Sabtu, 09 November 2013

Mendekap Rasa

Mendekap Rasa
Penulis: Aditia Yudis & Ifnur Hikmah
Penyunting: Yulliya Febria
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Bukune
ISBN: 602-220-091-1
Cetakan pertama, Januari 2013
394 halaman
Buntelan dari Arisan GagasBukune

Pernahkah kau menghitung perpisahan yang telah terlewati? Dan, pernahkah kau berpikir, mungkin perpisahan terkadang memang diharapkan terjadi…

Mungkin, kau akan ragu ketika cinta yang kau dapatkan masih separuh hati ketika kau terima. Ke mana pun kau pergi, masa lalu akan menjadi kepingan cerita yang mengusik dan menganggu perasaanmu.

Sementara aku, kuingin berakhir bersama pria yang kucintai. Aku akan membuat dia mencintaiku. Tidak peduli harus menunggu berapa lama.

Masa lalu tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bahagia, bukan?

Obsesi saya setelah mengumpulkan kisah cinta yang berbau makanan dan cinta terlarang, sekarang ini saya juga tertarik dengan peran antagonis yang menjadi tokoh utamanya, dari sudut pandang yang kerap dianggap salah. Bukan kurang kerjaan sih, hanya saja kalau nggak mau bosan dengan kisah cinta yang itu itu melulu, harus ada pembedanya. Nggak gampang nyarinya, karena baru sedikit yang mengambil tema tersebut. Salah satunya adalah Mendekap Rasa.

Saya nggak nyangka kalau suka banget sama buku ini, habis hanya dalam sekali baring, semalaman ngalong karena ngak sabar baca endingnya. Beberapa kali baca bukunya Aditia Yudis, rata-rata di bawah tiga sayap dan baru suka sama tulisannya di buku Bittersweet Love, sedangkan Ifnur Hikmah baru kali ini. Saya nggak tau bagaimana mereka berkaloborasi, apakah yang satu nulis bagian Carissa atau yang satu Mike, yang jelas saya nggak menemukan ketidak cocokan di dalam cerita, rasanya ditulis oleh satu penulis.

Buku ini bercerita tentang dua orang yang habis mengalami kegagalan dalam dunia percintaan, mereka sama-sama batal menikah. Carissa yang seorang desainer ternama mengganggap enteng masalah tersebut karena dia tidak benar-benar mencintai tunangannya. Lain halnya dengan Michael, dia cinta mati sama Amelia. Mereka bertemu berkat campur tangan Narendra, mantan pacar Carissa waktu di New York dulu. Carissa nggak sengaja ketemu Narendra di Jogja waktu launcing butik terbarunya. Carissa butuh pendengar yang baik untuk mencurahkan kesemrawutan hidupnya, dan Narendra adalah orang yang tepat. Sayangnya, laki-laki tersebut menjaga jarak, dia sudah berkeluarga sekarang dan tak ingin berhubungan dengan Carissa lagi, tak pantang menyerah, Carissa selalu menghubungi Naren kalau ada kesempatan.
Di luar sana, aku dikenal sebagai si anti komitmen. Untuk apa berkomitmen dengan pria yang belum bisa menerima keberhasilan seorang perempuan dan cenderung mengekang. Aku berkaca dari pengalamanku -maksudku, mantan pacarku seperti itu. Di awal perkenalan, mereka akan menyanjungku, lalu lama-lama, mereka mulai mengaturku. Mereka tak henti-hentinya mengeluhkan minimnya waktu yang kupunya untuk mereka. Seharusnya, jika mereka mencintaiku -seperti yang selalu mereka bilang sewaktu merayuku- tentu mereka akan mengerti semua kesibukanku. malah, seharusnya mereka mendukung.
Suatu waktu Carissa mendapatkan chat yang nggak biasa dari Naren, chat yang menggoda. Ternyata Mike membajak akunnya Naren, sejak saat itu mereka menjadi dekat dan ingin bertemu langsung. Pertemuan pertama terjadi di Bali, menjadi liburan yang sangat menyenagkan dan malam yang penuh gairah :p. Whatever happens in Gili, stays in Gili, itu prinsip mereka. Setelah liburan singkat di Gili Trawangan, mereka sepakat berpisah -walau tanpa mengungkapkannya secara langsung, menggangap kalau kencan pertama mereka adalah yang pertama dan terakhir. Yap, mereka sama-sama playgirl dan playboy, si anti komitmen.
"Bagiku, terlalu mengada-ada dengan ungkapan cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Bagiku, harus ada cinta atau setidaknya rasa sayang sebelum kita berani melangkah lebih jauh. Pernikahan membutuhkan fondasi yang kuat, dan itu yang tidak kita miliki."
Carissa menduga kalau Mike sama seperti teman kencan lainnya, habis manis sepah dibuang, tapi dia tidak bisa mengenyahkan Mike dari pikirannya, dia ingin bertemu dengannya lagi, terus bersama. Melupakan harga dirinya, Carissa mulai aktif menghubungi Mike, Mike sendiri yang diajari ibunya untuk selalu bersikap sopan terhadap perempuan tentu menyambut baik tawaran Carissa. Hubungan tanpa status, Carissa tidak menyukainya tapi karena dia sudah terlanjur cinta mati sama Mike, mau saja. Masalah mulai muncul ketika masa lalu Mike datang kembali, jerih payah yang dilakukan Carissa untuk mengikat Mike terancam, dia bisa menerima kalau yang dicintai Mike adalah Amelia, bukan dirinya, tapi dia tidak bisa kalau kehilangan Mike.
Perempuan itu bisa saja memiliki Mike, dulu. Dan, masa lalu selamanya akan tertinggal di kehidupan yang telah lalu. Dan kenangan, sekuat apa pun, tidak akan mampu mengalahkan sosok nyata yang setiap hari ada disampingnya.
Yang membuat saya betah dengan buku ini selain konflik yang dihadapi pemeran utamanya, juga dengan karakternya sendiri. Saya suka ceritanya, bagaimana cara membuat orang lain bisa menerima kehadiran kita, membuat mencintai dengan perlahan-lahan. Saya juga betah dengan cara penulis merangkai adegan demi adegan, dengan mengunakan alur maju dan sudut pandang orang pertama melalui Carissa, penulis dengan sabar membawa kita menyelami kehidupan cinta Carissa dan Mike sedikit demi sedikit, penulis sanggup membuat saya merasakan apa yang dialami Clarissa. Karakter Carissa digambarkan nyebelin, mau menang sendiri, keras kepala, tidak pantang menyerah, merasa dirinya lebih dari orang lain, feminis. Sedangkan Mike lebih ke penyabar, walau sama-sama suka gonta ganti pasangan, Mike digambarkan lebih kalem, nggak banyak tingkah kayak Carissa, hanya saja dia lebih jago kalau urusan ngegombal :p.

Untuk pemeran pembantu lainnya, saya rasa porsi mereka pas, bahkan Amelia yang sebenarnya duri dalam hubungan Carissa-Mike tidak terlalu menyedot perhatian, fokusnya lebih ke bagaimana Carissa mendapatkan hati Mike dan Mike bisa melupakan Amelia. Amelia baru muncul ketika hubungan Carissa dan Mike mulai terjalin erat, kehadirannya menjadi peregang dan cobaan. Nggak ada karakter yang sempurna di buku ini, Carissa yang sebelumnya bisa mendapatkan apa yang dia mau harus tertatih-tahih mendapatkan hati Mike. Dan Mike sendiri, ketika dia bertemu lagi dengan Amelia dia malah melakukan perbuatan yang nggak seharusnya dilakukan, terlebih dia akan menikahi Carissa, eneg pas baca itu, nggak punya hati.

Saya nggak banyak menemukan kekurangan di buku ini, typo-pun saya nggak terlalu memperhatikannya. Baik segi diksi atapun cover juga indah, tidak ada kalimat metafora yang berlebihan, contohnya quote di atas.

Bagian yang paling favorit adalah ketika Carissa berkata kepada Mike kalau dia tidak memberi jalan untuk membuka hatinya, kemudian Mike membalas kalau perbuatan kecil yang dilakukan Carissa justru membuat dia teringat padanya. Romantis banget.
"Aku mencoba untuk mengenalmu, Cha. Kamu pikir, aku tidak tahu apa-apa tentang kamu? Kamu yang suka menggigit kuku ketika gugup, kamu yang lebih suka menyelipkan rambut ke belakang telinga kanan ketimbang telinga kiri, atau kamu yang selalu memukul-mukulkan pensil ke kertas gambarmu saat mencari inspirasi? Aku tahu itu, Cha."
"Hanya hal kecil."
Mike tergelak dan melepaskan pelukannya. Diangkatnya daguku hingga mata kami bersitatap. "Justru semuanya harus dimulai dari hal kecil. Kamu tahu apa yang paling aku suka?"
Aku menggeleng.
"Kebiasaanmu menyiapkan pakaian untukku setiap aku akan pergi ke kantor. Sederhana, tapi bagiku itu sungguh berarti. Perhatian kecil darimu itu yang bikin aku selalu ingat kamu."
Mungkin yang terbiasa dengan kisah cinta yang manis nggak akan terlalu suka dengan buku ini tapi saya menikmatinya. Sudut pandang yang diambil penulis adalah orang-orang yang selalu kita anggap salah dalam sebuah cerita, melalui Carissa, kita dibawa ke pemikiran mereka. Mereka juga punya hak untuk mencintai dan mendapatkan apa yang diinginkan, walau perbuatan mereka 'terlalu memaksa', mereka hanya terlalu berusaha untuk mendapatkan yang diinginkan. Dan itu nggak salah.

Buku ini bercerita tentang belajar mencintai dan melupakan dengan perlahan. Buat yang sedang mengalami fase tersebut, cocok untuk dibaca di malam minggu :p

3.5 sayap untuk duo yang manis.


4 komentar:

  1. Aku suka novel ini, jarang-jarang kan pengen kepruk tokoh utamanya... x)
    http://luckty.wordpress.com/2013/06/22/review-mendekap-rasa/

    Berkat novel ini, difolbek ama penulisnya... @iiphche & @adit_adit :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat ya udah difolbek ;))
      emang nggak gampang bikin pemeran utama yang nantinya dibenci pembaca tapi dalam perjalanan waktu, kita bisa lihat perubahan yang terjadi :)

      Hapus
  2. Novel romance itu emang udah banyak banget dengan segudang tokoh yg beragam. Tokoh di novel mendekap rasa ini cukup unik, hal ini jg bisa dijadikan pembeda dengan novel romance lainnya

    BalasHapus
  3. belajar mencintai dan perlahan melupakan.. waaahh saya banget tuh... saya juga suka sekali dengan novel bergenre romance

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...