian di depan kami, "seseuatu untuk digosipkan. Makanya, kadang-kadang perlu juga ngelakuin sesuatu yang nggak semua orang berani melakukannya. For instance, berapa banyak, sih, orang yang punya nyali nyium cowok yang baru dikenal di depan umum?"
"I will!" sahut May cepat.
Rashi tersenyum. "I know. Nggak heran kan, lo selalu jadi bahan rumpian anak-anak Voltaire?"
Aku dan May ketawa terkekeh.
"Dua, have an attitude. Kalau ada yang bersikap buruk ke elo, jangan takut. Lo punya hak penuh buat jadi bitchy juga ke dia. Teriakin juga boleh -pokoknya, dia harus denger apa pun yang PANTES dia denger."
Napasku tertahan.
"Ya, ya. I know. Kadang-kadang konflik kayak gitu ngundang banyak drama -tapi kalau lo ngrasa diri lo berharga, lo nggak bakal ngebiarin orang lain ngejahatin lo."
"Dan ketiga..." Dia melirik ke May. "... be a trendsetter."

3 sayap untuk Rashi and the clique.



2 komentar:

  1. Dari seri glamgirls, paling suka yang reputation (Rashi POV). Banyak org blg yg plg seru unbelievable. Tapi belum baca, soale novel itu langka. #curhat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sendiri paling suka Reputation dan Unbelievable, nanti tungguin reviewnya ya :)
      oh ya? padahal dulu aku punya dua loh buku Unbelievable, yang satu udah dijadiin hadiah :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...