Senin, 16 Desember 2013

Eleanor & Park


Eleanor itu gendut. Dirinya pun berpikir dia begitu... Sebenarnya dia tidak segendut yang dipikirkannya. Pikirnya, pasti aku tidak semenjijikan itu.

Bono, vokalis U2, bertemu dengan istrinya di SMA, kata Park.

Begitu pula Jerry Lee Lewis, jawab Eleanor.

Aku tidak bercanda, Park meyakinkan.

Tentu, Eleanor menambahkan, kita ini 16 tahun.

Bagaimana dengan Romeo dan Juliet?

Dangkal, bingung, lalu mati.

Aku mencintaimu, Park mengatakan.

Karena itulah..., jawab Eleanor.

Aku tidak bercanda, katanya.

Kamu memang tidak boleh becanda....


Saya bingung mau mulai review ini dari mana. Agak susah menjelaskannya.
Ceritanya sebenarnya sederhana, kisah perjalanan dua orang yang jatuh cinta, tapi prosesnya menarik sekali. Selesai membaca buku ini saya langsung booklag, dan biasanya susah untuk langsung menulis reviewnya atau baca buku lain, sampai baca ulang. Tapi saya ingin mencoba langsung mengabadikan kesan apa yang saya dapat setelah membaca buku ini pertama kali. Kembang kempis.


"Kau tidak tampak terganggu oleh kematian mereka, Nona Douglas."
"Apa?" tanyanya. Dia menyipitkan mata ke arah gurunya itu.
"Tidakkah kau merasa kalau cerita ini sedih?" tanya Pak Stessman. "Dua kekasih muda terbaring mati. Tidak pernah ada cerita yang lebih tragis. Apa kau tidak merasakannya?"
"Kurasa tidak," jawabnya.
"Apakah cerita ini kurang tragis? Biasa saja?" Dia berdiri di belakang mejanya, berpura-pura memohon kepadanya.
"Bukan..." katanya. "Aku hanya tidak berpikir itu sebuah tragedi."
"Itulah tragedinya," kata Pak Stessman.
Gadis itu memutar kedua bola matanya. Dia memakai dua atau tiga kalung, mutiara palsu yang sudah tua, seperti yang dikenakan nenek Park ke gereja, dan dia memilin-milin kalungnya sementara dia berbicara.
"Tapi sudah jelas dia mengolok-olok mereka," katanya.
"Siapa?"
"Shakespeare."
"Coba jelaskan..."
Dia memutar matanya lagi. Dia tahu permainan Pak Stessman sekarang.
"Romeo dan Juliet hanyalah dua anak kaya yang selalu mendapat setiap hal kecil yang mereka inginkan satu sama lain."
"Mereka jatuh cinta..." kata Pak Stessman, mengepalkan tanganya tepat di depan dada.
"Mereka bahkan tidak mengenal satu sama lain," katanya.
"Itu adalah cinta pada pandangan pertama."
"Itu adalah 'Ya Tuhan, dia begitu tampan' pada pandangan pertama. Kalau Shakespeare ingin kita percaya bahwa mereka saling mencintai, dia tidak akan memberitahu kita dalam adegan-adegan awal bahwa Romeo sedang mengejar Rosaline... Ini semua adalah tentang Shakespeare yang mempermainkan cinta," katanya.
"Lalu mengapa cerita ini bertahan sampai sekarang?"
"Aku tidak tahu, mungkin karena Shakespeare adalah seorang penulis yang benar-benar bagus?"
"Bukan!" kata Pak Stessman. "Bagaimana dengan yang lain, seseorang yang punya hati. Tuan Sheridan, apa yang berdetak dalam dadamu? Beritahu kami, mengapa kisah Romeo dan Juliet bertahan selama empat ratus tahun?"
Park benci berbicara di depan kelas. Eleanor mengerutkan kening kepadanya, lalu berpaling. Park merasa dirinya sendiri tertipu.
"Karena..." katanya pelan, sambil melihat mejanya, "karena orang ingin menginggat bagaimana rasanya menjadi muda? Dan jatuh cinta?"
Mereka pertama kali bertemu di bus sekolah, Eleanor baru pindah, tidak ada yang memberi tempat untuk Eleanor, seorang gadis gendut dengan pakaian aneh dan rambut merah menyala, hanya Park yang masa bodoh dan merasa kasihan, dia bergeser dan memberikan tempat. Setiap hari mereka berbagi tempat duduk, sama sekali tidak ada sapaan atau obrolan, sibuk dengan dunianya sendiri. Sampai suatu ketika Park memergoki Eleanor mencuri lihat komik yang sedang dibacannya, hingga ikut membacanya.
Ketika Eleanor naik ke atas bus sore itu, anak Asia itu membuka komik Watchmen-nya tepat di mana mereka berhenti membaca pagi itu.
Mereka masih membacanya ketika mereka sampai di perhentian tempat Eleanor turun -ada begitu banyak hal yang terjadi, mereka berdua menatap setiap bingkai cerita selama, beberapa menit- dan ketika Eleanor bangkit berdiri untuk turun, anak Asia itu memberikan komik kepadanya.
Eleanor begitu terkejut, dia mencoba untuk memberikannya kembali, tapi anak Asia itu sudah berpaling darinya. Dia segera memasukkannya di antara buku-buku miliknya seolah-olah itu adalah sesuatu yang rahasia, kemudian turun dari bus.
Setelahnya, Park selalu menaruh tumpukan komik di kursi yang biasa ditempati Eleanor di bus, hingga Eleanor mengambilnya dan mengembalikan setelah selesai membaca semuanya. Mereka masih tidak bicara satu sama lain tapi apa yang dilakukan mereka berdua sangat romatis sekali. Park juga membuat rekaman lagu untuk Eleanor yang berisi kompilasi penyanyi favoritnya, seperti semua lagu Smiths, Echo, Bunnymen, dan Joy Division.
Dia mengambil walkman-nya dari dalam saku jas hujannya dan mengeluarkan rekaman Dead Kennedysnya. Dia memasukkan kaset baru itu, menekan tombol play, lalu -dengan hati-hati- menempatkan headphonesnya di atas rambut gadis itu. Dia sangat berhati-hati untuk tidak menyentuhnya.
Setelah komik, Park meminjamkan walkman-nya, dan Eleanor mendengarkan semua musik yang disiapkan Park, sampai baterainya habis. Love Will Tears Us Apart - Joy Division, menjadi lagu favorit Eleanor. Akhirnya kesunyian diantara mereka terpecahkan, komik dan musik membuat mereka menjadi akrab, dan tanpa mereka sadari benih-benih cinta mulai tumbuh.
Park masih memegang ujung syalnya, menggosokkan sutra halus itu di antara ibu jari dan jari lainnya. Dia memperhatikan tangan Park.
Jika saja Park menoleh ke arahnya sekarang, dia akan tahu persis betapa bodohnya dia. Dia bisa merasakan wajahnya sendiri melembut dan meleleh. Jika Park melihatnya sekarang, dia akan tahu segalanya.
Park tidak menoleh. Dia melilitkan syal diantara jari-jarinya sampai tangan Eleanor terbuka di antara mereka.
Lalu dia menyelipkan sutra itu beserta jari-jarinya ke telapak tangan Eleanor yang terbuka.
Dan Eleanor pun hancur berkeping-keping.
Perasaan yang biasa dia rasakan ketika dia duduk di samping Park di dalam bus -perasaan bahwa dia berada di dasar, bahwa dia aman untuk saat ini- dia harus bisa merasakannya sekarang. Seperti sebuah medan magnet. Seperti dia adalah Invisible Girl.
Dengan begitu Park adalah Mr. Fantastic.
Pertemuan mereka di bus adalah bagian yang paling saya suka.
Eleanor gendut, berambut merah, penuh bintik, selalu memakai pakaian yang aneh dengan berbagai aksesoris yang berlebihan. Mempunyai ibu yang sangat cantik, mempunyai empat adik dan ayah tiri yang membencinya. Dia juga suka di bully di sekolah, dia sering menemukan ejekan-ejekan di buku pelajarannya.
Park setengah Korea, dengan rambut yang mengumpul di depan, selalu memakai pakaian hitam. Mempunyai keluarga yang harmonis, seorang ayah yang mantan prajurit, seorang ibu berkebangsaan Korea yang mempunyai salon di garasi rumahnya, seorang adik yang lebih tinggi dari Park, dan kakek nenek yang tinggal di samping rumahnya. Mereka berbeda tapi cocok satu sama lain.
"Aku tidak menyukaimu, Park," katanya, menyuarakan untuk kali keduanya seakan dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. "Aku kira..." -suaranya hampir menghilang- "aku hidup untukmu."
Eleanor benar. Dia tidak pernah terlihat cantik. Dia terlihat seperti seni, dan seni tidak harus terlihat cantik, melainkan membuatmu merasakan sesuatu.

Setting novel ini terjadi pada tahun 1986, kejadulannya membuat cerita semakin romantis, ditambah dengan playlistnya yang bisa didengarkan secara lengkap di sini. Apa sih yang ingin Rainbow Rowell utarakan pada buku ini? Sebuah kisah cinta dua orang minoritas, yang sama-sama aneh, yang satu tidak percaya diri, yang satu selalu dianggap imut, yang satu bermasalah dengan keluarganya, yang satu mempunyai keluarga yang sempurna? Yang jelas, cara dia menguntai pertemuan antara Eleanor dan Park sangat-sangat membekas buat saya, salah satu bagian teromantis yang pernah ada. Tanpa kata-kata tapi interaksi mereka bermakna dalam.

Konflik paling banyak dialami oleh Eleanor, baik di sekolah ataupun di rumah, yang membuat dia nyaman hanya ketika dia berada di bus, saat berbagi kesenangan dengan Park. Di rumah dia tidak pernah merasa tenang, di sekolah dia selalu mendapatkan teror. Lain halnya dengan Park, masalahnya mungkin dia selalu dianggap cewek karena wajahnya yang imut dan ayahnya ingin Park menjadi seorang lelaki, yang benar-benar lelaki, gen ibunya lebih menurun kepada Park. Park tidak peduli pendapat orang lain, dia merasa nyaman bersama Eleanor, dia mencoba memahami Eleanor, dia mencintai Eleanor karena dia adalah dia.

Saya suka karakter Eleanor, saya seperti bercermin, haha. Kadang kala merasa tidak pede, kadang kala persetan dengan omongan orang lain. Dia gadis yang kuat, amat sangat kuat. Sejak kecil dia sudah diperlihatkan potret keluarga yang tidak harmonis, ibunya menikah beberapa kali, mempunyai banyak anak, ikut mengasuh mereka, merasa tidak diangap oleh ayah kandungnya dan mendapat wejangan dari ibunya jangan pernah percaya pada seorang lelaki. tetapi bersama Park, dia menemukan sebuah kebahagiaan.

Saya juga suka karakter Park, cuek tapi menawan. Jarang sekali lelaki Asia mendapatkan tempat menjadi tokoh utama di cerita Barat, sekalinya dapat ternyata tidak mengecewakan. Usahanya untuk memancing Eleanor mau berinteraksi dengannya sunguh-sungguh romantis, dan cara dia menyakinkan Eleanor kalau dia benar-benar mencintainya juga bisa dikatakan heroik, dia sampai berkelahi dengan temannya karena mengolok-olok Eleanor. Andai Park nyata :D



Nggak ada kekurangan dalam cerita ini, yang pasti endingnya bikin ngremet-ngremet bukunya, Rainbow Rowell tega banget sih? Lanjutannya cepet ditulisssssssss!

Kekurangan untuk versi terjemahannya, nggak usah dibahas lagi deh, saya ogah nyantumin covernya di review ini, salah satu BENCANA. Saran aja, kalau emang nggak mampu beli cover aslinya, cukup dengan tulisan aja sebenarnya nggak pa-pa kok, nggak usah ditambahi gambar Eleanor yang kayak hamil sembilan bulan, dia emang gendut tapi nggak gitu juga kali. Untuk terjemahannya sendiri, terjemahannya enak, saya masih dapet feelnya, itu yang paling penting. Hanya saja, sebaiknya lirik lagu nggak usah ikut diterjemahkan juga, atau kalimat asing harap dicetak miring, ada beberapa yang kelewat tapi tidak menjadi masalah :p.

"Tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti mencintai satu sama lain," katanya. "Dan ada semua alasan untuk berpikir kita tidak untuk berhenti mencinta."
Sejak pertama kali bertemu, Eleanor selalu melihatnya di tempat yang tidak terduga. Rasanya seperti hidup mereka berada dalam garis yang tumpang tindih, seperti mereka memiliki gaya tarik sendiri. Biasanya ketidaksengajaan untu bertemu itu menjadi hal terindah yang pernah diberikan alam semesta kepadanya.
"Apakah cerita ini kurang tragis? Biasa saja?"
"Bukan, aku hanya berpikir cerita mereka belum selesai."
"Tapi kau harus mau menerimanya."
"Itu tidak adil, terutama untuk Park."
"Inilah ending yang paling cocok."
"Sekali lagi, itu tidak adil, buat mereka berdua. Rainbow Rowell mengolok-ngolok mereka."
"Coba jelaskan...."
"Eleanor dan Park hanyalah dua anak muda yang ingin mendapatkan kebahagiaan di tengah masalah hidup yang mereka hadapi, mereka mencintai tanpa alasan, mencintai diri mereka apa adanya. Dan Rainbow Rowell mempermainkan cinta mereka."
"Lalu, kenapa cerita ini masih banyak disukai oleh orang lain bahkan banyak mendapatkan penghargaan?"
"Mungkin, orang ingin menginggat bagaimana rasanya menjadi muda? Dan jatuh cinta?"

Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saja, siapa saja yang ingin mencari kisah cinta yang berbeda dan unik.

5 sayap untuk bus sekolah.

Eleanor & Park
Penulis: Rainbow Rowell
Penerjemah: Sofi Damayanti
Editor: Maya Lestari
Desain cover: Expert Toha
Penerbit: Phoenix
Cetakan I, November 2013
ISBN: 978-602-7689-49-7
422 halaman




NB:
Tentang Penulis
Rainbow Rowell adalah penulis Attachments, Fangirl dan Landline. Ketika dia tidak menulis, dia terobsesi membuat karakter lain, rencana perjalanan ke Disney World, dan berdebat tentang hal-hal yang tidak terlalu penting dalam skema besar. Kini ia tinggal dengan suami dan dua orang anaknya di Omaha, Nebraska. Kini mungkin dia berdebat dengan seseorang tentang sesuatu yang tidak terlalu penting, atau sedang mencari tahu bagaimana Sherlock memalsukan kematiannya.
Bisa ditemui di:







20 komentar:

  1. Aku..... Dari beberapa kutipan diatas, merasa agak kurang nyaman sama terjemahannya. Tapi untunglah Kak Sulis bilang feel-nya masih dapet :" (Mau ngomongin covernya lagi, tapi.... ya sudahlah ya, lelah hahaha)

    Yg paling aku suka banget dr buku ini jg karena tokohnya yg 'jarang', biasanya di novel-novel tokoh utamanya kan selalu ideal atau paling nggak biasa aja, tapi disini diceritain banget bahwa mereka itu minoritas yg 'terpinggirkan'. Rainbow Rowell juga unik gaya berceritanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak tau buat yang lain tapi aku masih dapet feel buku ini dengan nama penerjemah yang masih baru :)

      Iya, yang aku suka dari Rainbow Rowell adalah pilihan tokohnya yang unik dan cara mereka menjalin cinta, romantis tapi nggak menye-menye :)

      Hapus
    2. sama banget, tirtaa..
      sebagai seseorang yang demen banget E & P dan perlu waktu berbulan2 utk move-on dari playlistnya Park, pas aku liat info buku ini di GR tu rasanya ... duh.
      what the..?

      Hapus
    3. playlisnya keren sumpah, bener kata tirta, mau protes gimana pun udah terlanjur :(

      Hapus
  2. kyaaaa....aku baru tau kalo ini udah diterjemahin, kepincut cover asli dari pertama kali liat...
    etapi, penerbitnya kok aku kurang familiar ya? Wah, disini bakal susah nyari nih... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Phoenix masih saudaraan sama Ufuk kok mbak Luckty, atau nama barunya? Semoga saja mudah di dapat di toko buku :)

      Hapus
  3. buku ini memang keren bagus banget. saya baca versi inggrisnya, dan pandangan Eleanor ttg Romeo dan Juliet itu bikin terperangah :)

    BalasHapus
  4. librocubiculari di Serapium? :3
    ini bukunya masuk daftar to-read :D
    *walau mungkin Januari depan baru baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiahhhhh ketauan deh :p
      wuah, timbunannya pasti menggunung nih :))

      Hapus
  5. Aaaa kak suliis saya juga mau bacaaa xD really want to share the experience you said in this review >< makasih kak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo bacaaaa, ditunggu reviewnya ya :)

      Hapus
  6. Kak aku ga suka banget sama covernya yg baru. Pengin beli jadi males serius, padahal ceritanya bagus gitu -_-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ak juga g suka, nanti covernya disampul pakai kertas kado atau cover aslinya aja, hehehehe

      Hapus
  7. saya udah pengen baca sejak lihat cover nya yang putih gading itu... tapi belum kesampaian sampe sekarang...hahaha... baru tahu ada terjemahannya dan setelah saya search covernya karena penasaran bagaimana, yah... gimana ya.. jadi ilfil? sedih? hahaha...
    nice review dan salam kenal, mbak..
    mungkin beli di awal tahun ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga Olive, yah mau gimana lagi, mau kesel juga udah terlanjut :(

      Hapus
  8. aku juga selalu penasaran sama kisah romens yg tokohnya bukan cantik dan tampan bak model. Tapi hanya standar dengan personality tidak standar. Ngakak baca komen mbak Sulis soal kaver Eleanor yg kayak hamil tua. Pengen coba beli di TBD nih, soal kayaknya bahasa aslinya keren banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mending baca versi aslinya :)

      Hapus
  9. Saya tertarik baca buku ini setelah baca review-nya Mbak... semoga bisa ditemukan di toko buku. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya udah berkunjung, seneng bisa bermanfaat dan semoga cepat beredar di toko buku :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...