Selasa, 11 Februari 2014

Roma: Con Amore

Roma
Penulis: Robin Wijaya
Editor: Ibnu Rizal
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi: Ayu Laksmi
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-614-9
Cetakan pertama, 2013
374 halaman
Pinjem @destinugrainy

Pembaca tersayang,

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR

Leonardo Halim adalah seniman asal Indonesia yang sudah mempunyai nama di Roma, lukisannya terkenal realis, sering mengkombinasikan dengan pamandangan dan bentuk-bentuk alam, sudut-sudut kota serta memotret manusia dengan sisi humanisnya. Salah satu masterpiece lukisannya berjudul The Lady, sebuah lukisan perempuan yang berdiri dalam diam dengan latar gereja Saint Agnes di Piazza Navano.

Sebuah insiden terjadi ketika ada pembeli yang komplain karena pesanan lukisannya tidak sampai juga, atasannya membeli salah satu masterpiece lukisan Leo yang lain, yang mempunyai nama Tedak Siten. Pihak Leo mengatakan kalau alamat yang dikirim sesuai dengan kartu nama yang diberikan perempuan tersebut tetapi dia ngotot kalau kartu nama yang diberikan adalah KBRI bukannya Perhimpunan Pelajar di Indonesia, kesalahpahaman itulah yang membawa Leo bertemu dengan Felice Patricia. Leo tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan Indonesia yang mengesalkan di Roma, namun, bayangan perempuan itu begitu melekat padanya dan mungkin akan diingat selalu.

"Pertemuan pertama selalu membekas. Aku bermain-main dengan tanda tanya. Bertemu denganmu lagikah kelak?"

Beberapa bulan kemudian mereka bertemu kembali. Leo kembali ke Indonesia untuk mengadakan pameran lukisan di Bali sedangkan Felice kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Anna. Pertemuan tak sengaja itu terjadi ketika Felice melarikan diri dari mamanya -yang membuat dia meninggalkan Indonesia, dia pergi sendirian menyusuri kota dan membawanya ke pameran lukisan dan tahu kalau ada nama Leonardo Halim di sana, karena penasaran dia pun melihat-lihat. Di pertemuan kedua hubungan mereka mulai terjalin lebih baik, banyak menghabiskan waktu bersama-sama dan Felice melihat kesibukan Leo melukis, sayangnya kedekatan yang mulai terjalin itu terputus, hanya topi baseball berlogo NY peninggalan Leo yang terbawa Felice karena mereka berpisah tanpa sempat saling berpamitan.

Beberapa bulan kemudian mereka bertemu kembali di Roma, mereka sadar akan perasaan masing-masing yang mulai tumbuh, Leo meminta Felice untuk menemaninya berkeliling Roma dengan alasan berhubungan dengan lukisannya, memintanya sebagai pemandu, bersama mereka menjelajahi kota Roma dan sekitarnya. Di saat hubungan mereka mulai terjalin lebih, mereka teringat akan status yang tidak pernah mereka bahas sebelumnya, Leo yang sudah berpacaran dengan Marla dan Felice dengan Franco yang sibuk dengan sepak bolanya.

"Mereka yang mengerjakan sesuatu dari hati, karyanya akan memiliki jiwa."

Banyak yang bilang kalau tulisan Robin Wijaya sering tak terduga, saya tidak bisa bilang banyak karena baru baca novella di buku Menunggu dan cerpennya di buku Dongeng Patah Hati, saya tidak terlalu suka dengan ceritanya di Menunggu tapi sangat suka dengan cerpennya yang mengambil tema cinta terlarang di buku Dongeng Patah Hati, berharap penulis membuat versi panjangnya, dan novel Before Us pun mengambil tema yang cukup jarang dilirik, LGBT. Dari pengalaman membaca beberapa bukunya, tulisan Robin terkesan manis dan banyak quote yang bisa ditandai di bukunya, melihat penulis pun suka mengumpulkan berbagai quote.

Untuk novel ini, saya tidak begitu merasakan romantisnya, ceritanya memang manis tapi tidak ada bagian yang berkesan banget. Entahlah, rasanya ada yang kurang. Mungkin karena di awal penulis menyorot kehidupan Leo dan Felice secara terpisah, menceritakan bagian Leo sendiri kemudian baru bagian Felice, di awal pun mereka cuma bertemu sebentar, baru setelah di Bali interaksi mereka cukup banyak jadi udah teralihkan dengan kehidupan mereka masing-masing, sebenarnya bagian mereka berkeliling Roma cukup romatis tapi terlalu tergesa-gesa jadi berasa lewat saja.

Buku ini bercerita tentang selingkuh, walau nggak ditonjolkan banget karena sepertinya penulis lebih fokus ke hubungan Leo dan Felice, cukup mengabaikan pacar mereka masing-masing yang digambarkan tidak serius mencintai, kecuali Marla. Banyak quote yang di suguhkan penulis, di tiap bab kita bisa menikmatinya. Lewat buku ini kita tidak hanya disuguhi cerita tentang kisah cinta dua orang yang mulai tumbuh dari kejadian tidak mengenakkan tetapi kita juga dibawa berkeliling Roma, Vatikan, Bali, mengenal pelukis terkenal di dunia dan sedikit tentang sepak bola.

Buat yang mengoleksi Setiap Tempat Punya Cerita dan menyukai kota Roma, buku ini bisa menjadi pilihan.

3 sayap untuk Michelangelo.


14 komentar:

  1. Cieeee yang templatenya baruu yaaaaak.
    Duh aku kangen tapi tampilan mba sulis yang lama.
    Aku juga merasakan hal yang sama setelah baca ini.
    Gada greget sih aku bilang ahaha xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagusan template yg lama ya? Pengen ganti suasana dan template ini manis, cocok untuk tema Kubikel Romance :)

      Hapus
    2. Mbak, template-nya kelihatan pucat banget. Kurang cerah lho. Pendapat aja sih..hehehe

      Saya baru baca yang Versus-nya aja. Belum yang ini sih. Dan saya jadi mempertimbangkan nih buat masukin ke list-nya. Mikir-mikir lagi deh...

      Hapus
    3. makasih sarannya :)
      Versus masih dalam antrian baca, banyak yang bilang bagus walau nggak ada sisi romatisnya, tapi tetep penasaran :)

      Hapus
    4. Aku lebih suka header yang sekarang mba :D

      Hapus
  2. Duileh template baru :D
    Btw aku baca novel ini juga gak seberapa sreg -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa? dari penggambaran tempat sebenernya salah satu STPC yang settingnya cukup kuat, mungkin karena tokoh utamanya selingkuh kali ya makanya kurang sreg :D

      Hapus
    2. Bukan karena selingkuh sih kalo aku, ya cuma gara gara settingnya sih -_- gak nyantok di otak ku -_-

      Hapus
    3. hehehe, coba deh baca Bangkok kalo pengen setting tempatnya kerasa :)

      Hapus
    4. Udah baca Bangkok kok :) Stpc favorit sih kalo Bangkok itu :)

      Hapus
    5. yeay, tossss, Bangkok juga favoritku :D

      Hapus
  3. baru membaca Versus... setelah baca ini, jadi nggak penasaran dengan Roma :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah penasaran sama Versus :D

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...