Minggu, 22 Desember 2013

Looking For Alibrandi (Mencari Jati Diri )


Josephine Alibrandi berumur tujuh belas tahun, duduk di bangku terakhir SMU. Hidup bersama ibunya yang single parent dan nenek yang kuno dan kolot yang bikin sakit kepala, belum lagi melakukan persiapan untuk menghadapi ujian akhir. Tapi itu belum apa-apa. Josie masih harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata tidak semua rencana yang disusunnya dengan begitu saksama dapat terwujud seluruhnya. Tanpa terduga dia harus menghadapi kenyataan bertemu dengan ayahnya untuk pertama kalinya seumur hidup, jatuh cinta, dan membongkar rahasia keluarganya di masa lalu.
Terlepas dari semua kekalutan itu, tahun ini pula Josie belajar memahami bahwa kebebasan bukan berarti melupakan masa lalu. Ada kalanya, kau harus menjadi diri sendiri untuk dapat membebaskan dirimu…

Looking for Alibrandi adalah novel yang sangat populer dan telah memenangkan berbagai penghargaan, termasuk Children's Book of the Year Award for Older Readers tahun 1993, Multicultural Book of the Year Award tahun 1993, Variety Club Young People's Category of the 3M Talking Book of the Year Award tahun 1993, serta sejumlah penghargaan lain. Novel ini juga mencatat kemenangan di Fairlight Talking Book Awards tahun 2000 sebagai buku yang paling keras menyuarakan isu-isu remaja dan lintas budaya dalam 10 tahun terakhir.

Looking for Alibrandi (Mencari Jati Diri)
Penulis: Melina Marchetta
Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani
Desain & ilustrasi sampul: Yansen Dasuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 979-22-0964-6
Cetakan pertama, Juli 2004
328 halaman
Hasil swap di IRF


Saya menemukan buku ini di bagian pinggir meja book swap di IRF kemarin, terabaikan, kebetulan sekali saya ingin membaca buku ini karena banyak yang bilang bagus banget, salah satu buku yang wajib dibaca, tanpa pikir panjang saya langsung menukar dengan buku yang saya bawa. Dulu waktu SMA saya tidak terlalu tertarik dengan teenlit terjemahan, saya memang lebih prefer ke buku dalam negeri, lebih nyambung saja. Buku teenlit terjemahan yang saya punya dulu hanya seri all-American Girlnya Meg Cabot, gara-gara menonton sebuah drama televisi dan ada yang membaca buku tersebut kemudian saya latah ingin membacanya juga. Barulah ketika buku ini dicari-cari orang saya baru tertarik membacanya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Kesan setelah membaca buku ini adalah SUKA. Entah alasan apa yang membuat orang menyukai buku ini, kalau saya, saya sangat suka dengan karakter Josie, dia remaja yang meledak-ledak dan tidak jarang sinis, saya suka bagaimana dia menghadapi masalah keluarganya, yang ngomong-ngomong cukup kompleks.

Joshepine Alibrandi adalah seorang remaja tujuh belas tahun, anak haram dari seorang wanita keterunan Italia, yang menyebabkan dia selalu dihina baik di lingkungan sekolah maupun  di rumah, seorang wog, yang selalu dianggap tidak pantas menapaki tanah Australia. Tidak hanya itu, dia selalu disuruh mengunjungi neneknya, Nonna yang kolot dan banyak aturan, yang entah kenapa sangat membenci ibunya. Dia juga menghadapi masalah bertemu dengan ayah kandungnya, yang baru muncul ketika dia beranjak dewasa, yang mengaku tidak ingin berurusan dengan Josie. Impiannya adalah berpacaran dengan John Barton, seorang remaja lelaki kaya raya yang turun temurun ingin menjadi seorang politikus, tapi Josie hanya bisa memandangnya bersisian dengan saingan beratnya di sekolah, si Poison Ivy, si cewek populer di sekolah. Ditambah, ada Jacob Coote, lelaki berandalan yang pandai berpidato, yang dulu pernah melempari Josie telur tiba-tiba sekarang sering memandanginya. Menjadi remaja ternyata tidaklah mudah.

Rumit banget kan hidup Josie? Tapi penulis membuatnya menarik dengan menciptakan karakter yang sangat sangat keras kepala dan unik seperti Josie, dia juga pandai berdebat, tidak heran sering mendapatkan penghargaan di sekolah :D. Tidak hanya Josie, saya juga suka dengan karakter lainnya, hampir semua karakter di buku ini. Ibu Josie yang sangat kuat, tetap mempertahankan kandungan ketika dia hamil di usia 17 tahun, membesarkannya sendirian karena orang tua Christina terlebih ayahnya sangat membencinya, inilah rahasia yang disembunyikan Katia Alibrandi, ada alasan dibalik kenapa kakek Josie bersikap kejam pada ibunya, yang dia ketahui setelah melihat foto kenangan neneknya. Kemudian bertemu kembali dengan ayah Josie, Michael Andretti, yang dulu tidak ingin menerima kehamilannya. Saya nggak bisa membayangkan kalau jadi ibu Josie, kalau diposisinya mungkin saya akan memilih bunuh diri, dikucilkan keluarganya sendiri dan yang menghamilinya melarikan diri, belum mendengar hinaan orang sana sini.

Hubungan Josie dan ibunya pun menarik sekali, tidak ada yang dirahasiakan, mungkin Josie belajar dari kerasnya hidup yang dihadapi ibunya sehingga tanpa sadar membentuk dia menjadi anak yang kuat, keras, tahan banting. Semua masalah akan terasa mudah kalau dihadapi bersama, itu yang dilakukan oleh Josie dan ibunya.

Mungkin akan lebih mudah memahami buku ini kalau saya menampilkan bagian apa saja yang saya post-it, cukup banyak :p


"Apa yang tidak kita butuhkan dan apa yang kita dapatkan adalah dua hal yang berbeda."


"Apa yang menyebabkan ibumu meninggal?" tanyaku pelan.
"Kanker, kira-kira lima tahun lalu," jawabnya.
"Aku bisa mati kalau ibuku mati."
Jacob menggelengkan kepala dan memandangiku dengan tatapan yang hampir bisa dibilang lembut.
"Kau tidak akan mati. Kau hanya merasa ... sangat marah, kemudian setelah marahmu tuntas, akan muncul rasa sedih. Kemudian, hal yang paling membahagiakan adalah suatu saat nanti, kau teringat pada sesuatu yang dia katakan atau lakukan, dan kau akan tertawa, tidak lagi menangis." Ia tersenyum memikirkan hal itu.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Kau tahu, kalau ibuku meninggal, aku pasti akan lari sejauh-jauhnya. seperti bila kau sedang sangat sibuk melakukan sesuatu dan tidak sempat memikirkan hal-hal lain. Well, itulah yang akan kulakukan. Lari, lari, dan lari supaya tidak usah berpikir."
"Dan saat kau berhenti berlari, kau berada ribuan kilometer jauhnya dari orang-orang yang menyayangimu, sementara masalahmu tetap ada. Kau sendiri yang rugi, karena tidak punya siapa-siapa yang bisa menolongmu," katanya sambil mengangkat bahu.


"Aku orang Italia. Aku keturunan Eropa. Bila orang Italia atau keturunan Eropa lain menyebutku wog, itu dimaksudkan sebagai gurauan. Tapi bila istilah wog keluar dari mulut orang Australia, itu tidak dimaksudkan sebagai gurauan, kecuali bila mereka teman baik. Julukan itu membuatku merasa terhina dan mengingatkan aku bahwa aku hisup di dunia yang berpikiran picik dan itu membuatku sangat marah."


"Kau tahu, normalnya orang punya anak tidak seperti ini," lanjutnya padaku. "Kau melihat anakmu sebagai bayi-bayi mungil yang mengemaskan, kemudian melihat mereka besar. Tapi denganmu, aku merasa seperti orang yang membaca buku langsung dari tengah, dan harus berusaha mereka-reka bagaimana cerita awalnya."


Mengapa keinginanku mengumpat negeri ini sama besarnya dengan perasaan cintaku padanya?


Tradisi yang tidak akan pernah kami lupakan. Tradisi yang mungkin juga tidak akan aku lupakan, karena sama halnya dengan agama, budaya sudah tertanam begitu kuat dan mengakar dalam diri seseorang sehingga tidak mungkin bila dilupakan. Tak peduli betapapun jauhnya kau berlari.


"Bila semua orang pacaran dengan orang yang setipe dengan dirinya, kita bakal bosan setengah mati."


"Josie, hidup ini tidak seperti cerita-cerita roman di novel Mills and Boon. Di kehidupan nyata, orang bisa berhenti mencintai. Bisa mengecewakan orang lain dan merasa sulit sekali memaafkan."


"Kau tahu, Jacob, aku tidak mau jadi sepintar John. Maksudku, dia sangat, sangat pintar, dan bila kau sepintar itu, kau tahu semua jawaban, dan bila kau tahu semua jawaban, tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk bermimpi."


Memiliki seseorang yang bisa kaupeluk adalah obat yang paling mujarab.

Karakter favorit saya berikutnya adalah Jacob, ahhhhhh, saya ikut jatuh cinta padanya. Karakternya sedikit bertolak belakang dengan Josie, kalau Josie selalu memikirkan sesuatu terlebih dahulu sebelum bertindak, berbeda dengan Jacob, dia tipe orang yang ayo aja. Nggak usah terlalu banyak berpikir, jalani saja dan hadapi. Josie dan Jacob adalah pasangan yang sangat serasi, ngakak tiap kali mereka adu mulut, selalu seru. Kesamaan keduanya adalah mereka ceplas ceplos, nggak takut mengungkapkan pendapat. Jacob juga sedikit pencemburu, selalu marah bila Josie bersama John, padahal orang pertama yang disukai Josie adalah John, Jacob tahu itu tapi tetap saja tidak suka. Jacob juga minder, dia tidak mempunyai impian yang tinggi seperti Josie yang ingin menjadi seorang pengacara, dia hanya bercita-cita menjadi montir, banyak perbedaan diantara mereka dan menjadikan masalah utama dalam hubungan mereka.

Michael Andretti, kalau kata ibunya Josie, Michael ini adalah Josie versi cowok, wakakakaa. Dia seorang pengacara, dulunya dia tingal di sebelah rumah Christina, teman masa kecil dan ketika remaja saling jatuh cinta. Sebelum kepindahannya ke Adelaide, Michael tahu kalau Christina hamil dan ingin dia mengugurkannya saja, karena mereka masih muda dam Michael mempunyai impian, dia tidak ingin kehamilan Christina menjadi batu sandungan bagi mimpinya, dia tidak siap, oleh karena itu dia memilih melarikan diri, lepas tangan. Dalam bagian ini, Josie dihadapkan menerima perlahan kehadiaran seorang ayah yang selama ini tidak pernah dia rasakan dan juga memaafkannya. Waktu muda banyak kesalahan yang pernah dialami seseorang, siapa yang tidak?

Dengan John Barton, benar-benar bagian yang tak terduga. Bisa dibilang hidupnya sempurna, orang-orang ingin seperti dia, pandai, kaya raya. Tapi kenyataannya dia hidup tertekan, orangtuanya ingin dia selalu sempurna, ingin mengikuti tradisi, bisa dibilang John tidak mempunyai kebebasan. Dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri, dia selalu dituntut menjadi seperti orangtua, kakek dan leluhurnya padahal dia tidak ingin, akhirnya dia memilih jalan yang menurut dia bisa mencapai ke tempat yang bebas. Dia ingin seperti Josie, dia iri padanya.

Banyak hal yang bisa diambil dari buku ini, jangan sepelekan karena ada label teenlit, justru di bagian yang tidak pernah kita bayangkan kita bisa mendapatkan cerita yang memorable, banyak pesan moral yang bisa diambil dan kita bisa belajar dari masalah yang dihadapi oleh tokoh utamanya. Buku ini saya rekomendasikan buat siapa saja, baik itu remaja yang punya segudang masalah, single mother, dari etnis tertentu, tua, muda, khususnya yang sedang mencari jati diri.
Bila ada orang yang bertanya apa kebagsaanku, aku akan menatap mata mereka lurus-lurus dan menjawab bahwa aku orang Australia dengan darah Italia kental mengalir deras dalam tubuhku. Aku akan mengatakannya dengan nada bangga, karena memang kebanggaanlah yang aku rasakan.


Usia tujuh belas seperti dalam lirik lagu yang dinyanyikan Janis Ian, yaitu usia ketika seseorang belajar mengetahui kebenaran. Tapi ada hal penting yang tidak dia sebutkan, yaitu bahwa seseorang akan terus belajar mengetahui kebenaran setelah meninggalkan usia tujuh belas, dan aku ingin terus mengetahui kebenaran hingga hari aku meninggal kelak.

4 sayap untuk keluarga Alibrandi.



4 komentar:

  1. mau dong buku ini @_@ saya cari2 gak nemu. berminat jual/swap nggak?

    BalasHapus
  2. maaf, bukunya masuk rak harus punya, jadi mau aku koleksi sendiri

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. yap, apalagi sekarang masuk buku langka :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...