Kamis, 27 Februari 2014

Kei

Kei
Penulis: Erni Aladjai
Penyunting: Jia Effendie
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-649-9
Cetakan pertama, 2013
254 halaman
Buntelan dari @GagasMedia


Mari kuceritakan kisah sedih tentang kehilangan. Rasa sakit yang merupa serta perih yang menjejakkan duka. Namun, jangan terlalu bersedih, karena aku akan menceritakan pula tentang harapan. Tentang cinta yang tetap menyetia meski takdir hampir kehilangan pegangan.


Mari kuceritakan tentang orang-orang yang bertemu di bawah langit sewarna biru. Orang-orang yang memilih marah, lalu saling menorehkan luka. Juga kisah orang-orang yang memilih berjalan bersisian, dengan tangan tetap saling memegang.



Mari, mari kuceritakan tentang marah, tentang sedih, tentang langit dan senja yang tak searah, juga tentang cinta yang selalu ada dalam tiap cerita. 

***

“Kei dituturkan lewat penokohan yang dinamis dan mendalam, pengelolaan alur yang intens dan kompleks tanpa menjadikan jalan cerita hilang. Latar yang dipilih pengarang berpadu secara selaras dengan konflik utama dalam cerita.”
Pidato A.S. Laksana — Sastrawan dan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012

Pada akhirnya, saya ingin bilang, seperti kata orang Kei; Tak ada Islam, tak ada Protestan, tak ada Katolik, yang ada hanyalah Orang Kei. Semua mahluk hidup bersaudara.
Awal tahu buku ini adalah ketika saya direkomendasikan mbak Jia di goodreads, entah kenapa saya selalu punya feeling buku yang dia rekomendasikan pasti bagus, termasuk buku ini. Saya tertarik membaca karena ada tagline 'Kutemukan cinta di tengah perang,' bayangan saya buku ini pasti romantis banget, penuh adegan heroik, saya jadi teringat akan film Pearl Harbor :p. Kemudian ada isu tentang perbedaan agama, yang sering baca postingan saya pasti tahu selain mengumpulkan buku yang berbau romance-kuliner, saya sedang mencari-cari buku dengan premis cinta terlarang XD. Selain itu, saya sangat tertarik dengan kisah perbedaan agama ini karena saya sendiri pernah mengalaminya, pernah menjadi polemik terbesar dalam hidup saya :D
Gadis itu berusia dua puluh tahun. Kata Hemingway, usia adalah penanda waktu. Waktu yang kadang bisa merenggang dan menyusut, mengajarkan pengampunan. Memunculkan kembali rasa cinta dan menyusutkan dendam.
Buku ini bersetting di Pulau Kei, pulau kecil di antara Laut Banda dan Laut Arafuru, terletak di Maluku Tenggara. Setting waktunya sendiri terjadi ketika masa pemerintahan Soeharto baru saja digulingkan tetapi efeknya masih tetap ada, bahkan sampai wilayah Timur Indonesia yaitu dari bulan Maret sampai Juni 1999, hanya tiga bulan, jauh lebih sedikit dari Ambon yang mengalami perang saudara selama tiga tahun tetapi efeknya sama saja, seumur hidup tetap membekas. Pulau Kei terkenal akan toleransi beragama, mereka dikuatkan oleh hukum adat dan ajaran leluhur yang melarang berkelahi sesama warga kecuali demi membela kehormatan kaum perempuan. Entah siapa yang memulai, ada oknum yang memperpanas keadaan sehingga pecahlah perang saudara di Pulau Kei.
"Nak, kau tahu dalam ajaran adat Kei, satu-satunya alasan orang berperang atau berkelahi adalah untuk mempertahankan kehormatan kaum perempuan dan kedaulatan batas wilayah. Tolong jangan berkelahi lagi. Laki-laki yang benar-benar lelaki tak akan sembarangan berkelahi."
Mereka tahu betul, ajaran adat Kei yang bersemayam di hati mereka lebih kuat dari apa pun. Meski sedang marah dan saling berkelahi, jika ada kaum perempuan yang melerai, para lelaki itu harus berhenti. Perempuan adalah lambang hawear. Mereka tahu betul wasiat leluhur, jangan sekali-kali menumpahkan air mata perempuan, air mata perempuan adalah air mata emas. 
Tidak ada keuntungan dari perang, yang ada hanya kesedihan, kematian dan perang membuat orang miskin. Salah satu yang terkena imbas dari perang saudara di berbagai wilayah di Pulau Kei adalah Namira Evav, dia kehilangan orang tuanya, tidak tahu mereka ada di mana dan apakah masih hidup. Dia terpaksa mengungsi dari satu pulau ke pulau lain menghidari perang saudara yang sudah merambat ke berbagai wilayah di Maluku, termasuk kampungnya, Elaar. Dia tidak mempunyai keluarga lain, hanya sahabatnya Mery yang dia miliki tetapi tempat tinggalnya jauh dan komunikasi sangat sulit didapatkan saat itu. Dia pun mengungsi ke Langgur, lokasi yang masih aman dari perang. Di sanalah dia bertemu dengan Sala, salah satu korban perang juga, yang kehilangan ibunya, satu-satunya keluarga yang dia miliki. Sala tidak ingin terlibat atau memilih pihak 'putih' atau 'merah', dia ingin menjadi relawan korban perang dan kalau bisa menyudahinya.
"Rusuh di Kei tak ada hubungannya dengan Islam atau Kristen. Tuhan dan agama tak pernah manghianati pemeluknya. Manusialah yang menghianati Tuhan dan agamanya."
Namira sendiri adalah orang 'putih' yang berarti beragama Islam, sedangkan Sala orang 'merah' yang memeluk agama Protestan, perbedaan tersebut tidak menghalangi rasa cinta yang mulai tumbuh satu sama lain, mereka sama-sama melindungi, sama-sama berbagi kesedihan dan membagi kebahagiaan. Mereka memiliki satu sama lain. Sampai perang pun melanda Langgur, membuat Namira harus menyelamatkan diri dan Sala membantu teman-temannya, mereka berpisah tanpa tahu kapan akan bertemu lagi.
Namira dan Sala bagai burung taktarau dan daun paku. Saling membutuhkan, saling melindungi, sulit dipisahkan. Namira seolah-olah hadir untuk jiwa sedih pemuda itu, sedangkan Sala seolah-olah hadir menjadi kakak bagi Namira di masa kerusuhan.
Kelebihan penulis adalah deskripsinya yang detail, pembaca serasa dibawa ke Pulau Kei dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana. Penulis menggambarkan Pulau Kei beserta adat istiadat-nya dengan sangat baik, terasa sangat Indonesia, narasinya juga bagus, tidak ada kalimat metafora untuk mendramatisir keadaan. Dengan bahasa yang sederhana, dengan riset yang dilakukan penulis kita serasa menonton langsung, mengetahui tradisi dan sejarah Pulau Kei dengan jelas tanpa mengurui.

Kekurangannya adalah ehem, ehem, kisah cintanya. Rasanya hanya tempelan saja, tidak ada bagian yang teramat dalam dengan kisah cinta beda agama ini. Kisah cinta Namira dan Sala rasanya sebentar sekali, penulis lebih fokus menceritakan suasana perang Maluku 1999, sebelum dan sesudah perang saudara terjadi, dampak dan efeknya, kisah cinta di buku ini sepertinya hanya selingan. Awalnya saya kira bakalan kayak Romeo and Juliet, dua anak manusia yang saling jatuh cinta, yang berasal dari kampung berbeda dan memiliki kepercayaan berbeda yang harus dipisahkan karena ada pihak yang tidak bisa menerima perbedaan itu. Oke, abaikan saja imajinasi saya yang keblabasan ini :p. Dan saya sama sekali nggak menyukai ending buku ini, hiks.

Buku ini seperti menginggatkan kembali kepada kita akan pentingnya toleransi beragama, semua agama sama saja, sama-sama mengajarkan kebaikan tinggal bagaimana kita menerapkan dan memahaminya. Serta betapa kuatnya falsafah dan adat istiadat di suatu daerah, yang sekarang mulai ditinggalkan dan dilupakan padahal bisa menjadi senjata terhebat dalam menciptakan sebuah kerukunan antara umat beragama. Mungkin karena tema inilah mengantarkan penulis menjadi Pemenang Unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012.

Buku ini saya rekomendasikan bagi yang sedang mencari hisfic dalam negeri, yang ingin mengetahui Pulau Kei, yang ingin mengetahui dampak orde baru di wilayah Indonesia bagian Timur, yang sedang mencari kisah cinta terlarang.
Yang mengatur kasih sayang itu Tuhan. Jadi, kita tak bisa memilih pada siapa hati diberikan. Hati selalu punya pilihan sendiri.

3 sayap untuk satu set cangkir porselen yang terkubur di bawah tanah.


Tentang Penulis
Erni Aladjai lahir pada 7 Juni 1985, tinggal di desa Lipupalongo-Banggai, Sulawesi Tengah. Lulusan Sastra Perancis Universitas Hasanuddin, Makassar. Menyukai angka tujuh, memasak, menulis dan melakukan perjalanan.

Karyanya sering mendapatkan penghargaan seperti cerpennya 'Sampo Soie Soe, Si Juru Masak' menjadi pemenang ketiga dalam lomba menulis cerpen Jakarta International Literary Festival (JILFest) tahun 2011. Dua noveletnya 'Rumah Perahu' dan 'Sebelum Hujan di Sea-sea' menjadi pemenang kedua dan ketiga dalam sayembara menulis cerita bersambung majalah Femina 2012. Di penghujung tahun yang sama, novelnya yang ini menjadi pemenang unggulan dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta.

Bukunya yang telah terbit; Pesan Cinta daru Hujan (Novel, 2010). Ning di Bawah Gerhana (Kumpulan Cerpen, 2013). 9 Pengakuan (Kumpulan Puisi bersama teman-temannya).

Erni ingin membuat cerita yang bersetting lokalitas atau daerah di Indonesia. Novel 'Kei, Kutemukan Cinta di Tengah Perang' sendiri bercerita tentang adat orang Kei-Maluku Tenggara. Bagaimana sebuah adat bisa meredam perang saudara yang ada di sana.

Bisa ditemui di:
http://pohonsagu.blogspot.com/
@ErniAladjai

                                                                 
                                     


                                                   

36 komentar:

  1. Ah ini buku bagus SUlis, nggak nyangka Gagas ada juga buku beginian. Kubeli deh Kei mu Lis boleh gak? hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha... lagian Dion juga nekat mau beli buku Gagas-nya Sulis. BIG NO, Dion... :)
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      kapan-kapan pinjam ya Lis... *modusnya tetap sama* :))

      Hapus
  2. lebih ke hisfic ya? duh aku jadi pingin bacaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lebih ke hisfic, coba kalau romancenya kuat pasti aku tambahin lagi ratingnya :))

      Hapus
    2. mba sulis a hopeles romantic? :p
      lucu, biasanya dari hisfic pembaca memilih kedalaman sejarah yang ditawarkan sebuah buku. mba sulis malah tetep pengin romancenya equal/dominan ya? ^^v

      Hapus
    3. hehehe, iya kali ya :p
      apa pun bisa aku baca asal ada bumbu romancenya :D

      Hapus
  3. Jadi pengen baca juga, boleh pinjem mbak Sulis?

    BalasHapus
  4. Ohhh...aku kisah cerita roman biasa (seperti kebiasaan penerbit ini), ternyata ada bumbu hisfic-nya ya. Aku suka desain covernya, jadi pengen koleksi (covernya aja maksudku xixixi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. covernya gagas emang kece-kece, pengoleksi cover buku ya, mbak? :)

      Hapus
  5. penasaran sampai sejauh mana riset tentang kei yang dilakukan penulis. aku selalu tertarik sama sejarah dan kultur maluku (secara merit sama org ambon wkwkwk), dan buku ini, kalau memang diriset dengan baik, kayaknya bakal masuk di wishlistku deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang paling kental tentang adat istiadatnya, mbak, kepercayaan orang Kei kalau hukum adatnya itu bisa meredam perang :)

      Hapus
  6. Iya sayangnya romance nya kurang kuat ya Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya *pecinta romance garis keras* :D

      Hapus
    2. Bahasanya juga terlalu kaku....

      Hapus
    3. kalau aku nggak ada masalah, emang penulis memilih bahasa formal, di daerah memang jarang memakai kata gue-lo, kalau seperti itu nanti ceritanya malah aneh :D

      Hapus
    4. Gue-lo, aku-kamu, saya-anda ngga jadi masalah. Cuma emang menurut aku sih terlalu kaku. Hehe selera orang beda-beda kan ya :)

      Hapus
  7. Aku kira ini sekadar romance, lho. Serius. Ternyata ada hisfic ya? hohoho..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, malah lebih ke hisfic kalo aku bilang :)

      Hapus
  8. Setuju, aku selalu sepakat ama Mbak Jia, pilihannya selalu bagus dan keren ;)

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-the-jacatra-secret/

    BalasHapus
  9. Sebagai orang yg pernah ke Kei, aku malah bingung dgn deskripsi setting buku ini. Berasa kok dia riset, tapk karena dia gak ke sana langsung, ada detail2 yg missed, yg disadari oleh orang yg pernah ke Kei. Itu menurutku sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehmmmm gitu ya, pasti ada bedanya dengan melihat langsung dan berdasarkan riset, mungkin penulis memang menceritakan Kei secara umum aja, tapi cukup terwakili kok melihat fokus utamanya adalah adat istiadat, kepercayaan orang Kei kalau hukum adat jauh lebih ampuh dari hukum apa pun :)

      Hapus
    2. Iya, Lis. Unsur Larwul Ngabal nya emang kental banget dan berasa sih ya.

      Dan aslinya orang Kei emang kayak gt. Sangat menjunjung adat.

      Hapus
    3. jadi ngiri sama kamu yang udah pernah ke sana :)

      Hapus
  10. Kayaknya semenjak Jia masuk gagas, banyak novel genre sastra yang diterbitin gagas. Aku suka dengan novel ini dan nggak berharap banyak dengan romance-nya sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. seleranya mbak Jia emang keren, yah, walau romancenya nggak kental ceritanya cukup menarik :)

      Hapus
  11. eh, kalau romansenya kurang terasa aneh ya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, nggak juga sih, karena aku pecinta romens jadi berharap lebih :D

      Hapus
  12. Udah baca buku ini, dan berhenti di beberapa halaman sebelum akhir buku. Romens nya emang kurang kerasa, lebih ngangkat tentang tragedinya,.. tapi buku bagus utnuk tahu tragedi itu,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalo nggak baca buku ini aku nggak tau tentang Perang Maluku 1999, cuman dulu sekilas denger kabar kalau Maluku rusuh, itu aja

      Hapus
  13. Wah dari covernya doang udah bikin ngiler.
    Apalagi baca sinopsisnya. Baru tau aku, Gagas nerbitin yang kayak gini juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, nih, jarang banget, masuk jajaran GagasDebut yang karyanya wajib dipantengin terus :D

      Hapus
  14. covernya unik pas liat di tokbuk, apalagi lebel pemenang, dan penyuntingnya kak Jia :D sayang karena sinopsisnya yang ada peperangan aku kurang suka, jadi ga beli. Review kakak lebih dari cukup untuk mengetahui keseluruhan isi, tapi tetep penasaran dengan cara penulis merangkaikan katanya. :D

    TFR kak

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...