Selasa, 26 November 2013

[Movie Review] Catching Fire


Hai hooo, agak telat nih mau posting review film Catching Fire, yang ngomong-ngomong review film perdana di Kubikel Romance. Udah dari dulu pengen banget buat review film, terlebih adaptasi buku karena saya punya semboyan baca dulu baru nonton dan nggak lengkap kalau ngak mengulas keduanya. Karena baru pertama ini, jadi maafkan kalau banyak kekurangannya :D. Saya nonton di hari kedua film ini rilis dimana saya seharusnya nggak perlu buru-buru beli dan cemas kehabisan tiket, ternyata yang nonton sedikit, saya masih mendapatkan barisan kursi favorit saya di bioskop, baris B. Sama seperti ketika saya nonton film pertamanya, The Hunger Games, animo masyarakat ternyata sedikit, yang nonton saya prediksi antara yang tahu bukunya atau yang demen nonton film. Pengennya sehabis nonton langsung ngreview waktu ingatan saya masih seger, dikarenakan akhir-akhir ini banyak yang sakit dan selepas kerja saya capek banget, baru hari ini bisa nulis.

Dari segi cerita tidak berbeda jauh dari bukunya, Catching Fire langsung dibuka dengan adegan Katniss (Jenifer Lawrence) berburu dengan Gale (Liam Hemsworth), jadi emang bener saran kalau mau nonton film di bioskop jangan telat, biar nggak ketinggalan cerita secara lengkapnya. Lewat adegan tersebut kita akan langsung tahu kalau Hunger Games membuat trauma, mengoyak jiwa Katniss.


Dalam Hunger Games ke-74 pemenangnya dari Distrik 12, Katnis Everdeen dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson), selama setahun distrik mereka diberi kemewahan dan untuk kedua pemenang sendiri melakukan tur kemenangan ke semua Distrik di Panem, memberikan pidato. Bukan hal yang mudah, terlebih untuk Katniss, dia seperti bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, pamer kemenangan di distrik-distrik yang pesertanya mati semua, apalagi waktu berkunjung ke distrik di mana Rue tinggal, peserta yang dianggap seperti adiknya sendiri, emosi Katniss memuncak dan bisa dibilang pidatonya menyulut pemberontakan.

Hal itulah yang ditakutkan Presiden Snow (Donald Shuterland), dia menganggap Katniss berbahaya untuk pemerintahan, dia seperti bom waktu, lambang pemberontakan dan tak akan membiarkannya. Snow tidak bisa langsung membunuh Katniss, dia adalah idola Capitol saat ini berkat asmaranya dengan Peeta, yang dia tahu betul kalau hanya suatu kebohongan. Sebagai cara lain, bersama Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) sang perancang games terbaru, cara yang paling ampuh untuk melenyapkan Katniss adalah mengirim dia kembali ke arena Hunger Games ke-75, ke edisi special Hunger Games setiap 25 tahun sekali yaitu Quarter Quell.




Katniss tahu ancaman diam-diam Presiden Snow, dia sempat ingin melarikan diri bersama Gale, dan tentu bersama Peeta juga, yang kemudian ditolak karena mereka mempunyai keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Katniss merasa marah sekali, terlebih dalam Quarter Quell kali ini pesertanya adalah para pemenang dalam Hunger Games sebelumnya, yang otomatis Katniss langsung masuk karena hanya dialah peserta perempuan di distriknya yang pernah memenangkan pertandingan. Masalahnya adalah, Katniss tidak ingin Peeta ikut dalam pertandingan ini lagi, dia meminta Haymicth (Woody Harrelson) untuk menggantikan Peeta kalau dia terpilih, dan tentu saja tidak akan terjadi. Mereka akan berjuang bersama-sama.

Bukan hanya arena yang lebih dasyat dari sebelumnya, para pesertanya pun bisa dibilang sangat terlatih, mereka pernah menang dan ada beberapa yang sangat antusias. Pesan Haymicth untuk Katniss dan Peeta kali ini adalah cari sekutu dan kenali musuh yang sebenarnya.


Catching Fire adalah seri Hunger Games terfavorit saya, buku pertama yang saya punya untuk seri Hunger Games, buku yang paling lecek dari semua serinya. Saya berharap sekali kalau filmnya akan jauh lebih keren dari sebelumnya, dan Francis Lawrence mendengar harapan saya :D. Walau nggak sama seratus persen, filmnya tidak lancang dan menghormati bukunya, terima kasih untuk yang menyusun naskah film ini (Simon Beaufoy dan Michael Arndt), tau betul apa yang terpenting dari bukunya.

Sama seperti bukunya, alur film di awal cukup lambat, lebih banyak dialog tanpa kejutan yang berarti, lebih banyak menceritakan tur kemenangan dan rencana Presiden Snow. Biar nggak kaget aja, jadi jangan heran kalau di awal terlalu berbelit-belit, di bukunya pun juga begitu. Ada beberapa yang diubah di film seperti adegan Peeta yang bisa berenang, sedangkan di buku Peeta tidak bisa berenang dan Katniss mencoba menyelematkannya, munculnya cucu Snow yang berharap dia mempunyai seseorang yang mencintai Katnnis seperti Peeta, menjelaskan kalau drama percintaan Katniss sangat menyentuh Capitol. Kemudian waktu Gale kena hukum cambuk, kalau di buku alasannya karena diam-diam Katniss mempunyai hubungan dengan Gale di film diganti kalau Gale berusaha menyelamatkan warga yang mau dihukum oleh kiriman Snow untuk memusnahkan para pemberontak.

Tidak heran kalau budget film ini lebih besar dua kali lipat dari seri pertama, 78 juta dolar, melihat kostum para pemainnya, baju pengantin Katnis (dibuat oleh desainer Indonesia, Tex Saverio) yang keren banget, baju-baju yang dipakai Effie Trinket (Elizabeth Banks) yang terkesan meriah dan wah, arenanya yang jenius, lokasi syuting di Hawaii, merupakan suatu bentuk tidak pemborosan, apalagi keuntungan yang didapat lebih dari 700 juta dolar, bukti nyata kalau film kedua lebih keren dari yang pertama dan dengan budget segitu tidaklah sia-sia. Belum lagi denga para cast-nya yang KEREN MAMPUS, Finnick (Sam Claflin) yang penuh pesona, Beete (Jeffrey Wright) yang jenius dan Joanna Mason (Jena Malone) yang bitch dan liar, mereka adalah karakter favorit saya selain Katniss dan mereka pas sekali memerankan karakter yang mereka bawa, acungi jempol buat akting mereka. Dan untuk Plutarch Heavensbee, dia memang tak terduga :p.

Sayangnya, pertandingan yang sangat saya nantikan hanya ditampilkan sebentar, seperti diceritakan garis besarnya saja dan terkesan terlalu buru-buru sehingga karakter pembantu lainnya tidak tergambar jelas dan kekejaman mereka tidak terasa. Adegan romantis Katniss dan Peeta pun juga berasa tidak special, sangat disayangkan sekali, padahal bagian di arena adalah bagian favorit saya. Yah, mungkin sang sutradara punya pemikiran lain agar film Catching Fire ini beraroma buku tapi mempunyai kemasan yang lebih segar. Saya jadi ingat perkataan Raditya Dika tentang pendapatnya tentang buku dan film yang tidak bisa disamakan, seperti permen loli, keduanya sama-sama permen, buku adalah rasa cokelat dan film rasa stroberi.

Melihat segi kekurangan dan kelebihan buku ini, Catching Fire tetap recommended banget untuk ditonton, akting Jenifer Lawrence benar-benar menakjubkan, dia sangat berhasil membawa karakter Katniss yang kompleks dan kuat, emosinya dapet banget, mata saya sampai berkaca-kaca sewaktu Katniss memberikan pidato untuk Rue. Dan ya, karakter Katniss memang lebih kuat dari Peeta, atau bisa dibilang Katniss lah yang selalu melindungi Peeta, Katniss memang ingin melindungi siapa pun.

Film ini tidak hanya bercerita tentang sebuah permainan yang berdarah dan kisah cinta segitiga, tetapi juga pemerintahan yang otoriter, tentang issue politik di mana hanya ada orang-orang yang haus akan kekuasaan.

4 sayap untuk Quarter Quell ke-75




18 komentar:

  1. Malu untuk mengakui ini, tapi aku juga sempat berkaca-kaca pas Katniss pidato di distrik Rue. >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. gpp Linda, itu manusia wi dan terbukti kalau JLaw sukses meranin Katniss karena emosinya pun kita bisa merasakannya :)

      Hapus
  2. Aduh, jadi makin kebelet buat nonton! >.<

    Oh iya, Gale dihukum cambuk di buku bukan karena alasan diam-diam mencintai Katniss (karena ini sama saja dengan mengatakan pada seluruh distrik bahwa Katniss tidak benar-benar suka pada Peeta, padahal bahkan orang seperti Greasy Sae yang kenal Katniss dan Gale sejak kecil saja bisa lupa bahwa mereka bukan sepupu), tapi karena sebab lain, kak ._.

    Oke, aku harus hentikan sekarang sebelum jadi spoiler :))) Tapi boleh juga itu pengubahannya, sehingga "sesuatu" tentang Gale di Mockingjay mungkin biar nggak terasa *ehem* :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahaha, iya toh? aku agak lupa sih, yg jelas alasan di film beda sama yg dibuku, sedikit kabur sama bagian itu, tapi kalau nggak salah menolong seorang cewek teman Katniss itu kan?

      Hapus
  3. saya--saya berlinangan air mata pas adegan Katnis pidato di Distrik 11, eh distrik berapa sih Rue itu? #memorylost
    sudah ditahan-tahan biar ngga nangis, tetep aja ga-gal.Sulis..

    You know what is shocking me..?
    aku udah nonton Hunger Games dan Catching Fire (dua hari lalu) - tapi--why oh why, baru tahu klo yang meranin Gale itu Liam Hemsworth, pujaan hatiku, masyaallah.. #fansabal-abal

    kayanya sampai Mockingjay selesai nonton pun, aku juga ngga akan pernah tahu siapa yang meranin Gale - rupanya aku terselamatkan oleh review-mu, hohohoooo.. #tertawapedih

    aku ngga akan komen soal novelnya, karena ini review film, right? daripada ngga nyambung, mending aku juga komen soal filmnya ajah #alesan *padahal emang belum punya bukunya*

    aku suka filmnya #nggaknanya
    oke, aku suka reviewnyaaa..bagus, proporsional dan tanpa maksud untuk spoiler - mungkin baiknya klo dipisahin aja Sulis, antara blog review film dan buku - tapi klo maksud tulisan ini untuk pembanding antara novel dan filmnya, aku rasa ngga papa sih, ehehee..

    jadi ngga dominan film, tapi justru dominan ke bukunya, kembali lagi, itu pendapat-ku aja ^_^
    maaf yah kalo (lagi-lagi) kepanjangan ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakaka, masak baru tahu kalu yg meranin Gale si Liam? nanti dikira kakaknya? =))
      haduh, kalau bikin blog khusus review film belum sanggup, ini aja juga baru belajar bikin review film, pelan-pelan aja dulu :)
      makasih ya buat masukannya, aku emang selalu bandingin buku dengan film tapi juga berusaha mencari kelebihannya, semoga aja selanjutnya lebih baik lagi, makasih ya :)

      Hapus
  4. Aku suka banget sama film kedua ini, lebih hidup banget deh..keren banget apalagi finnick dan johannanya itu loh

    skrang harap2 cemas sama film ketiga, secara buku ketiga adalah buku yang paling menjengkelkan buatku..semoga saja filmnya lebih bagus dengan harapan itu alur dibuku diubah jg gpp deh hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakaka, sama esii, bukunya minta dilempar, tapi nggak sabar liat akting JLaw di film ketiga yg katanya mau dijadiin dua film, pasti lebih dasyat lagi scara Katniss di buku ketiga digambarkan 'kehilangan arah' :)

      Hapus
  5. Saya suka adegan di Pantai, waktu Peeta nunjukkin bandulnya. Ada foto Gale, Prim dan ibunya Katniss. Peeta ini bener-bener rela berkorban banget buat Katniss. :)

    BalasHapus
  6. Waaaaa aku belum nonton serial hunger games yang cathing fire ini nih.. padahal udah janjian sama temen kelas bakal nonton film ini secepatnya, namun apa daya tugas akhir menumpuk pada minta dikerjain, ya terpaksa ditunda deh sampe beres UAS. Makasih kak udah bikin reviewnya hehehe seenggaknya ntar nggak blank banget kalo nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, seneng bisa membantu :)

      Hapus
  7. Hikssss belum nonton dan kayana ga bakal bisa nonton.... dedek bayi belom bisa nonton bioskop :( tapi baca review movie Mba Sulis, jd terobati plus nanti cari dvd nya aja.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. nonton di rumah aja nanti kalau udah ada versi dvd-nya, kasian dedek bayi :))

      Hapus
    2. Mbaa saya uda nonton DVD nya :p jadi pada akhirnya Katniss beneran jatuh hati ya sama Peeta? Soalnya di aarena kissing terus dan kayana dr hati.. Ehmmm maksudnya jd si Katniss ga suka lg sama Gale dan beralih ke Peeta? Agak bingung :)

      Hapus
  8. Wuah ada review film juga. Penyegaran yah mba?
    Duh blom nonton filmnya
    Hunger games aku dulu nontonnya agak ngantuk. Moga saja catching fire gak ngantuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, biar semakin berwarna isi blog ini :)

      Hapus
  9. Sebenernya diajak nonton temen-temen film ini, tapi berhubung aku belum liat yang hunger games, jadi gak mau haha.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...