Rabu, 12 Februari 2014

London: Angel

London
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi: Diani Apsari
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-653-7
Cetakan pertama, 2013
330 halaman
Pinjem @destinugrainy

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

Konon, hujan turun membawa serta malaikat surga. Saat hujan turun, keajaiban terjadi. Cinta akan datang kepada setiap orang dengan cara yang tidak disangka-sangka, pada waktu yang juga tidak terduga. - Windry Ramadhina.
Diawali oleh wiski, Gilang terbang ke London untuk mengejar cintanya, Ning. Gilang dan Ning adalah sepasang sahabat, dulu mereka tinggal berdekatan, awalnya Gilang tidak ada masalah dengan hubungan mereka yang sebatas teman dekat, baru setelah temannya yang lain, Brutus menyuruh untuk memperhatikan Ning baik-baik, menilai kembali apakah perasaannya 'hanya sahabat'. Setelah meresapinya, dibutuhkan delapan tahun Gilang sadar akan perasaannya sendiri, ketika ingin mengungkapkan Ning sudah tak terjangkau lagi, dia kuliah lalu bekerja di London, di galeri seni kontemporer paling ternama di dunia.

Sedangkan Gilang sendiri adalah editor di penerbit buku sastra, mencoba menyelesaikan buku roman pertamanya yang tak kunjung menemukan ending. Berkat janji yang dilakukannya ketika mabuk bersama teman-temannya, yang gemas Gilang hanya bermain sahabat-sahabatan dan menyembunyikan perasaan selama enam tahun, dia akan mengatakan langsung kepada Ning akan perasaannya selama ini, hanya lima malam waktu yang dipunya Gilang untuk mengejar Ning di London.
"Lagian, gadis mana yang tidak luluh hatinya saat didatangi oleh lelaki yang menempuh ribuan kilometer cuma untuk mengatakan cinta?"
Gilang ingin memberi kejutan dengan muncul tiba-tiba di hadapan Ning, dia tidak memberitahu sahabatnya itu akan berkunjung ke London, hanya bermodalkan alamat, Gilang mempunyai misi dan ingin spesial. Ketika sampai di London dia malah tidak menemukannya, sudah tiga hari apartemen Ning kosong, apakah usaha Gilang akan sia-sia?
Ah, aku gemas kepada diriku sendiri. Sebagai seorang penulis, terlebih aku adalah penulis roman, seharusnya aku tahu hal utopis semacam 'mengejar gadis ke London atas nama cinta' hanya berjalan lancar dalam kisah fiksi.
Premis ceritanya sudah mainstream sekali, sahabat jadi cinta, seperti yang saya jelaskan di atas. Awalnya ketika pertama membaca kesannya sangat biasa, begitu saya baca ulang untuk menulis review ini, kesannya luar biasa. Mbak Windry memang tidak pernah mengecewakan saya.

Di buku ini kita akan dibawa keliling kota London seperti Fitzrovia, daerah yang disukai para penulis kenamaan dunia. Toko buku Dickens and More yang berseberangan dengan penginapannya, Madge. London Eye, kincir raksasa, yang mempertemukan Gilang dengan Goldilocks, si gadis misterius berpayung merah yang ditemuinya ketika hujan turun. Menyusuri Sungai Thames, Tate Modern, Shakespeare's Globe Theatre, James Smith & Sons (Gilang mencari payung merah seperti punya Goldilock di toko payung terbesar di London -dengan harga yang mencekik, karena payung yang terbawanya dipinjam oleh V, salah satu kenalannya ketika satu pesawat), dan masih banyak lagi. Dengan keahlian penulis yang detail akan deskripsi tempat, kita serasa dibawa langsung merasakan apa yang dilalui para tokohnya, menikmati sendunya kota London, menyusuri jalannya yang selalu basah, merasakan aura romantis dan magis.

Kelebihannya lagi, penulis membuat peran pembantu di sini sangat berpengaruh besar untuk cerita Gilang, tanpa mereka buku ini akan hambar. Saya suka ketika penulis membuat nama julukan untuk mereka berdasarkan sifat dan penampilan yang dimiliki dengan tokoh dalam cerita terkenal di dunia, seperti Brutus, Hyde, Dum dan Dee, V bahkan Goldilock (gadis dalam salah satu dongeng Inggris). Terbawa akan profesi Gilang, penulis juga menyisipkan fakta tentang kota London dan para seniman yang tidak asing dengan kota tersebut, seperti William Shakespeare misalnya, referensinya benar-benar sangat informatif.
Brutus bukan nama yang asli, aku menjulukinya demikian karena dia sering bersikap tidak terduga seperti pengkhianat di salah satu kisah William Shakespeare. Ingat kalimat klasik yang diucapkan oleh Julies Caesar sebelum mati? Et tu, Brute -kau juga, Brutus? Aku sering mengucapkan itu kepada temanku yang satu ini. 
Sama seperti Brutus, Hyde bukan nama asli. Dia lelaki berkepribadian ganda. Di sisi tunangannya, dia adalah pasangan idaman. Namun, saat terlepas dari kekurangan seperti sekarang, dia berubah liar. Karena itu aku memanggilnya Hyde atau Jekyll -tergantung peran apa yang sedang ia jalani.
Dua temanku yang lain adalah Dum dan Dee. Kujuluki begitu karena mereka menginggatkan aku kepada dua tokoh ciptaan LEwis Carol dalam Alice in Wonderland, Tweedledum dan Tweedledee. Mereka tidak gemuk dan pendek, tidak pula berkulit cokelat. Sebaliknya, tinggi dan bobot mereka ideal. Kulit mereka pun cokelat gelap. Namun, mereka kembar dan selalu berbeda pendapat satu sama lain. 
V. Itu julukanku untuk penumpang tersebut, lelaki blasteran Indonesia-Eropa usia tiga puluhan tahun berambut klimis dan berkumis Prancis.
Dia memakai kemeja mahal. Dagunya runcing dan senyumnya yang mengandung muslihat mengingatkan aku pada topeng Guy Fawkes yang dikenal oleh Hugo Weaving dalam V for Vendetta -karena itu, dia kusebut V, tokoh utama dalam film tersebut, seorang aktifis anti pemerintah yang eksentrik.
Bagian yang paling menarik, saya suka sekali dengan kehadiran si gadis sinis, Ayu, salah gadis Asia yang tinggal di London, yang terobsesi mencari buku Wuthering Heights cetakan pertama, yang kemudian menginggatkan Gilang akan obsesinya dulu mencari buku langka dari satu toko ke toko lain ketika mencari buku Burmese Days, novel pertama George Orwell, pertemuan tak sengaja dengan gadis itu juga meninggalkan kesan dalam buat Gilang.

Bagian romantisnya adalah ketika Gilang mengetahui fakta akan pemilik penginapan yang sangat judes dan dingin, Madam Ellis dengan Mister Lowesley pemilik Dickens and Sons, hubungan mereka mengingatkan Gilang akan hubungannya dengan Ning. Lewat kata-kata penulis abad kesembilan belas, Mister Lowesley ingin menyampaikan perasaanya, memberikan buku-buku tersebut untuk mewakili perasaanya, lewat kedatanganya setiap hari di restoran dan tak segan mengajak bertengkar itu semata-mata dia lakukan agar bisa berbicara dengan Madam Ellis, sangat romantis sekali.

Bagian dengan Ning malah biasa saja, alasan saya memberi rating yang biasa pada mulanya. Buku ini menarik dilihat dari bagaimana penulis membuat pemeran pembatu juga mempunyai porsi yang penting, jauh lebih menarik dari cerita utamanya, bagaimana menggambarkan setting tempatnya serta informasi di dalamnya dan memasukkan aura romantis serta magis secara bersamaan. Kita bisa mendapatkan sedikit unsur fantasi ketika Gilang bertemu dengan Goldilack, yang tidak akan seru bila saya ceritakan.
Jadi, lelaki berambut putih itu bersungguh-sungguh sewaktu berkata bahwa hujan turun membawa serta malaikat surga. Aku pembaca fiksi fantasi, tetapi bukan pemercaya takhayul. Ada perbedaan besar antara The Curious Case of Benjamin Button dengan apa yang tadi diungkapkan oleh lawan bicaraku meskipun, harus kuakui, ide malaikat surga itu cukup menarik.
Ya, menarik. Menarik dan romantis, bahkan.
Sudah barang tentu malaikat yang dia maksud memiliki wujud indah yang menyerupai manusia, tetapi sekaligus terlalu sempurna untuk menjadi manusia, seperti-
Ah, seperti gadis itu.
Sama seperti cerpen "Sakura di Bulan April" yang kemudian menjadi novel Montase, buku ini sebelumnya adalah metamorfosis dari sebuah cerpen berjudul "Singing' In The Rain", penulis terispirasi dari sebuah lagu milik L'Arc-en-Ciel yang berjudul sama, bercerita tentang hujan dan malaikat yang mengambil lokasi di London. Sewaktu saya mencari cerpennya ternyata sudah tidak ada, sebagian besar cerpen penulis yang akan dijadikan novel sudah dihapus, sayang sekali sebenarnya, lewat cerpen tersebut kita bisa mengetahui sejarahnya dan tidak ada salahnya bila dibaca karena tentu cerita di novelnya nanti akan berkembang luas. Sama halnya ketika saya mencari cerpen Hana-Kai dan Afternoon Tea yang kabarnya akan dijadikan novel juga, sedikit sekali. Yah semoga saja novel terbarunya cepat terbit sehingga menyembuhkan kangen saya akan tulisan Mbak Windry :D

Saya rekomendasikan buat pecinta hujan, pecinta buku klasik, dan tentu saja buku romance :p

4 sayap untuk Goldilock.



12 komentar:

  1. suka novel ini<3
    nice review mba:)

    BalasHapus
  2. Kalo dibanding buku mba windry yang lain, aku lebih suka bukunya yang lain wehehe
    Sebel aku sama karakter Ning -__- tapi yasudahlaah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kao yang favorit tetep Memori :)
      aku juga nggak suka, yang aku suka malah Ayu :p

      Hapus
  3. Balasan
    1. mau, Na? aku kirimin deh, tapi akhir bulan ya *belum gajian* :D

      Hapus
    2. Wah tapi kalo minjem aku pasti lama balikinnya.. kecepatan baca lagi kayak siput. Kalo balikinnya lama ga papa kan Lis? Ngirimnya lama juga ga papa. Ehehe

      Hapus
    3. nggak usah dibalikin, bukunya nanti buat kamu aja :D

      Hapus
    4. Widiih!! Beneran? mauuuu thx ya Lis ehehe

      Hapus
  4. Bener, bagian Ning malah kurang favorit, justru bagian Gilang yang favorit hihi,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, petualangan dia di London malah lebih seru daripada mendapatkan cinta :D

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...